Archive for January 2013
Menu
/ /
Sudut layar kanan Macsy kedap kedip, membuat mataku melirik kesana dan Tara....


dan sesuai janji, segera deh aku ubek-ubek koleksi foto yang seabrek-abrek, dan menurutku sih cukup artistik. Tapi pilihanku selalu dan selalu saja jatuh pada beberapa foto berbackground senja dengan semburat jingganya yang begitu menawan.

Misalnya yang ini nih sobs....

atau yang ini nih sobs...

atau yang ini


langit Simeulu yang biru, kapas putih yang bersih
terang benderang yang jadi temaram
Semburat Jingga yang tumpah ruah....

Duhai.... sungguh sebuah lukisan yang indah
tercipta agung, artistik tanpa perlu di utak atik!

Subhanallah, Maha Besar Engkau ya Allah.

"Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway."


Read More
/ /

Pagi-pagi tadi udah dapat colekan di fesbuk dari bunda Yati Rachmat ....
agak kaget, karena jarang-jarang nih bunda tersayang mencolek diriku... :). Walau sedang sibuk dengan urusan taking care my diamond Intan, aku coba intip juga sejenak, oalah.... Alhamdulillah aku dapat award indah berseri dari bunda Yati.... Penasaran langsung meluncur ke blognya bunda via Opera Mini yang telah aku tanam di BB ku. Dan Subhanallah, terharu banget rasanya terpilih menjadi salah satu dari sepuluh orang yang menerima award darinya.... Duh... makasih ya bund.... Muach.

Dan layaknya award, setelah menerimanya, tentu ada pe er yang harus dikerjakan kan sobs? So, malam ini, sebelum menikmati sebuah film [DVD] yang tadi kami beli dari Krang Kring, aku keingat untuk ngerjain bikin postingan tentang award ini dulu ah... hitung-hitung nambah postingan di Virtual Corner tercinta inih... hehe. Toh ga akan lama, paling lima belas menitan lah, setelah itu bisa santai nonton "Stolen" nya si Nicholas Cage. Ada yang udah pada nonton ga nih sobs?

Weleh, kok malah ngobrolin filem sih, yuk ah, langsung ke pe er nya aja yuk... begini nih pertanyaannya sobs...

Favorite Color : banyak! Paling suka coklat, biru, pink dan putih.

Favorite Animal : Sama dengan bunda, aku paling suka kucing. Segala jenis kucing aku suka tuh asal bukan kucing garong lho!

Favorite Number : Have no favorite number sih, semua nomor oke-oke aja tuh.

Favorite Drink : Air putih hangat dan coklat panas/dingin.

Facebook or Twitter : Ngekor jawaban bunda ajah, sehati kita bund! --> Sudah pasti Facebook-lah secara kalo Twitter tuh disamping gak bisa menulis panjang, juga ribet banget dan membingungkan.

Your passion : Menulis apa saja [fiksi, design project, karya ilmiah, dll] dan membaca

Giving or Getting Presents : I will say both. Kedua-duanya menyenangkan, tapi seperti kata bunda, able to give will give us more happiness. :)

Favorite Physical Activity : Sight seeing alias jalan-jalan.

Favorite Day of The Week : Sabtu - Minggu.

Favorite Flower : Roses specially white and red roses.

Nah, terjawab sudah semua pertanyaannya nih sobs, tibalah pada tugas terakhir yaitu menghadiahkan awards ini kepada sepuluh teman blogger lainnya. Tapi aku yakin, rata-rata teman blogger pasti sudah menerima award ini ya?
Jadi supaya lebih enak, aku persilahkan dengan penuh persahabatan, bagi sobats blogger yang tertarik untuk memajang award ini di blognya, monggo atuh sobs.... hayuk diambil ya sobs, dengan catatan..... tolong dijawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ok? Dan persembahkan award ini agar tidak terputus, kepada sobats blogger lainnya, ok?

Well sobs, met bermalam minggu yaaaa....

Saleum,
Alaika, Bandung, 26 Januari 2013
Read More
/ /

Jika ditanya, pekerjaan mana diantara semua pekerjaan yang pernah aku kerjakan, yang memberi sensasi tersendiri bagiku? Maka jawabanku akan langsung tertuju pada ini. Pada sebuah project pribadi bertajuk 'Pembuatan Novel Selingan Semusim'. Sengaja kukatakan pembuatan, bukan penulisan, karena memang untuk menelurkan novel ini, aku terobsesi untuk melakukannya sendiri. :)

Rakus? Haha. Boleh juga dibilang begitu sih. Tapi sebenarnya bukan itu sobs. Aku hanya ingin menguji kemampuan dan menghemat biaya. Belum lagi ide mendadak yang muncul merampas malamku kala itu. Ide untuk mendirikan sebuah perusahaan penerbitan indie! Yang spontan membuatku ga bisa tidur dan memacu otakku untuk terus berputar, membuatku exciting sekaligus stress! 

Alhamdulillah, akhirnya ide-ide yang berseliweran itu berhasil aku tata dan wujudkan satu persatu. Hingga tercantumlah hasil kerja keras itu seperti ini....


Mengurus ISBN, ternyata sama sekali tidak sulit dan benar-benar GRATIS! Officernya juga ramah-ramah lho sobs! Mengurusnya ternyata juga bisa dilakukan via email-emailan lho! Jadi ga perlu via fax lagi atau ke Jakarta sana. Jadi cukup duduk di hadapan komputer atau laptop kita, connect to internet, siapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, lalu kirim permohonannya. Tunggu beberapa saat, dapat balasan deh. Jika ada yang perlu diedit, maka kita edit lalu kirim lagi, dan nantikan response mereka.

Untuk naskahku, kebetulan semua berkas telah lengkap, hanya perlu mencantumkan nama penerbit pada halaman dalam cover novelnya, dan setelah aku revisi, kirim balik ke Tim ISBN, lalu ga sampai lima menit, nomor ISBN yang begitu aku dambakan itu pun dikirimkan. Dan tarraaaa..... bisa sobats lihat pada cover belakang novel Selingan Semusim tuh barcodenya. Hehe.... 

Idih, begitu aja kok bangga yaaaa? Eits, boleh donk sobs, kan ini usaha mandiri, perdana pula, jadi harap maklum ya sobs jika terkesan begitu bangga pada diri sendiri... haha.

Setelah lengkap semua kebutuhan, maka naskah Selingan Semusim ini pun akan naik cetak besok. Mudah-mudahan akan kelar dalam 2 minggu ke depan ya sobs! Dan sementara ini, aku ingin tampilkan salah satu bagian yang memang disyaratkan untuk ikut dikirimkan dalam berkas pengurusan ISBN, yaitu; Kata Pengantar.

Seperti apakah kata pengantar sebuah novel Selingan Semusim? Hihi, yuk kita intip disini yuk sobs!



Well sobs, itulah sekilas update tentang progress penerbitan Novel Selingan Semusim, ya itung-itung nambah postingan di My Virtual Corner, sembari menjaga Intan yang masih opname di Rumah Sakit nih sobs, mohon doa agar anandaku lekas sembuh kembali yaaa....

Dan see you at Selingan Semusim versi cetaknya yaaa.... :)

Saleum,
Al, Bandung, 21 Januari 2013



Read More
/ /


Sesuai janji kemarin dalam postingan ini, maka, inilah dia endorsement dari para sahabat lainnya tentang novel perdanaku, Selingan Semusim.








Well sobats tercintah.... itulah endorsement dari para sahabats, dan bagi yang tertarik untuk membaca the whole story, silahkan ditunggu terbitnya [Insyaallah] akhir Januari ini ya sobs!

Saleum,
Al, Bandung, 16 Januari 2013.


Read More
/ /

Penyakit ini pernah menderaku beberapa bulan yang lalu. Datang tanpa berita dan sok membuat surprise bagi tuan tubuh (pemilik badan) yang dikunjunginya.

Dikiranya tuan tubuh akan senang tuh dengan kehadirannya! Padahal sebel banget lah pastinya.

Dan kini, dia datang pula pada putriku. Tetap dengan polah yang sama! Tanpa aba-aba dan berita sama sekali. Berlagak demam biasa, pura-pura menghilang sejenak lalu muncul lagi.

Dari gejalanya ini, terus terang aku sudah curiga. Ini pasti dia! Tapi kucoba nasehat dokter. Kuberi Intan obat yang diresepkan pak dokter, dan memang, demamnya turun. Tapi naik lagi esoknya. Persis seperti pelana kuda polanya. Ga salah kan jika aku curiga? Dan benar saja, siang ini, hasil pemeriksaan jelas mengharuskan opname!

Opname? Oh my God! Not here please... Kami jauh di rantau! Jauh dari keluarga! Tapi siapa juga yang mau mendengarkan pinta ini? Dia telah berdiri garang, menggerogoti trombosit putriku. Tak bisa diajak kompromi, dengan satu anggukan, aku iyakan Intan untuk segera opname.

Demam Berdarah! Momok yang satu ini membuatku langsung patuh. Kutunjukkan kartu sequishlife Intan, dan petugas administrasi yang kini mengangguk. Alhamdulillah, Rumah sakit ini bekerja sama dengan asuransinya Intan. Good! So I don't have to be worried about the payment.

Kuhubungi agent asuransinya Intan, dan ok, langsung masuk mba, no worries, we will cover all!
Sip! Great!

Kukabari ibuku yang langsung menangis, menguatirkan sang cucu dan putrinya di tanah rantau. Membayangkan betapa akan repotnya aku sendirian menunggui Intan di rumah sakit. Aku jadi ikut sedih, untung tidak ikutan menangis.

'Ga papa kok mi, Intan akan segera sehat. Umi doakan saja agar trombositnya segera naik dan Intan sembuh, ok?'

"Iya nak, tapi kamu kan sendiri di sana. Tuh jangan tidur terlalu nyenyak, jaga infusnya jangan sampai kehabisan karena kamu ketiduran! Kamu tuh kalo udah tidur susah bangunnya. Ingat nak, kamu sendirian disana, jadi harus ekstra kuat.!'

'Iya umi sayang! Insyaallah, dengan doa umi dan ayah, Al ga akan tidur nyenyak dan pasang mata terus untuk pastikan Intan segera sembuh. Ok?'

Dan berbagai nasehat dan dukungan pun mengalir deras melalui suara ibuku di seberang sana, nun jauh di Aceh sana. Bahkan bertekad untuk segera terbang ke Bandung, menemaniku dan Intan. Segera kularang mengingat ibuku baru saja sembuh.

Dan disinilah kini, malam ini, aku dan Intan terdampar. Di sebuah sudut kota Bandung, di rumah sakit bernama Rumah Sakit Rajawali.

Sengaja mengambil kamar berisi 4 pasien dalam satu kamar. Pertimbangan utama adalah agar aku dan Intan tak sendirian. Dengan memiliki teman (senasib) lainnya, aku bisa bergerak leluasa dengan menitipkan Intan sejenak pada mereka jika aku harus ke apotik misalnya, atau apapun keperluan terkait urusan penyembuhan Intan. Dan ternyata, kamarnya pun cukup nyaman dan lapang. Alhamdulillah.

Dan malam ini, kami tak kesepian, aku telah berkenalan dan cukup akrab dengan pasien lain yang sekamar dengan Intan, dan yang menuggui mereka. Jadinya aku ga merasa kesepian deh.

Perlu perjuangan memang untuk menenangkan Intan yang memang takut sekali dengan jarum suntik. Apalagi bolak balik dia harus merelakan tangannya ditusuk si jarum untuk diambil darahnya. Menangis dan menangis setiap jarum itu menusuk tangannya. Duh nak, masak kamu secengeng itu sih nak?

Gemes rasanya dan ingin memarahi, namun sekuat tenaga kucoba konversikan rasa gemes dan marah itu kedalam bujukan dan sugesti. Kubisikkan hatiku bahwa tidak pada tempatnya memarahi Intan dikala seperti ini.

Ayo sayang, ga terlalu sakit kok, hanya sebentar juga sakitnya. Ayo nak, rileks, jangan tegang biar darahnya mengalir dengan baik, ok sayang. Anak Umi kan kuat dan pemberani. Anak Aceh gitu lho!

Dan si perawat juga ikutan membujuk hingga akhirnya proses pengambilan darah berjalan lancar.

Huft, sungguh hari yang melelahkan, dan saking lelahnya, aku ga bisa tidur, apalagi melihat Intan yang masih pucat dan tertidur, namun sebentar sebentar tersentak. Duh nak, sembuhlah sayang... Umi love u so much!
Lindungi anak hamba dan sembuhkan dia ya Allah...

Bandung, 18 Januari 2013
Alaika


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Read More
/ /

Ada yang tidak setuju jika aku mengatakan bahwa perputaran sang waktu seakan berlari? Semuanya berlalu dengan begitu cepat?
Lihat deh, rasanya baru kemarin kita menyambut kehadiran 1 Januari 2013, dan hari ini? It is already 18th of January! Gile bener! Cepet banget ya sobs?

Dan berbicara tentang angka 18, jangan kaget jika most of you will find lots of post talking about the specialty of this day, diposting di halaman maya para emak [anggota KEB]. Emang apa sih istimewanya Al?

Well sobs, aku yakin jika sobats semua tentunya sudah tak asing lagi dengan sebuah komunitas bernama unik ini. Kumpulan Emak Blogger atau akrabnya disebut KEB. Dan...... Hari ini adalah hari jadinya KEB lho sobs!

Postingan tentang komunitas yang telah membuatku begitu terinspirasi ini pernah aku posting disini nih sobs, dan cuplikan tentangnya bisa sobat baca dibawah ini deh; [note: based on 3 Mei 2012 lho ya]

Screen shoot dari artikel tentang KEB di My Virtual Corner
Walau baru akan genap setahun per hari ini, namun KEB telah berkembang pesat, merangkul para emak yang kian hari kian bertambah jumlahnya dan melesat tajam bak anak panah yang dilepas dari busurnya. Menuju sasaran dan membuat kita-kita heran dan tercengang. 

Berbakai aktivitas telah diikutinya, mulai dari sekedar terlibat dalam acara-acara bersama komunitas lainnya, event sosial, tampil di tabloid/majalah untuk berbagi semangat dan inspirasi, sharing ilmu tentang women, mom, career and lifestyle. Keren deh pokoknya? Ga percaya? coba deh arahkan mouse para sahabat ke KEB dalam Berita dan baca sendiri kiprahnya,  dijamin, sobats akan berdecak kagum mengetahuinya. Tapi jangan hanya berdecak kagum lho, yuk sekalian bergabung [bagi yang belum bergabung] dan ikut larut dalam semangatnya yang menginspirasi, ok? :)

Tak hanya itu sobs, 
Beranjak dari tujuan utama pembentukan group ini, yaitu memfasilitasi para bunda yang suka ngeblog atau sekedar curhat online, agar bisa semakin rajin ngeblognya, memperluas pertemanan dan bahkan berkemungkinan untuk mengembangkan blognya kearah bisinis, maka KEB juga tak luput dari upaya untuk memancing dan memacu semangat para anggotanya untuk berkarya lewat tulisan dan bahkan menjadikannya sebagai buku. Sebuah buku antology bertema 'Ngeblog/Menulis sebagai Therapi Jiwa', karya beberapa anggota KEB yang notebene adalah para bunda or bunda wannabe adalah bukti nyata dari kiprah cemerlang komunitas ini. 

Bagiku sendiri, KEB punya arti khusus. I love this community a lots! Bergabung dengannya, menjembataniku dalam mengenal para emak hebat dan smart, yang senantiasa memberiku inspirasi. KEB memberiku ratusan teman-teman baru, yang tanpa mereka sadari telah turut andil dalam memacu semangatku untuk tetap menulis. Untuk tetap bersikap positive dalam menyikapi kehidupan.

Masih emoh untuk gabung di KEB? Duh, bakalan rugi deh sobs! Masih malas untuk menulis di blog dan ingin tetap di buku/diary? Jangan atuh. Saatnya beralih ke diary online lho! Bikin blog itu gampang banget, cuma butuh MAU. Mau belajar untuk mewujudkannya. Manfaatnya? Banyak! Terutama, sobats ga perlu beli buku diary lagi [hemat duit dan turut andil dalam mengurangi sampahkan? :), bisa melatih kemampuan sobats dalam menulis, bisa tambah teman [blogwalking], bisa ikut lomba, dan lain-lain. Hehe.

Well sobs, tak terasa, niat hati ingin bikin postingan singkat kembali mentah deh. Postingan ini menjelma [lagi] sebagai postingan panjang dan semoga tidak membuat sobats lelah dalam memulai hari ini. Jadikan ia sebagai semangat dalam melangkah dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin yaaaa... :)

Dan untuk Komunitas tercinta ini, Kumpulan Emak Blogger, special for sobat baikku Mira Sahid/Mira Ayank, the founder, juga para board lainnya : Mba Indah July, Mba Nike Rasyid, Mba Sary Melati juga Irma Senja, thanks a lots for your great effort, yang telah membina KEB ini menjadi sebuah komunitas yang begitu asyik, nyaman dan penuh inspirasi. Bangga menjadi bagian dari Komunitas ini, trims sudah mengundangku untuk bergabung dan menjadi bagian darinya.

Happy Anniversary KEB, 
semoga kian sukses dan semakin bermanfaat bagi kita semua. 
Amin ya Rabbal Alamin.



“Menulis adalah kegiatan ‘curhat’ dalam diam yang memberikan efek menenangkan bagi jiwa karena segala uneg-uneg atau pemikiran yang memenuhi benak kita akhirnya secara perlahan dapat tercurahkan.”

Dan

”Ngeblog adalah terapi jiwa lanjutan, yang akan memberikan rasa percaya diri bagi pemiliknya karena telah ikut menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia.”

~ Alaika Abdullah ~



Read More
/ /
Sesuai janji yang pernah aku ucapkan pada postingan ini, tentang kisah 'dibalik layar' Selingan Semusim, maka kali ini, sembari menunggui, merawat dan menjaga Intan yang sedang demam dan radang tenggorokan, kucoba untuk melanjutkan kisahnya.

Mungkin beberapa sahabats telah maklum jika 'calon' novel Selingan Semusim itu, berangkat dari sebuah tantangan dari para kolegaku saat aku masih bekerja di sebuah perusahaan cat terkemuka di kota Medan. Dulu, beberapa tahun yang lalu. Bagaimana bentuk tantangan itu bisa dibaca pada postingan yang ini sobs.

Kala itu, novel ini belumlah selengkap versi yang sekarang, namun menurut para kolega, isinya telah cukup membuat mereka berdecak kagum dan mengakui bahwa aku punya kemampuan untuk menulis dan mengemasnya dengan baik. Walau sebenarnya, menurutku pribadi, pesan moral yang aku semat di dalam kisah awal, masih jauh dari cukup.

Berpindah ke Aceh, dan bekerja sebagai pekerja kemanusiaan, justru kemudian menginspirasiku untuk menambah dan mengemas alur cerita Selingan Semusim menjadi lebih indah dan bermakna, seraya berusaha menyematkan pembelajaran di dalamnya. Bahwa, apapun alasannya, hukum reward and punishment, tetap akan berlaku di dalam kehidupan. Tetap akan ada hukum tabur - tuai yang tak mungkin bisa kita hindari. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita petik. Titik.

Selingan Semusim, kemudian menggelitikku untuk tak hanya terhampar di blog Episode Kehidupan, tapi membawanya bermuara pada sebuah novel dalam bentuk buku/hardcopy. Walau awalnya gundah karena yakin akan banyak hambatan untuk menembus penerbit ternama, namun menjamurnya para publisher indie, memberiku harapan. Bahwa adalah MUNGKIN untuk membukukan Selingan Semusim ini.

Maka, mulailah aku mempersiapkannya dengan penuh semangat! Beberapa penerbit indie telah kulirik untuk membantuku mengerjakan project impian ini. Namun ternyata, sebuah ide gila [yang membuatku hampir tak bisa tidur], mencuat di kepala. Aku tak hanya ingin menerbitkan novelku. Tapi aku juga ingin memangkas biaya dengan melakukannya sendiri. Memproses dan menerbitkannya sendiri!

Maka, ide gila itu segera kutindak lanjuti. Kubajak teman baikku, Asep Firman untuk mengajariku menggunakan adobe InDesign, dan memulai proses layout naskahku. Sebagai seorang yang tergolong perfectionist, aku juga begitu detil dalam memilih dan memilah ornamen apa yang pantas menghias novel perdana ini. Termasuk dalam memilih dan memilah sekuntum mawar merah yang selalu bersanding di samping nama 'alaika abdullah' yang tertera di setiap catatan kaki halaman genap novelku.

Aku melakukannya dengan sepenuh hati dan sekuat kemauan. Seperti saat membajak Asep Firman untuk mengedit si mawar merah ini agar tampil indah. Thanks a lots ya Sep, please jangan kapok yaaa! Haha.

Mas Stupid Monkey, adalah juga seorang sobat yang tak luput dari bajakanku. Bolak balik dirinya aku ganggu untuk urusan cover design. Semoga dirimu ga kapok dan siap-siap untuk cover novel berikutnya ya mas! Haha. Juga untuk Amalia, yang telah berhasil membujuk sahabatnya [sepasang kekasih] untuk bergandeng tangan seperti terlihat pada gambar, thanks a lots dear sista! I do appreciated it! Muaaach for you. :)

Ideku yang berhasil diterjemahkan dengan ciamik oleh mas Stupid Monkey. Ini masih dalam bentuk draft, masih ingin di edit warna huruf pada sinopsis [halaman belakang cover], juga ukuran font pada bagian tengah masih ingin diperkecil.
Tak hanya itu, tindak lanjut lainnya adalah menghubungi notaris, untuk mendirikan perusahaan penerbitan milikku. Ide gila itu benar-benar membuatku terbakar. Terbakar semangat yang begitu berapi-api, walau sempat redam gara-gara notaris di Medan meminta biaya 7 juta rupiah untuk legalisasi CV penerbitanku ini. Di Bandung, seorang notaris mematok harga 750 ribu rupiah [ONLY] untuk pendirian "Smart Garden Publishing and Printing' milikku. Aku sempat begitu bahagia namun langsung redup karena kendalanya adalah aku tak memiliki KTP Bandung!

Kutelefon ayahku, mempertanyakan kemungkinan jika beliau memiliki teman yang notaris dan kira-kira berapa biaya untuk mendirikan sebuah CV. Hanya CV bukan PT. Dan Alhamdulillah, seorang notaris teman ayahku, mematok harga hanya 600 ribu rupiah untuk legalisasi sebuah CV. Dan karena aku bukanlah penduduk Banda Aceh, maka aku harus puas di posisi Vision Comanditer dan menyerahkan posisi Direktur perusahaan ini pada adik bungsuku, DD. Ikhlas donk, yang penting Smart Garden Publishing & Printing terbentuk dan bisa segera aku pakai untuk memproduksi novel perdanaku.

Alhamdulillah, setelah menunggu dengan sabar, kini Smart Garden P & P sudah bisa aku pakai untuk mengurus ISBN Selingan Semusim dan melanjutkan proses cetak nantinya. Semoga bisa segera terwujud ya sobs.

Oh ya, mudah-mudahan Smart Garden P & P ini nantinya juga akan bisa membantu memfasilitasi para sahabat yang ingin menerbitkan buku yaaaa.... Monggo atuh, hubungi kami jika ingin menerbitkan bukunya ya sobs! [Promosi nih ye! :P]

Seperti yang juga sudah aku uraikan pada postingan ini , beberapa sahabat blogger juga tak luput dari 'todongan'ku untuk memberikan endorsementnya. Mereka adalah Pakdhe Cholik, Mira Sahid, Ririe Kinanti, Siti Rasuna, Mimi Radial, Stupid Monkey, Reni Judhanto, Amalia, dua teman sesama pekerja kemanusiaan yang tak ingin disebutkan namanya. Alhamdulillah, dan endorsement dari mereka sungguh membuat aku semakin bersemangat dan berbesar hati untuk segera merilis novel ini. Trims banget lho sobats tercintah! Muaaach!

Dan untuk tidak meninggalkan rasa penasaran akan novel Selingan Semusim ini, berikut adalah beberapa endorsement dari para sahabats.





Dan nantikan endorsement para sahabat lainnya, pada postingan ini
Saleum,
Al, Bandung, 15 Januari 2013.


Read More
/ /
Sesuai judulnya, maka postingan ini [dengan resmi mencuri waktu], adalah khusus aku persembahkan untuk seorang sahabat karib nun jauh di Jambi sana. Walau belum pernah bertemu muka secara langsung, namun berinteraksi dengannya, baik melalui blogwalking, jejaring sosial, yahoo messenger maupun whatsApp, telah menghadirkan sebuah rasa persahabatan yang hangat dan indah di hati ini. Kuyakin dirinya juga merasakan hal serupa.  [Ya kan mi? Awas lho, aku jotos kalo bilang ga! hehe].

Dan di hari ulang tahunnya, selain memanjatkan doa tulus agar dirinya sekeluarga senantiasa berada dalam lindungan Ilahi Rabbi, selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesuksesan dalam menjalani kehidupan, maka ingin kupergunakan momen spesial ini untuk mengikuti giveaway yang sedang digelarnya.

Udah pada tau donk siapa yang aku maksud kan sobs? Yes! Mimi Radial, dan kuyakin sobats juga sudah rame yang ikutan giveawaynya kan?

Oke deh, berhubung waktu yang teramat sempit, dan ingin segera lari untuk shalat zuhur, maka yuk langsung to the point of the Giveaway. Here it is!


Giveaway I Love Mimi
Happy Milad ya Mimi sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, murah rezeki dan bahagia senantiasa menyertai dirimu sekeluarga. Amin Ya Rabbal Alamin.

Artikel ini diikutsertakan dalam giveaway I Love Mimi yang diselenggarakan oleh Mimi Radial.





Read More
/ /
Hari Pertama, Banda Aceh - Medan, 31 December 2012
Bukanlah hal mudah mendapatkan kata 'iya' dari ayah dan bunda saat kuutarakan niat membawa Gliv via darat ke Bandung. Apalagi aku (hanya) akan jalan dengan Intan dan seorang driver (teman dari kantor lama/United Nation/lembaga PBB).

Aku maklum jika kedua orang tua tercinta sangat menguatirkan keselamatan perjalanan kami, mengingat 'pesertanya' hanyalah aku, intan dan si driver. Hanya bertiga, sementara perjalanan ini akan menempuh jalan raya yang akan lintas provinsi dan pulau. Menembus alam raya yang kebanyakannya adalah hutan dan perkebunan, yang kita tahu bahwa banyak hal-hal tidak mengenakkan sering terjadi disana.

Awalnya suami juga menentang keras ide cemerlang (hehe) ini. Namun hapal betul watak istrinya dan berkat kepiawaianku dalam melobby nya, ijin pun keluar. Yes!
Namun melobby ayah bunda? Tentu tak akan mempan oleh rayuan maut. Walau kita telah jadi emak2/bapak2, dimata orang tua, anak ya tetap anak! Dan mereka ga ijinkan anaknya yang 'tangguh' ini untuk jalan hanya bertiga. Hihi.

Belum lagi ayah bunda belum kenal dengan temanku yang akan jadi driver kami ini. Beliau2 berkeras untuk main dulu ke rumah si teman, untuk mengenalnya dan keluarganya. Dasar pemikirannya adalah: masuk akal sih. Begini critanya sobs.
Tengah malam, ayahku ketuk kamar, beliau tau aku belum tidur dan masih bekerja di laptop.
Kupersilahkan masuk, duduk dan mulai ngobrol.

"Ayah ga bisa tidur nak. Kuatir dengan perjalananmu. Kenapa ga berfikir ulang? Kita kirim via kapal saja mobilmu. Kamu dan Dila naik pesawat. Ayah kuatir kalo kalian hanya berangkat bertiga. Itu perjalanan jauh dan ga main-main nak."

Sendu sekali suaranya. Aku tau, pasti selain niatnya sendiri, beliau juga pasti diutus ibuku. Ibuku sengaja ga nimbrung, takut akan luluh oleh rayuanku mungkin. :)

"Yah, ayah ga usah kuatir. Insyaallah akan aman yah. Ayah tolong doakan saja agar perjalanan ini aman terkendali ya..".

"Masalahnya bukan itu nak! Kamu memang nekad. Dari kecil hingga sekarang kamu itu tetap seperti itu. Gimana kami ga kuatir? Ayah dan umi jaga kamu sedari kecil.. Kalo bisa seekor nyamuk pun jangan ada yang hinggap di kulit kamu. Kamu sakit, sampai ke puncak gunung ayah carikan obat untukmu, agar sesak napas yang mendera kamu bisa sembuh. Kamu anak pertama kami, anak perempuan kami nak. Yang kami rawat dengan susah payah. Gimana kami bisa tenang? Kalo adik2mu, mereka itu laki-laki. Mereka jauh lebih kuat dan lebih bisa menjaga diri. Kami ga ingin terjadi apa-apa sama kalian. Apalagi ini ayah ga kenal sama sopirnya. Gimana kalo ternyata dia berkonspirasi dengan teman-temannya untuk melakukan kejahatan terhadapmu? Kita ambil pikiran terburuk saja dulu nak! Jangan bantah dulu!"

Aku diam, mendengarkan. Memang tidak berencana untuk membantah sang komandan tertinggi di keluargaku. Ayahanda yang mulia, yang memang sangat kuhormati.

"Sekarang ini jaman edan. Banyak hal bisa terjadi. Kemana kami akan mencarimu jika hal itu terjadi nak? Hanya kamu yang kenal baik sama dia, kami tidak. Kemana kami akan melacak kalian?"
Ayahku menangis. Aku mendekat. Terharu banget. Kupeluk dirinya.

"Yah, gimana kalo begini saja, Al ajak satu orang driver lagi, jadi akan ada dua laki-laki (driver) yang akan dampingi Al dan Dila dalam perjalanan ini. Dan sebelum berangkat, kita main dulu ke rumah mereka, Agar ayah dan Umi tau keluarga mereka, kenal anak dan istri mereka, agar tau alamat rumah mereka. Gimana yah?"

"Ya, begitu lebih baik nak. Memang seharusnya begitu. Dua driver akan lebih aman. Kalo pun ada apa-apa, ban bocor misalnya, ada dua laki-laki yang akan mengurusnya. Kamu ga harus ikut-ikutan ganti ban! Dan juga akan jauh lebih aman."

"Baik yah, besok Al ajak pak Usman juga, sopir dari joint secretariat kantor gubernur. Al kenal baik dengannya dan Al yakin beliau bersedia. Lalu kita ke rumah mereka ya yah.".

Ayahku mengangguk, terlihat ada rasa lega terpancar di wajahnya.

"Kamu memang keras kepala nak! Ya sudah, kenapa masih di laptopmu jam segini, kan besok siang kamu mau berangkat?"

"Lha, kan nunggu ayah masuk, Al tau ayah akan masuk dan ngobrol, hehe."

Dasar bandel kamu ini ya! Ya sudah sana tidur. Ayah mau masuk kamar, ngasih tau umimu, umimu ga bisa tidur sejak tadi mikirin besok.
Dan sang komandan pun berlalu. Sebuah rasa kagum, haru dan sayang yang semakin mekar, kian membahana di hatiku. Kasih ayah dan bunda memang sepanjang masa, Masyaallah! Subhanallah, Alhamdulillah.

Lalu, sesuai skenerio, kuajak orang tuaku berkenalan dengan pak Usman dan pak Mahyuddin, dua teman yang akan bertindak sebagai driver dalam perjalananku dan Intan ke Bandung.
Orang tuaku 'menginterogasi' mereka dengan apik. Sejak awal sudah kuberi indikasi pada kedua temanku ini, agar mereka dapat memaklumi sikap ayah bundaku ini. Dan sebagai orang tua, kedua temanku ini sangat maklum akan hal itu. Jadi bagi mereka, adalah wajar jika ayah bundaku melakukan ini.

Kami pun berangkat dengan diiringi doa restu ayah bundaku, disertai amanah dan wejangan serta menitipkan aku dan Dila pada pak Usman dan pak Mahyuddin. Ah, parents! Betapa besar kasih sayangmu pada kami, anak-anakmu!

Hari pertama, dimulai pada jam 2 siang, started from Banda Aceh. Perkiraan akan masuk Medan di jam 4 pagi, karena kami akan singgah sebentar di Lhokseumawe, men-drop anak dan istrinya pak Usman di rumah orang tuanya, di Lhokseumawe.

Sesuai perkiraan, kami tepat memasuki kota Medan di jam 4 dinihari. Istirahat sejenak di rumah Sri, mantan adik ipar yang telah lebih dari adikku sendiri. Kupersilahkan Pak Usman dan pak Mahyuddin istirahat sejenak, sementara Intan lgsg asyik dg sepupu2nya, dan aku sendiri langsung ngerumpi penuh kangen dengan Sri. Haha. Barulah jam 7 pagi, kami lanjutkan perjalanan.
Eh iya, aku dan suami jg sempat menyambut saat jelang tahun baru secara bersama lho! Walo dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh. Thanks to technology!

Hari Kedua,
Medan - Duri, Riau, 1 January 2013

Sesuai saran Iway, suaminya Sri dan juga petunjuk temannya pak Usman yang sudah sering lakukan perjalanan darat seperti ini, kami pun memilih jalur Timur. Karena lebih aman, terutama dalam hal faktor alamnya.
Jalur Timur adalah: Medan, Riau/Pekan Baru, Jambi, Sumatera Selatan, Palembang, Lampung, Banten, Jakarta dan Bandung.
Sementara jalur Barat akan melintasi Sumatera Barat/Padang, dimana di beberapa lokasi sering terjadi tanah longsor.

Perjalanan di hari kedua, Alhamdulillah berjalan lancar. Lalu lintas aman terkendali, jalanan dipenuhi oleh orang-orang yang bertahun baru, dan ga ada polisi. Hehe.
Intan sendiri asyik tidur sepanjang perjalanan, sementara aku sendiri kalo ga tidur, ya ngobrol dg kedua temanku ini. Membahas segala hal, mulai pekerjaan, politik, gosip dan segala macam, haha.

Menjelang magrib, hujan mulai mengguyur bumi. Perjalananpun mulai ditempuh dengan kecepatan yang mulai dikurangi. Aku juga sempatkan untuk terus berkomunikasi dengan sang komandan dan nyonya komandan di Banda aceh sana, yang terus memantau memastikan kami baik-baik saja. :)
Jam 10 malam kami masuk kota Duri di Riau. Sebenarnya ingin menginap di Pekan Baru sih, tapi ternyata, masih 3 jam lagi masuk Pekan Barunya. Jadi kita putuskan untuk stop saja di Duri agar kedua temanku bisa istirahat, re-energizing agar besok kembali fresh.

Kami menginap di hotel Grand-Mella, sebuah hotel strategis dengan harga ekonomis, terletak tepat di pinggir jalan lintas Riau - Pekan Baru. Harga perkamarnya cukup murah. Hanya Rp. 179 ribu per kamar deluxe nya. :)
Kami beristirahat dengan sempurna, dan kini, pagi ini, setelah sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Sobats maya tercinta,

Postingan ini dirilis melalui Ory (Onyxberry ku yang setia), di atas Gliv (my lovely car) yang sedang membelah jalan raya. Doakan kami selamat dalam perjalanan ya sobs.
Target hari ini sih akan sampai ke Jambi atau keatasnya lagi, tapi aku sih ga memaksa, jalani saja dengan nyaman, karena keselamatan adalah hal utama. Doakan ya sobs...
Will be back to you to post the third day of the journey, besok pagi. :)
Selamat beraktivitas di hari kedua, bulan pertama tahun 2013 ini.
Have a great day sobs!

Saleum,
Al, Duri- Kandis, Riau, 2 Jan 2013
Powered by Telkomsel BlackBerry®










































Read More