Archive for June 2013
Menu
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. Kisah sebelumnya  di sini

All About Tsunami: The Survivor - Ibundaku dan Rumah Kami.  Suasana musholla kala itu riuh rendah oleh suara tangisan dan zikir. Tangisan yang tak hanya berasal dari anak-anak, namun juga dari para wanita yang berzikir dalam lirih. Ini adalah pengalaman pertama mereka, diguncang oleh gempa sedasyat itu, diikuti pula oleh kejaran air hitam mengerikan yang menerjang tanpa kompromi. Masih lekat di bayangan pupil mata mereka, bagaimana air hitam itu menerjang dan menelan mereka-mereka yang kalah cepat menaiki tangga, atau yang tertinggal di belakang saat sama-sama berlari menyelamatkan diri tadi.

Lantai dua musholla itu, tak lagi berayun. Namun was-was tak kunjung beranjak dari hati mereka akan adanya gempa susulan. Suasana riuh rendah, namun aura mencekamnya begitu kentara. Ibuku masih memejamkan mata sejak pertama kali mendudukkan dirinya di lantai musholla. Jemarinya bergantian menekuk mengikuti zikir yang mengalir deras dari bibirnya. Wanita lima puluh tiga tahun [saat kejadian] itu memang tak berani membuka matanya. Mencoba berkonsentrasi penuh pada alunan zikir yang dilafazdkannya, sembari mencoba meredakan debaran jantungnya yang berdegup demikian cepat. Bahkan pertanyaan 'ayahwa' [seorang lelaki tua, yang sudah seperti keluarga sendiri bagi kami], yang menguatirkan keselamatan Ayahandaku yang ternyata tidak berada di dalam musholla, tak digubris oleh ibuku. Barulah pada pertanyaan yang ke lima kalinya, ibuku tersadar dari zikirnya, dan terhenyak.

"Ayahnya Khai, ga ada di antara kita, Umi Khai. Kemana Bapak, ya?" Suara Ayahwa terdengar gusar.

"Ha? Ga ada? Tadi di belakang saya. Ya Allah, kemana Ayahnya Khai? Ya Allah!" Ibuku mulai panik. Berusaha bangkit, namun lututnya serasa begitu lemah. Efek melarikan diri dengan bantuan tenaga dari 'langit' tadi, ternyata kini memberinya efek lemah luar biasa. Namun kegusarannya akan kondisi dan keberadaan suami tercinta, membuatnya berupaya keras untuk berdiri. Ya Allah, selamatkan suami hamba ya Allah. Selamatkan dia ya Allah. Pintanya.

Kini terlihat di matanya suasana musholla. Penuh dengan para tetangga yang dikenalnya dengan baik. Yang rata-rata mencemaskan keberadaan keluarga mereka yang tak bersama mereka di musholla. Ibunya Putri, tetangga dekat kami, juga sedang memiliki kekuatiran serupa. Anak lelakinya, tidak bersama mereka. Saat gempa tadi, si anak memang sedang ada acara di sekolahnya. Sama halnya dengan adikku Khai, yang malah sedang berhari minggu di sebuah pantai. Beberapa lelaki, tua muda telah turun dari musholla, mencoba mencari tau tentang situasi dan kondisi yang baru saja terjadi.

Sesosok tubuh berbalut lumpur, tertatih menaiki tangga. Sekujur tubuhnya dibungkus lumpur hitam, mulai dari ujung rambut, wajah hingga kaki. Melangkah tertatih, lemah. Seketika ibuku menjerit, kakinya yang melemah tadi tiba-tiba bertenaga. Berlari beliau menyongsong lelaki yang terlihat begitu lemah itu. 

"Ya Allah, apa yang terjadi? Ayah kenapa?" Ratapnya dalam bahasa Aceh, menyambut Ayahku yang langsung menghenyakkan dirinya di atas lantai musholla. Bukan, bukan pingsan, tapi beliau mencoba menarik napas panjang dan beristirahat setelah terlepas dari tragedi dasyat itu.

"Kiamat kecil baru saja melanda. Gelombang hitam itu merenggut banyak sekali nyawa. Menghancurkan semuanya. Rumah-rumah rusak parah, jalanan penuh puing dan mayat. Rumah kita, ada banyak orang di lantai 2 rumah kita." Ucapan ayahku semakin membuat ibuku kuatir, dan sulit untuk membayangkan, air maut bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan oleh Ayah. Sungguh, matanya tak sempat melihat air apa yang telah menyerang itu. Merem sejak pertama mendudukkan diri di lantai musholla, telah menyelamatkan dirinya dari menatap langsung mimpi buruk itu.

"Yah, Ayah sendiri bagaimana? Bisa berjalan? Ayo kita pulang ke rumah. Jangan biarkan rumah kita kosong atau dipenuhi orang-orang yang tidak kita kenal. Ayo, Yah." Pikiran kritis ibuku yang terbiasa hidup di alam konflik, mulai bekerja.

"Mi, ini tidak seperti yang Umi bayangkan. Kita bahkan sulit untuk berjalan. Jalanan penuh lumpur dan puing reruntuhan, penuh mayat, sulit untuk melangkah. Ayah ga apa-apa. Hanya tadi tersangkut di kawat berduri."

Dan mulailah ayahku menceritakan kisahnya, didengar juga dengan keprihatinan oleh beberapa tetangga lainnya. Ibuku menangis. Merasa berdosa, merasa dirinya egois, malah duduk merem tanpa teringat sedikit pun pada suaminya yang tertinggal di belakangnya tadi. Feelingnya tadi kuat mengatakan bahwa Ayahku juga berada di antara mereka, di lantai dua musholla itu, tak jauh darinya, makanya dirinya tak kuatir. Apalagi tadi memang sebelum sampai di lantai 2, dirinya sempat menoleh dan melihat Ayahku sedang mencapai anak tangga pertama. Siapa sangka, justru setelah ibuku berpaling lagi dan meneruskan langkah, justru di belakangnya, si Ayah dihantam oleh sebuah balok kayu, yang membuatnya jatuh dan terhanyut!

Tak ada bujukan yang berhasil meluluhkan keinginan ibuku untuk turun dan kembali ke rumah. Apalagi para tetangga lainnya juga sepakat, untuk segera turun dan mengecek kondisi rumah masing-masing. Maka, Ayah [yang saat itu belum terasa sakit kakinya], menuruti. Juga turut serta Ayahwa, di antara para tetangga lainnya. Tepat seperti yang digambarkan oleh Ayah. Jalanan penuh lumpur, puing bangunan, kayu-kayu, dan mayat! Setiap berpapasan dengan mayat, mereka mencoba untuk mengenalinya, in case itu adalah jenazah orang yang mereka kenal. Dan, memang, dari sekian mayat yang bergelimpangan, beberapa dari mereka adalah para tetangga mereka, namun, banyak juga yang adalah mayat 'kiriman' alias orang yang tak dikenal, dan diseret oleh gelombang hingga ke kompleks perumahan ini.

Mayat-mayat itu, tak hanya bergelimpangan atau tertimbun di dalam lumpur dan reruntuhan yang merendam jalanan, namun juga ada yang tersangkut di pagar, di pekarangan, di jendela atau pintu-pintu rumah. Benar-benar membuat hati pilu dan shock. Ini benar-benar suguhan di luar dugaan. Traumatis!

Foto dipinjam dari Buku BRR Seri A. Foto.
Susah payah berjalan dalam rendaman lumpur yang melebihi lutut orang dewasa, plus hambatan puing bangunan yang bercampur tubuh tak bernyawa, akhirnya ayah, ibu dan para tetangga berhasil mencapai rumah masing-masing.
Terhenyak, bengong, melongo, adalah reaksi awal mereka menyaksikan kehancuran yang terpampang di depan mata. Reaksi yang sama juga diperlihatkan dengan sukses oleh ibuku. Ayah sendiri, begitu air mulai surut tadi, sudah berhasil balik ke rumah untuk melihat situasi, namun belum sampai masuk ke dalam. Hanya saja, sempat berkomunikasi jarak jauh [ayah di luar rumah] dengan the survivors yang selamat di lantai dua rumah kami.

Lumpur hitam setinggi lutut orang dewasa, plus lemari yang roboh, sofa dan meubel lainnya yang berjatuhan, serta pintu depan yang lepas dari tempatnya, menyambut kedatangan ayah dan ibu. Beberapa ikan bandeng berserakan di dalam rumah. Kemungkinan terseret oleh gelombang dasyat tadi. Tak heran, jarak lautan dan kompleks perumahan kami tidaklah terlalu jauh. 

Suara orang-orang terdengar di lantai atas. Tak sabar ibuku bergegas dan terpana, menyaksikan ada sembilan manusia dalam kondisinya masing-masing 'terdampar' di sana. Seorang wanita usia sekitar 37 an yang sedang hamil tua, terbaring lemah di atas tempat tidurnya Khai. Seorang anak kecil usia sekitar 2 tahunan, menangis, sedang dibujuk oleh seorang bapak. Seorang anak muda seusia Khai, 25 tahunan terduduk lesu, tapi ibuku hapal dengan pakaian yang dikenakan pemuda itu. [Ibu langsung parno, jangan-jangan ini baju barunya Khai!]. Seorang anak lelaki umur 10 tahunan, terbaring lemah di teras depan. Dan beberapa orang lelaki lainnya, terlihat juga dalam keadaan lemah. 

Ayah dan ibu memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah. Yang disambut dengan santun oleh para survivors. Tetangga depan rumahku, Ibunya Putri, suami dan anak-anaknya juga ikutan bernaung di lantai dua rumah kami, mengingat rumahnya sendiri telah direndam oleh lumpur, dan tak memiliki lantai dua. Wanita hamil tadi ternyata seorang dokter, yang terlempar keluar dari mobil yang sedang dikendarainya bersama suami serta seorang anaknya tadi, oleh gelombang maut itu. Wanita itu menangis sedih, menguatirkan keadaan suami dan anaknya. Selamatkah mereka? Hanya Tuhan yang tau. 

"Ya ampun, ini siapa yang telah mengubrak abrik pakaian anak saya? Kalo mau pakai bajunya, kenapa tidak diambil saja yang bagian atas? Jangan diubrak abrik seperti ini, dan tak perlu juga memakai baju yang bahkan anak saya sendiri belum memakainya?" Nada tegas dan marah itu terdengar nyata, setelah ibuku membuka lemari pakaian Khai untuk baju ganti ayahku, mendapati lemari Khai telah diubrak abrik isinya.

Beberapa orang terdiam. Hanya satu orang yang telah berganti pakaian. Yang lain masih dengan kostumnya yang basah dan kotor. Si pemuda, yang ternyata memang menggunakan baju baru Khai, merasa agak malu, namun egonya terlihat nyata.

"Ya sudah, nanti saya ganti!" Katanya sambil melengos. Tak lama, dia mendekati si dokter, berbicara pelan padanya.

"Ibu, saya mau turun, ibu mau dibantu turun? Biar saya gendong turun." 

Si dokter malah menggeleng, "Tidak, terima kasih, saya di sini saja dulu!" Agak ketus suaranya. Dan si pemuda itu pun berlalu, ditonton oleh the survivors lainnya.

Ibunya Putri, tetangga depan rumah yang tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.

"Maaf, Bu, itu saudara ibu? Kenapa tidak ikut bersamanya saja?"

Si dokter malah menangis. 

"Bukan, Bu. Saya tidak kenal. Dia memang yang membantu saya tadi, membantu menarik saya ke teras ini saat saya berupaya menggapai pilar teras. Tapi setelah selamat di sini, dia meminta imbalan. Dua cincin saya telah saya berikan padanya tadi. Dan, dia pasti mengincar kalung emas saya ini. Hanya ini yang masih saya miliki untuk bertahan nanti, Bu." Dan si dokter itu pun menangis sendu.

Ya ampun, di tengah bencana yang sedasyat ini, masih ada juga jiwa-jiwa kotor yang ditunggangi iblis. Menolong dengan pamrih, mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. 

Yah, setan dan iblis memang bebas berkeliaran di celah mana pun! Si pemuda telah berlalu, menyisakan 8 survivors, plus ayah, ibu, dan keluarga ibu Putri, di lantai dua rumah kami. Sementara adikku, Khai, entah di mana dan bagaimana nasibnya? Bagaimanakah mereka menjalani malam yang mencekam, tanpa makanan dan penerangan nanti malam? Dan siapa sajakah para survivors di rumah kami ini?


Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 30 Juni 2013






Read More
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. 

Hari ini (26 Dec 2016), dua belas tahun yang lalu, sebuah bencana maha dasyat bernama cantik telah menggoreskan tinta hitam legam tak terlupakan di benak siapa pun, masyarakat Indonesia yang pernah menyaksikan, mengalami atau hanya sekedar melihat beritanya. Yah, Tsunami. Gelombang maut yang diawali oleh sebuah gempa bumi dengan skala luar biasa besarnya itu [9,1 SR], menggulung daratan Aceh dan meluluh-lantakkan apa yang ada di atasnya, pada 26 Desember 2004.

Mereka yang selamat sempat berpikir; inikah saatnya kiamat? Lantas mereka pun teringat akan sebuah hadist, bahwa kiamat terjadi pada hari Jumat, sementara hari itu adalah hari Minggu. Jadi ini bukanlah kiamat atau akhir zaman. Ini adalah sebuah kiamat kecil paling mengerikan yang pernah mereka saksikan seumur hidup mereka.

Kesan itulah yang dirasakan Mar'ie Muhammad, Ketua PMI. Mar'ie termasuk dalam rombongan yang pada hari bencana tiba di Banda Aceh, petang hari, dengan pesawat pribadi Wapres Jusuf Kalla. "Saya melangkah, ada mayat, melangkah lagi, ada mayat lagi, dengan bentuk yang sudah mengenaskan," tutur mantan Menteri Keuangan itu. "Anak-anak kecil di jalanan berteriak sambil menangis memanggil ibunya; orang-orang dewasa dengan pandangan kosong, kadang berteriak, stress kehilangan keluarganya; makanan tidak ada, air tidak ada, listrik mati, minyak tidak ada. Ini seperti latihan kiamat, kiamat kecil." Ia sendiri selama seminggu setelah pulang dari Aceh menderita stress berat, kadang spontan berteriak begitu terbayang kiamat kecil itu. ~Dikutip dari seri buku BRR - Buku 0. Tsunami
Salah satu sudut Kota Banda Aceh; beberapa kota di NAD menjadi lumpuh total dalam beberapa hari: komunikasi terputus, listrik mati, makanan dan minuman musnah. Foto: Arie Basuki 
Sumber: seri buku BRR - Buku 0. Tsunami
Ingatan tentang 'kiamat kecil' yang terasa begitu dasyat itu, juga tak akan pernah bisa lepas dari ingatan ayahandaku. Yang menjadi korban langsung sang gelombang. Kala itu, jauh sebelum gempa mengguncang Banda Aceh, beliau [selaku salah satu petugas in charge urusan pemberangkatan jemaah haji Aceh], sedang sibuk di asrama Haji. Berseragam putih-putih seperti kolega-koleganya yang lain, mereka menyelenggarakan kegiatan itu. Namun peristiwa itu pun dimulai, kala mereka sedang asyik dan serius pada penyelenggaraan acara.

Mula-mula adalah gempa yang membuat orang pun tak bisa bertahan, tak kuasa berdiri. Sebuah gempa yang berskala 'hanya kurang 0,9 skala untuk mencapai angka 10, skala terbesar pada seismograf, alat pengukur gempa]. Guncangan yang sukses membuat orang-orang oleng, berjatuhan ke tanah, mual dan muntah-muntah. Bangunan retak, namun tak membuatnya ambruk. Sigap mereka menjauhi arena kala sang gempa berhenti sejenak. Gempa dasyat tadi, membuat mereka berfikir untuk kembali ke rumah masing-masing, untuk memastikan/memeriksa kondisi rumah dan anak istri. Begitu juga dengan ayahandaku, setelah mencoba menghubungi ibu yang gagal terhubung [komunikasi langsung lumpuh sejak gempa melanda], maka mereka segera memutuskan untuk pulang.

Di rumah, ibuku yang tinggal sendirian di rumah, ternyata sudah menghambur keluar sejak gempa mengguncang tadi. Berkumpul bersama para tetangga lainnya, dan sama sekali tak berani masuk ke rumah lagi, walau gempa telah reda. Mereka masih berkumpul di jalanan depan rumah, membahas perkara yang sungguh luar biasa itu. Belum pernah seumur hidup, mereka merasakan gempa sedasyat itu. Ayahku tiba tepat tak lama setelahnya, dan bergabung dengan para tetangga. Namun seorang tetangga [anggota Brimob, yang kantornya tak jauh dari kompleks perumahan kami], tiba-tiba muncul [berlari] dari mulut gang mendekati gerombolan kecil ini, seraya berteriak, "AIR LAUT NAIK, AIR LAUT NAIK, LARIIII!"

Ayah, ibu dan para tetangga hanya bisa bengong menatap wajah panik itu. Namun ibuku yang memang alert-nya paling ok, sigap berlari ke dalam rumah, dan tak lama sudah keluar lagi seraya menjinjing sebuah tas berisi barang-barang berharga [sejak Aceh dilanda konflik dan berstatus DOM, ibuku memang selalu siaga dengan sebuah tas berisi koleksi emas dan surat-surat berharga lainnya]. Tas itu selalu saja siaga di sampingnya, jika ada urgent thing, seperti kali ini.

Sigap pula ibu masuk ke dalam mobil dan memerintahkan ayahku untuk starter mesin. Sigap pula ayahku meluncurkan kendaraan roda empat itu, melaju menuju ke arah musholla. Para tetangga ada yang berlarian sambil menggendong anak-anaknya, ada yang mengendarai kendaraan, atau hanya berlari kecil. Panik. Itulah yang terlihat saat itu. Sesampai di ujung gang, di perempatan menuju musholla, ayahku sempat bingung hendak melajukan kemana mobilnya. Akhirnya, ibuku juga yang memberi arahan. Berbeloklah mereka ke arah musholla. Ibuku sigap turun, dan atas perintah ayahku, ibu langsung berlari, menaiki tangga musholla menuju lantai dua, dimana para tetangga lainnya juga sedang berusaha naik ke lantai dua.

Sementara itu, ayahku masih mencoba memposisi mobilnya dalam posisi aman. Menarik rem tangan, memasang persnelling satu, keluar mobil dan mengunci mobil dari luar. Barulah beliau berlari menuju anak tangga. Sempat tertangkap oleh matanya, cairan hitam yang seakan mengejar dan mengancamnya. Hanya setinggi betis, namun cairan hitam itu tiba-tiba saja berubah bak tembok tinggi yang mengejar langkahnya. Anak tangga pertama telah menanti untuk beliau pijak, namun sayang, sebuah balok kayu menghantam kakinya hingga membuat beliau terjatuh, langsung disambut gelombang yang telah menjelma setinggi pinggang orang dewasa. Serba cepat. Arus itu begitu kuat dan kian meninggi. Membuatnya terseret tanpa mampu berdiri lagi. Pasrah, beliau mengikuti arus, yang ternyata menghempaskannya pada sebuah pagar kawat berduri, yang mengitari area kantor Brimob. Beliau rasakan kakinya nyeri, tersangkut pada lapisan terbawah si kawat berduri. Tertancap dalam, dan membuat beliau berada pada posisi berdiri. Air semakin tinggi, telah merendam tubuhnya hingga hidung. Membuatnya kesulitan untuk menghirup udara. Beberapa kali beliau mencoba menarik kakinya dari tancapan si kawat berduri, namun ternyata tak juga mampu mengoyak kulit kaki dan melepaskannya dari kaitan si kawat.

Saat itu, ayahku merasa bahwa inilah saatnya sang ajal menjemputnya. Pasrah tapi juga sedih. Sedih karena anak dan istri, nantinya tak akan menemukan di mana jasadnya. Air hitam ini, pasti akan menghanyutkannya entah kemana. Berurai air matanya, namun kepasrahannya akan takdir, membuatnya benar-benar ikhlas. Sempat juga terucap di lubuk hatinya sebuah dialog dengan sang Ilahi Rabbi.

"Ya Allah, hamba pasrah pada takdir-Mu ya Allah. Jika memang hanya sampai di sini kehidupanku, ambillah aku dalam iman dan islam. Namun jika masih ada ajalku ya Allah, selamatkanlah hamba."

Ajaib, sebuah bisikan di dalam hatinya, seakan memerintahkan agar ayah menengadah. Dan benar saja, begitu beliau menengadah, posisi hidungnya yang tadi telah terendam oleh air berlumpur dan membuatnya kesulitan bernapas, kini hidungnya terangkat tinggi dan leluasa bernapas. Tak hanya itu, tiba-tiba saja, secara ajaib, kakinya tersentak, terlepas dari jeratan si kawat berduri. Mengapung beliau ke permukaan dan arus kuat itu pun menyeretnya kembali. Mengikuti arus dan gelombang air hitam berlumpur yang mengalir dengan kecepatan luar biasa.

Cobaan masih belum berakhir. Arus maha dasyat itu menyeretnya hingga beberapa meter ke depan, menghempaskannya, membuatnya timbul tenggelam hingga suatu ketika tangannya menjangkau sebuah dahan pohon kuda-kuda yang begitu tinggi. Di sana lah beliau berjuang, mencoba bertahan dengan memeluk erat si dahan, hingga akhirnya beliau berhasil bertahan di atas dahan tersebut. Baru sejenak bernapas lega, dari kejauhan mata tuanya, melihat sebuah bahaya lain yang mengancam jiwanya.

Seekor lembu, sedang terseret gelombang dengan arus yang mengarah tepat ke dahan pohon yang sedang didudukinya. Secara logika, beliau tak akan mungkin bisa selamat kali ini. Arus itu jelas-jelas mengarah kepadanya, dan lembu sebesar itu, jika sampai menghantam dahan kecil pegangannya, sudah pasti akan membuat dirinya dan si dahan akan patah. Tamat sudah kini riwayatanya. Begitulah yang ada di dalam benak ayahkku kala itu.
Namun kepasrahan dan doa yang beliau lantunkan, secara ajaib dan di luar logika, membuat arus itu berbelok tepat di depan dahan di mana beliau sedang berlindung. Ya, lembu dan arus itu berbelok menjauh dari dahan. Masyallah. Maha Besar Engkau ya Allah. Lega, beliau duduk di dahan, pasrah. Pedih hatinya menyaksikan beberapa orang yang dikenalnya terombang ambing dalam gelombang, tak jauh di depan matanya, berteriak minta tolong. Air saat itu begitu tinggi, sekitar 4 meter ketinggiannya. Orang-orang yang dihanyutkan gelombang, berusaha dan berteriak menyelamatkan diri, namun gagal akibat arus gelombang yang begitu dasyat. Ayahku hanya bisa meneteskan air mata menyaksikan semua itu. Menyadari, dirinya pun hampir saja mengalami nasib yang sama, jika saja tangannya dan kuasa Allah tak menuntunnya untuk menggapai dahan pohon yang kini sedang didudukinya.

Begitulah, jika memang belum sampai ajal, ada saja cara Allah mengulurkan bantuan-Nya ya, Sobs!
Seperti cara Allah mengulurkan tangan kuasa-Nya, menyelamatkan ayahandaku. Lalu bagaimanakah nasib ibuku?

Well, Sobs, kisah selanjutnya bisa diikuti pada postingan berikut:
  1. all about tsunami - The Survivors - Ibundaku dan Rumah
  2. all about tsunami: The Eleven Survivors
  3. all about tsunami: Hari Kedua
  4. all about tsunami: Gade and Me
  5. all about tsunami: Khai and the Genk
  6. all about tsunami: Khai and Perjuangan Pulang
  7. all about tsunami: Malam Pertama
  8. all about tsunami: Hari Kedua
  9. ........


Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 28 Juni 2013
Read More
/ /
Akhirnya, saat itu pun tiba. Mengerjakan sebuah 'tugas' dari Pakdhe Cholik, sang Komandan BlogCamp, yang sedang menggelar sebuah hajatan akbar dalam rangka peringatan hari berdirinya BlogCamp, the Blog of Leadership. Sang Komandan yang tak pernah kekeringan ide ini, menggelar lagi sebuah kontes unggulan bertajuk "Kontes Unggulan Blog Review: Saling Berhadapan".

foto hasil skrinsut using Macsy
Langsung deh tepok jidat begitu membaca thema kontes si Pakdhe kali ini. Blog Review Berhadapan? Ngereview sebuah Blog? Itu sih butuh keseriusan, konsentrasi dan waktu kan ya? :D. Yang paling utama adalah butuh waktu untuk duduk serius, mengubrak abrik the target blog. Ga bisa main-main ini!
Mau ga ikutan, wah, mana mungkin ga ikutan, bisa disundul Pakdhe lah yao! Haha.
Maka mulailah mikir, hm, siapa ya yang mau aku culik untuk jadi pasanganku? Pikiranku kala itu langsung lari ke seorang karib nun di Banyuwangi sana. Sohib maya yang telah beberapa kali berinteraksi bahkan bertualang di dunia nyata. Yup, Ririe Khayan. Dan tak perlu menunggu lama, saling setuju dengan syarat bahwa tugas ini baru dikerjakan menjelang akhir bulan, mengingat masing-masing juga sibuk dengan berbagai tugas di dunia nyata.

Dan malam ini, inilah hasil ubrak-abrikku di rumah mayanya Ririe Khayan. Pada kenal donk dengan sohib mayaku yang satu ini? Ok, yuk kita lihat, ada apa saja di sana yuk, Sobs!

Kidung Kinanthi

"Kidung", kata ini langsung melarikan benakku pada pengertian senandung/dendang. Dan mungkinkah 'Kidung Kinanthi' bermakna 'senandung seorang Kinanthi'? Bisa jadi kayaknya deh, Sobs! Tapi biar pemiliknya sendiri aja nanti yang mengklarifikasi via kolom komentar, yah!
Tercatat pada blogger.com sejak 2011 dan hingga kini telah menelurkan 262 postingan. Wow! Tak hanya itu, beralih ke domain berbayar [http://ririekhayan.com] adalah bukti keseriusan pemilik blog ini untuk lebih eksis dan tampil profesional dalam hal blogging dan berinteraksi di dunia maya.

Bermain ke rumah mayanya Ririe, kita disambut oleh header template bertuliskan Kidung Kinanthi as the title of the Blog ditambah sebaris kalimat berbahasa Inggris yang penuh makna.

skrinsut langsung dari layar Macsy
Template

Secara keseluruhan, template Kidung Kinanthi yang baru ini terkesan lebih simple dan profesional jika dibandingkan dengan template Kidung Kinanthi sebelumnya. Berwarna dasar [background] putih sehingga membuat mata nyaman untuk berlama-lama membaca sajian-sajian menarik, hangat dan inspiratif yang menjadi ciri khasnya. Sisi kiri dan kanan template ditaburi oleh hiasan variatif berbentuk lingkaran kecil dengan garis tegak yang mengelilingi tiap lingkaran, membuat halaman putih menjadi variatif.

Template ini terdiri atas dua kolom, berupa kolom utama [halaman postingan] dan kolom side bar  di mana sang pemiliknya menempatkan aneka widget untuk menyemarakkan rumah mayanya.


Banner iklan yang menempati urutan pertama di side bar kanan atas, menunjukkan bahwa pemilik rumah maya ini sudah mulai mengoptimalkan blognya untuk monetizing. Asyiik! :) Banner kedua, memperlihatkan dua buah buku/novel keren, "Mozaik Kinanthi" karya Ririe Khayan, dan yang satunya lagi adalah novel fenomenal 'Selingan Semusim', karya Alaika Abdullah. Eits!! Selingan Semusim? Itu karyaku lho! Makasih Ririe sayang atas promosinya. :)

Banner-banner lainnya memperlihatkan aktivitas yang diikuti oleh pemilik blog ini, seperti kompetisi menulis Srikandi Blogger 2013, IdBN, Viva Log, dan lainnya, memperlihatkan betapa aktifnya Ririe dalam menulis dan mengikuti kompetisi demi kompetisi. Keren deh dengan semangat dan kreativitasnya.

Content/Artikel

Banyak sekali informasi yang kita dapatkan dengan berkunjung dan menikmati sajian artikel di rumah maya ini. Ririe selalu bercerita dengan ciri khasnya sendiri. Memasukkan unsur ilmiah di dalam kebanyakan tulisannya, adalah juga merupakan salah satu kebiasaannya. Membuat para tamu [pembaca]nya mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan, di samping informasi-informasi umum yang disajikannya. Tapi terkadang, beberapa pembaca mengategorikan tulisannya ke dalam tulisan 'berat' dan butuh pemikiran. Terkadang lho ya. Hihi.

Ririe TIDAK mengkhususkan rumah maya ini pada satu thema spesial, sehingga tak heran dan sah-sah saja jika kita menemukan beberapa genre di dalam content blog ini. Ada artikel yang berupa informasi serius/ringan, fiksi dan puisi. Menurutku, Kidung Kinanthi ini kaya akan tema. Merangkul beberapa genre, sehingga membuatnya flexible untuk berpartisipasi dalam kontes A, atau Giveway B, lomba C, dan sering pula mengantarkannya sebagai pemenang dari aneka lomba/kontes yang diikutinya.

Visitor

Tentu saja, jumlah visitor tidak selalu ditunjukkan oleh banyak sedikitnya komen yang ditinggalkan pada kolom komentar setiap artikel sih, namun banyaknya komen yang ditinggalkan para visitor di setiap artikel yang diposting, menunjukkan bahwa pemilik blog ini adalah orang yang ramah dan bersahabat, sehingga memiliki banyak sahabat/pengunjung. Selain itu, jelas menandakan bahwa artikel-artikelnya diminati oleh para pengunjung/visitor. Interaksi balas berbalas komen juga menunjukkan bahwa pemilik blog ini menjamu para tamunya dengan ramah.

Page Rank

Nah, setiap blog, website atau rumah maya, sudah pasti memiliki peringkat. Page Rank, adalah hal yang paling sering diperhatikan oleh para netizen. Dan inilah hasil Page Rank Checker untuk Kidung Kinanthi pada malam ini [saat artikel ini ditulis].


Wow! PR 2 bo'! Alexa nya juga udah keciiiil! Terbukti kan analisaku, Sobs? Bahwa Kidung Kinanthi memiliki banyak sekali pengunjung/sahabats.

Loading Speed



Good and Fast! 

Google Indexing

Wow! Ternyata wanita yang hobby mbolang ini juga sudah sangat akrab dengan Mbah Google lho! Terbukti saat aku bertanya pada si Mbah, baru nyebut 'Ririe Khayan' aja, si mbah dengan wajah happy langsung memunculkan link ini.


Dan saat kusebut 'Kidung Kinanthi' si Mbah dengan ceria bilang; "Yang ini toh, Nduk?" sambil dengan bangganya memunculkan ini nih, Sobs!


Mantabs, Gan! Sobatku ini ternyata udah famous banget di dunia maya lho! :)

Input dari Reviewer

Hm, secara garis besar, Kidung Kinanthi telah cukup sukses dalam menarik para pengunjung [para tamu] untuk betah berlama-lama di rumah mayanya. Artinya?
Kidung Kinanthi tuh digandrungi oleh para pengunjung kan ya? Tak banyak masukan yang perlu diberikan sih kalo menurutku, paling cuma dalam penggunaan istilah ilmiah --> jangan yang terlalu berat?
Dan tentang keselarasan paragraf ke paragraf berikutnya, mungkin butuh perhatian agar lebih sinkron? :D


Nah, Sobs! Penasaran dengan Kidung Kinanthi dan pemiliknya [Ririe Khayan]? Sok atuh langsung mlipir ke rumah mayanya di sini nih, Sobs!

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan



Read More
/ /
Tak terasa, hampir setahun juga aku menjadi 'penduduk gelap' alias masih ber-KTP non Bandung. Harusnya, dalam waktu sekian, kemampuan mapping/menghapal jalanan di kota kembang ini sudah naik peringkat sih. Namun apa daya, kelemahan utamaku sejak dulu memang di bidang mapping/mengingat denah/alamat. Sehingga ga heran jika aku akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan dalam rangka mencapai sebuah alamat. Hampir selalu saja dihiasi dengan 'nyasar' atau setidaknya kesulitan menjangkau alamat yang dituju tepat waktu. Hiks.

Syukurnya nih, selama hampir setahun me-warawiri-kan Gliv tercinta di kota ini, walau bernomor polisi Aceh [BL], tapi belum pernah terkena razia deh. Alhamdulillah. Hingga pada suatu hari, sedang ngajakin ayah bunda berkeliling kota, tiba-tiba seorang polisi dengan santun meminta aku untuk menghentikan Gliv. Oops! Apa kesalahanku ya? Perasaan ga ada rambu yang dilanggar deh. Ya sudah, dengan santun kuturunkan kaca jendela, dan memberikan senyum terindah untuk si pak Polisi yang menyapa dengan santun dan memintaku untuk turun dan mengikutinya ke pos polisi tak jauh dari sana. Duh, duit deh ini! Hiks.

"Ibu baru saja melanggar rambu lalu lintas, melanggar forbidden yang terpasang jelas di sana. Boleh saya lihat SIM dan STNKnya?" Katanya seraya menunjuk sebuah rambu yang tadi luput dari perhatianku dan meminta SIM dan STNK mobilku. Olala, ternyata aku melanggar larangan untuk berjalan terus. Harusnya belok kiri. Huft!

Kukeluarkan dompet penuh percaya diri. STNK is ready, but SIM A? Hadeuuuh! Baru ingat aku, ternyata SIM A ku masih tersimpan di dalam tas yang satu lagi. Kemarin setelah aku gunakan untuk identitas mengurus sesuatu, SIM A itu hanya aku masukkan ke dalam tas, tanpa menempatkannya kembali ke dalam dompet ini. Waduuuh, ganda deh kesalahanku.

"Waduh, Pak, saya ga lihat tadi rambunya. Dan mohon maaf, SIM A saya ketinggalan di dalam tas yang satunya lagi, Pak. Ya sudah, kalo begitu, saya mohon slip biru deh, Pak, biar bisa segera saya transfer saja ke kas negara untuk pelanggaran ini." Ucapku santun. Si Pak Polisi masih memegang nota, hendak menuliskan sesuatu di lembaran berwarna merah, seraya mengamati STNK mobilku.

Mendengar permintaanku, si Pak Polisi menengadah dan menjawab.

"Maaf, Bu, saya enggak tau nomor rekening tersebut. Ibu sebaiknya ikut sidang di pengadilan saja. Ibu bisa lihat di sini, berapa denda yang harus Ibu bayarkan untuk pelanggaran ini." Sambil membuka lembaran buku yang dipegangnya.

"Lha, bukankah sudah ada sosialisasi di media, bahwa setiap pelanggaran lalu lintas, si pelanggar dapat memilih opsi untuk menebus kesalahannya? Bisa ikut sidang atau langsung mengakui kesalahannya [slip biru] dan membayarkan dendanya ke kas negara tersebut? Masa' Bapak enggak tau nomor rekening yang dituju?"

Akhirnya, perdebatan 'kecil-kecilan' pun berlangsung sedikit alot. Aku berkeras meminta slip biru, sementara si Pak Polisi bersikukuh NO. Hingga akhirnya, ayahandaku muncul dan masuk ke dalam pos polisi tersebut. Aku pamit sejenak untuk mengambil henpon yang tertinggal di dalam mobil. Ingin menelfon seorang teman [Polisi] untuk meminta arahannya.

Namun ternyata, begitu aku balik ke dalam pos tersebut, eh si ayah telah menyelesaikan perkara! Oalah, ternyata ayahku malah mengajak 'berdamai' dengan si Pak Polisinya. Selembar uang kertas merah telah berpindah tempat, dari dompet ayahku ke dompet si bapak. Yaaaaah! Hiks.

"Ya sudah, Al. Jangan diperpanjang, capek urusannya sementara kita mau cepat. Besok kita mau ke Tasik, kamu kira bisa selesai hari ini urusannya jika ikut persidangan? Udah deh, relakan saja. Cuma untuk ke depannya, pastikan SIM dan berkas lainnya ready bersamamu. Ini mau debat panjang sama mereka sementara berkas kita ga lengkap. Lain kali aja deh kalo kamu mau debat. Tapi saran ayah, hindari having problem with them, lengkapi diri dengan berkas-berkas yang diperlukan!" Wejangan sang ayah dalam bahasa Aceh.

Kami pun pamit dan berterima kasih pada si Pak Polisi, yang membalasnya dengan santun, seraya mengingatkan kami untuk sebaiknya pulang dulu mengambil SIM, baru lanjut jalan-jalan lagi. Seraya si Bapak menutup kalimatnya dengan 'semoga betah di Bandung ya, Pak, Bu!' seraya tersenyum manis. Kami mengangguk santun dan melemparkan senyum manis juga dunk, padahal hatiku dongkol! Seratus ribu, kan lumayan untuk nambah-nambahin bensin! Hihi.

Sejak itu, aku selalu memastikan agar SIM A dan STNK Gliv ready di dompetku, sebelum berangkat dan wara-wiri di jalan raya. Sayang aja kan, jika karena hal itu, isi dompet harus berpindah tempat? Baik ke kas negara atau ke kantong si bapak, toh hasilnya adalah pengurangan budget! Ya kan, Sobs?

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Kinzhihana

Sekedar berpartisipasi untuk menyemarakkan sebuah kontes 
yang diselenggarakan oleh seorang sahabat maya.
Al, Bandung, 26 Juni 2013




Read More
/ /
Courtesy Words To Inpsire the Soul
Postingan ini tercipta dadakan, gegara terinspirasi oleh sebuah quote bergambar pada fanpage FB yang aku ikuti. Yup. Coba deh lihat image di atas, Sobs! Siapa yang mau berdebat bahwa apa yang dikatakannya itu tidak benar? Yah, walo ada sih, segelintir orang tua yang tega meninggalkan/menelantarkan anak-anaknya, namun kita sedang bicara yang secara generalnya toh? :)

Do you know that simple phone call can make them happy? Parents, they didn't leave you when you were young, so don't leave them when they are old.
"Taukah kamu bahwa menghubungi [menelefon] mereka sejenak, menunjukkan perhatianmu, sudah cukup membuat keduanya bahagia? Mereka [Ayah-Ibu], tak pernah meninggalkan kita di kala kita kecil, jadi janganlah tinggalkan mereka pada usia senjanya."

Jadi, tunggu apa lagi, Sobs, yuk luangkan waktu sejenak untuk bercengkrama dengan ayah ibu kita, via telefon, bertemu langsung, atau dengan hadiah Al-Fatihah dan doa bagi yang sudah meninggalkan kita. Don't delay, karena kita tak pernah tau, akankah kita atau mereka masih punya waktu di keesokan harinya?

Have a very great Saturday, Sobats maya tercinta! 

Sebuah catatan, self reminder 
Al, Bandung, 22 Juni 2013
Read More
/ /
The Best Gift called Daddy
Credit

Ini adalah versi lain dari cerita Between the Queen and the Princess, and it is my true story, yang membuatku tak mampu menahan tawa jika ingatan ini melayang ke kejadian menggelikan, puluhan tahun lalu.

Ayah, tak hanya kepala keluarga, tapi beliau adalah Raja di hatiku! Bagaimana tidak coba, Sobs?

Konon, aku baru saja menamatkan masa-masa SMP dan bersiap untuk menjadi seorang murid baru di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri ternama di kotaku, Banda Aceh. Sebut saja SMA Negeri 3 Banda Aceh. Eits, jangan salah, saat itu, 1986, SMA Negeri 3 yang kerennya disebut SMANTIG adalah paling top lho di kotaku. Dan di sanalah aku diterima untuk melanjutkan studiku.

Seragam baru, sepatu dan buku baru, semua telah tersedia. Yeay, jadi murid baru di sekolah ternama. Tak terkira girangnya hatiku. Aku udah jadi anak SMA, cantik pula! Begitulah yang ada di hatiku setiap aku berdiri di depan kaca. Weis, pede abis deh pokoke, Sobs! Tapi kok ya, aku masih kurang puas dengan gaya rambutku ya?
Setelah berfikir beberapa kali, akhirnya kuputuskanlah untuk meng-gelombang-kan [waving] yang memang sedang trend kala itu. Ijin pada ayah dan ibu, aku ditemani oleh seorang teman, yang juga akan bersekolah di SMA yang sama, meluncurlah kami ke sebuah salon langganan si teman.

Tak pakai lama, si tukang salon [hair stylist?] pun mulai mengutak atik rambutku. Kupasrahkan tatanan/gaya rambutku padanya, dengan harapan hasil terbaik. Sama sekali tak ada pertanda apalagi firasat buruk. Kupercaya penuh, profesionalitas si mbak ini, pasti akan menghasilkan rambut yang trendy dan menjadikan aku tampil cantik sebagai anak baru di SMA nanti. Asyiik. Tak sabar aku menanti treatment ini selesai. Hingga akhirnya, lebih dari satu jam kemudian...

Taraaaaaa!
Hampir saja aku menjerit histeris, menyaksikan hasil pekerjaan si mbaknya. Ya ampun, oh my God! Rambutku tak ubahnya wanita Africa. Keriting ting ting! Rambut yang tadinya lebih sedikit dari bahu, kini menyingkat/memendek dan keriting ting ting! Air mata yang hendak membuncah, sepertinya kalah oleh emosiku yang hendak meledak. Temanku ikut kaget, dan prihatin. Masyaallah! Dan si mbaknya, ketakutan donk pastinya melihat wajah galakku. Raut wajahnya memucat. Suaraku bergetar, emosi penuh. Menggelegar suaraku, komplain. Pemilik salon menghampiri, bersama si Mbak dia meminta maaf, karena ternyata hasil ini disebabkan oleh proses yang melebihi waktu yang seharusnya. Kesalahan si Mbak sih, tapi apa mau dikata. Saat itu belum mengenal proses rebonding, yang ada hanya curling/pengeritingan and waving. Tak ada upaya yang bisa dilakukan! Artinya aku harus tabah menghadapi kenyataan, bahwa aku akan menjadi murid baru dengan rambut persis wanita Africa! Hahaha. #Ngakak guling-2 lagi deh mengingat kejadian ini. Hahaha.

Emosi tersalur tuntas, menyisakan kepedihan di hati, dan cairan bening yang tak lagi mampu dibendung oleh telaga di mataku. Sepanjang perjalanan pulang, air mata itu menetes dalam diam. Saat itu, aku dibonceng oleh si teman. Kami membisu dalam perjalanan. Tak ada yang perlu dibahas lagi, kuyakin si teman juga sedang prihatin banget akan nasib yang menimpaku ini. Haha. Terbayang di benakku, pasti aku akan ditertawakan oleh adik-adikku nanti begitu kami sampai di rumah. Juga, pasti ayah dan ibu akan ikutan tertawa terbahak-bahak menyaksikan anak perempuan satu-satunya ini yang telah berubah KRIBO! Hiks.. mewek lagi deh akunya membayangkan hal itu.

Dan benar saja, belum lagi masuk ke dalam rumah, aku sudah disambut oleh tawa ngakak ketiga adikku, yang adalah cowok semua. Tertawa sambil menunjuk rambutku. Huaaaaaa, aku mewek lagi. Suasana ribut donk, dan ayah serta ibuku keluar. Ibuku tak bersuara, sepertinya terpana melihat putrinya yang berurai airmata. Tapi ayah? He is the real king of mine!

"Lho, kenapa anak ayah harus menangis? Masih cantik kok! Orang cantik ya tetap cantik walau rambutnya diapa-apain pun! Coba ayah lihat!"

Suaranya begitu teduh. Walau kutau persis, itu hanyalah kalimat penghibur, tapi anehnya, hatiku terasa teduh. Menjadi legowo walau di balik punggung ayah, ketiga adikku masih ngakak guling-guling. Kurang asem deh mereka! TERLALU! Hahaha.

Ibuku masih tak mampu berucap, sedih mungkin melihat putrinya, namun ayah memang tanggap sekali dan tau persis harus bertindak bagaimana. Airmata yang menelaga ini, harus segera dihentikan dengan kalimat-kalimat penghiburannya. Dan itulah yang beliau lakukan.

Again, a woman will be always a princess to her father! Ga salah kan jika aku setuju dengan quote ini:
the greatest gift I ever had came from God, and I call him Daddy.

Well, Sobs, jangan senyum-senyum gitu donk, punya pengalaman heboh bin unik yang bisa dishare? Langsung deh di kolom komentar yaaa. :)

sebuah catatan yang selalu menyunggingkan senyuman,
Al, Bandung, 21 Juni 2013



Read More
/ /
Credit
Sebuah diskusi hangat dan menarik berkembang di sebuah thread di grup FB yang aku ikuti. Topiknya adalah tentang perlu tidaknya seorang wanita itu berkarir alias bekerja. Sebuah topik yang selalu saja akan menghasilkan jawaban pro dan kontra pastinya. Dan, sudah pasti, kita harus menghargai setiap jawaban yang diberikan oleh masing-masing individu dunk. :)

Ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sejati. Mengurus suami dan anak-anak dan segala urusan rumah tangga. Tentu itu adalah tugas dan pilihan mulia. Sama sekali tidak salah. Pantes pula kita acungkan jempol, karena untuk itu lah seorang istri dan ibu diciptakan bukan? :)
Ada pula yang menjawab bahwa dirinya memilih untuk tak hanya menjadi istri dan ibu, tapi juga menjadi wanita karir. Wow, ini juga pilihan apik yang perlu acungan jempol deh. Tidak ada salahnya. Cool.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan para wanita ini berkarir, di antaranya adalah untuk membantu ekonomi keluarga, untuk aktualisasi diri (sayangkan jika udah kuliah tinggi-2, eh akhirnya hanya berakhir di rumah?) Dan berbagai alasan lainnya.

Menurutku sih, kedua pilihan itu, sah-sah saja. Apalagi dijalankan dengan dukungan penuh (persetujuan) sang suami. Tapi boleh donk memberikan opini pribadi tentang hal ini? :D

Namun sebelumnya, aku ingin memberikan pengertian secara khusus dulu tentang arti kata 'bekerja' yang akan kita bahas di dalam artikel ini ya, Sobs!
'Bekerja' di sini, tak hanya terbatas pada 'kerja kantoran' lho ya, tapi mencakup arti yang lebih luas. 'Wanita bekerja' dalam artikel ini, maksudnya adalah para wanita yang mampu berdikari, mampu menghasilkan uang/nafkah, mengelola keuangan dari hasil kegiatannya. Misalnya dari hasil buka/kelola kantin, membuat handicraft/prakarya, menjahit, berjualan/dagang, internet marketing dan berbagai aktivitas produktif dan positif lainnya.

Menurutku, setiap wanita itu harus 'bekerja'. Ingat lho, arti kata bekerja dalam artikel ini adalah yang tertulis pada paragraf sebelumnya. Yup, setiap wanita, setiap istri harus mampu berdikari. Mengapa?
Karena, ada sebuah rahasia Ilahi, yang kita tak pernah mampu menguaknya. AJAL. Dia adalah sebuah kepastian yang tak pernah delay. Tak pernah bisa kita ulur waktunya. Begitu tiba waktunya, maka tak seorang pun mampu menolak, apalagi protes.

Kita tak pernah tau, siapa yang akan lebih dulu dijemput sang ajal. Kita kah (istri) atau sang suami? Nah, jika yang harus pergi lebih dahulu adalah suami tercinta, sementara kita tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan nafkah, bayangkan bagaimana jadinya kelanjutan kehidupan kita dan anak-anak, begitu kehilangan tulang punggung keluarga? Kehilangan si pencari nafkah? Keluarga kita, mungkin akan mencoba membantu, tapi sampai kapan? Itu pun jika mereka mampu melakukannya. Bukankah mereka juga punya keluarga sendiri yang harus diurus dan pertanggungjawabkan?
Ibuku, selalu berpesan, bahwa sebagai wanita, aku harus berdikari. Harus mampu menghasilkan pendapatan untuk menunjang kehidupanku. Terserah caranya, yang penting halal. Mau kerja kantoran, mau dagang, investasi atau apa pun, yang penting harus pinter cari duit. Karena kita tak pernah tau siapa yang akan pergi duluan! Itu kalimat yang selalu ditanamkan oleh ibuku, dan hingga kini terpatri rapi di benakku.

Back to the topic, selain karena ajal, yang menjadi pemisah utama antara sang istri dan suaminya, juga mungkin (kita tak pernah tau toh bagaimana ke depannya?), perceraian, dapat pula menjadi alasan mengapa seorang wanita harus mampu berdikari. Selain itu, single woman, jg wajib menjadi wanita berdikari, benar tidak, Sobs?

Jadi, menurut hematku sih, setiap wanita, sudah seharusnya melatih diri, mengasah kemampuan untuk mampu 'bekerja'. Ingat ya, 'bekerja' sesuai dengan pengertian yang kita sepakati di atas lho. Mampu berdikari. Paling asyik sih, jika kita mampu menghasilkan pendapatan di bidang yang memang kita sukai. Sesuai dengan passion kita. Namun, tentu tak semua orang berkesempatan seindah itu, bisa 'bekerja' sesuai passionnya. Tapi tak perlu lah hal itu membuat kita kecewa. Pasti akan ada peluang yang terbuka bagi kita yang memang berminat untuk mencobanya. Yuk ah, kita coba lihat peluang apa yang kira-kira bisa kita masuki dan berdayakan untuk melatih diri, agar mampu menjadi wanita-wanita tangguh dan mandiri, tentu saja, tanpa melupakan kodrat diri. :)

Sebuah catatan pembelajaran dalam kehidupan, 
diposting sambil menemani putri tercinta having hair treatment di sebuah salon.

Al, Bandung, 20 juni 2013 

Powered by Telkomsel BlackBerry®



Read More
/ /
Berita itu begitu mengejutkan. Sungguh! Jemariku yang sedang bergerak lincah menuntaskan postingan untuk sebuah Giveaway, terhenti seketika, tepat setelah aku menekan tombol 'publish' pada halaman dashboard blog Healthy Life. Terhenyak oleh berita yang dihantarkan oleh sebuah modulasi yang begitu akrab di telinga. Mimi Radial. Wah, tumben-tumbenan ini Mimi nelefon dini hari begini? Kulirik angka digital yang tertera di sudut kanan layar Macsy. 01.36 dini hari. Mungkinkah Mimi berantem sama si babe hingga menelefon jam segini? Atau ada sesuatu yang urgent lainnya? 

"Mbak, suamiku meninggal dunia!"

Berita ini langsung membungkam dialog yang sedang berlangsung di dalam hatiku. Oh My God.

"Ha? Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Sakit apa Mi? Kapan meninggalnya?" Serbuku setelah terdiam beberapa detik akibat berita mengejutkan itu.

Dan suara sendu di seberang sana menjelaskan bahwa sang suami telah menghadap Sang Pencipta pada pukul sembilan malam tadi, Selasa, 18 Juni 2013. Tanpa sakit apa-apa, dalam artian masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan Mimi sendiri sedang tidur kala suami terkasih meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hanya Kakak Rani, putri pertama yang sempat menyaksikan kepergian sang ayah. Duh, pedih hatiku. Mungkinkah terkena serangan jantung, mengingat almarhum memiliki riwayat penyakit ini?

Serta merta kutanyakan nama lengkap almarhum, jam kepergiannya dan ijin dari Mimi untuk share informasi duka ini ke grup kami di facebook dan media lainnya. Dan atas ijin Mimi, aku langsung posted di beberapa group yang kami ikuti, juga di wall-ku sendiri dan wall-nya Mimi.

Tak tertahan, airmata ini mengalir perlahan. Pedih, haru yang membiru. Membayangkan bagaimana rasanya saat itu Mimi dan anak-anak harus menghadapi kenyataan yang tak pernah terduga seperti ini. Ingin rasanya terbang ke sana dan memberikan pelukan hangat, menguatkan Mimi yang aku yakin saat ini pasti sedang diguncang aneka rasa.

Ya Allah, kuatkan sahabatku ini ya Allah, tabahkan hatinya, terangkan hatinya untuk tetap sabar menghadapi cobaan-Mu ini ya Allah. Dan bagi almarhum suaminya, Bang Muliadi Sentosa Nasution, semoga Allah menerima amal ibadahmu selama ini, ya, Bang, dan semoga Allah memberi tempat terindah bagimu di sisi-Nya sebagai imbalan dari amal ibadahmu, Aamiin. 

"Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mendahulukannya. ~QS. Yunus, ayat 49

Ajal, memang rahasia mutlak sang Ilahi Rabbi. Tak terbantahkan. Kepastian yang tak pernah delay. Hanya saja, kita tak pernah tau kapan dia akan datang dan memisahkan kita dari raga. Tak kurang dari 145 ayat di dalam Al-Quran yang menyebut/membahas masalah kematian. Allah hanya memberi konfirmasi bahwa kematian itu nyata dan karenanya mengingatkan kita untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan afterlife kelak [kehidupan akhirat].

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ~QS. Ali Imran : 185

Mari persiapkan bekal menghadapi realitas yang tak terelakkan ini yuk, Sobs!

Sebuah catatan pembelajaran dalam kehidupan,
Al, Bandung, 19 Juni 2013
Read More
/ /

Berbelanja secara online, tentu bukan lagi hal yang aneh untuk dilakukan. Kuyakin, banyak dari kita yang pernah bahkan sering melakukannya. Dan dari pengalaman berbelanja online tersebut, tentunya pula, banyak dari kita yang mengalami pahit getirnya transaksi itu.

Aku sendiri termasuk orang yang suka sekali berbelanja online. Selain praktis dan efektif, juga membuat kita tak perlu jauh-jauh meninggalkan rumah/kantor untuk melakukan transaksi. Tinggal pilih, order, bayar, dan tunggu lah paketnya sampai ke depan pintu alamat pengiriman kita.

Namun, tentu saja, kita tak bisa sembarangan berbelanja online. Artinya, kudu verifikasi terlebih dahulu, toko online/supplier mana yang kredibel/terpercaya untuk menjadi tempat kita berbelanja. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa, di jagad maya ini, banyak sekali website/situs yang berkedok jualan ini itu, padahal hanya akal-akalan atau fiktif belaka. Tak jarang, para customer dibuat kecewa, karena setelah pembayaran, barang yang dinanti tak pernah kunjung tiba.

Back to the topic, Belanja Online yang Bikin Jantungan! Pengalaman inilah yang ingin aku bagi kali ini, Sobs! Walau setahun lebih telah berlalu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 2012 yang lalu, namun hingga kini tragedy ini begitu membekas di hati. Trauma? Tidak juga, tapi cukup membuatku menjadi sangat hati-hati, sesudahnya. #Terkadang, pengalaman pribadi adalah guru terbaik. :)

Hari sudah hampir menjelang magrib kala itu, namun aku masih saja tenggelam dalam tumpukan pekerjaan tanpa mampu membebaskan diri. Sementara niat hati, sejak pagi sudah begitu kuat untuk berbelanja online, hari ini. Harus hari ini, karena aku sudah tak sabar untuk berpindah ke 'rumah' baru. Aku ingin rumah maya tercinta ini, kala itu masih beralamat di http://my-virtualcorner.blogspot.com, untuk segera hijrah ke rumah baru yang lebih keren, berdomain . [dot]com!

Makanya, walau sibuk dengan beberapa laporan yang harus direview, niat ini tetap saja menari-nari dan mencuri perhatianku. Hingga kuputuskanlah untuk melakukan aktivitas belanja domain, di sore hari menjelang pekerjaan kantor selesai. Dan, ternyata, barulah pada saat menjelang magrib itu, pekerjaanku tuntas, dan mulailah aku bertransaksi.

Seorang teman blogger ngasih rekom untuk belanja online di sini, karena ini adalah situs penyedia domain-hosting terpercaya. Tentu donk aku percaya penuh dan langsung mengikuti petunjuk untuk bertransaksi. Sebuah domain dengan namaku sendiri, alaika abdullah tersedia. Yeay!! Dengan harga yang sangat terjangkau pula. Rp. 87.023 [delapan puluh tujuh ribu dua puluh tiga rupiah]. Murah bener kan? Maka dengan santai kumasukkan angka yang harus kutransfer itu, dan memulai prosesnya. Sandi dari token kudapatkan dan masukkan langsung ke layar monitor yang telah menanti....

Karena disarankan untuk menambahkan angka unik di belakang angka yang harus kutransfer, tanpa pikir panjang kutambahkan angka 99 di belakang angka 87023 itu, sehingga terbentuklah deretan angka 8702399. Aku masih santai dan sama sekali tak menyadari jika angka yang berjejer itu telah membentuk digit jutaan! Masih dengan santai pula, aku menekan tombol KIRIM untuk meng-ok-kan transaksi tersebut. Tulisan di layar yang memberitahukan bahwa transaksi TERLAKSANA dengan sukses, jelas membuatku gembira. Hore, aku telah mendapatkan domain, alaikaabdullah [dot] com sebentar lagi akan menjadi URL rumah maya ini.

Loginlah aku kembali ke member area si penyedia website, untuk mengkonfirmasi transaksi yang telah aku lakukan. Kumasukkan data yang diminta, lalu sebuah notifikasi muncul dari si penyedia website, menyatakan bahwa telah terjadi kelebihan/kekurangan transfer terhadap tagihan Rp. 87.023 itu. Awalnya aku masih belum ngeh, kucoba lagi mengulang entry data yang diminta, dan sekali lagi muncul notifikasi yang sama, bahwa telah terjadi kelebihan/kekurangan transaksi.

Barulah, meluncur bebas dari bibirku teriakan sempurna. "Ya Allah! Oh My God!" dan aku terdiam. Ingin menangis! Tanpa sadar aku telah mentransfer dana sejumlah Rp. 8.615.376 [delapan juta enam ratus lima belas ribu tiga ratus tujuh puluh enam rupiah]! Tak tanggung-tanggung, aku telah kelebihan transfer sejumlah Rp. 8.615.376 [delapan juta enam ratus sekian rupiah]. Oh Tuhan! Hiks.

Panik? PASTI! Mana sedang azan Magrib pula, pasti deh ini toko sudah tutup. Gimana donk ini? Aku langsung curhat pada teman yang memberi rekom. Dan atas inisiatifnya, aku langsung dial nomor telp si penyedia situs, yang memang tersedia di websitenya. Alhamdulillahnya, telefon dan laporanku diterima dengan baik oleh mereka, dan untuk laporan resminya, aku juga segera menyertakan email tentang hal ini, yang langsung dibalas bahwa mereka akan segera menindak-lanjutinya. Bahwa tim accounting mereka akan menelusuri hal ini, dan jika memang benar telah terjadi kesalahan seperti itu, maka mereka akan mengembalikan kelebihan transfer itu. Tentunya, dalam waktu maksimal 14 hari kerja. Its, ok, tak masalah bagiku, yang penting uangku kembali. Delapan juta sekian itu, sangat berarti buatku, Sobs! Hiks.

Tapi, walau jawaban mereka sangat responsif, namun aku tetap aja ketar ketir tuh, jantungan menanti proses verifikasi dan pengembalian uang itu. Kebayang kan, Sobs? Gimana deg-degannya menanti uang sebanyak itu? Hiks. Dan Alhamdulillahnya, keesokan harinya, aku mendapat balasan email dari penyedia website ini, bahwa mereka akan segera memproses pengembalian kelebihan dana tersebut, dalam waktu maksimal 14 hari ke depan. Alhamdulillah. Tak salah aku memilih toko online ini, mereka begitu profesional!  Lega rasanya, Sobs! :)

Namun, pengalaman ini, sungguh memberiku pelajaran untuk:

- Teliti sebelum bertindak! Apalagi saat ini, ujung jari punya kekuatan prima, sekali hentak di tuts keyboard, dia mampu mengirimkan apa saja. Email, pesan, bahkan rupiah atau dolar atau mata uang lainnya ke rekening yang dituju....

- Bahwa jangan menganggap enteng segala sesuatu. Tadinya aku anggap angka 99 tak berarti apa-apa, karena dia hanya akan berdiri di belakang koma, aku lupa, bahwa net banking tidak membaca tanda titik atau koma, maka puluhan ribu menjelma menjadi jutaan! Hiks..hiks..

- Jangan menunda. (tadinya aku rencana mau shalat Magrib dulu, baru jemput Intan, eh malah jadi menuntaskan pembayaran, baru shalat dan jemput Intan, yang akhirnya satu pun tak jadi aku laksanakan). Ya Allah, ampuuun...

- dan lain-lainnya...


Well, Sobs, gitu deh pengalaman belanja online yang sempat bikin aku jantungan. Beli domain termahal di dunia, haha. Untung perusahaan dimana aku melakukan transaksi, cukup profesional. Semoga artikel ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua ya, Sobs!



Sebuah catatan pembelajaran dalam kehidupan,
Al, 14 Juni 2013, The Papandayan Hotel, Bandung,

Read More
/ /

Orangnya tinggi, tegap, tampan dan sangat santun. Itulah kesan pertamaku kala pertama kali bertemu dan berinteraksi dengannya. Pemuda yang namanya pun belum pernah kudengar sebelumnya, tapi serta merta menarik perhatian dan membuatku terkagum-kagum, saat Mira Sahid, si MakPon [sang Pendiri] KEB yang juga adalah salah satu panitia Asean Blogger Festival, memperkenalkan dan menyandingkan kami, untuk mewakili Blogger Indonesia, menyampaikan pesan dan kesan, pada hari penutupan Asean Blogger Festival 2013 kemarin.

Dimas, begitu pemuda ini dipanggil, mendengarkan penuturanku dengan santun. Bertanya dan mendengarkan dengan baik apa-apa yang aku jelaskan, terkait hal-hal yang perlu kami sampaikan pada saatnya nanti. Terus terang, pemuda ini, begitu menarik perhatianku. Ada sesuatu yang begitu istimewa terpancar dari kepribadiannya. Matanya boleh saja tak bersinar, namun taukah Sobats? Cahaya terang itu terpancar sempurna dari semangat hidup dan pancaran kecerdasannya yang mungkin Dimas sendiri tak menyadarinya. 

Ya, Dimas Prasetyo Muharam, seorang anak muda inspiratif, yang mengalami penurunan daya lihat sejak usia 12 tahun, kala dirinya duduk di kelas enam SD, caturwulan kedua. Disebabkan oleh toxoplasma yang menyerang kornea matanya, dan menuntun Dimas kecil untuk mengadaptasikan diri dan bersahabat dengan kegelapan.

Foto dicaptured dari tayangan acara Kick Andy, yang di share di You tube.

Dimas bertekad untuk menjadi seorang tuna netra yang TIDAK BIASA. Prestasi-prestasi akademiknya yang sudah terbiasa dia peroleh kala cahaya kehidupan masih bersahabat dengannya, tetap mampu dia pertahankan. Bahkan, tekad dan semangat juangnya yang tak pantang menyerah, sukses menjadikannya seorang sarjana jebolan dari Fakultas Sastra [Inggris], Universitas Indonesia! Wow! Tak hanya itu, dalam keterbatasan penglihatannya, pemuda ini justru tercatat menjuarai berbagai lomba kepenulisan lho! Juga lomba berpidato dalam bahasa Inggris dan segudang prestasi lainnya, yang bisa dilihat pada informasi diri yang tertera di rumah mayanya. Prestasi-prestasi di atas, masih ditambah lagi dengan aneka predikat keren lainnya yang dilekatkan kepadanya. Diantaranya adalah, blogger, penulis artikel di koran, Ketua Komunitas Kartunet, dan lain-lain.
See, Sobs? Kemauan dan semangat juang dan kepercayaan diri untuk mengejar cita, adalah bukti nyata bahwa disabilitas bukanlah kendala utama bagi seseorang untuk menggapai cita dan asa.


Menyebut Kartunet, tentu banyak diantara kita yang familiar dengan kata ini kan? Apalagi beberapa bulan ke belakang, pernah ada blog contest tentang Kartunet dan isu disabilitas. Ya, tidak salah jika pikiran kita langsung menghubungkan antara Kartunet dan disabilitas sih, Sobs!

Karena Komunitas bernama Kartunet [Karya Tuna Netra] Community Indonesia, yang dibentuk dan dikelola oleh Dimas dan teman-teman penyandang disabilitas lainnya ini memang bertujuan untuk memanfaatkan keunggulan teknologi informasi dalam rangka mendobrak stereotip masyarakat Indonesia, yang masih beranggapan bahwa kaum tuna netra dan para penyandang disabilitas lainnya, adalah merupakan kaum yang tak mampu berdikari. Masih banyak anggapan bahwa para peyandang disabilitas ini, paling bisa hanya menjadi tukang pijit [kaum tuna netra], pengemis [penyandang cacat fisik lainnya], dan berbagai pekerjaan miris lainnya.

Melalui situs Kartunet yang telah berdiri sejak tujuh tahun silam ini, Dimas dan teman-teman berupaya untuk menunjukkan bahwa tunanetra pun mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang 'normal' di belantara dunia maya. Kaum tuna netra masa kini, telah memiliki kemampuan yang setara dengan masyarakat umum lainnya, baik dalam hal blogging, internetan, menulis fiksi, membuat tutorial, web mastering dan berbagai pekerjaan yang menyangkut bidang IT lainnya. Bahkan mampu untuk berjualan/marketing produk-produknya dengan memanfaatkan dukungan online lho! Hanya sayangnya, di Indonesia, kemampuan ini masih banyak yang belum menyadarinya. Semoga ke depannya, bersama dengan kiprah Kartunet dan sosialisasi menyeluruh dari semua pihak, akan makin banyak masyarakat awam yang ter-sosialisasikan tentang hal ini, dan tak lagi memandang sebelah mata terhadap para penyandang disabilitas, yang saat ini masih termarjinalkan.

Kembali ke sosok pemuda santun yang kukagumi, Dimas Prasetyo Muharam, yang sukses membuatku terpana menatap jemarinya yang menari gembira di atas keyboard laptopnya, dan mengundang sebongkah besar tanda tanya di hatiku. How does that work? Bagaimana cara Dimas mengetahui apa yang diketiknya? Atau bagaimana cara Dimas bisa membaca tulisan yang ada di layar? Aku sungguh terpana dan takjub! Begitu canggihnya teknologi. Oh, thanks to technology!

Sebuah software bernama Screen Reader, ternyata menjadi senjata andalan kaum tuna netra, dalam mengubah visual mode ke audio mode. Apa yang tertera di layar monitor, kemudian oleh si screen reader  diubah menjadi talking devices [perangkat yang dapat berbicara/audio] sehingga dapat dimengerti oleh teman-teman penyandang disabilitas ini. Again, thanks to technology! Salute!

Dimas [dalam white circle] sedang mengikuti seminar hari pertama ABFI 2013
Ki-ka: Dimas, Blogger Singapore, Alaika, Blogger Myanmar
Saat menyampaikan Kesan dan Pesan dalam acara ABFI 2013
Sungguh, aku terkagum akan Dimas, Kartunet dan teknologi yang kian canggih. Yang ternyata tak hanya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang non-disabilitas, namun juga mampu ditaklukkan oleh kaum disabilitas. Sayangnya, hingga detik ini, masih sedikit Dimas-Dimas lain yang concern akan hal ini. Semoga ke depannya, akan semakin banyak teman-teman penyandang disabilitas yang tercerdaskan, terberdayakan dan mampu bersaing dalam kancah globalisasi ini. Tentunya, dengan dua modal utama yang adanya justru di hati masing-masing. Yaitu NIAT dan MAU. Niat dan kemauan untuk menguasai teknologi dalam mencapai kemandirian dan menyokong kehidupan. Seperti yang telah banyak dituliskan oleh Dimas di dalam artikel-artikelnya yang begitu inspiratif.

Well, Sobs, penasaran dengan Dimas Prasetyo Muharam? Silahkan ubek-ubek rumah mayanya, dan temukan artikel-artikel mencengangkan dan inspiratif yang tersaji di sana. Jangan lupa, luangkan juga waktu Sobats untuk bertandang ke Kartunet.com, dan rasakan sendiri kekaguman dan apresiasi yang terpancar dari hati Sobats terhadap kiprah mereka, yang sungguh setara dengan karya kaum non disabilitas!

Check it out at : Dimas P Muharam dan Kartunet Community Indonesia
Twitter: @DimasMuharam

Special Note to Dimas:
Dim, maaf ya, udah ubek-ubek blog kamu dan tanpa ijin mencurahkan kekaguman dan apresiasi saya terhadap kiprahmu dan Kartunet via artikel ini. Salam hangat dan sukses selalu!

Sumber referensi:
http://www.dimas.my.id/
http://kartunet.com
Video-video yang ada pada twitternya Dimas.
Sebuah catatan penuh kekaguman,
Al, Bandung, 13 Juni 2013

Read More