Manajemen Emosi | My Virtual Corner
Menu
/
Frame is grabbed from here and added with the text.
Ketika Kenyataan Jauh dari Harapan. Pasti sering banget dunk mengalami situasi seperti ini? Hehe. Dan banyak pula cara dari masing-masing kita dalam menyikapinya. Ada yang langsung kecewa, putus asa. Ada pula yang langsung marah dan menyalahkan sana sini, bahkan langsung dengan gagah berani menuding sang Pencipta, Tuhan Tidak Adil! Ada pula yang langsung pasrah, nerimo, sudah begitu garisan sang takdir. Namun ada pula yang berdiam diri sejenak, membiarkan hati menikmati rasa kecewa, lalu bangkit menata hati dan mengajaknya berkompromi tentukan langkah perbaiki keadaan. Dan berbagai cara lainnya dari masing-masing orang lainnya, dalam menyikapi kondisi di atas.

Dari sekian cara-cara menyikapi kenyataan di atas, tentu kita sepakat bahwa cara yang paling akhirlah [bergaris bawah] yang paling bijaksana, ya kan, Sobs?
Memang sih, terlihat bijak dan ideal banget. Dan rasanya bisa sih seperti itu. Tapi...,
tentu tidak mudah. It is not a one click solution!
Butuh kesadaran dan positive mindset, untuk mengarahkan pemikiran kita bersikap demikian. Lalu, apakah karena susah, lalu kita tidak melatih diri untuk mencoba menerapkannya?

Melatih pikiran untuk selalu bersikap positif, bahkan dalam menyikapi setiap kejadian terpahit sekali pun, adalah modal awal dalam melatih kita agar handal dalam mengelola emosi. Awalnya memang sulit, karena reaksi dasar manusia, dalam menghadapi kejadian tidak menyenangkan yang timpa dirinya, adalah marah. Ya, marah adalah reaksi awal kita dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi reaksi awal ini bisa di ubah lho, yaitu dengan melatih untuk berfikir positif atau bersikap positif.

Caranya? Caranya yuk kita lihat contoh simple ini yuk.

Mas A sedang terburu-buru ke kantor. Beliau sedang ditunggu untuk ikutan meeting dan memberikan presentasi kepada peserta rapat, tepat pukul 9 nanti. Di tengah perjalanan, eh ban sepeda motor kebanggaannya malah bocor. Reaksi awal mas A bisa saja seperti ini;

A:  Shit! Sial, hadeuh, kenapa sih kamu pake bocor segala?

lalu mulai mengumpat sambil menendang ban motornya. Celingak celinguk cari tukang tambal ban yang ternyata ga keliatan. Emosinya makin memuncak, langsung badmood. Turun dari sepeda motor, nendang ban motornya lagi dan lanjut ngumpat menyesali diri.
Saking badmood, akhirnya dia malah memilih untuk mendorong sepeda motornya ke tempat yang teduh, dan istirahat dengan hati marah.

B: Aduh, Ya Tuhan, kenapa sampai bocor sih?

Selanjutnya, mas A menghentikan motornya, memeriksa ban yang terlihat kempes. menyabarkan diri, melihat kiri kanan mencari kalo2 ada tukang tambal ban terdekat. lalu menelphone kantor memberitahu kemungkinan akan datang terlambat. Mendorong motornya begitu tau ada tukang tambal ban tak jauh dari situ, atau karena tak ada tukang tambal ban terdekat, dia mendorong sepeda motornya ke tempat yang aman, menitipkannya di sana dan memastikan posisinya aman, lalu melanjutkan perjalanan, memberikan presentasi adalah tanggung jawab yang harus dipenuhinya, baru setelah itu, dia akan kembali ke tempat penyimpanan sepeda motor untuk mengurusnya.

See? Kebayangkan, Sobs, hasil akhir dari dua cara mengelola emosi di atas?
Yup, mengelola emosi dan melatihnya kearah yang positif, adalah kunci utama agar kita selalu mampu menghandle situasi di mana 'kenyataan jauh dari harapan'. Karena, situasi seperti ini, mau tak mau memang sering sekali berhadapan dengan kita kan? So, yuk kita coba latih diri, kelola emosi untuk mampu sikapinya dengan hal positif.

sekedar catatan pembelajaran dalam kehidupan,
Al, Bandung, 8 September 2013




17 comments

stress, konflik, emosi tak dapat dihindari dari kehidupan. Saya tidak setuju kalau ada teman bilang "hindari stress/emosi", yang benar, dan itu betul kata mbak Al, bagaimana mengelolanya hingga stress atau emosi itu menjadi sesuatu energi positif. Kecerdasan emosional memang kudu dilatih, latih, dan latih. Untuk bisa belajar mengelola stress n emosi, selalu berfikiran positif adalah anak tangga pertama.

Peace. Salam

Reply

cocok bgt mbk Al. Kita tak bisa menjamin hidup kita terhindar dr masalah. Yg bisa kita lakukan adalah memanage diri, bagaimana menyelesaikan mslh itu dgn benar. Emosi, stres, sedih bahkan sakit hati tak bisa dihindari, tp kita hrs bs menerima semua itu dgn ikhlas, dan menyadari bahwa apapun mslhnya pasti bs diselesaikan

Reply

susah ya mbak.. tapi kalau susah terus dan tidak belajar kapan bisanya. ya kan?? semoga saya bisa belajar manajemen emosi ini, amin semangat

Reply

Semakin tinggi suatu proses yang dilalui dari setiap individu manusia biasanya di situlah tingkat proses tahapan pengendalian diri seseorang ya Mba ? Karena dari kita melalui proses tahapan yang berbeda, walau satu tujuan yang sama untuk dapat mencapai kejernihan hati dan pikiran yang selalu dapat mengkontrol emosi kita.

Salam wisata

Reply

Emang susah ya mbak mengelola emosi dengan baik, tapi memang itu harus kita lakukan jika kita ingin hidup dengan baik. Karena pernah ada pengalaman ga enak soal marah yang akhirnya malah membuat masalah baru lainnya, bukan malah menyelesaikan masalah...

Reply

susah itu, Kak. kalau udah marah biasanya susah berpikir jernih..

Reply

Ini manajemen reaksi ...
Aksi mungkin tidak bisa kita kendalikan ...
namun Re-aksi sepenuhnya berada dalam genggaman kita ...

Re-aksi inilah yang membedakan mana yang mempunyai kemampuan mengelola emosi baik mana yang buruk ...

Ini bukan kata saya ... ini kata Steven Covey; the 90/10 principle

http://theordinarytrainer.wordpress.com/2012/08/13/reaksi/


Salam saya

Reply

Kecewa itu kodrati, tapi bagaimana menyikapinya adalah terletak pada hati. Kalau kita memohon pada Allah untuk diberi kesabaran, kita justru akan dihadapkan pada hal-hal atau orang-orang yang menguji tingkat kesabaran kita, agar kita bisa mengukur seberapa tingkat kesabaran kita.

Reply

Saya sedang mengelola emosi dengan baik dan benar :) karena kalo emosi tdk terkelola, stress akhirnya

Reply

When something going wrong, menyalahkan sana sini tentu justru memperbesar energi negatif ya mbak.

Kalau aq biasanya diam diri dulu dan mengurangi bnyk bicara biar tdk tambah meledak emosiku mbak

Reply

dengan berpikir positif, setiap masalah jauhnya antara harapan dan kenyataan yang kita hadapi akan terasa mudah terlewati... untuk bisa berpikir positif itu tidak mudah, harus membaisakan diri...
Salam

Reply

Setuju dengan Mbak Alaika deh.. Manajemen emosi itu memang sangat penting untuk dilatih!! ^_^

Tapi berbicara soal berpikir positif secara lisan memang sangat mudah untuk diucapkan Mbak,, pada kenyataannya belum tentu semua orang diantara kita bisa seperti itu.. Karna yang namanya emosi bisa saja bertindak lebih dulu ketimbang pikiran kita.. So, belum sempet mengontrol pikiran yang ada emosi sudah terluap duluan..

Kemarin saya juga sempet bahas lewat tulisan ini >>
http://www.chaidir.web.id/2013/08/3-alasan-menghindari-positive-thinking.html

Reply

Penting sekali mengatur emosi agar tidak menyesal kelak :D hehe.. terutama dalam keluarga, harus dijaga bener" itu emosi

Reply

Yup, menghindari stress atau emosi, malah bikin kita kalut kalo kata saya saat kita harus dihadapkan padanya, Mba. Yg harus dilakukan adalah facing it dan manage, begitu ya? Hehe

Reply

memang sulit ya kadang sering kita terlalu cepat emosi

Reply

Al, sulit lho menjadi Mas B yang sabar dan berkepala dingin begitu. Alhasil dengan kesabaran dan kepala dingin semua bisa dia atasi. (Ada typo dikit di posingan Al, ya?) hehe...apa bunda yang salah tangkep, tapi teuteut berpendapat si Mas B yang penyabar itu yang patut ditiru -- sabar dan berkepala dingin.

Reply