Archive for February 2013
Menu
/ /
credit
Pernah merasakan jatuh bangun dalam kehidupan? Atau malah bukan hanya jatuh bangun, tapi terjerembab, terbanting dan terombang ambing dalam gelombang kehidupan?

Aku yakin semua dari kita pernah mengalaminya. Karena kita ga akan pernah tau apa itu bahagia, sebelum kita mengenal dan merasakan bagaimana rasanya duka lara. Kita tak akan pernah tau bagaimana rasanya kita berkecukupan, sebelum merasakan ketiadaan. Tak akan pernah paham akan kesuksesan jika pembandingnya [kegagalan] tak pernah menghampiri kehidupan. Tak kenal kata menyesal, sebelum menyadari bahwa jalur yang ditempuh adalah telah salah arah.  

Jatuh bangun dalam kehidupan, adalah hal yang sangat biasa. Lumrah, normal. Semua orang pernah mengalaminya. Hanya saja, cara orang dalam menyikapinya itulah yang membawa perbedaan. Yang membawa akibat yang bervariasi. 

Suatu ketika, di saat sedang terpuruk banget oleh  keadaan finansial yang mulai gonjang ganjing, seorang sahabat dekat, dalam sebuah obrolan berkata begini sobs.

"Al, my question is, berapa kali kamu pernah memanjatkan puji syukurmu kepada Allah SECARA KHUSUS, saat kamu diberi kesempatan bertahun-tahun menerima gaji puluhan juta perbulan?"

Sebuah pertanyaan yang sungguh menyentak batin tentu saja, dan langsung menyeret alam fikirku untuk merenung. Iya ya? Tak ada ritual khusus yang aku lakukan saat anugerah itu mengalir lancar. Paling yang aku lakukan adalah membagikan rezeki itu kepada ayah ibu, si adik bungsu, bersedekah ke fakir miskin dan mesjid [itupun tidak setiap waktu], menambah aset, dan jalan-jalan.

Sementara untuk sang Pemberi Rezeki berlimpah itu? There is nothing special I have performed. Bahkan untuk melakukan kewajibanku [Berhaji] pun tidak aku lakukan. Umroh  saja, yang hanya butuh kurang dari sebulan gajiku saat itu, tidak terfikirkan. Ya Allah. Benar. Tak ada persembahan khusus untukmu atas segala anugerah yang telah Engkau limpahkan itu.

Aku hanya mampu menggeleng. "Nothing. Ga ada sama sekali. Ga ada yang special." Jawabku sedih, lirih. Bagai tertampar.

"Sama Al, aku juga dulunya begitu. Jangan sedih, ada kawan kok. Hehe." Si teman malah tertawa, dan menyambung.

"My second question is, apakah disaat Allah mengujimu, memberimu cobaan seperti ini, lalu kamu akan tersungkur dan membiarkan dirimu terbenam? Padahal ini adalah ujian. Ingat lho, orang yang ingin naik kelas, harus lulus ujian. Orang yang ingin berhasil, harus berusaha untuk melewati rintangan."

Lagi-lagi aku tepekur. Sungguh benar apa yang diucapkan si sahabatku ini.

Iya, aku yakin, banyak dari kita yang langsung terpuruk, bahkan menyalahkan atau mengeluh pada Tuhan begitu menghadapi sebuah kemalangan atau keadaan yang tidak sesuai harapan. Dan mulai bertanya;

  • Tuhan, kenapa aku sampai gagal, padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga? 
  • Tuhan, mengapa penyakit ini menimpaku, apa salahku? 
  • Tuhan... mengapa Engkau coba aku sekejam ini? Padahal aku selalu berbuat baik? 
  • Tuhan, mengapa Engkau tidak adil? Engkau beri dia kesuksesan dan keberuntungan, padahal dia sama sekali tidak berbuat baik? 
  • Mengapa justru aku, yang begitu taat padaMu, malah Engkau buat melarat seperti ini?
  • Mengapa engkau beri aku pasangan yang tidak baik padahal aku adalah orang yang baik? 
  • Dan berbagai keluhan lainnya, yang mungkin membuat sepasang malaikat pencatat di sisi kiri kanan kita, jadi saling melirik satu sama lain sambil mencibir kita. 

Aku yakin, banyak dari kita yang terkadang, tanpa sadar mulai mengeluh, merasa tak adil dan tak siap saat menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan. Dan tanpa sadar pula, langsung mengeluh dan menyalahkan yang diatas. Padahal, itu adalah sebuah ujian, untuk melihat dan melatih kita agar tegar dan lebih kokoh dalam menghadapi roda kehidupan ini.

Bahwa segala sesuatunya memang telah digariskan. Bahwa untuk mencapai anak tangga ke tujuh, kita harus menaiki tangga 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 terlebih dahulu... kecuali kita memang pemain akrobat yang sanggup sekali lompat dan hap! langsung di tangga ketujuh. Tapi si pemain akrobat sekalipun, bukankah dia juga berlatih terlebih dahulu sebelum melakukannya?

Jadi... bukan bermaksud menggurui lho sobs... Sikapilah 'jatuh bangun' dalam kehidupan ini dengan sikap yang positif. Karena dengan sikap positif inilah, kita akan mampu berfikir jernih, menentukan langkah ke depan, agar bisa bangkit dari 'jatuh/terjerembab atau bahkan terbanting' sekalipun.

Bayangkan, jika cara mensikapi kita adalah negatif, maka pesimistis, iri dengki, dan berbagai sikap buruk lainnya akan langsung menjadi pendamping setia. Dan bisa dipastikan, kita akan menjadi sosok yang merugi.

So? Yuk bangkit yuk sobs! The show must go on, pelajari:

  1. Situasi [problem analysis], 
  2. Tentukan langkah [strategic planning], 
  3. Lakukan [Implementation], 
  4. Awasi pelaksanaan dengan disiplin agar tercapai tujuan [Monitoring Evaluation] dan 
  5. Bersyukurlah jika telah sampai ke tujuan [Goal].


Postingan menjelang makan siang, ga enak aja rasanya
jika belum menelurkan postingan sebelum mematikan si cantik Macsy
Semoga bermanfaat ...
Al, Bandung, 28 February 2013



Read More
/ /
credit
Hari ini rasanya waktu cepat banget bergeser. Apa karena baru ganti baterai jam ya? Baru duduk di depan lappie jam 10 tadi, eh kok iya sekarang udah jam 2 siang. Hadeuh...

Dan gara-gara banyak kerjaan yang disambi, yang talking on the phone lah, yang prospek calon downline lah, yang obrolin soal penerbitan buku lah, akhirnya sebuah fiksi yang idenya muncul tadi ketika lihat bunga kamboja ini di Google, terpaksa nulisnya nyicil deh... .

Satu paragraf tercipta, ditinggal dulu, ngobrol lagi di BBM, terus cek email, eh ada lowongan kerja yang menarik, apply dulu deh, terus lanjutin fiksinya... satu paragraf lagi, ada telp masuk, ngobrol lagi... terus ada pesan di YM masuk, nanya-nanya tentang tempat wisata di Aceh... jelasin dulu.... terus lanjut ke fiksi yang terlantar.

Dua paragraf nambah, eh ada lagi chat masuk.... halah... akhirnya campur-campur semua deh ada disini. Hingga akhirnya sobs... terciptalah fiksi ini... tapi siap-siap tissue ya sobs jika ingin lanjut untuk membaca fiksi ini.... masih berminat? yuk lanjut disini yuk..

Al, Bandung, 27 Feb 2013
Read More
/ /
credit
Hm... penasaran deh pastinya dengan judul postingan kali ini kan sobs? Tapi aku yakin, membaca judul di atas, pasti udah menemukan clue dari topik yang akan dijadikan bahan tulisan kali ini kan ya? Bahwa ini pasti berkaitan dengan seorang lelaki tampan yang berasal dari dunia maya. Ya kan sobs? Pasti sobats mikirnya gitu deh.

Daaan.... bener sih... ga salah! Hehe...
Ini adalah sebuah fiksi yang sebenarnya ditulis kemarin sore, saat menunggu seorang teman, di kantor untuk jalan dan makan bareng di suatu tempat. Eh baru mulai satu paragraf, si yang ditunggu udah dateng, dan kita langsung jalan dweh... daaan, ketunda deh bikin fiksinya.

Nah, siang ini, sambil lunch, aku lanjutin deh fiksinya. Kasian kan si pangeran, udah jauh-jauh datang dari negeri maya kok malah dianggurin. So.... inilah si pangeran tampan itu sobs, keren banget lho, sayangnya dia itu seorang scammer, tapi akhirnya bertekuk lutut pada seorang wanita yang gagal di scammin! Haha... Penasaran? yuk langsung klik disini untuk lanjuuut yuk....

Al, Bandung, 26 Feb 2013
Read More
/ /
Sejak tinggal di Bandung, yang imagenya adalah syurga belanja, dimana Factory Outlet bertaburan, Mall berhamparan, dan Pasar Baru yang begitu menjanjikan aneka pakaian, tas dan berbagai kebutuhan lainnya dengan harga yang relatif terjangkau, maka semakin banyak aja teman maupun kerabat dari Aceh dan Medan, yang BBM atau telefon, minta dicarikan baju anak, dengan pesan khusus pula. Baju anak yang cantik/keren dengan harga yang murah! Halah. Memang sih, sekali belanja itu ga cukup satu dua baju aja, tapi biasanya dalam jumlah yang lebih dari dua. Dengan pesan special seperti ini "Beli beberapa aja Al, kan lumayan tuh kalo belinya di satu toko kan bisa dapat diskon kan, bisa dapat harga grosir gituh?" Teteup, mindsetnya emak-emak! Pengennya harga miring/alias grosiran.

Mengapa harus grosiran? Ya karena itu tadi.... berbelanja lebih dari satu, mungkin dengan warna yang berbeda, atau harga yang sama tapi berlainan mode, bisa membuat kita berhemat lho. Karena, penjual akan memberlakukan harga grosir. Dan, kota dimana aku kini berdomisili ini, memang menyediakan berbagai model baju anak-anak yang selalu saja bikin kita gemes. Cantik, keren dan gemesin! Harganya pun bisa dikatakan masih mampulah untuk dijangkau jika dibandingkan dengan harga untuk baju anak yang ada di daerah tempat asalku.

Tak hanya berhemat lho sobs, dengan belanja grosiran, baju-baju ini juga bisa dijual lagi untuk memperoleh keuntungan kan? #Otak dagang mode on deh! Hehe

Sayangnya, para sahabat dan kerabat sama sekali tidak memperhitungkan bagaimana macetnya kota Bandung ini kini, terutama disaat wiken. Huft. Gimana mau main ke toko-toko yang jual baju anak kalo jalanan macet seperti ini? Tapi ga enak juga rasanya mengecewakan kerabat tersayang dan teman-teman terkasih yang  begitu berharap memperoleh baju anak yang cantik dan keren.


sumber gambar dari sini

Untungnya saat ini semakin banyak aja toko online yang tersedia di internet. Termasuk toko-toko yang menjual pakaian anak secara grosiran. Sehingga, aku bisa memenuhi keinginan para sahabat dan kerabat dengan bermodalkan koneksi internet, laptop atau gadget dan jari jemari. Bisa duduk santai hanya dari rumah dan bebas dari kemacetan, sementara target yang diinginkan pun terpenuhi. Yup, saat ini banyak juga lho toko grosir baju anak yang menjual dagangannya secara online. Pelayanannya gimana? Banyakan dari toko-toko ini sudah mengoptimalkan sistem pelayanannya kok, baik dari segi packaging, pengiriman maupun keramahan pelayanannya.

Namun bagi sahabat yang masih ingin berbelanja secara offline di grosir baju anak-anak tersebut, juga dipersilahkan lho. Toko-toko itu biasanya juga availabel untuk dikunjungi dan berbelanja secara langsung. Malah bisa tawar menawar secara langsung atau malah ngotot-ngototan dengan penjualnya untuk mendapatkan grosiran terbaik. Haha.


Read More
/ /
Ehem.... judulnya kayak gimanaaa gitu ya? Hihi

Merantau, adalah sebuah keinginan yang sudah lama sekali tersimpan di angan. Mungkin sejak kuliah sih, sejak memiliki banyak sekali teman-teman sekampus yang berasal dari luar daerah. Yang harus hidup ngekost dengan segala 'cerita anak kost'nya. Anehnya, cerita suka duka anak kost ini justru semakin menguatkan keinginanku untuk suatu hari nanti bisa merasakan sendiri, gimanaaa sih sebenarnya rasanya jadi anak kost itu.

Untuk bisa ngekost, ga mungkin donk aku pamit pada orang tua dan menyewa kamar kost. Wong jarak antara rumah dan kampusku itu dekat banget. Cuma butuh 5 menit perjalanan doank gitu lho. Masak mau ngekost. Haha. Jadinya, terpaksa deh memendam angan-angan ini, hingga waktu tak terhingga. Entah sampai kapan bisa mewujudkannya.

Hingga kemudian, di tahun 1995, setamat kuliah, akhirnya kesempatan ini sampai juga, tapi judulnya ga sama persis. Bukan menjadi anak kost, tapi menjadi orang perantauan. Menikah dan bekerja di Medan, membuka jalan bagiku untuk dapat merasakan suka duka hidup merantau. Tinggal jauh dari orang tua. [Memang sih, Medan - Banda Aceh itu ga jauh-jauh amat sih, tapi butuh waktu 9 - 10 jam perjalanan juga by darat lho]. Jadilah aku memulai bagian kehidupan dengan judul merantau.

Merantau di kota Medan, membuatku betah. Kayaknya lebih banyak sukanya deh daripada dukanya. Mungkin karena dalam perantauan ini, aku ditemani oleh suami dan anakku ya sobs? Jadi kesannya ya indah aja, walau terkadang himpitan masalah finansial, tak munafik harus diakui sebagai salah satu warna yang sering menggelapkan cerahnya kehidupan.

Sembilan tahun hidup di perantauan pertama [Medan], membuat hidup ku berwarna warni dengan rasa yang nano-nano. Merah, hijau, kuning, biru bahkan kelabu, datang silih berganti, malah terkadang juga secara bersamaan. Asam, asin, manis, pedas dan pahit juga suka datang silih berganti atau malah sering juga berkolaborasi. Semuanya aku jalani dengan satu usaha, yaitu berusaha menikmatinya dengan sikap yang bijak. Yah, namanya merantau, tentu tak senikmat kala kita berada di kampung halaman, bener ga sobs?

Penghujung tahun 2004, adalah suatu masa yang memberikan perubahan maha besar dalam kehidupanku. Tsunami melanda dan membuat Aceh porak-poranda [26 Desember 2005], dan memanggil jiwaku untuk kembali ke tanah kelahiran. Ayah ibu dan adik bungsuku, membuatku tak mampu menunda hingga esok harinya untuk segera berangkat pulang kampung. Mencari dan memastikan mereka bertiga selamat dari hantaman gelombang petaka itu. Dan mulailah aku menjejakkan kakiku kembali dari tanah perantauan, ke kampung halaman, yang telah aku tinggalkan selama sembilan tahun, tanpa sekalipun aku berkesempatan untuk menjenguknya.

Kehidupan di tanah bencana, dimana rumah kami tak lagi dapat ditempati, membuat kami seperti hidup dalam 'perantauan' juga. Kami tinggal di pengungsian untuk beberapa lama. Dan aku sendiri mulai bergabung dengan sebuah organisasi international bidang kesehatan [International Medical NGO] untuk membantu saudara-saudaraku yang tertimpa bencana.

Agak aneh memang, kita memang berada di tanah kelahiran, tapi rasanya sungguh seperti merantau, karena segalanya telah berubah drastis. Rumah, lingkungan dan alam sekitar telah berubah. Membuat kami benar-benar merasa seperti tak lagi berada di kampung halaman sendiri. Terkadang aku suka berfikir. Kata adalah Doa. Betapa sering dulu aku berangan-angan untuk bisa merasakan hidup ngekost dan merantau. Dan Allah memang tak langsung menjabahnya, tapi kemudian, kala waktunya tiba, harapan itu menjadi kenyataan, bahkan disaat angan itu telah dilupa oleh alam fikirku.

Bekerja di NGO, membuat aku dan staff lainnya, harus traveling ke daerah-daerah terpencil dimana program kami diimplementasikan. Dan aku mulai merasakan pahit getir juga suka duka dari kegiatan 'merantau' ini. Berada di pulau terpencil, dalam keadaan tubuh yang fit, biasanya memberikan semangat dan gairah tersendiri. Kita bersemangat dan ceria menjalaninya. Namun kala tubuh kita sedang kurang sehat, namun tugas/pekerjaan tetap harus dijalankan, itu baru merupakan hal yang menyedihkan. Itu juga yang beberapa kali aku alami.

Mengalami sakit di kampung orang. Duuuh, sedih banget, aku pernah mengalaminya. Dan ini bukan di sebuah kampung atau desa lho sobs. Malah di kota besar, Jakarta gitu lho. Kala itu, aku ditugaskan untuk mengurus workshop nasional yang akan diselenggarakan di salah satu hotel ternama di ibukota ini. Eh kok malah demam. Demam tinggi dan batuk pula. Alhasil, aku harus bedrest, dan sama-sekali ga bisa beraktifitas. Udah itu, sendirian pula, karena kolega-kolega lainnya harus menjalankan tugas mereka, mempersiapkan dan mengawal jalannya workshop. Duuuh, rasanya gimanaaa gitu sobs! Pahit Gan!

Delapan tahun di tanah kelahiran, paska tsunami [2005 - 2012], membuat aktifitasku lebih banyak di 'rantau'. Rantau yang aku maksud disini adalah, keberadaanku lebih banyak di daerah-daerah dimana program kami diimplementasikan. Mengunjungi dan memonitor proyek. Mulai dari pulau terpencil seperti Nias dan Simeulu, hingga ke kabupaten-kabupaten yang telah maju pesat. Semuanya menambah kekayaan pengalamanku dalam hal melalang buana 'merantau'. Rasanya gimanaa gitu sobs.

Hingga kemudian, perantauaan yang sebenarnya pun aku jalani. Maksudnya?
Ya, kini aku benar-benar kembali merantau. Mengakhiri tugas di Aceh pada Maret 2012, lalu aku mulai mengembangkan sayap kecilku. Merantau ke Bekasi, seorang diri, untuk sebuah project pribadi.Rasanya gimana Al? Hm... rasanya gimana yaaa? Menyenangkan sih, tapi sediiiih juga, karena jauh dari Intan. Meninggalkannya di Banda Aceh sana, walau bersama ayah ibuku, tetap membuat hatiku sering diliput lara. Kangen!

Dan kini aku merentangkan sayap kecil ini dan terbang ke Bandung. Memulai hidup di rantau yang baru. Untuk apa dan apa yang membawamu ke Bandung Al? Hehe... pasti pada ga percaya kan jika aku bilang untuk main-main or having fun? Hahaha.
Ga usah tanya untuk apa deh sobs, yang jelas adalah untuk sesuatu yang bermanfaat bagiku dan keluargaku tentunya. .. :)

Nah, sebuah kisah pahit hidup di perantauan inilah yang ingin aku share pada sobats semua, bahwa, betapapun enaknya hidup di perantauan, apalagi seorang diri, kita akan terjerembab dan merasakan sebuah kerinduan yang mengharu biru, mana kala..... PENYAKIT menghampiri!

Aku masih sehat sehat saja ketika itu, bangun pagi dengan ceria, mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor. Aktifitas harian pun berjalan lancar hingga malam harinya. Ada rasa pahit yang mulai menggelitik di ujung lidah, beranjak ke tengah dan menguasai seluruh saraf perasa di lidahku. Tak hanya itu, suhu tubuh mulai meninggi dan mengemudikan Gliv pun terasa tak lagi nyaman. Aku hapal gejala ini. Ini mau demam. Dan demam ini bisa jadi karena tubuhku yang terasa begitu lelah, terforsir mengurus dan menjaga Intan sewaktu opname di rumah sakit kemarin. Intan kena Demam Berdarah dan membuat kami terperangkap di sebuah rumah sakit untuk beberapa hari.

Tak heran, jika setelah semua usai, Intan sembuh dan kembali ke Aceh, kini emaknya yang disambangi oleh sang demam. Semoga saja ini bukan Demam Berdarah. Dan aku bukanlah orang yang suka mengkonsumsi obat-obatan kimiawi. Maka demam ini hanya aku tangani dengan beristirahat yang cukup, minum madu dan sari kurma. Biasanya sih berhasil. Tapi tidak kali ini. Malamnya suhu tubuh malah makin tinggi. Akhirnya aku menyerah, memasukkan sebutir paracethamol tablet ke mulutku, dan berdoa agar Allah menyembuhkan aku melalui tablet ini.

Paginya suhu tubuhku mulai normal, hanya rasa pahit di lidah yang masih tersisa. Plus rasa lemas yang teramat sangat. Sarapan pagi hanya nasi hangat plus ati ampela yang aku minta tolong belikan pada si mbanya ibu kost. Dan Masyaallah, tak lama setelah sarapan, aku justru memuntahkan semuanya. Tak mau kompromi, muntahan itu dimuntahkan perutku mengotori lantai kamar, hingga ke kamar mandi saat aku melarikan tubuhku kesana. Aku sampai menangis, takut ambruk seorang diri. There is no one at home, bahkan si mba juga sudah keluar untuk ke pasar.

Aku bener-bener takut, takut meninggal tanpa seorang pun mengetahuinya. Hehe... Aku menangis, untuk meredakan rasa takut yang begitu menghantuiku. Barulah setelah itu, aku coba untuk menetralkan racun [aku menduga diriku keracunan makanan], dengan meminum satu botol susu bear brand, dan minum air putih yang banyak. Eh baru setengah botol, aku sudah muntah lagi dan harus lari ke kamar mandi lagi.

Aku benar-benar takut. Takut mati. :D Apalagi ketika tak ada lagi isi perut yang keluar, sementara masih muntah-muntah juga. Aku bahkan jadi takut untuk minum atau memasukkan makanan baru ke tubuhku. Aku hanya diam untuk beberapa saat, no action. Takut muntah lagi. Barulah ketika merasa agak legaan aku masuk dan lying on the bed. Mencoba mengoleskan minyak kayu putih di dada dan punggung serta leher. Memberanikan diri untuk minum bear brand juga air putih. Lalu tiduran. Saat itu aku benar-benar merasakan kesedihan luar biasa. Sedihnya hidup di rantau, sendirian... ga ada yang ngerawat kala sakit begini... hiks...hiks... Dan mungkin karena lelah menangis, aku tertidur pulas. Dan setelah bangun, merasakan kondisiku jauh lebih baik. Alhamdulillah....

Hidup di rantau memang penuh warna dan rasa. Nano nano deh pokoknya..... :)

Artikel ini diikutsertakan dalam Give away Gendu-gendu Rasa Perantau




Read More
/ /
Lon Galak Bahasa Aceh = Aku cinta bahasa Aceh

Membudayakan bahasa Aceh adalah suatu keharusan di dalam keluargaku. Ketetapan ini sudah berlaku sejak aku dan adik-adikku masih kecil, dan peraturan ini semakin digalakkan kala kami pindah ke Kota Sigli lalu ke Banda Aceh. Yang namanya kota, tentu berbagai suku bangsa berbaur disini. Ada suku Jawa, Padang, Batak, dan dari wilayah Nusantara lainnya.

Yang dikuatirkan oleh ayah ibuku dengan kepindahan kami ke sini adalah, hilangnya kemampuan berbahasa Aceh di dalam diri anak-anaknya. Karena anak-anak kan paling cepat tuh menyerap bahasa yang ada di sekitarnya. Semua orang di lingkungan baruku memang berbahasa Indonesia, bahkan ada juga yang berbahasa Jawa, karena kebanyakan dari mereka adalah bersuku Jawa. :)

Salah satu cara yang dilakukan ayah ibuku saat itu adalah mengubah strategi. Jika ketika di kampung dulu, ayah dan ibuku menyelipkan bahasa Indonesia di dalam percakapan kami, untuk melatih kemampuan kami berbahasa nasional, maka di Sigli, ayah dan ibu melarang kami berbahasa Indonesia di dalam rumah. Komunikasi diantara kami, harus berbahasa Aceh. Setiap saat, kecuali ada tamu yang sedang berkunjung dan si tamu tidak mengerti bahasa Aceh. Maka kami berbahasa Indonesia.

Ayah dan ibuku selalu mengingatkan,
geutanyoe awak Aceh, harus jeut ta meututo dalam bahasa Aceh. Nye ken buet tanyoe, soe lom nyang peulestari bahasa daerah tanyoe? Hana mungken lee awak Jawa ato awak Batak keun? Awak nyan ken gabuek cit peulestari bahasa awak nyan keudroe jih? 

artinya:

kita ini orang Aceh, harus bisa dan mahir berbahasa Aceh. Karena kalo bukan kita, orang Aceh, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa daerah kita? Ga mungkin orang Jawa atau orang Batak kan? Mereka juga sibuk melestarikan bahasa daerah mereka masing-masing, ya kan? 

Kami hanya nyengir mendengar kalimat akhir itu. Tapi manggut-manggut membenarkan. Ya iyalah, masak orang Jawa atau Batak yang harus melestarikan bahasa Aceh? Terus siapa dunk yang akan melestarikan bahasa Jawa? Orang Minang? Hahaaha...

Dan bertahun kemudian, Bahasa Aceh tetap lestari di dalam diri kami, anak-anak ayah dan ibuku. Aku dan adik-adikku memang selalu berkomunikasi dalam bahasa daerah, baik itu lisan maupun tulisan. Tapi sesuai dengan perkembangan jaman dan wilayah domisili... juga pergaulan, akhirnya percakapan kami tak lagi murni berbahasa Aceh. Sering sekali dalam email, aku tanpa sadar berbicara dalam dua bahasa, Aceh dan Inggris dalam satu kalimat. Begitu juga dengan adikku. Kami berinteraksi di Ym, email, telephone maupun tatap muka. Tergantung situasi dan keberadaan kami.

Sering aku mendapati kalimat-kalimat seperti ini di dalam email adikku, font merah untuk bahasa Aceh.

Kak, Lon baro kirim email keu bapak, tulong kak make sure that he received it and I am looking forward for balasan gobnyan beh

artinya:

Kak, saya baru saja kirim email ke Bapak, tolong kakak pastikan beliau telah menerimanya dan saya menunggu balasannya ya kak.

atau

Kak, peu haba disinan? Hope everything is running well dan meuah, lon agak gabuek bacut lawet nyoe, jadi hana sempat komunikasi ngen kak untuk beberapa uroe nyang kalheuh.

artinya:

Kak, apa kabar disana? Semoga semuanya berjalan baik dan maaf banget, saya agak sibuk akhir-akhir ini, jadinya ga sempat komunikasi deh beberapa hari lalu.

Menggunakan bahasa Aceh di daerah lain, dengan sesama suku, misalnya di Jakarta, atau dikota lain di luar Aceh, bagiku juga sangat menyenangkan lho. Misalnya ketika berbelanja di Pasar Baru, Bandung, aku dan temanku Icut, bisa berdiskusi tentang kualitas barang, dan harga yang pantas untuk ditawar, dengan menggunakan bahasa Aceh, yang tentunya tidak dimengerti oleh si penjual. Rasanya ada kepuasan tersendiri gitu dweh. Hahaha...

Terhadap Intan, kala masih di Medan, aku tidak memaksanya untuk paham bahasa Aceh. Mau gimana coba. Aku sendiri ga punya sparing partner untuk berbahasa Aceh di lingkungan sekitarku kala itu. Ayahnya Intan juga bukan orang Aceh, melainkan Jawa Deli, so.. how can I practice my Acehnese language? Haha...

Barulah, ketika pindah ke Aceh, Intan tanpa dipaksa, mulai beradaptasi, dan menyerap sendiri perbendaharaan bahasa Aceh, dan mulai mengerti sedikit demi sedikit. Pindah dan tinggal bersama ayah ibu serta adikku, saat ini di Banda Aceh, tentu sangat membantunya dalam melatih penggunaan dan penguasaan bahasa Uminya ini. :)

Bagiku, mempelajari berbagai bahasa itu adalah hal yang sangat menarik. Dan sebelum menambah pemahaman akan bahasa lain, alangkah baiknya jika kita bisa menguasai bahasa daerah kita terlebih dahulu. Ya ga sobs?


"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"


Al, Bandung, 21 Februari 2013

Read More
/ /
Akhirnya.... setelah muter-muter di kompleks perumahan Dosen UNPAD I, dan tak berhasil menemukan domisili Alaika Abdullah, akhirnya buku Rahasia Menjadi Kaya Arti karya Pakdhe Cholik ini pun kembali kepada pengirimnya. Balik ke Pakdhe di Surabaya sana. Kok bisa begitu? Masak kurir ga bisa menemukan alamat kamu Al? Emang kamu tinggalnya dipelosok mana sih? 

Hehe, bukan salahku lho sobs, tapi Pakdhe tuh yang salah tulis nomor rumahku, jadinya penerima dengan nama Alaika Abdullah tidak ditemukan deh, dan terpaksa tuh paket balik lagi ke Pakdhenya.
Barulah kemarin sore, setelah beberapa hari kemudian, si paket terbang kembali, dan berhasil menemukan domisiliku. 

And..... here it is! 

Chicken Soup of for Soul ala Pakdhe Cholik ini pun kini sudah berada di tanganku. Duh, rasanya senang banget sobs, apalagi membaca namaku tercantum di dalam buku ini, dan tulisanku berupa endorsement untuk buku ini terpampang nyata di halaman vii - viii nya. Hehe... senang donk. :)

Well, kenapa aku suka sekali menyebut buku ini sebagai Chicken Soup for the Soul [ala Pakdhe Cholik]? Penasaran kenapa? Karena, menurutku, buku ini mengandung banyak sekali sharing berharga yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, baik itu berdasarkan pengalaman penulis [Pakdhe] sendiri dalam menjalani kehidupan ini, ataupun berdasarkan renungan-renungan berharga yang dicermatinya terhadap prilaku lingkungan dan alam sekitar. Yang unik dari buku ini adalah, gaya penulisannya yang lugas, dengan bahasa sederhana yang tak butuh waktu lama untuk mencernanya. Plus guyonan segar ala Pakdhe, yang membuat pembaca tak henti tersenyum sejak awal membaca halaman demi halamannya. Tapi.... ada saatnya, kita harus mengelus dada, terenyuh dan terharu kala kita diajak untuk menatap cermin kehidupan yang juga penuh pembelajaran lainnya, serta manggut-manggut membenarkannya. So... tak berlebihan jika endorsement ku untuk bukunya Pakdhe berbunyi begini nih sobs.


Buku ini memang sangat menarik dan penuh manfaat. Ga percaya? Coba deh order dan mulai membacanya, I believe that you will AGREED with me. :)

Dan untuk Pakdhe, makasih atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi salah satu endoser di buku perdana Pakdhe ini lho! Sukses ya Dhe, keep writing, ditunggu buku-buku selanjutnya. Eh iya, makasih juga untuk hadiah buku ini. Hatur nuhun Pakdhe!

Al, Bandung, 21 Februari 2012.





Read More
/ /

Penulis : Dann Julian
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan


Berbicara tentang penyimpangan seksual, hubungan sesama jenis [gay, lesbian, biseks dan berbagai prilaku seksual nyeleneh lainnya] memang tiada akan ada endingnya. Topik satu ini telah berkembang ratusan tahun dan mungkin tak akan berhenti hingga roda kehidupan ini berhenti berayun.

Fenomena yang satu ini, tak dapat dipungkiri, terus menjamur bak cendawan di musim hujan, tumbuh sporadis di kalangan tertentu tanpa mampu ditutupi, atau malah merambat dan bertumbuh secara terselubung karena keadaan yang mengharuskannya di kamuflase.

Novel yang ditulis oleh seorang wartawan kawakan ini, mengulas tentang kehidupan pasangan gay kaum jetset Jakarta, berdasarkan hasil investigasi mendalam bermodalkan pengalamannya yang malang melintang di dunia jurnalistik, dan dikemas dalam bentuk fiksi yang sangat menarik dan unpredictable!

Kisah bermula dari rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan oleh seorang gay [Michael], perancang mode terkenal, akibat dikhianati oleh kekasih gay-nya bernama Sandro. Michael sebenarnya adalah seorang pria baik hati, yang telah mengangkat Sandro menjadi anak asuhnya, meng-upgrade pengetahuannya hingga mampu menjadi seorang yang handal dalam merancang busana, mengurus pagelaran-pagelaran busana, dan menjadi mitra kerja Michael yang bisa diandalkan. Selain daripada itu, Sandro adalah kekasih hati yang senantiasa mampu mendamaikan dan membahagiakan hati Michael. Namun, balasan dari Sandro sungguh tak sebanding dengan apa yang telah diberikannya dengan tulus selama ini.

Tanpa belas kasih, Sandro berpaling darinya, bahkan tak hanya itu, lelaki muda itu, mentah-mentah mencuri ide-ide designnya, mengembangkannya dan menyempurnakannya sedemikian rupa, dan mengadakan pagelaran tunggal yang se-level dengan pagelaran-pagelaran yang selama ini digelarnya. Sandro benar-benar telah menikamnya dari belakang. Michael sungguh kecolongan!

Beruntung, kehadiran seorang laki-laki muda lainnya bernama Benny, akhirnya mampu melipur duka lara Michael. Selain cerdas dan paham akan tugasnya sebagai asistennya Michael, lelaki kampung ini [yang tadinya adalah lelaki tulen], juga dengan cepat dapat diupgrade mengikuti alur kehidupan modern dan gemerlap kota Jakarta, hingga akhirnya menjadi tangan kanan serta kekasih hati Michael, menggantikan Sandro yang telah pergi. Bersama Benny, Michael menemukan kembali kebahagiaannya. Dan Benny, lambat laun, bersama meningkatnya kesejahteraan hidupnya oleh tercukupinya materi, kian menikmati kehidupan seksualnya yang telah berubah haluan.

Menjadi homo atau gay, tentu bukan hal yang dapat dibanggakan, bahkan banyak yang berusaha keras untuk mengkamuflasekannya sedapat mungkin. Tak banyak dari mereka yang siap untuk menyatakan diri mereka mengidap kelainan ini secara terbuka di depan publik, khususnya di negeri ini. Begitu juga dengan Benny. Akal sehatnya, masih tak mampu kompromi untuk terang-terangan menunjukkan di depan umum bahwa dirinya kini adalah seorang gay. Karenanya, setengah mati dia berusaha mengkamuflasenya, yaitu dengan tetap melanjutkan hubungan asmaranya dengan Dinar [adik dari sahabat karibnya Jay]. Untuk lebih kuat menutupi fakta itu, Benny melamar Dinar pada Jay dan mereka pun melangsungkan pernikahan. Michael, walau cemburu, tetap merelakan kekasihnya 'menikah' dengan Dinar, karena cinta terselubung mereka masih harus diselubungi.

Kisah menjadi kian menarik kala Dinar terpuruk di malam pertama, juga malam-malam berikutnya karena ternyata Benny tak mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Hingga akhirnya di malam yang kesekian kalinya terpaksa berterus terang pada sang istri, bahwa dirinya tak lagi menjadi lelaki tulen. Bahwa kejantanannya tak lagi mampu berdiri di hadapan seorang wanita, melainkan akan aktif jika berhadapan dengan sesama jenisnya [laki-laki]. Shock, pingsan! Itulah reaksi awal Dinar, namun rasa cintanya yang begitu besar terhadap Benny mampu melahirkan pengertian yang luar biasa di dalam diri Dinar akan keadaan suaminya. Diteguknya keadaan itu dengan sabar, sementara Benny merasa begitu lega setelah menghamparkan keadaan itu di hadapan istrinya. Plong! Dan bebas untuk melanjutkan hubungan asmaranya dengan Michael.

Terpuruk dalam kesepian dan dahaga yang tak terpuaskan, Dinar yang manusiawi, yang wanita normal dan istri yang merindukan belaian suami seutuhnya, hanya mampu berpasrah diri. Mencoba menerima keadaan dengan kelapangan dada dan kebesaran jiwa. Berusaha berpuas diri dengan kepuasan foreplay yang diberikan oleh Benny tanpa mampu melanjutkannya ke tahap berikutnya yang lebih utama. Hingga kemudian, Maya, si tetangga sebelah, yang tak jauh pautan usia darinya, menjadi teman karibnya, dan menjadi tempat curhatan beban pikirannya. Maya yang begitu baik hati, penuh perhatian dan sangat care akan dirinya, ternyata menyimpan hasrat tersendiri terhadapnya. Dan... petualangan hidup Dinar, yang tadinya begitu lugu pun dimulai. Maya yang adalah seorang biseks, mengubahnya menjadi seorang lesbian! Bahkan kemudian mulai menularkan aneka keanehan prilaku seksual pada Dinar.

Dinar yang lugu pun berubah liar. Tak terhentikan. Ide untuk saling bertukar suami pun mereka rancang dan laksanakan. Sayangnya Maya tak berhasil membuat Benny [suami Dinar] yang homo bertekuk lutut. Benny tak tertarik pada wanita, sementara Dinar berhasil membuat Anton [suami Maya] klepek-klepek dan berhasil membawanya ke langit biru, menikmati kejantanan pria itu seutuhnya, hingga Dinar tak rela menyudahinya hingga disitu saja. Hubungan terselubung itu pun berlanjut di belakang Maya. Hingga suatu hari, hubungan terlarang ini pun terungkap dan terjadilah perkelahian yang berakhir pada saling tikam menikam menggunakan pisau antara Maya dan Dinar. Dan keduanya berakhir di rumah sakit.

Perseteruan ini, mau tak mau membuat Jay, kakaknya Dinar, yang adalah seorang wartawan tabloid Mode turun tangan dan mengusut asal usul pertikaian. Dan terbongkarlah belang yang tadinya diselubung. Jay terhenyak mengetahui bahwa adik iparnya, Benny adalah seorang gay, dan menyesal seumur hidupnya karena telah menyerahkan adiknya untuk diperistri oleh seorang homo.

Dan Anton terkejut bukan alang kepalang mengetahui istrinya, Maya adalah seorang biseks! Dinar mundur dari kehidupan Benny dan Anton mundur dari kehidupan Maya. Dan kisah ini tentu belum berakhir disini. Karena di sisi lain kisah ini bertutur tentang Jay, yang berpacarkan seorang wanita cantik bernama Arti. Arti adalah seorang finalis Putri Melati Putih, yang menjadi duta dari sebuah perusahaan kosmetika ternama. Jay merasa begitu beruntung mendapatkan Arti, yang begitu santun, smart, seksi dan juga teguh dalam memegang prinsip.

No sex before marriage, adalah prinsip yang dipegang teguh oleh wanita itu, yang membuat Jay semakin menghormatinya. Rasa cinta diantara keduanya pun tumbuh kian subur seiring dengan berjalannya waktu. Hingga suatu ketika, Arti memaksa Jay untuk ikut menemaninya ke Bali, untuk event shooting video klip sebuah lagu, dimana Arti terpilih sebagai model video clip tersebut.

Jay pun menurut, dan mereka memanfaatkan sebuah malam yang romantis, di pulau yang juga romantis itu, untuk memadu kasih. Di malam yang syahdu itu, Arti sengaja membiarkan atau lebih tepatnya memancing Jay, untuk mendobrak prinsip yang selama ini begitu teguh dipegangnya. Jay yang masih terkendali, mengingatkan kembali akan prinsip yang arti pegang selama ini, bahwa mereka sepakat untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah. Namun Arti malah semakin memancingnya untuk memetik sesuatu yang belum pantas diraihnya.

Dan namanya lelaki, menghadapi wanita yang begitu seksi dan lihai dalam merayu dan beraksi, siapa yang sanggup menahan diri? Jay pun larut dalam cumbuan erotis yang saling bersambut, hingga kemudian, sebuah jawaban dari Arti untuk pertanyaannya yang menanyakan apa Arti tidak akan menyesal..., membuatnya tertegun dan tak mengerti.

"Tidak Jay, ini demi cintaku padamu. Setelah ini, terserah kamu, Jay... mau meninggalkan aku setelah tau siapa aku sebenarnya,... terserah, aku pasrah..., aku sangat cinta sama kamu, sangat cinta...."

"Apa maksud kamu?" Jay semakin tidak mengerti. Arti terdiam sejenak, suasana hening, lalu

"Aku seorang laki-laki Jay, aku seorang waria, waria sejak balita Jay. Sampai kini aku belum operasi kelamin. Hanya orang tuaku dan bulek-paklek ku yang tau, maafkan aku Jay..." kata Arti pelan dan ada rasa takut.

Dan... berakhirkah kisah cinta mereka? No! Jay mencintai Arti setulus hatinya. Tak peduli Arti adalah seorang waria, yang otomatis tak memiliki [maaf] vagina. Pelayanan Arti melalui jalan lain telah cukup membuatnya bahagia dan terpuaskan. Hubungan mereka pun berlanjut, hingga kemudian, lambat laun, Jay merasakan keanehan pada desir hatinya. Perlahan, dia mulai menyukai dan menikmati melihat tubuh-tubuh pria yang gagah. Tak yakin akan perasaan itu, juga was-was akan hal itu, Jay menguji dirinya dengan mencoba mendatangi rumah pijat dan meminta dirinya dipijat oleh gadis-gadis ayu yang gemulai. Namun aneh, tak ada hasrat seksual yang muncul kala dirinya disentuh oleh tangan wanita.
Dicobanya lagi dan lagi keesokan harinya, reaksinya tetap sama.

Untuk meyakinkan diri, kali ini dia mengubah strategi, dicobanya untuk dipijat plus-plus oleh laki-laki muda. Dan desiran penuh hasrat seksual tak tertahankan muncul di dalam dirinya. Gawat! Dan dia pun mulai tak mampu menghalaunya. Apalagi kala kemudian dia bertemu lagi dengan Benny [mantan adik iparnya], di suatu pesta kalangan gay. Hubungan baik dan salah arah pun terjalin diantara keduanya.... Tak terhindarkan, Jay pun berubah menjadi seorang gay, menyelingkuhi Arti [sang waria cantik] dan tergelincir dalam komunitas homoseksual kelas atas. Ibarat terkena karma, kini dia terjerumus ke dalam hal yang dulu dia benci, yang dulu dia hujat dan hakimi.

Kisah ini masih berlanjut dengan segala intrik yang menarik dan tak terduga.
Penasaran akan kisah lengkapnya?? Silahkan baca di Novel 'Gaya Gay'. Bisa didapatkan di toko-toko buku gramedia, atau hubungi langsung penulisnya, mas Dann Julian di fesbuknya.


Membaca novel ini, sungguh membuka mata kita tentang kenyataan-kenyataan yang ada di sekiling kita. Untuk membuat kita tak langsung menghujat apalagi menghakimi seseorang, karena sesungguhnya, tak ada satu manusia pun yang ingin hidup dalam arah dan keadaan yang salah. Semua ingin hidup normal. Namun apa mau dikata jika kemudian satu dan lain hal mengubahnya? 
Semoga kita dilindungi dari hal-hal yang demikian ya sobs! 

Al, Bandung, 20 Februari 2013

Read More
/ /
credit
Raut wajah wanita cantik itu terlihat garang. Air mukanya memendam dendam dan angkara murka. Tegas dia meminta kepada tuan qadhi untuk mem-fasakh [memutuskan] ikatan perkawinannya dengan tuanku Abdul Madjid, yang telah menyerah kepada kompeni Belanda. Sirna sudah rasa cinta yang menumpuk di dada, lenyap sudah rasa hormat terhadap sang suami yang selama ini begitu dia sanjung dan puja. Yang telah bersama-sama berjuang mempertahankan tanah tumpah darah dari jajahan kompeni Belanda. Berang dan kecewa rasa hatinya tak terkira, menyaksikan sang suami takluk dan bertekuk lutut pada penjajah kafe [kafir] Ulanda [sebutan untuk Belanda dalam bahasa Aceh]. Usai sudah perkawinannya, dan secara psikologis, kini dirinya hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan bebas untuk menentukan langkah kehidupannya. Tak harus tunduk apalagi patuh pada seorang pengkhianat negeri.

Satu pesan ayahandanya yang begitu melekat di hatinya adalah, bahwa seorang muslim WAJIB berjuang mempertahankan negeri dan agamanya dari tindasan penjajah, hingga ke tetes darah penghabisan. JANGAN PERNAH MENYERAH, JANGAN PERNAH TAKUT. Dan itulah yang akan diteruskannya, walau tak lagi ada teman setia [sang suami] yang menjadi mitra. Perang ini harus dilanjutkan, Islam harus ditegakkan dan kemerdekaan negeri ini harus tetap dipertahankan. Maka bersama ketiga putranya, dibantu seorang kepercayaan [tangan kanannya] bernama Pang Mahmud, wanita perkasa itu melanjutkan perjuangan.

Pocut Meurah Intan, begitu wanita ini dikenal, memang bukan wanita biasa. Darah biru yang mengalir kental di dalam tubuhnya adalah titisan sang ayah, Teuku Meurah Intan,  seorang hulubalang negeri Biheue [suatu daerah yang terletak antara Sigli dan Padang Tiji], yang telah menanamkan nilai-nilai agamis dan kecintaan terhadap tanah air pada putri jelitanya, Pocut Meurah Intan, yang lahir pada tahun 1873, di desa Lam Padang, mukim VI, Laweung, Pidie.

Patahnya semangat dan takluknya sang mantan suami pada Belanda, adalah pemicu meningkatnya kebencian dirinya terhadap kafe Ulanda. Apalagi saat itu situasi  perang Aceh, memang sedang memasuki masa-masa sulit, masa-masa kritis yang terkadang mampu melemahkan jiwa. Terlebih dengan mangkatnya Sultan Alaidin Mahmud Syah dalam perang 'kuman' dan digantikan oleh Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah yang masih berusia 10 tahun, sehingga pemerintahan harian terpaksa didelegasikan kepada tuanku Hasyim Banta Muda.

Peperangan  semakin dasyat, kekuatan Belanda semakin berlipat akibat didatangkannya tambahan pasukan Belanda dari Betawi [Jakarta]. Ibukota pemerintahan Aceh terpaksa ditarik ke Indrapuri, yang selanjutnya pindah ke Keumala Dalam. Keadaan semakin memanas dan para pejuang Aceh terpaksa melakukan berbagai manuver, mengubah perang frontal menjadi perang gerilya raksasa di seluruh Aceh, baik di daerah pesisir, pedalaman dan terutama di basis-basis pegunungan. Pertempuran terjadi hampir setiap saat, dan menimbulkan kerugian yang tidak terhitung jumlahnya, baik dalam segi materi maupun jiwa, dari kedua belah pihak.

Bersama para pengikutnya, didukung penuh oleh tiga putra tercinta yang gagah berani, yaitu tuanku Budiman, tuanku Muhammad dan tuanku Nurdin, serta Pang Mahmud sang tangan kanan, Pocut memimpin perjuangan untuk daerah Laweung dan Batee [Kabupaten Pidie sekarang]. Dalam bukunya berjudul Aceh, Zentgraaff menulis, bahwa wanita-wanita Aceh sangat gagah berani. Dikisahkan tentang suatu kejadian ketika pasukan Belanda mengepung sebuah kampung di Pidie, seorang suami tertembak dan rubuh dalam dekapan istrinya. Menyadari bahwa sang suami dalam dekapannya telah tak bernyawa, si wanita lalu mengambil rencong suaminya dan menyerbu brigade dan menyerang mereka, namun seorang marsose berhasil memukul tangannya hingga puntung. Bukannya menyerah, si wanita dengan tangan kirinya malah memungut rencong yang berlumuran darah itu dan kembali menyerang hingga dia sendiri tewas tertembus peluru marsose.

Kisah lain tentang keberanian para srikandi Aceh ini juga dituangkan Zengraaff dalam bukunya sebagai berikut;
sepasukan Belanda telah mengetahui bahwa ada sekelompok pejuang yang bersembunyi di sebuah rumah di Tangse. Lalu pasukan Belanda hendak menggerebek namun seorang wanita, istri si pemilik rumah dengan gagah berani menghadang marsose yang sedang menaiki tangga. Dengan lantang dia berseru, melarang para marsose memasuki rumahnya. Tentu saja marsose marah dan membentaknya, namun dengan lebih keras, dia balas membentak para kafe Ulanda, melarang mereka menginjakkan kaki dirumahnya. Tentu saja sikap ini semakin membuat para marsose naik pitam, dan memukul kaki wanita ini dengan popor senjatanya, hingga si wanita terjatuh. Barulah dia bergeser dan para marsose menyerbu ke dalam rumah. Adu mulut dalam tenggang waktu beberapa menit tadi tentu memberi kesempatan bagi para pejuang yang bersembunyi di dalam rumah untuk lari menyelamatkan diri, alhasil, para marsose pulang dengan tangan kosong.

Kisah lain yang tak kalah heroik adalah ketika Geldorp dan tiga pasukannya menyergap tempat persembunyian para pejuang yang terdiri dari 4 orang laki-laki beserta istri-istri mereka. Pertempuran yang tak berimbang itu menyebabkan para lelaki mati syahid dan menyisakan para wanita. Yang mengejutkan adalah, tindakan para wanita yang hendak mereka sandera itu sungguh diluar dugaan. Dengan sigap mereka mengambil senjata-senjata milik suami mereka dan mulai mengadakan perlawanan, menyerang pasukan marsose dengan membabi buta hingga ke empatnya mati syahid, menyusul sang suami.

Keberanian dan semangat baja nan pantang menyerah dalam diri Pocut dan pasukannya, mau tak mau membuat pasukan Belanda semakin kesulitan dalam menaklukkan daerah ini. Semakin digencet semakin liat. Pocut dan pasukannya semakin gencar melakukan aksinya, beberapa peperangan tak terhindarkan pun terjadi di Biheu, Laweung, Lam panah dan Lam Teuba. Belanda semakin gusar dan marah, hingga semakin gencar melakukan serangan-serangan untuk menghentikan aksi yang dipimpin Pocut. Belanda mulai mencatat bahwa Pocut tak dapat diremehkan. Wanita ini sungguh bernyali besar, cerdas dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Wanita ini sungguh berbahaya dan harus diantisipasi dengan cermat, atau malah segera dibasmi sepak terjangnya.

Maka berbagai upaya pun dilakukan oleh pasukan Belanda untuk menghentikan sepak terjang Pocut dan pasukannya, hingga suatu hari, tepatnya pada awal November 1902, ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayjen T. J Veltman sedang melakukan patroli di daerah basis gerilya, yaitu di daerah Laweung, Biheu, mereka menemukan seorang wanita yang dari tatapannya terlihat jelas memendam kebencian terhadap mereka. Pemeriksaan terhadap wanita ini pun dilakukan. Namun kala anggota pasukan mendekatinya, dan hendak memeriksanya, wanita ini diluar dugaan mencabut rencong yang terselip dibalik pakaiannya dan dengan segala upaya, menyerang mereka sembari berteriak penuh amarah.

"Kalo begitu, biarlah aku mati syahid!" Dan pertempuran 1 lawan 18 orang anggota Marsose itu pun pecah.

Pocut masih berdiri tangguh kala serdadu serdadu itu menebas senjata. Wanita itu masih berdiri kokoh seraya menghunus rencong kala pedang marsose menebas dan meninggalkan dua luka di kepalanya, serta dua luka di bahunya. Ia baru terjatuh ketika pedang tajam itu menghunus ke otot tumitnya hingga putus. Terjatuh, rubuh, di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Dengan dada yang berlubang, luka membujur di sekujur tubuh dan banyak kehilangan darah, bahkan salah satu urat di keningnya terputus! Terbaring di atas tanah berlumur lumpur dan darah, hingga salah seorang anggota marsose yang tak tega menyaksikan penderitaan Pocut, memohon ijin kepada Veltman agar diijinkan mengakhiri penderitaan Pocut dengan menembakkan peluru ke tubuhnya agar tewas.

Tentu saja Veltman tak menyetujui, dan memerintahkan pasukannya untuk berlalu, dan membiarkan Pocut terbaring untuk ditemukan oleh warga desa dan diberikan pertolongan. Di lubuk hatinya, Veltman dan pasukannya menyimpan rasa hormat dan takjub akan keberanian para wanita Aceh yang begitu heroik dan gagah berani. Suatu hal yang sangat jarang mereka saksikan di dunia ini, yang mungkin tidak akan ada pada wanita bangsa mereka sendiri.

Pocut ditemukan dan dirawat oleh para penduduk, dan walau masih dalam masa kritisnya, tetap bertekad untuk lanjutkan perjuangan. Tak hanya itu, Pocut juga telah menyusun rencana untuk menghabisi si pengkhianat negeri, musuh dalam selimut, yaitu penduduk desa yang telah menjadi mata-mata Belanda.

Sementara itu, Veltman yang kemudian mengetahui bahwa wanita yang bentrok dengan pasukannya itu adalah seorang pemimpin gerilya, berusaha mencari tau keberadaannya, dan hatinya sungguh terenyuh kala menyaksikan Pocut terbaring lemah, tak berdaya dengan kain kusam yang membalut luka-luka di tubuhnya. Yang lebih membuatnya terenyuh adalah, penduduk desa menggunakan kotoran sapi sebagai antibiotik alami demi menyembuhkan luka-luka Pocut. Sungguh mengiris hati, apalagi melihat wanita pemberani itu menggigil dan mengerang penuh kesakitan.

Terketuk hatinya, pemimpin pasukan Belanda yang fasih berbahasa Aceh ini berupaya keras membujuk Pocut agar bersedia diobati oleh dokter Belanda. Pocut menolak keras, tak sudi tubuhnya disentuh/diobati oleh tangan-tangan para kafe Ulanda. Namun akhirnya berkat bujukan Veltman, Pocut menyerah dan bersedia untuk diobati. Proses penyembuhan memakan waktu yang lama dan akhirnya walau pun sembuh, Pocut mengalami cacat fisik [pincang] pada kakinya.

Mendengar keberanian Pocut melawan pasukan Veltman seorang diri hanya dengan sebilah rencong, Komandan militer Scheuer memutuskan untuk mengunjungi dan bertemu Pocut, yang tentu saja didampingi oleh Veltman, yang juga bertindak sebagai penerjemah. Komandan Scheuer menaruh hormat kepada Pocut, tanpa dibuat-buat, murni dari lubuk hatinya. Setulus hati dia meminta Veltman untuk menyampaikan kepada Pocut, bahwa dirinya sangat kagum pada Pocut. Sikapnya ini memancing rasa apresiasi dari Pocut, membuat wanita itu mengangguk dan tersenyum padanya. Namun itu tak berarti bahwa Pocut akan menghentikan peperangan dalam rangka mempertahankan negerinya... Perang akan berlanjut dan para kafe Ulanda harus angkat kaki dari tanah rencong ini!

Perjuangan memang terus berlanjut, bumi Aceh terus bergolak karena para gerilyawan terus beraksi. Pocut masih belum sembuh total dan tetap dalam pengawasan Belanda. Perjuangan dilanjutkan oleh ketiga putranya serta Pang Mahmud yang setia. Sayangnya, pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap, dan karena dianggap sangat berbahaya bagi keamanan penjajahan Belanda, maka pada tanggal 19 April 1900 beliau diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25 pasar 47 R.R. Sementara dua putra Pocut yang lainnya diasingkan ke tanah Jawa.

Ketika sembuh dari sakitnya, Pocut masih melanjutkan perjuangan bahkan masih mampu memimpin pasukan, walau akhirnya berhasil ditangkap dan dijadikan tahanan Belanda, dan bersama putranya tuanku Budiman dimasukkan ke penjara Belanda, Kutaraja. Dalam waktu yang sama, tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan dan memimpin para pejuang di kawasan Laweung dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju. Sebelumnya Belanda terlebih dahulu menangkap istri dari tuanku Nurdin sebagai taktik untuk membuat tuanku Nurdin menyerah, namun ternyata taktik ini tidak membawa hasil.

Kemudian, pada 6 Mei 1905, Pocut beserta kedua putranya yaitu tuanku Nurdin dan tuanku Budiman serta seorang saudaranya, tuanku Ibrahim diasingkan ke tanah Jawa, tepatnya di Blora, Jawa Tengah, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Mei 1905, No. 24. . Dan sejak itu, perjuangan Pocut dan putra-putranya tak lagi menemukan kesempatan untuk berlanjut. Ketiganya hidup dalam pengasingan, dan kemudian Pocut Meurah Intan menghembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1937, di pengasingan. Jauh dari tanah rencong, tanah tumpah darahnya tercinta.

Makamnya terletak di desa Temurejo, Blora, Jawa Tengah, dan pernah ada rencana dari Pemerintah Aceh untuk memindahkan makam Pocut ke tanah kelahirannya, namun amanah Pocut yang disampaikan pada salah seorang sahabatnya di Blora, yaitu RM Ngabehi Dono Muhammad, bahwa Pocut lebih senang bersemayam di Blora membuat rencana ini tak jadi dilanjutkan.

Walau…..


Tak banyak yang mengenalmu, tak ada lagu khusus untukmu, tak ada pujian indah acapkali diberikan padamu,namun…

perjuanganmu, keberanianmu, semangatmu dan keteguhanmu
adalah inspirasi bagiku

tak hanya itu, tak hanya aku.
bahkan musuhmu, si kaphe Ulanda
yang begitu membencimu, yang mencarimu, juga sangat mengagumimu!

Teurimong Geunaseh wahai Pocut
I do proud of you! Thank You!!

Referensi:

http://iloveaceh.blog.com/?p=251
http://id.wikipedia.org/wiki/Pocut_Meurah_Intan


Read More
/ /
Pasar Terapung atau Floating market, adalah sebuah object wisata yang aku yakin, pasti akan menarik minat siapa pun penikmat wisata untuk mengunjunginya kan? Begitu juga aku. Keinginan ini sudah lama sekali terpendam di dalam hati dan belum menemukan kesempatan untuk mengunjunginya. Kala itu, yang terlintas setiap mendengar/membaca kata Floating Market adalah Pasar Terapung yang ada di Banjarmasin [Indonesia] atau yang ada di Bangkok sana. Hm.... gimana ya rasanya berbelanja di atas pasar yang terapung? Pasti menimbulkan sensasi yang gimanaaa gitu ya? Pernah masuk sih ke dalam skedulku untuk berwisata ke Banjarmasin atau Bangkok Floating Market suatu hari kala kesibukan pekerjaan mereda. Atau saat ambil cuti gitu..., tapi kok ya, keinginan itu hanya tergeletak tak berdaya di dalam list of wish aja ya? Belum terwujud!

Hingga kemudian, 'mandah' ke Bandung, aku pun mulai mengenal daerah-daerah wisata yang beraneka rupa, mulai dari wisata belanja [Factory outlet], kuliner, pegunungan, dan aneka varian lainnya. Daaaaan.... Oow, Floating Market juga kini available lho di kota yang satu ini! 

Yes, Floating Market ternyata kini sudah ada di kota Lembang sobs! Tepatnya di Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang.

Ide yang dikembangkan oleh Pak Perry Tristianto, pengusaha [Raja] Factory Outlet dan kuliner Bandung ini memang berkonsep ciamik. Bersama group usahanya The Big Price Cut [TBPC], beliau tak hanya 'menghadirkan' sebuah Pasar Terapung bagi kita semua! Tetapi juga memadukan suasana desa yang asri, sejuk dan damai, lengkap dengan area persawahan [Kampung Leuit] nan menghampar, gemericik aliran sungai kecil yang saling terhubung, ikan-ikan kecil yang hidup di dalam sungai kecilnya, jembatan-jembatan penyeberangan yang indah serta sebuah danau [danau asli lho ya] yang di atasnya dihiasi jukung/perahu-perahu indah sehingga dijamin akan memberikan sensasi tersendiri bagi kita. CIAMIK deh! Sungguh merupakan sebuah konsep usaha wisata yang benar-benar menyatu dengan alam.

Tak hanya itu, bagi anda penyuka kelinci dan angsa, kedua taman ini pun available lho untuk memanjakan mata anda dan memuaskan anda bermain-main dengan mereka. :)


Floating Market Lembang

Disambut oleh pintu utama 'rumah ala Jawa' yang terbuat dari kayu ini, maka petualangan wisata pun dimulai. Yuuuk...

Bagian dalam Joglo utama
Indah banget ya sobs!
Mana mungkin ga foto-foto kan ya? :P
Belum lagi hamparan padi nan menghijau di Kampung Leuit, plus bunyi gemericik air yang mengalir di anak sungainya yang saling terhubung, deuh.... bener-bener menghadirkan nuansa alam pedesaan yang asri deh sobs!

Hamparan sawah sebagai replika suasana pedesaan, walau tak seberapa luas, tapi cukuplah untuk menguak memory ndeso yang hm.... bikin kangen kampung! :)
Narsis bareng sohib blogger, exist every where bo'
Seperti yang sudah dijanjikan dalam konsep wisatanya, maka Floating Market tak hanya menyajikan Pasar [lebih tepatnya sih para penjual] di atas perahu, sebelum mencapai ke area ini, kita terlebih dahulu akan disuguhkan oleh aneka pemandangan indah, rerumputan hijau, 'hutan-hutan' kecil dimana kita bisa beraksi di depan kamera lho.





Atau berbelanja di gallery-gallery berbentuk joglo apik, yang bangunannya memang didatangkan dari tanah Jawa dan dibangun kembali di arena ini? 

gambar nyulik dari blog Teh Dey
Setelah lelah berjalan, deretan gazebo dengan hamparan rumput hijau nan sejuk, yang tersedia di sepanjang arena juga dapat menjadi pilihan bagi yang merasa lelah setelah berjalan kaki menikmati indahnya alam FML, duduk sejenak di dalamnya, dijamin akan menghadirkan nuansa bahagia tersendiri lho! Jangan lupa, optimalkan batre kamera anda, karena dijamin, keinginan untuk mengabadikan momen indah itu akan hadir di setiap tempat anda menjejak! Karena pemandangan dan nuansanya memang benar-benar indah dan asri! :). 

Akhirnya..... Inilah yang menjadi judul postingan itu sobs! Floating Market! Here it is!



Memang sih, tidak seperti Floating Marketnya Bangkok atau pun Banjarmasin sana sobs, dimana penjual dan pembeli sama-sama berada di dalam perahu... nah kalo Floating Market Lembang mah beda atuh. Kan ini object beberapa varian wisata, ya kulinernya, ya pemandangan indahnya, ya wisata airnya [naik perahu], ya toh? So, ga papa juga toh sobs, jika kita belanjanya cukup dari dermaganya aja... sambil menikmati aneka kuliner yang tersedia disana.... seperti ini nih sobs..... asyik kan?


nyomot foto dari teh Dey
Atau sebelum makan mau main wahana air dulu? Monggo.....




atau mau naik ojeg perahu untuk menyeberang? 


Wow... ga terasa ya sobs, postingan ini udah kebangetan nih panjangnya, plus foto-foto yang bertaburan disana sini... semoga bermanfaat bagi sobats yang penasaran banget dengan Floating Market Lembang yaaa...

Untuk informasi tambahan, Floating Market ini hanya buka untuk hari Jumat, Sabtu dan Minggu lho. Sementara untuk hari-hari lainnya, biasanya area cantik ini dipakai sebagai lokasi pemotretan untuk Pre Wedding. So, bagi sobats yang tertarik untuk mengetahui info lebih lanjut dapat menghubungi ke nomor ini 022-22787766.

Oya, untuk tiket masuk ke lokasi ini, murah banget, hanya 10 ribu rupiah per orang lho! Dan itu pun bisa ditukar dengan welcome drink lho! Tapi ingat sobs, tidak diperkenankan membawa makanan dari luar lho yaaa! Dan satu lagi yang menarik nih sobs.... untuk transaksi jual beli di lokasi ini, kita tidak menggunakan uang lho, tapi dengan memakai koin! [Ya, tentu saja koin itu dibeli terlebih dahulu sih, hehe, jadinya teteup pake uang donk Al!]. 

Menarik yaaa? Kayak dimana gituuuu!



Alaika,
Bandung, 14 Februari 2013

Read More
/ /
Dua hari terperangkap dalam keadaan kurang sehat sungguh mendera batin dan menghambat langkah. Bukan hanya tubuh yang pegel linu dan tenggorokan yang terasa pahit, namun rasa was-was dan curiga jika si demam ini adalah sama dengan yang pernah aku alami dulu [Demam Berdarah], sungguh membuatku kuatir. Akibatnya, aku rajinkan diri mengkonsumsi sari kurma, pocari sweat dan bear brand secara silih berganti. Memang sih, malam harinya demam itu terasa begitu menguatirkan, tinggi, rendah, tinggi dan rendah lagi. Namun keesokan harinya, mulai baikan. Eh pagi ini, saat feeling adem tentram, dan sedang nyantai nonton TV karena masih harus bedrest, tiba-tiba ulu hati ini kok rasanya sakit sekali. Tenggorokan masih sepahit kemarin. Tapi rasa sakit di ulu hati semakin menyesakkan dan terasa panas. Duh... kuraih minyak kayu putih dan mengoleskannya di dada... eh bukannya reda, malah tiba-tiba ada yang menggelegak di tenggorokan dan langsung menghambur keluar. Masyaallah, muntah!

Banyak banget. Seluruh makanan yang baru saja berpindah dari piring ke dalam perut kini menyembur keluar. Masih utuh... Ya Allah.... tak sempat berfikir macam-macam, aku menghambur keluar kamar menuju kamar mandi, sambil terus menghamburkan isi perut ke lantai sepanjang perjalanan ke kamar mandi. Duh, sedih banget, mana seorang diri gini lagi... HIks....
Berjongkok di kamar mandi, memuntahkan seluruh yang masih tersisa, hingga akhirnya muntahan itu berhenti juga, berganti dengan air mata yang tanpa diundang mengalir otomati. Duh, cengeng ini ga bisa di stop. Kuhabiskan beberapa menit untuk menangisi diri, yang tiba-tiba saja merasa begitu malang. Haha...

Baru kemudian aku kembali ke kamar, menyaksikan akibat dari pekerjaan si usus yang tak sudi menerima makanan yang tadi aku pindahkan. Huft. Kamar jadi kotor dan terpaksa seorang diri aku harus mengelap lantai yang telah kotor. Tak sanggup mengepel, aku korbankan tissue basah satu pack untuk menyeka lantai ala suster ngesot. Huft, lelah nian kalo seperti ini. Aku ingin pulang kampung aja deh... Hiks....

Akhirnya badmood akibat lantai dan kamar yang kotor berubah jadi good mood kembali saat lantai dan kamar telah kinclong dan wangi [ya iyalah, tissue basah satu pack gede gitu kok] kembali... jadinya aku bisa istirahat dengan santai lagi deh. Bedrest! Yes, I have to take bedrest! Harus. Namun sebelum itu, aku harus minum dulu yang banyak, kan udah habis dimuntahkan tadi seluruh liquid yang ada di dalam perut. Tapi ya Allah, baru dua menit aku minum, kembali tenggorokanku terasa ada yang merambat... Oh My God! Again! Air bening itu menyembur keluar, tak tertolong lagi, membasahi kasur yang sedang aku duduki. Berlari lagi aku ke kamar mandi... nangis lagi... dan kembali ke urutanan sebelumnya.... huk...

Baru setelah mencoba minum bear brand, si muntah tadi mulai kompromi. Kurasakan perutku terasa adem, enakan. Yes. Good. Aku ga mau macam2 ah. Cukup dulu. Jeda dulu memasukkan apapun ke dalam tenggorokanku. AKu bawa tidur dulu deh.... dan sungguh ajaib, Alhamdulillah, ternyata setelah itu malah aku merasa baikan. Demam hilang, tenggorokan lega, perut nyaman. Tinggal lemes dan pusing yang masih ada. Well, ga papa, itu artinya, istirahat lagi yang banyak. Ya toh? Maka itulah yang aku lakukan.

Sayangnya, hingga malam, aku masih tak mampu untuk mendampingi Intan yang sedang butuh bimbingan konsultasi persiapan bahan presentasi bahasa Inggrisnya. Putri tercinta akan ikut lomba English speech competition besok siang, dan adalah aku yang menyarankan dia untuk angkat tema "Tsunami Museum, as one of Aceh Tourism Destination" besok. Duh nak... maafkan Umi....

Dan hingga malamnya, Intan malah sibuk memintaku untuk istirahat saja, jangan memaksa diri, biar dia sendiri yang browsing bahannya, lagian Intan kan bisa ambil bahan-bahannya di blog umi yang ini katanya. Namun ga enak hati juga aku jadinya, karena bagaimana pun, itu akan jadi materi yang berat jika harus membicarakannya dalam bahasa Inggris. Maka kucoba membuka laptop dan membuat beberapa slide permulaan, nanti biar dia sendiri yang melanjutkan... dan Taraaaa.... Empat slides tercipta dan segera aku send ke putriku di seberang sana. Yang segera dibalasnya dengan sebuah sms gembira.

"Ok Umi sayang, thanks a lots, sekarang Umi istirahat dulu yaaa... yang banyak istirahatnya... jangan diforsir, ayo tutup laptopnya dan segera bobok ya mi.... yuk baca doa boboknya yuk...."

Segera kubalas,

"Okd sayang, Dila lanjutkan sendiri ya nak... Umi baca doa bobok sekarang ya.... Bismika Allahumma Ahya Waamut"...

dan balasannya begitu menentramkan hati,

"Aaamiiinn.... Selamat bobok mi mimpi indah, have a nice dream, Muaaaaaachhhh... Sembuhkanlah Umi hamba ya Allah... Aaaaaamiiiiiin.... text to you tomorrow mom!"

Dan sudah seharusnya hamba berterima kasih kepadaMu ya Allah atas titipanMu, seorang putri yang begitu baik hati dan penuh pengertian. Beri kami kesempatan untuk tetap saling cinta dan sayang ya Allah, beri kami kesempatan untuk dapat segera bersama kembali..  Lindungi Intan dimanapun dirinya berada ya Allah, tambahkan ilmu pengetahuannya, cerdaskan dia, sehatkan dia, dan jadikan dia sebagai anak yang sholehah, Aaaamiiin.

Dan ok nak, Umi berhenti menulis sekarang, dan bener-bener bobok setelah postingan ini, ok sayang. Hehehe.

Well sobats, itu cerita malamku, apa ceritamu? Semoga sehat selalu dimanapun sobats berada yaaa....
Good nite, good rest and nice dream!

Saleum,
Al, Bandung, 8 February 2013 | Jumat.

Read More
/ /

Pagi-pagi udah dapat PING dari Intan dan sebuah icon mewek alias menangis. Duh.... what's up with my diamond?

Umi : Kenapa sayang?

Intan : Miiiii..... gagal deh cita-cita Intan masuk HI.

Umi : Lhoooo... gagal gimana nak?

Intan : Bener info tadi malam miiii. Untuk masuk HI via Invitation, hanya bisa yang dari jurusan IPS dengan nilai memenuhi syarat. Nah, gimana mau penuhi kriteria, orang Intan di IPA? Hiksssss.... Huaaaa

Umi : Sssst, sabar sayang..... take it easy.... yuk kita discuss..

Dan percakapan penuh keprihatinan kasih sayang pun kulakukan dalam rangka menenangkan hati si belahan jiwa. Berjauhan dengannya jelas bukan hal yang menyenangkan, melainkan selalu bikin miris jika sang putri sedang dilanda gundah gulana. Akan jauh lebih adem dan damai jika aku bisa langsung berada di hadapannya, memberikan dukungan, perhatian dan pelukan secara langsung padanya. Namun apa daya, jarak yang begitu jauh adalah jurang pemisah yang begitu nyata. Lantas haruskah aku menyerah dan membiarkan dirinya berjibaku meredam kegundahan hatinya seorang diri?

Tentu tidak. Seorang ibu bertanggung jawab penuh dalam mendukung dan membahagiakan putri/putranya. Itu juga yang selalu kutanam di hati ini. Boleh saja aku berada ribuan kilo darinya, tapi secara virtual, aku harus selalu berada di dalam hatinya. Ada 'disisinya' walau hanya virtually, disaat dia membutuhkan, terutama di saat-saat seperti ini. Lagi dan lagi aku harus bersyukur pada kemajuan technology, yang telah banyak sekali kontribusinya bagi kedekatan hubungan kami.

Percakapan sekitar 30 menit ternyata tak mampu menentramkan hatinya. Dan harus ditambah lagi pada malam harinya kala menjelang tidur. Kekecewaan yang melanda hatinya, dan penyesalan telah mengambil jurusan IPA tak mampu teredam. Aku jadi merasa menyesal telah ikut memberi masukan padanya kala itu, untuk masuk jurusan IPA, walau Fakultas tujuannya adalah bukan berbasis IPA. Intan memang sangat tertarik sekali untuk masuk ke Hubungan International, dan targetnya adalah ingin masuk ke Universitas Indonesia, seperti jejak salah satu Omnya [adikku] yang saat ini tinggal di Turkey.

Bukan hanya aku sih yang memberi masukan padanya untuk masuk ke kelas IPA, tapi adikku serta guru wali kelasnya Intan juga memberi saran serupa. Pertimbangannya adalah Intan punya kemampuan dan logika berfikir yang sistematis, dan juga nilai-nilai lebih dari cukup untuk masuk IPA. Lagipula, nanti dengan berasal dari IPA, kesempatannya untuk memilih berbagai fakultas lebih terbuka lebar. Namun saat itu, aku juga tidak keberatan jika dia ingin langsung masuk ke IPS. Akhirnya setelah beristikharah, dia memilih IPA and so far she looks happy for that.

Sampai kemudian, tepatnya kemarin, isu itu menjadi kenyataan. Bahwa invitation system untuk menjadi mahasiswa/i undangan ke Perguruan Tinggi berdasarkan pada Jurusan yang mereka kini duduki. Artinya, Intan, yang jurusan IPA, mustahil bisa diundang masuk ke FISIP, jurusan HI, yang basisnya adalah IPS. Dan berurailah airmata sang putri tercinta hingga malam harinya. Tak mampu konsentrasi belajar dan sungguh membuatku ingin terbang dan memeluknya. Menemaninya disana. Menghapus airmatanya dan menawarkan solusi-solusi. But how, I was so far away. :(

Phone conversation tetap tak mampu membuatnya tersenyum. Padahal aku telah menguras aneka perbendaharaan kata dan pemikiran untuk mengatasi persoalan yang sedang ada dihadapannya. Bahwa jalannya masih panjang. Masih ada 1,5 tahun lagi untuk melangkah ke Perguruan Tinggi. Berbagai teori aku kemukakan, bahwa untuk menuju sebuah tujuan, kita dapat mencapainya dengan berbagai cara. Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan menuju 'Hubungan International' idamannya. Memang sih, pintu yang satu telah tertutup, tapi masih ada pintu lainnya. Masih bisa mencoba via seleksi/test. Masih ada banyak jalan dan kemungkinan, asalkan kita tidak berputus asa. Tapi lagi dan lagi Intan tak mampu meredam kekecewaannya, bahwa nilainya selama ini cukup menjamin untuk dapat undangan itu. Sayangnya dia ada di IPA, dan dia ga ingin diundang ke salah satu Fakultas jurusan IPA. Hm...

Aku tau, posisinya kini sedang pada tahap DENIAL, penolakan terhadap kenyataan yang terhampar di depan mata. Jadi sebanyak apapun argumentasiku, tetap tak akan mampu membuatnya tersenyum riang. Jadi biarkan dulu Intan menumpahkan segala kekecewaan hatinya, kalo perlu menangis, menangislah sayang. Dan ketika dia mengatakan ingin menangis, segera kuberi sinyal oke to do that. Aku tak akan menanamkan berbagai masukan lagi [sementara ini], cukup dulu. Besok-besok bisa dilanjutkan lagi, namun sebelum Intan mulai menangis, kusarankan untuk baca doa tidur dulu seperti biasanya. Dan begitu ritual baca doa tidur selesai, kuputuskan komunikasi kami, dan kubiarkan putriku menangis.

Namun mana mungkin aku bisa tidur nyenyak menyadari nun jauh di ujung sana, di sebuah kamar, putri tercinta menangis seorang diri? Tidak, aku ga bisa tenang. Kuraih hapeku, kuhubungi adik bungsuku, satu-satunya adik yang masih tinggal bersama orang tuaku. Untungnya dia sudah berada di rumah dan sedang mempersiapkan tugas-tugas kuliahnya. Aku yakin, dialah orang yang pantas bicara dengan Intan saat ini, karena dia yang sedang mengambil S-2, tentu paham benar sistem perkuliahan saat ini. Sementara aku? Telah sekian lama ga update perkembangan sistem itu, apalagi ibuku? So, he is the right person to talk to Intan.

Mengerti akan situasi yang sedang terjadi, adikku dengan tanggap bergerak. Ibuku yang curiga dan kuatir ada hal yang ga mengenakkan terjadi pada Intan ikutan masuk kamar. Dan Terjadilah dialog panjang lebar antara mereka bertiga. Adik dan ibuku saling menguatkan dalam rangka menyemangati Intan kembali... Alhamdulillah ya Allah, aku bersyukur padaMu atas anugerah ini. Aku bersyukur memiliki orang tua dan saudara yang begitu perhatian. Alhamdulillah....

Pagi ini, aku dapat telphone dari ibuku, mengabarkan situasi dan progress tadi malam. Pagi ini Intan sudah berangkat ke sekolah dengan penuh semangat kembali... walaupun, pastinya, kekecewaan itu masih ada. Wajar dan sangat normal toh? Biarlah waktu akan mengikis kekecewaan itu dan membuatnya move on to the next step. "Acceptance' --> tahap menerima. :)

Thanks a lots mom, and my little bro, your great effort and support are really-really highly appreciated. Alhamdulillah ya Allah...

To Intan sayang, keep the spirit ya nak, masa depan mu masih panjang, dan banyak jalan menuju target tujuan. We will always with you to support you, and Allah will guide us to achieve our goal, ok?

catatan hati,
Al, Bandung, 5 Feb 2013
Read More
/ /
Postingan sebelumnya baca disini

Kali ini, setelah terkendala oleh beberapa aktivitas yang menyita waktu, akhirnya berkesempatan lagi untuk menuangkan kisah petualangan kami [Alaika, Ririe Khayan, Una dan Idah] ke Dieng di rumah maya tercinta ini. Dan untuk menghemat space, yuk langsung lanjut ke beberapa object wisata yang kami kunjungi setelah turun dari bukit Sikunir yuk sobs...

Kawah Sikidang

Saking populernya kawah yang satu ini, membuat kami tak hendak berleha-leha [santai-santai] setelah turun dari bukit Sikunir. Apalagi mas sopir mengatakan tidak akan butuh waktu lama untuk mencapai kawah ini. Maka, baiklah, ayo kita kemon!

Sampailah kami di kawah yang dari jauh telah memancarkan pemandangan asap mengepul. Namun rasa lapar yang lebih dominan, membuat kami tak langsung melangkahkan kaki ke dataran putih yang menghampar itu. Tunggu ya kawah... kami isi perut dulu biar ga eneg ntar membaui aroma sulfur mu. :)

Tak kalah dengan bukit Sikunir, lokasi yang satu ini juga dipadati banyak wisatawan. Ada yang langsung menghambur ke kawah, namun ada pula yang mengikuti jejak kami yang santun dan teratur [turun mobil, lihat kiri kanan, makan, baru ke kawah], hehe. Layaknya tempat wisata, maka kawah yang satu ini juga dipenuhi oleh para pedagang, mulai dari pedagang makanan sampai pedagang souvenir, lengkap kap kap!

Oke, selesai makan, kami langsung ke tujuan utama, yaitu menyaksikan kawah yang masih begitu aktif aktifitas vulkanisnya. Tak jauh melangkah, sampai juga kami ke hamparan dataran putih, yang merupakan tumpukan endapan belerang, membuat penampakan dataran yang satu ini menjadi begitu unik. Namun tak dapat dipungkiri bahwa aroma belerang atau sulfurnya itu lho, membuat dada sedikit sesak. Banyak sih yang memakai masker, tapi kami ndak tuh...

Kami melangkah dengan riang, panasnya matahari sedikit menyengat walau kata orang Dieng itu dingin banget. Sampai akhirnya mata ini terpana, bibir terkatub. Oh my God. Masyaallah.... ini dia! aktivitas vulkanis yang begitu mengerikan. Sebuah lubang besar [kawah] yang dikelilingi pagar bambu, menghamparkan sebuah pemandangan mengerikan. Semburan air mendidih berwarna abu-abu pekat yang menyembur-nyembur disertai asap putih mengepul, mengingatkan aku pada cerita masa kanak-kanak dahulu. Kisah Masyitah, si tukang sisir keluarga Firaun, yang hendak direbus hidup-hidup  di dalam sebuah belanga besar karena ketahuan menyembah Allah SWT dan menyekutukan Firaun.  Aroma belerang semakin nyata dan mendesak pernapasan, namun tak membuat kami ingin segera menghindar.

Pemandangan ini begitu menakjubkan sekaligus mengkuatirkan. Ngeri aja membayangkan jika ada wisatawan yang membawa anak kecil/balita [yang lasak/aktif] kesini, dan tiba-tiba si anak saking gesit dan aktifnya, kebablasan ke dalam kawah, karena pagar yang mengelilinginya hanya berupa bilah-bilah bambu saja. Ih, nauzubillahi min zallik. Jangan sampai ya Allah...

credit
Setelah merasakan pernapasan yang semakin tak nyaman oleh aroma sulfur yang begitu pekat, akhirnya kami menyerah, mengundurkan diri dari wadah yang menampung liquid mendidih menggelegak itu, untuk menyaksikan kreasi Ilahi yang lainnya. Namun beberapa kuda yang disewakan untuk para wisatawan berfoto, di sekitar kawah, menarik perhatianku dan Ririe untuk menjajalnya. Yaaaa... walaupun ga mungkin untuk menunggang dan memacunya, sekedar nampang alias mejeng di atasnya tentu bukan kesempatan yang layak dilewatkan. Maka... inilah aksi dari Alaika Abdullah dan Ririe Khayan yang gagal jadi cowgirls! Haha.




Setelah menikmati pemandangan kawah, kami [aku, Ririe, Una dan Idah Cherish] pun melanjutkan wisata ke object wisata berikutnya yaitu Telaga Warna yang kabarnya menyemburatkan beberapa warna dari permukaan airnya. Tentu saja kami sangat penasaran untuk membuktikan kabar itu, apalagi banyak situs di internet yang mempromosikan keindahan pemandangan alam yang satu ini. Jadi makin ga sabar donk untuk segera mengunjungi dan melihatnya secara langsung?

Sobat juga pasti penasarankan untuk mengetahui kebenaran beritanya? Baiklah, let me tell you, bahwa ternyata oh ternyata, Telaga Warna itu kini........  nantikan infonya pada postingan berikutnya, ok sobs? :)


~ BERSAMBUMG ~




Read More