Archive for August 2013
Menu
/ /
Semalaman asli ga tidur. Banyak banget yang harus dibereskan, mulai dari completing the off line works, preparing article #10daysforasean hingga ke menyelesaikan foto-foto untuk bahan presentasi ayahanda, diakhiri dengan packing pada jam 3 lewat 32 menit dini hari tadi. Flightku pagi ini dijadwalkan tepat pada jam 6 pagi, menggunakan lion air [sengaja nyebut nama]. Bukan sekali dua aku menggunakan jasa penerbangan yang terjangkau oleh rakyat Indonesia ini, dan sejauh ini, pelayanannya juga cukup baik alias tidak mengecewakan.

Rasa ngantuk justru mulai menyerang ketika diriku udah rapi jali siap untuk berangkat ke bandara Sultan Iskandar Muda. Kutahankan donk biar ga tertidur karena masih ngobrol dengan ayah dan Khai sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu 30 menitan. Sampai di bandara kira-kira jam 4 lewat 25 menit deh, dan olala, antrian penumpang mengular banget. Rame! Ampun deh, bisa telat nih shalat subuhnya. Kusabarkan diriku untuk antri dengan tertib. Kuperhatikan antrian yang mengular, tidak diimbangi dengan jumlah counter check in yang memadai. Hanya 3 counter yang melayani calon penumpang. Huft, bisa telat ini. Iseng ngobrol dengan dua bapak porter yang ada di sebelahku. Udah kenal sih dengan mereka, saking seringnya wara wiri di bandara Sultan Iskandar Muda ini [dulu, saat masih tinggal dan kerja di Aceh]. Menurutnya, jarang-jarang memang bludakan penumpang sampai seperti ini. Apalagi pesawat pagi seperti ini. Tapi semua optimis, tak akan ada yang ketinggalan pesawat!

Angka di jam tanganku sudah menunjukkan angka 05.46 menit tapi antrian masih panjang aja. Giliranku juga masih ada sekitar 10 orang lagi.  Belum lagi yang di counter lainnya. Hiks. Sabar... sabar. #UrutDada. Kenapa sampai lupa lakukan web check in tadi malam ya? Hiks....

Hingga akhirnya, terdengar suara dengan intonasi meninggi dari si bapak yang berjarak 6 orang dari hadapanku. Disambung dengan suara meninggi orang-orang lainnya. Oops! Ada apa ini? Kutajamkan telinga mencari tau. Dan ya ampun, ternyata kami tak kebagian SEAT! Enggak dapat KURSI! Gile bener! Sungguh aku ga yakin. Pasti salah lihat atau salah info deh mereka ini. Aku tak lagi patuh pada antrian. Mencoba maju ke meja counter dan bertanya baik-baik.

"Ada apa, dek? Ini kenapa counter di sebelah ga buka, sementara antrian masih panjang seperti ini?" Tanyaku pada si petugas yang masih begitu belia.

"Maaf, Kak. Seatnya habis. Counter sebelah sistemnya down." Jawabnya, disambut amarah calon penumpang lainnya.

"Apa? Kehabisan seat? Kok bisa, terus bagaimana dengan saya? Saya ada meeting jam 1 nanti di Menara Thamrin, Jakarta. Gimana donk ini?"

"Maaf, Kak, udah ga ada seat lagi, paling keberangkatan penumpang yang tersisa akan berangkat siang atau sore nanti. Diusahakan." Jelasnya mencoba bersuara lembut.

"Ya ampun, kalian ini gimana? Masak bisa jual tiket tapi ga punya kursinya? Kok bisa? Berani sekali? Apa ga kontrol kalian? How can?" Suaraku yang mulai meninggi langsung disambar dan ditambahi oleh penumpang-penumpang lainnya, yang memang sudah duluan marah.

"Maaf Kak, tunggu sebentar ya bu, kita panggil dan tanyakan orang lion airnya." Jawabnya kikuk seraya memanggil seseorang melalui radio panggilnya.

Seseorang itu [anak muda] datang tergopoh-gopoh. Wajahnya gugup membayangkan akan diserbu oleh amarah atau amukan para penumpang yang kecewa. Benar saja, begitu dia sampai, langsung dihujani oleh kejaran penumpang yang semakin emosi. Bukan ketinggalan pesawat, tapi ga kebagian kursi! Betapa anehnya. Masak maskapai berani jual tiket yang melebihi kapasitas/jumlah kursi yang tersedia? Amboi. Gile bener, nekad!

Tak habis pikir, kutanyakan lagi tentang hal itu, menuntut jawaban yang pasti, kok berani menjual tiket yang melebihi kuantitas/jumlah kursi yang tersedia. Si pemuda hanya bisa meminta maaf, dan mencoba memberi solusi, bahwa kami akan diberangkatkan dengan pesawat susulan nanti, jam 12 belas, yang artinya adalah enam jam ke depan! Huft. Suara protes tak terbendung dan si pemuda hanya bisa mengulang permohonan maaf dan berjanji akan memastikan keberangkatan kami jam 12 nanti. Aku tak lagi berminat memperpanjang amarah.

"Dek, saya heran kenapa hal ini bisa terjadi. Apa sistem penjualan tiket kalian ga bisa memantau jumlah tiket yang sudah keluar sehingga tidak melebihi jumlah kursi yang tersedia? Kenapa bisa kacau seperti ini? Bayangkan, bagaimana ruginya kami jadinya, terbuang waktu percuma, sementara kami sudah punya agenda tersendiri di tempat tujuan kami."

Lagi-lagi dia hanya bisa memohon maaf dan memastikan akan memberangkatkan kami pada pukul 12 nanti. Ya sudahlah, tak banyak yang bisa dilakukan, aku jadi ingat postinganku yang ini deh, Let's Dance in The Rain.


Jadi daripada aku mengutuki kegelapan, biarlah kunyalakan sebatang lilin untuk meneranginya. Jiaaah! Artinya, aku butuh tempat duduk yang nyaman, makanan enak dan gratis, free wifi, untuk menanti penerbangan pengganti, enam jam kemudian. Nah, untuk duduk sampai 6 jam, wajar donk jika aku butuh sebuah lounge dan gratis? Dan sebenarnya itu pun masih jauh dari layak jika kita bicara ganti rugi kan ya? Tapi sudahlah, Life isn't about waiting for the storm to be over, it is about learning how to dance in the rain. 

Jadi biarlah kuhibur hatiku dengan menuliskan postingan ini, menikmati secangkir teh manis hangat dan setangkup roti. Inginnya sih makan nasi dan sup ayam, tapi kok rasanya kenyang. :)


Lalu, bila kantuk itu datang lagi, aku bisa tidur sambil sandaran di sofa yang nyaman ini. Intinya adalah your happiness is when you can enjoy and entertaint yourself even when you are in a bad situation. Hehe. Jadi, mari menikmati setiap momen yang hadir karena pasti akan ada pembelajaran yang bisa dipetik. Untuk hari ini dan kejadian ini, kuyakin, pembelajaran paling nyata adalah latihan kesabaran. Hehe. Begitu kayaknya ya, Sobs?

sebuah catatan pengisi kesuntukan dan penghilang badmood.
Al, bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, 30 Agustus 2013.
Read More
/ /
Melanjutkan postingan 'yuk main ke Iran' yang telah masuk ke topik super menarik dalam rangka menemukan jawaban-jawaban :

Apa benar orang-orang Syiah (Iran) itu hanya melakukan shalat 3 kali sehari? Dengan membawa shalat Ashar ke Zuhur dan Maghrib ke Isya? Apa benar shalat Jumat tidak wajib di Iran? Atau kalaupun melaksanakan shalat Jumat, maka shalat Zhuhur tetap harus dilaksanakan? Apa benar orang Iran itu kalo shalat senantiasa meletakkan Turbah/batu kecil (yang terbuat dari tanah Karbala) di bagian kepala sajadah untuk disujudi? Apa benar kaum Syiah menggunakan kitab suci yang berbeda dari kaum muslim lainnya? Apa benar orang kota Qom dan muslimah pedesaan Iran menggunakan chador? Dan beberapa 'apa benar' lainnya, maka, yuk, langsung kita ikuti kisah perjalanan kami di hari kedua keberadaan kami di Iran, yuk, Sobs!

Ah iya, yang paling penting untuk diingat adalah, artikel ini ditulis murni sebagai sharing/reportase ala Alaika Abdullah, terkait kunjungan langsung ke negeri Syiah (Iran), bukan untuk mendiskusikan tentang kelebihan dan kekurangan mazhab yang satu ini, karena SEJUJUR-nya, I am not the expert in that case. :) Jadi, mohon untuk tidak menjadikan kolom komentar artikel ini sebagai tempat untuk saling menuding, menghujat apalagi menghakimi. Mari saling menjaga agar damai ini tetap terasa indah. Ok, Sobs?

Hari kedua, 5 Agustus 2013, seorang guide tampan Irani beserta seorang supir profesional plus sebuah minibus yang lumayan besar [berkapasitas 15 orang] telah menanti tepat pada jam 9 pagi. Pertemuan pertama di lobby hotel, langsung lanjut memasuki mini bus dan mulus melaju ke arah kota Qom.

Percakapan menarik langsung terjadi dengan mas guide yang bahasa Inggrisnya cas cis cus. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ayah, secara bergantian antara aku dan Andri [adikku] diubah ke dalam bahasa Inggris dan memforwardnya ke si mas guide untuk mendapatkan jawaban.
Pertanyaaan-pertanyaan sensitive tentu saja dengan terlebih dahulu memohon maaf dan pengertian darinya, tetap meluncur dan meminta jawaban. Dan si mas guidenya yang open minded, menjawabnya dengan upaya maksimal dan senang hati. Sempat juga dia bercanda kepada supirnya, bahwa sepulang dari mengantarkan kami, dia sudah bisa menggunakan sorban di kepalanya, perlambang telah jitu ilmu agamanya. Haha.

Memang tak banyak dari wisatawan yang ditemaninya selama ini, yang meminta untuk diajak wisata religi seperti yang kami lakukan ini. Biasanya yang suka begini, kalo bukan orang-orang Sunni, ya orang-orang non muslim Eropah yang penasaran untuk mengetahui praktek Syiah secara langsung dari sumbernya [kota suci yang ada di Iran, seperti kota Qom ini].

Kota Qom, yang merupakan ibukota dari provinsi Qom terletak sekitar 156 km barat daya Tehran, berpenduduk sekitar 1.042.309 jiwa pada sensus 2005, dan berada di tepi sungai Qom. Kota ini dinobatkan menjadi kota suci bagi penganut Islam Syiah, di mana di kota ini terdapat makam dari Fatimah al-Ma'sum, saudari dari Imam Ali ar-Ridha, dan menjadi kota pendidikan Syiah terbesar di dunia. 
 ~sumber [http://id.wikipedia.org/wiki/Qom]. 

Perjalanan ke kota ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dari kota Tehran, melalui jalanan keren menakjubkan. Yup, salut dengan pembangunan di Iran, walau diembargo tapi tetap melaju pembangunannya, terutama jalannya yang lebar, mulus dan bagus. Pemandangan kiri kanan jalan, dipenuhi oleh padang gurun yang coklat tandus dan panas. Untungnya kita menumpang minibus yang full AC dan luas, jadi panasnya udara di luar sama sekali tidak menyentuh tubuh. Alhamdulillah. Namun, walau panas, pemandangan sepanjang perjalanan ini tetap tersaji ciamik!




Teriknya mentari di musim panas, bahkan membuat danau garam berhasil menyajikan 'lautan' garam yang menghampar putih menakjubkan, yang sayangnya terlupa untuk di-capture oleh kamera saking terpesonanya aku menyaksikan keindahan kreasi Sang Maha Pencipta. :). 

Baca juga: Kulit Luar Syiah (Iran)


Berbicara tentang Syiah, memang tidaklah gampang. Setiap keyakinan [paham/sekte] tentu didasarkan pada keyakinan dan kepercayaan masing-masing kaum atau kelompok. Tak dapat dipungkiri, bahwa banyak sekali teman-temanku yang langsung mencibir bahkan menghakimi seseorang yang diketahui sebagai penganut Syiah. Di mata mereka, Syiah adalah sebuah aliran yang tidak benar dan harus dijauhi. Pendapat ini tentu saja bukan hal yang timbul dengan sendirinya, melainkan dipicu oleh berita-berita yang begitu marak tentang paham/sekte ini, yang semakin diklaim sebagai sebuah aliran yang menyesatkan. Syiah adalah aliran sesat yang harus diwaspadai bahkan dijauhi dan dimusuhi. Begitu tulisan yang santer di media massa juga layar kaca, terkait berita tentang Islam Syiah yang sedang marak di negeri ini. 

Tak cuma di layar kaca dan media massa, namun di jagad virtual pun, kita menemukan seabrek artikel terkait topik Syiah. Pro dan kontra, saling mendominasi, saling menghakimi dan bahkan saling menyakiti. Semua seakan 'lupa' bahwa sebenarnya kedua belah pihak adalah berasal dari mata air yang sama, yaitu Islam. Sekali lagi, artikel ini sendiri, murni tak bermaksud untuk membela atau pun untuk menjatuhkan paham yang satu ini. 


So far, aku berusaha untuk berada di pihak yang netral. Tidak ingin terpengaruh oleh berita heboh bin santer tanpa aku mengerti secara menyeluruh. Aliran Syiah itu bagaimana secara detil saja, aku tidak begitu ngeh, yang kutahu adalah mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaaan kami di atas. Tentang sisi jahat/buruk lainnya, yang dihebohkan itu, aku pun tak paham. :) 
Jadi, alih-alih menyalahkan, mending aku no comment dan tetap pada keyakinanku sendiri, menjalankan Islam yang aku dan keluarga besarku yakini [Sunni] dengan baik dan berharap ridha dari Allah untuk senantiasa melindungi kami dari sentuhan-sentuhan aliran yang tidak benar. Aamiin. 

Well, back to the topic, berikut adalah tanya jawab kami dengan si mas guide [Iranian Shiah] dan beberapa narasumber lainnya, baik teman Indonesia - Sunni, yang sudah lama berdomisili di kota Qom, Tehran dan teman Syiah asli Iran. Blue font adalah pertanyaan yang kami ajukan, dan black font adalah jawaban si mas guide dan nara sumber lainnya.


Benarkah kaum Syiah melaksanakan shalat tiga kali sehari? Azan hanya terdengar tiga kali sehari? Dan mesjid telah dikunci rapat usai mereka laksanakan shalat Maghrib?

Mas guide menjawab pertanyaan demi pertanyaan sensitif yang kami ajukan dengan baik dan terbuka. Jawaban yang walau telah kami duga benar adanya, tetap saja membuat kening kami sedikit bertaut. Ternyata memang benar, mostly kaum Syiah ini melaksanakan shalatnya tiga kali sehari. Yaitu pada pagi hari [Subuh], pada siang hari [Zuhur dan Ashar] dan pada malam hari [Maghrib dan Isya]. Namun jumlah rakaatnya, tetap 2, 4, 4, 3 dan 4, seperti yang kaum Sunni juga lakukan [tentang jumlah rakaat]. Mas guide menyatakan bahwa sebenarnya mereka tetap melaksanakan shalat lima kali sehari, tapi di dalam tiga waktu, yaitu pagi, siang dan malam. Namun, tambahnya, ada juga kaum Syiah Iran, yang taat shalat lima kali sehari sebagaimana layaknya dilakukan oleh kaum Sunni, tapi tidak secara berjemaah di mesjid-mesjid, melainkan secara personal. Mengapa ada yang demikian?
Karena, mereka mencontoh Rasulullah yang pernah menjamak shalat dalam situasi tidak sedang musafir, atau tidak sedang dalam situasi ketakutan atau hujan, atau situasi darurat lainnya. Alasan Rasulullah melakukan penjamakan itu adalah untuk tidak menyulitkan umatnya. Namun, Rasulullah sendiri senantiasa berusaha untuk mengutamakan shalat lima waktu ketimbang menjamaknya.
Begitu katanya, hm..., twing-twing deh! 

Jawaban mas guide, langsung mengingatkan kami pada kejadian malam sebelumnya, di mana kami mencari mesjid untuk shalat Isya [rencananya ingin sekalian menjamak Magrib di Isya], eh ternyata si mesjid telah dikunci rapat. Dan si mas guide membenarkan, bahwa memang kebiasaan di sana, mesjid langsung dikunci rapat setelah usai shalat Maghrib, karena tidak ada shalat Isya, sudah dikerjakan usai shalat Maghrib. O, begitu toh, Mas! :)

Namun beberapa teman yang tinggal di kota Qom justru menjelaskan bahwa di sana kenyataannya berbeda, bahwa beberapa mesjid atau tempat ibadah malah buka 24 jam, misalnya seperti Hazrat Fatimah al Ma'sum, malah terbuka lebar selama 24 jam. Karena tempat ini tak hanya dipakai untuk shalat, namun juga untuk konsultasi keagamaan, belajar mengaji, dan kegiatan religius lainnya. Bahkan mesjid-mesjid ini menyediakan beberapa kursi untuk jemaah yang berkebutuhan khusus, beberapa bantalan untuk sandaran para orang tua agar rileks punggungnya saat mendengar ceramah, dan semacamnya.

Benarkah kaum Syiah (Iran) itu kalo shalat senantiasa meletakkan Turbah/batu kecil (yang terbuat dari tanah Karbala) di bagian kepala sajadah untuk disujudi?

Benar, itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Syiah Iran, yang senantiasa meletakkan batu tersebut [turbah] untuk menyentuh dahi mereka pada saat mereka bersujud.

Mengapa? Bukankah itu seakan-akan kaum Syiah sedang menyembah turbah?" Tanyaku sangat hati-hati, karena ini bersifat sensitif.


Mas guide dan beberapa sumber lainnya yang sempat kami tanyai di Hazrat Fatima al-Ma'sum [Fatime Mesume Shrine] di kota Qom, menjawab seperti ini:

Dalam hal aqidah, kami sama dengan Sunni dan umat muslim lainnya, hanya menyembah Allah SWT, tidak menyembah makhluk-Nya, apalagi menyembah batu atau tanah. Jika kaum Sunni dan muslim lainnya bersujud kepada Allah di atas kain sajadah, maka kami bersujud kepada Allah di atas turbah, di atas tanah. Di situ saja perbedaannya. Persamaan keduanya adalah sama-sama menggunakan suatu media untuk alas bersujud, begitu kan? :) 

Mengapa turbah? Karena turbah dianggap sebagai pengganti tanah,  karena bagi kami sujud harus benar benar dilakukan di atas tanah murni atau apa yang tumbuh diatas tanah tersebut, asalkan tidak dimakan atau dipakai. Jadi, jika kami sedang berada di luar negeri, di mana turbah tidak tersedia atau terlupa untuk kami bawa, maka kami menggunakan benda lainnya yang berbahan dasar/terbuat dari alam, seperti tissue, kertas, dan lain-lainnya sebagai alas.

Oh, begitu ya, Mas? #Manggut-manggut. Ingin mengejar dengan pertanyaan lainnya, seperti apa dasar hukumnya, dan lain sebagainya, namun kami kehilangan kata-kata. Namun si mas guide, dengan bijak dan bagai mengerti tanda tanya yang ada di hati kami, menambah penjelasannya. Bahwa yang mendasari kaum Syiah bersujud di atas tanah adalah karena Rasullullah juga melakukan hal serupa. Rasulullah selalu bersujud di atas tanah, tikar atau alas lain yang terbuat dari bahan alami. Si mas guide menambahkan agar kami juga mencari referensi tentang hal ini di internet mau pun sumber lainnya, jika berminat, karena beliau sendiri sih, tidak senantiasa bersujud di atas turbah, terutama jika sedang berada di area yang tidak tersedia turbah.

Tak urung, penjelasan ini, menyisakan rasa penasaran di hati kami, sehingga malamnya, aku dan ayah browsing dan main ke rumahnya mbah Google untuk mencari informasi tentang pro dan kontra penggunaan turbah ini, dan hasilnya? Ampuuun deh, perang antar paham begitu mengerikan. Saling menyalahkan, saling tuding memenuhi jagad maya melalui artikel yang ditulis oleh penulis yang pro dan kontra.

Mungkin, Sobats sendiri juga sering menemukan artikel-artikel pro dan kontra ini kan? Bagi yang belum dan mungkin semakin penasaran akan hal ini, bisa langsung meluncur dan search sendiri deh di rumahnya si Mbah [Google],  karena aku sendiri kurang berminat bahkan bingung untuk mengulasnya di sini. Jadi, mari kita kembali pada penilaian dan keyakinan masing-masing aja , yuk. :)

Bagaimana pandangan kaum Syiah [Iran] terhadap shalat Jumat? Apa benar kaum Syiah Iran menganggap shalat Jumat itu tidak wajib dilaksanakan? Dan jika pun melaksanakan shalat Jumat, maka tetap harus melaksanakan shalat Zuhur?

Hm, this question required a long answer! Jawabnya seraya tersenyum, tapi kemudian si Mas guide malah diam sejenak. Mungkin sedang mencoba menjawab dengan bijak. :) Lalu, si mas yang tampan ini mulai menjelaskan, bahwa memang banyak sekali yang menuding demikian. Dan pada kenyataannya, banyak sih lelaki-lelaki Iran yang tidak ke mesjid untuk shalat Jumat. Tapi itu bukan berarti bahwa shalat Jumat itu tidak wajib. Namun, pelaksanaan shalat Jumat di Iran memang unik. Tidak seperti di negeri-negeri muslim lainnya, di mana shalat Jumat di laksanakan di mesjid-mesjid desa, kota atau di mana pun. Nah, kalo di Iran, setiap kota hanya menyediakan satu tempat untuk ibadah shalat Jumat. Misalnya, untuk di Tehran, pemusatan shalat Jumat adalah dilakukan di Universitas Tehran. Lebih uniknya lagi, jemaah shalat Jumat ini, tidak terbatas pada kaum pria saja, namun juga diramaikan oleh kaum wanita. Jadi bisa dibayangkan, betapa ramainya arena shalat Jumat yang hanya terpusat di satu tempat [Universitas Tehran] ini, menampung penduduk kota Tehran yang populasinya mencapai 12 juta jiwa, dan hari Jumat adalah hari libur di sana, sehingga kesempatan untuk bersiap-siap untuk shalat Jumat menjadi lebih besar bagi orang-orang yang meyakini keutamaan shalat Jumat. Apalagi, pemerintah Iran, menyediakan angkutan-angkutan umum/bus jemputan untuk menjemput jemaah yang berada jauh dari tempat ibadah. Jadi kalo dikatakan bahwa tidak wajib shalat Jumat di Iran, rasanya kurang tepat. Begitu jawaban diplomatis dari mas guide. :)

Mengapa dipusatkan di satu tempat saja untuk masing-masing kota?

Menurutnya, dan juga beberapa teman Sunni dan Syiah di sana [Iran], alasan utama pemerintah melakukan ini adalah untuk menunjukkan 'kebesaran, kebersatuan, kekompakan, kekuatan' umat muslim, sehingga 'musuh' [Amerika, Yahudi dan bangsa Eropa] akan berfikir dua kali untuk mencoba mengganggu/menghancurkan mereka. Jadi tujuan pemusatan di satu tempat ini, menurut mereka lho ya, adalah lebih ke tujuan politik seperti itu.

Namun, saat ini, di beberapa kota seperti Qom, sudah mulai ada beberapa mesjid yang dibuka untuk tempat lakukan shalat Jumat. Karena pada dasarnya, kaum Syiah juga menganut paham bahwa Shalat Jumat memang boleh dilaksanakan di mesjid mana pun dengan berjarak sekitar 5 km antar satu dengan lainnya.

Benerkah setelah shalat Jumat, lalu kaum Syiah melaksanakan lagi shalat Zuhur, lalu Ashar?

Tidak benar. Shalat Jumat telah menggantikan shalat Zhuhur, sehingga tak perlu lagi melakukan shalat Zhuhur. Setelah membaca doa-doa dan ibadah sunnah lainnya, barulah mereka laksanakan shalat Ashar [Jamak], seperti biasanya.

Apa benar Syiah/Iran menggunakan kitab suci yang berbeda dari kaum Sunni mau pun kaum muslim lainnya? 

Mas guide malah tertawa lebar. Kata siapa? Tukang fitnah! Oops. Eikeh jadi ga enak hati deh. :( melihat raut wajah tampan itu mengeruh. Kami memiliki kitab suci yang sama dengan yang kaum Sunni miliki. Al Quran yang sama. Tidak ada perubahan ayat atau revisi seperti yang didesas-desuskan! Silahkan go to internet dan download e-Al-quran Irani untuk cek and ricek. Atau silahkan beli Al-quran asli Iran untuk dapat kalian lihat langsung. Maaf, jika suara saya terkesan meninggi, habis saya suka geram dengan desas desus fitnah itu. Baik Syiah mau pun Sunni, mempunyai al-Quran yang sama. Buktinya, kami sering menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran, baik national mau pun international, dan terbuka bagi seluruh muslim, baik Sunni mau pun Syiah. Jika kitab suci kami berbeda, mana mungkin kami disambut baik oleh muslim lainnya? Mana mungkin ada peserta di luar kaum Syiah?
Hm, Ok mas guide, jangan esmosi dunk ah! :)

Iran adalah negara Islam Republik, setau saya, saat ini hanya ada dua negara Islam di dunia, yaitu Iran dan Afghanistan. Yang menarik adalah, tentang cara berpakaian para wanita di negeri ini. Tadinya saya membayangkan bahwa wanita-wanita di sini, seperti layaknya wanita-wanita Arabia, yang membungkus dirinya dengan jubah muslimah [chador]. Namun kenyataannya, terutama di kota Tehran, kami melihat banyak sekali wanita yang berpakaian kurang muslimah. Misalnya dalam hal cara memakai hijab; hanya mengenakan selendang yang menutupi setengah rambutnya, sementara setengah lagi rambutnya [poni] terlihat menjuntai keluar. Apakah memang demikian? Adakah daerah-daereah yang masih memberlakukan regulasi berpakaian secara syariah?

Mas guide kembali tersenyum manis. Aduhai senyummu itu, Mas! Haha.
Begitulah, mungkin juga, kalian sendiri menemukan banyak fakta bahwa wanita-wanita Iran, yang tidak taat menutup aurat. Saya sendiri, sering menyaksikan para wanita yang meninggalkan Iran [via pesawat terbang], yang langsung menanggalkan jubahnya, melepaskan selendang yang menutup rambutnya, dan tampil trendy dan seksi menuju negara lain, baik yang dalam rangka berwisata, atau apa pun. Begitulah adanya. Juga di Tehran atau pun kota-kota besar lainnya di negeri ini. Kaum wanita kami, memang modis dan berani, walau sekali-sekali, terjaring juga oleh razia syariah yang diadakan oleh pihak terkait. Mereka akan menangis histeris saat terjaring, dan berjanji untuk berpakaian muslimah yang baik. :)

Baca juga: Fenomena Operasi Plastik di Iran



Namun, tentu saja ini tidak berarti bahwa tak ada lagi muslimah yang benar-benar berpakaian muslimah. Ada, dan banyak juga. Terutama di pedesaan dan kota Suci. Nanti, sesampai di kota Qom, kalian akan melihat sendiri, betapa berbedanya wanita di Tehran dan wanita-wanita di kota Qom.


Hazrat Fatima Al-Ma'sum

Tak terasa, 2,5 jam perjalanan kami pun terpenuhi, dan tibalah kami di kota suci Qom. Kota yang menurutku sangat unik. Pak supir menghentikan minibus yang dikendarainya tepat di seberang jalan, artinya kami harus menyeberang dengan berjalan kaki, karena minibus akan diparkirkan di tempat yang lebih jauh lagi. Mas guide berpesan agar kami meninggalkan saja gadget dan camera DLSR di dalam minibus, daripada menitipkannya di tempat penitipan nanti. Ya, gadget bercamera [kecuali BB dan hape kecil lainnya], memang dilarang untuk ikut masuk ke dalam Hazrat Fatima al-Ma'sum [Fatime Mesume Shrine]. Apa sih Hazrat Fatima Al-Ma'sum itu?


Hazrat Fatima Al-Ma'sum sebenarnya adalah sebuah mesjid yang di dalamnya terdapat makam dari Fatima Al-Ma'sum, yaitu adik dari Imam Ali ar-Ridha, Imam ke delapan kaum Syiah. Mesjid ini luar biasa indahnya, terutama bagian dindingnya yang dipenuhi oleh serpihan cermin yang ditempel artistik, menimbulkaan kemilau luar biasa, yang tiada henti mendecak-kagumkan rasa setiap wisatawan yang hadir untuk beribadat atau sekedar menyaksikan dan mengagumi keindahannya.


Ada sensasi tersendiri yang hadir di hati, menyadari diriku berhasil masuk ke dalam gerombolan wanita-wanita berchador hitam pekat, yang menatap kami dengan tatapan mata layaknya menatap alien dari luar angkasa, karena pakaian kami yang tentu tak hitam seperti mereka.

Ya iyalah, kami kan hanya mengenakan chador cadangan yang disedikan oleh panitia Hazrat ini, agar bisa dan sah memasuki mesjid ini. Tapi sungguh deh, Sobs, sensasinya luar biasa, apalagi, selain bisa masuk dan berjalan-jalan di tempat para wanita berchador hitam ini beribadah, kami juga bisa melihat langsung makam Fatima al-Ma'sum yang 'disucikan' oleh kaum Syiah ini. Juga, berkesempatan untuk shalat zhuhur berjemaah dengan kaum Syiah, di dalam mesjid mereka, bahkan aku berkesempatan merekam suara kumandang azan mereka. Yang lebih membahagiakan lagi adalah, Onyxberry mungilku berhasil mengabadikan keindahan-keindahan yang ada di mesjid/shrine ini. Rasanya Wow banget! Nantikan sensasi-sensasi itu, dalam ulasan berikutnya di artikel mendatang ya, Sobs! Juga tentang penambahan lafazd 'Ali waliyullah ...,' di dalam kumandang azannya, akan diulas di postingan berikutnya, ok?

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan ke Iran,
Read More
/ /
Ijinkan aku memulai lanjutan dari postingan 'kulit luar Syiah, Tehran' dengan sebuah pertanyaan, Sobs.

Apa yang terpatri di benak Sobats setiap mendengar nama negeri ini disebutkan? Iran, ya Iran. :)
Apakah sama dengan yang terlintas di benak dan imaginasiku? Aku akan serta merta membayangkan, negeri ini dipenuhi oleh pria tampan berjenggot, bersorban, dan alim. Serta kaum wanitanya yang cantik jelita, berjubah hitam dari kepala hingga ke mata kaki.
Sebuah negeri bernama Persia, berbudaya tinggi dengan kaum Adam dan Hawanya yang menawan dan juga merupakan negerinya kaum Syiah. Samakah imaginasi ini dengan bayangan yang ada di benak Sobats?

Picture is taken Alaika Abdullah at Bazorgh Bazaar. 
Bayangan/imagi ini terus tersimpan di benakku hingga pesawat yang aku tumpangi [Turkish Airlines] dari Istanbul hendak mendarat di bandara Ayatullah Khomeini, Tehran. Sebenarnya, sudah mulai ada keraguan di hati ini, gegara melihat kebanyakan penumpang wanita [yang menuju Iran] ini berpakaian tidak muslimah [baju tanpa lengan dan jeans serta tidak menutup kepala/tidak berhijab], namun aku mencoba berfikir positif, mungkin mereka ini adalah para wisatawan yang hendak ke Iran/Tehran. Tapi, wisatawan sekali pun, layaknya kan pake pakaian yang sopan ya, Sobs, karena kan menuju ke sebuah negeri yang memberlakukan regulasi syariah? Nama negaranya saja Republik Islam Iran. Islam gitu lho! So? Tapi ya, sudahlah, tak berhak dunk aku/kita menghakiminya. Haha.

Well, landed safely, perubahan-perubahan drastis seperti yang aku tuliskan di sini pun terjadi. Wanita-wanita seksi tadi pun berubah menjadi wanita berkerudung [menutup rambutnya dengan selendang atau kerudung] dan berjubah! Aku pun manggut-manggut. Oh, begini rupanya. Begini toh? I see. :)
Sedikit nakal, aku pun terpanggil untuk menilik kelakuan orang-orang di toilet wanita, haha. Dan ternyata, beberapa wanita berpakaian seksi berambut blonde, sedang memakaikan jubah hitam panjang [chador trendy] ke tubuhnya, praktis membungkus tubuh yang tadinya hanya dibalut oleh pakaian seksi. Lalu rambut blondenya yang cantik itu, diikat dan diberi sanggul raksasa berjuluk 'punuk unta', haha. Hampir melongo, aku segera masuk ke salah satu ruang kecil berlagak hendak pipis. Ya iyalah, daripada dicurigai sebagai penyusup/mata-mata, mending langsung kamuflase kan ya? :D

Surprise demi surprise memang menyambutku tiada henti. Dimulai dengan temperatur udara yang panasnya minta ampun [sekitar 41 derajat celcius], yang langsung menyapa pipi, hingga ke wajah-wajah cantik dan tampan mempesona yang menyegarkan mata. Namun baru saja menikmati rasa segar oleh pemandangan aduhai itu, rasa damai itu menurun menyaksikan jenis kendaraan yang lalu lalang di jalanan kota metropolis Tehran yang luas dan lapang itu, berupa kendaraan-kendaraan yang menurut pandanganku sih, masuk kategori jadul. Haha. Oops, tak bermaksud merendahkan, tapi begitulah yang tertangkap oleh pandangan mata dan kamera. Apa daya, mata dan kamera tak mungkin bohong kan ya? Dan mungkin, ini adalah efek dari kelamaan diembargo kali ya? :(

Pictures taken by Okana Abdullah, on the way to hotel from Khomeini Airport


Sulit mengungkapkan rasa yang bergelora di dada saat menyadari bahwa diriku telah benar-benar berada di negeri yang satu ini. Sebuah negeri yang sebenarnya belum pernah masuk ke dalam daftar negeri yang ingin aku kunjungi. Namun, tentu saja hatiku berdegup gembira manakala melihat nama Iran tercantum di dalam itinerary usulan adikku. Berwisata ke Iran, negerinya almarhum Ayatullah Khomeini. Wow! Amazing!

Inilah Iran

Tak sabar rasanya kami untuk segera keluar dari hotel guna sight seeing dan cari bukaan puasa. Kota ini, apalagi pemandangan yang terlihat sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel tadi, sungguh membuat rasa exciting di hati seperti meledak meletup deh, Sobs! Haha. Sungguh, sulit bener menggambarkannya, tapi yang pasti, suasana Timur Tengahnya kerasa banget deh. Apalagi dengan view khas Timur Tengah seperti yang terlihat pada foto-foto di bawah ini.


Suasana jalanan terlihat lengang kala kami menumpang taksi, mencari tempat untuk berbuka puasa. Tak banyak restoran yang buka atau memang daerah di mana kami tinggal ini termasuk daerah yang sepi? Padahal, kabarnya kota Tehran ini adalah kota metropolitan selaku ibukota negara. Entahlah, kami belum bisa menebaknya. Supir taksi yang kami tumpangi sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, sehingga adikku terpaksa mengeluarkan beberapa kata kunci dari 'kantong doraemon' miliknya. Pertama, sudah pasti dicobanya bahasa Inggris. Teryata bahasa international yang sudah merakyat ini, tak sampai menjangkau khalayak di negeri Syiah ini. Supir taksi geleng-geleng kepala sambil tetap berbicara dalam bahasa Farsi. Andri, adikku, tak paham pula bahasa ini. 

Dicobanya bahasa Turkey, si supir geleng-geleng kepala. Ayahku mencoba bahasa Arab, No, masih geleng-geleng kepala. Bahasa Rusia, apalagi! Haha. Andri mencoba bahasa Azarbaijan. Dan click! Supir taksi berseru gembira dan percakapan pun on the track alias mengalir lancar! Bravo, Ndri. Salut deh dengan koleksi bahasa yang engkau miliki. Ckckck. Diantarnya lah kami ke sebuah restoran yang lumayan besar, namun lengang. Penataan ruangan seadaanya, padahal jika didecor layaknya restoran besar, kuyakin resto ini akan banyak menarik pengunjung. 

Kendala bahasa kembali terjadi di sini. Farsi melawan Turkey. Haha. Akhirnya win-win solution pun diambil, Inggris walau si pelayan sedikit terbata-bata. :D
Giliran membaca menu, ampun bo'. Bisa dibaca tapi ga tau artinya! Haha. Ya iyalah, tulisannya menggunakan huruf arab tapi bahasanya bahasa Farsi. Cakep!

Keren ya menunya? Lalu apa yang kami pesan? 
Inilah yang hadir setelah berdialog sejenak dengan si pelayan dalam menentukan menu berbuka di hari pertama di Tehran. :)

Nasi minyak [lupa nama Irannya], ayam gulai ala Iran, plus Pepsi dan air mineral.
Oya, sempat juga beli roti jala ala Iran. :)

Iran, si Negeri Syiah Sejati

Berwisata ke Iran, beberapa teman memang menyarankan untuk main ke Isfahan dan beberapa tempat keren lainnya. Namun kami malah jadi ingin melawan arus. Iran adalah sebuah negeri yang ‘unik’. Penganut paham Syiah Itsna Asyariyyah atau Syiah Imam Dua Belas. Desas desus tentang paham ini begitu bergema dan sering menjadi buah bibir. Rasanya sungguh disayangkan jika setelah menginjakkan kaki di negeri ini, kami tak memanfaatkan waktu untuk meng-eksplorasi kabar ini secara langsung. Yah, walau pun tentu saja, dengan waktu kami yang sangat sedikit, jelas tak akan mampu mengungkap informasinya secara utuh sih. Namun, setidaknya, berada langsung di negeri ini, kami ingin memuaskan rasa penasaran kami dengan menemukan jawaban terhadap beberapa pertanyaan yang selama ini cukup membuat kami mengerutkan kening. 

Apa benar orang-orang Syiah [Iran] itu hanya melakukan shalat 3 kali sehari? Dengan membawa shalat Ashar ke Zuhur dan Maghrib ke Isya? Apa benar Shalat Jumat tidak wajib di Iran? Atau kalau pun melaksanakan shalat Jumat, maka shalat zuhur tetap harus dilaksanakan? Apa benar Orang Iran kalo shalat senantiasa meletakkan batu kecil [yang terbuat dari tanah Karbala] di bagian kepala sajadah untuk disujudi? Apa benar orang kota Qom dan muslimah pedesaan Iran menggunakan chador? Dan beberapa ‘apa benar’ lainnya.

Tertarik untuk ikut menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, Sobats tercinta? Yuk ikuti lanjutan postingannya di sini yaaa.

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan ke Iran,
Read More
/ /
Berlebaran di negeri orang, tentu punya sensasi tersendiri. Itu juga yang sedang aku rasakan dan coba untuk nikmati. Rasa kangen kampung halaman, kangen akan suasana meriah bin heboh ala lebaran di negeri tercinta, jelas bikin hati tak lagi berada di sini, namun akan rugi besar donk jika aku menurutkan rasa melo dan kangen kampung ini terus menggerogoti. Karenanya, kami pun menyiapkan diri sambut lebaran kali ini, di sebuah negeri dua benua bernama Turkey, tepatnya di kota metropolitan Istanbul. :)
Lebaran tanpa ketupat setidaknya lontong hambar donk? Makanya, adikku ternyata telah menyiapkan alat perang. Plastik khusus tahan panas dan beras untuk lontong telah tersedia. Ga nyangka deh jika adikku yang macho ini udah melebihi emak-emak dalam beraksi di dapur. Haha. Menjadi anak perantauan ternyata cukup mumpuni dalam menggemblengnya menjadi anak mandiri dan tak manja. Jago masak [dengan guru andalan tak lain tak bukan adalah Mbah Guru: Google]. :D

Beras dikira-kira dan masuk ke dalam plastik, lalu direbus ke dalam panci yang telah disiapkan di atas kompor. Dan dibiarkan saja di atas api yang terus menyala hingga tiga jam kemudian, beras putih di dalam plastik tadi, berubah menjadi sebuah lontong yang lumayan besar, berwujuh putih bersih dan padat! Wow. Aku dan ibu saja, di kampung sana, ga pernah bikin lontong sendiri deh, Sobs, biasanya kami pesan pada tetangga, haha. Ealah, si adik malah begitu piawai membuatnya. Aku dibikin melongo, mengingat dulunya, di kampung halaman, nih anak ga pernah turun ke dapur. :)

Untuk lauknya? Gampang. Santan kemasan kaleng tersedia di kulkas, sayuran dan daging, menanti untuk diolah. Sayangnya, malam itu, kami malah lebih tertarik untuk internetan dan menunda masak lauk pauk ini. Haha, dasar onliners! Pertimbangan lainnya adalah, besoknya kan mau halal bi halal ke Konsulat Jenderal RI, setelah pulang dari shalat Ied di Sultah Ahmet Mosque, jadi mending malamnya aja deh kita masak rendang dan teman-temannya itu. :)

Malam lebaran, tak bisa dipungkiri, hati kami terasa kosong karena ada rasa yang hilang yaitu rasa haru mendengar gema takbir, tak hadir di sini? Apakah karena hati kami telah redup atau tertutup? Nooooo, bukan! Tapi karena memang tak terdengar gema takbir di sini? Tepatnya di Gultepe, daerah di mana kami tinggal. Mungkin karena banyak pendatang di lingkungan ini, dan udah pada mudik kali ya? Makanya ga ada yang takbiran. Entahlah.

Shalat Ied Idul Fithri 

Tadinya aku udah sempat kecewa, karena jalanan terlihat begitu lengang saat kami melenggang keluar rumah. Sepi! Beda jauh dengan di negeri tercinta, di mana pada hari pertama lebaran, pagi hari akan terlihat meriah dan jalanan penuh dengan masyarakat yang saling menyapa. Berpakaian rapi dan cantik, menuju mesjid atau lapangan-lapangan untuk shalat Ied dengan hati yang gembira. Di sini? Malah beberapa orang terlihat seadanya saja, melintas di jalan raya. Tak terlihat sama sekali menenteng sajadah, berbaju bersih dan rapi [apalagi berbaju baru]. Hm... beginikah cara negeri keren dan moderen ini sambut hari kemenangan?

Untung saja aku menahan diri untuk tidak serta merta menghakimi negeri cantik ini, Sobs. Meninggalkan Gultepe menuju ke Mesjid Sultan Ahmet [the Blue Mosque], kami mulai melihat keramaian. Semakin ke pusat kota dan mendekati area, semakin terlihat geliat semangat orang-orang yang bergerak cepat menuju arena. Pakaiannya juga terlihat bersahaja, rapi, bersih dan indah. Juga, sajadah tertenteng di tangan masing-masing. Alhamdulillah, serta merta hati kami ikut berwarna, gembira. Larut dalam keramaian, membuat hati ini ceria dan bahagia. Apalagi melihat pihak Fatih Belediyesi [Kecamatan Fatih], di mana mesjid Sultan Ahmet ini berada, sibuk mempersiapkan kenyamanan bagi para jemaah Shalat Ied. Halaman mesjid yang luas juga terlihat semarak oleh umbul-umbul yang dipasang untuk memeriahkan hari kemenangan ini. Juga beberapa tenda didirikan. Tadinya sempat heran, untuk apa tenda-tenda ini? Tapi begitu mendekati tekape [tenda-tenda itu], aku melihat berkotak-kotak manisan [Turkish Delight] dan air mineral gelas, duduk manis, menanti untuk dibagi-bagikan kepada para jemaah usai shalat nanti. Wow! Kagum deh dengan perhatian-perhatian kecil yang dipersembahkan oleh masing-masing kecamatan di negeri ini. :). Kabarnya setiap kecamatan menyediakan cemilan-cemilan seperti in bagi para jemaah shalat Ied.

Panitia Kecamatan Sibuk membagikan manisan dan air mineral usai shalat Ied
Jika di negeri tercinta, lautan jemaah [khususnya yang wanita] akan terlihat dalam balutan nuansa putih [mukena putih nan cantik menawan, maka jangan heran jika kita tak menemukan nuansa indah seperti itu di sini, Sobs. Karena di negeri ini, budaya memakai mukena saat shalat bukanlah budaya mereka. Lalu bagaimana kah mereka menunaikan shalat? Pakai apa kalo enggak pakai mukena? Ya pakai baju biasa yang menutup aurat, tangan dan kaki ya terlihat begitu deh. :) Dan kali ini, aku mengikuti cara mereka, enggak enak juga rasanya tampil sendirian bermukena. Tapi dengan menggunakan kaus kaki untuk tutupi kaki, hanya tangan yang terlihat. Rasanya memang aneh sih, tapi ayah bilang sih udah sah itu. Okd, Yah. :)

Nah, gadis kecil ber-rok hijau ini, sedang membagikan manisan untuk para jemaah, usai shalat Ied. :)
Perhatikan deh, Sobs, ada dua kepala yang bermukena, kayaknya tuh orang Indonesia deh. :)
Berlebaran di negeri orang, memang memberikan sensasi tersendiri, namun jika ditanya, enakan mana lebaran di Indonesia apa di luar negeri, maka sejujurnya akan aku jawab, enakan di Indo dunk ah! Hehe. Namun, bukan berarti lebaran di sini enggak enak lho ya, pasti asyik dunk, kapan lagi mau lebaran di negeri orang jika bukan saat ada kesempatan emas seperti ini kan? Alhamdulillah, thanks for my lovely brother for his awesome invitation. :)



Terus apalagi yang unik di Istanbul saat lebaran, Al? 

Ada. Ada sebuah tradisi unik yang bikin kagum hati ini saat mengalaminya lho, Sobs. Yaitu tradisi memuliakan tamu dengan menuangkan cologne ke tangan para tamu yang bersilaturrahmi, oleh si tuan rumah. Sungguh, tradisi ini bikin mata dan hatiku langsung bilang WOW deh, Sobs. Ikuti postingannya di sini yaaa. Oya, sebuah sensasi kebersamaan yang timbul saat berkunjung ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Istanbul, yang juga bikin hati bahagia. Laporan tentang itu juga segera menyusul, okeh?  :)


Postingan lanjutan ; Tradisi Unik Memuliakan Tamu di Turkey baca di sini yaa. 


Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan,

Al, Istanbul, 8 Agustus 2013

Related Post;

IRAN 
Ke Makam Ayatullah Khomeini yuk!
Hazrat Fatimah Masyumah Shrine
Iran, si Negeri Syiah Sejati
Yuk Main ke Iran
Fenomena Operasi Plastik di Iran
Kulit Luar Syiah, Tehran - Qom
Hello from Tehran

Turkey
Tradisi Unik Memuliakan Tamu di Turkey

Read More
/ /
Sebenarnya ingin posting artikel tentang kisah perjalananku kemarin ke Istanbul, Belarus dan Iran. Namun, iseng main ke rumah si Mbah, eh lihat tampilan halaman muka si Mbah yang unik hari ini, jadi ikutan terharu deh, Sobs. Jadi mikir untuk ikut si mbah juga dunk. Masak si Mbah aja yang bukan orang Indonesia, bisa-bisanya bikin tampilan keren nan menggugah darah merah putih menggelegak penuh bangga, sementara kita, yang pribumi sejati, malahan melempem dalam menyambut hari kemerdekaan negeri tercinta ini dan mengisinya?
Pasti Sobats juga sudah lihat tampilan halaman rumahnya si Mbah hari ini kan?

Walau ada teman yang sempat komentar bahwa si burung Garuda kok malah tampil layaknya ayam penyet, tapi menurutku, inisiatif si Mbah dalam mengapresiasi hari kemerdekaan negeri kita, wajib diacungi jempol dunk ah! Ya enggak, Sobs?

Merdeka, memang bukanlah berarti kita bebas berbuat apa saja, apalagi bertindak sesuka hati dan ujung-ujungnya malah merugikan diri sendiri dan masyarakat. Juga bukan berarti bahwa kita menuntut dan terus menerus menyalahkan pemerintah dan pihak terkait, yang belum mampu membebaskan negeri tercinta ini dari carut marut kemelaratan. Namun, merdeka, menurutku adalah bagaimana kita berupaya, turut serta dalam mensyukuri kemerdekaan negeri ini, mencoba mengisinya dengan hal-hal positif yang kita mampu. Yah, setidaknya berusaha untuk memperbaiki diri sendiri, menyuntikkan aura positif di dalam diri, dan berupaya untuk mampu memancarkannya pada lingkungan sekitar. Yah, setidaknya, pada lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Bukankah mencoba meminimalisir aura negatif, juga berarti meminimalisir rasa 'susah'?

Jadi, yuk kita syukuri kemerdekaan yang telah dipersembahkan oleh para pejuang bangsa, yuk kita pelajari dan resapi sejarah perjuangan bangsa, mari lestarikan budaya negeri tercinta, dan mari berbangga menjadi bangsa Indonesia. Negeri elok - mutiara dari Khatulistiwa.

Dirgahayu Negeriku, semoga semakin berkibar dan jaya, oleh kreativitas dan innovasi persembahan anak negeri. Merdeka!


Catatan spesial hari kemerdekaan,
Alaika, Banda Aceh, 17 Agustus 2013



Read More
/ /


Lebaran, siapa pun pasti maklum dan paham benar akan kebahagiaan yang terpancar di balik hari kemenangan ini. Idul Fithri, sejak dulu memang disambut penuh suka cita oleh setiap anak negeri [Indonesia khususnya]. Tak peduli puasanya full tiga puluh hari atau hanya sekedar puasa 'yang yuk' seadanya. Yang pasti, setiap orang akan happy sambut hari kemenangan bertajuk Idul Fithri. :)

Pada kesempatan indah ini pula, ijinkan daku haturkan pinta, ke haribaan Sobats semua. Untuk langkah yang bekaskan lara, untuk kata yang rangkaikan dusta, untuk tingkah dan polahku yang mungkin torehkan luka, mohon ampuni dan bukakan pintu maafmu ya, Sobats tercinta. Minal Aizin Wal Faizin, maafkan lahir dan batin. 

Selamat jalan wahai Ramadhan,
Selamat datang wahai hari kemenangan,
Wahai Tuhan kami Ilahi Rabbi, 
Terimalah amal ibadah kami, 
dan ijinkan kami bertemu kembali dengannya di tahun depan. 
Aamiin.
Hope to see you again, Rama!

Saleum,
Al, Istanbul, 7 Agustus 2013.
Read More
/ /
Sebenarnya ini bukan kali pertama melihat orang dan sekelompok orang yang hidungnya diperban, di Tehran, Iran. Pertama kali melihatnya adalah saat memasuki hotel berkonsep apartemen yang kami huni selama di Iran ini. Sedang duduk menanti adikku yang sedang di bagian reservasi, tiba-tiba melintas di depanku sekelompok orang [mungkin sebuah keluarga] yang terdiri dari seorang laki-laki [mungkin ayah], dua orang putri dan seorang ibu. Putrinya kira-kira seusia deh dengan Intanku. :)

Yang bikin pikiranku langsung menduga bahwa keluarga ini baru saja mengalami kecelakaan adalah karena semuanya berperban. Tapi kok ya, lukanya di tempat yang sama gitu lho! Pada bagian hidung! Ini kecelakaan apa sih? Kok bisa sama tempat cideranya? Pada hidung semua? 

Udah gatel banget tanganku ingin mengarahkan moncong kamera ke 'target' area, tapi ga mungkin banget, bisa dianggap enggak sopan nih. Tapi emang nih tangan udah pengen ceklik aja. Tapi ga enak sama adik iparku jika tanganku terlalu aktif jadi paparazi gitu kan? Apalagi tuh orang-orang yang sedang berperban hidungnya berdirinya tak jauh di depan kami duduk, dan sedang melihat juga ke arahku, yang keheranan menatap mereka. Segera deh aku alihkan pandang seraya menyimpan sebongkah besar tanya di hati. 

'Dik, itu orang-orang apa kecelakaan ya? Tapi kok lukanya sama semua tempatnya? Apa terjerembab sampai patah hidungnya?' 

Adikku langsung tertawa. 'Haha, jangan heran, Kak. Bukan cuma Korea Selatan lho yang hobby plastic surgery, nih, this Syiah country, juga getol banget operasi plastik!'

Sebuah berita yang langsung bikin aku melongo. 'Hah, masak sih, Dik. Bukannya hidung orang Iran udah mancung-mancung gitu, kok malah dioperasi lagi?' Kalimat polos bin culun pun meluncur dari bibirku.

'Yah, namanya juga manusia, Kak, cakep kurang cakep lah. My Iranian colleagues told me about that. And now, you seen it yourself, right?'

Aku mengangguk. Bertambah satu pengetahuan lagi tentang fenomena ini. Keesokan harinya, saat sang tour guide mendampingi, kulemparkan tanya ini tanpa jeda. Penasaran banget soalnya. Hehe.

'Sir, I heard that having plastic surgery are very common here. Especially for sharpening the nose. Is it true?' Lontarku seraya menunjuk seorang wanita cantik yang kebetulan melintas di depan minibus kami. Wanita cantik dengan hidung yang berperban. 

'Yeah, that is true. Most of Iranian people are sharpening their nose. The price for the plastic surgery is much cheaper here than in Europe countries. That is why, even some of foreigners are having the surgery here.'

Oalah, rek! Udah dikasih hidung mancung dan cantik, masih kurang juga yak? Masih memerlukan campur tangan dokter bedah plastik segala. 

Well, Sobats tercinta, begitulah fenomena tentang plastic surgery itu. Ternyata ini BUKAN hanya isu belaka. Aku sudah membaca tentangnya, melihat dan kini mendengar langsung dari sumber aslinya, di sini. Ternyata, benar adanya, bahwa fenomena memancungkan hidung dan operasi plastik lainnya, marak berlangsung di negeri ini. Memang yaaaa? Cakep kurang cakep! Manusia ini, jarang sekali bisa puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Huft. Anda berminat untuk memancungkan hidung atau melakukan operasi plastik lainnya? Hati-hati lho, pilihlah plastik yang bagus yaaaa, jangan dari ember bekas pulak. Hehe. #Just kidding. 

Nah, Sobats, berhubung postingnya masih thru email, maka cukup sekian dulu deh updatenya yaaa. See you in the next post. Semoga besok malam bisa posting dari Istanbul via blogger.com. :)

Saleum,
Al, Tehran, 7 Agustus 2013

NB: Internet di Iran benar2 terbatas, bukan hanya ga bisa akses FB dan socmed lainnya, akses blogger.com untuk posting pun tak mampu. Bahkan untuk balas komen saja pun tak bisa. Karenanya, maafkan ya, Sobs, jika komentar2 Sobats belum bisa aku balas, juga belum bisa bewe. Mohon dimengerti yaaa, hatur nuhun. :)

Related Post;

IRAN 
Ke Makam Ayatullah Khomeini yuk!
Hazrat Fatimah Masyumah Shrine
Iran, si Negeri Syiah Sejati
Yuk Main ke Iran
Kulit Luar Syiah, Tehran - Qom
Hello from Tehran

Turkey
Sensasi Lebaran di Negeri Orang - Turkey
Tradisi Unik Memuliakan Tamu di Turkey

Read More
/ /
Hari ini, kedudukan antara rasa lelah dan happy bersaing ketat. Seems fifty fifty. Tapi setelah ditimbang-timbang kembali, akhirnya rasa happy yang mengungguli! Why? Karena wisata hari ini, the second day @tehran, membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Agency menyediakan tour guide yang tak hanya cas cis cus bahasa Inggrisnya, tapi juga simpatik dan enak dipandang mata lah. Haha. Juga, kami disediakan sebuah mobil van yang sangat luas untuk tour ini. Asyik deh pokoke!

Banyak hal sebenarnya yang ingin segera aku share tentang negeri Syiah ini, namun sayangnya, posting via email seperti ini membuat penyusunan gambar jadi tak apik. Jadi berita menarik tentang ekplorasi spektakuler ini, terpaksa aku tunda sampai aku bisa kembali mengakses blogger.com deh yaaa. :)

Bicara tentang tempat wisata di Iran, beberapa teman menyarankan utk ke Esfahan dan beberapa tempat keren lainnya, tapi kami justru memutuskan untuk melawan arus! Ya, kami memilih untuk mengeksplorasi 'desas-desus' tentang Syiah. Mengunjungi kota suci Qom adalah salah satu caranya. Ayahku, sudah lama sekali menyimpan rasa penasaran; apa benar orang2 Syiah (Iran) melakukan shalat 3 kali saja dalam sehari? Dengan membawa shalat Ashar ke Zhuhur dan Magrib ke Isya? Apa benar Mesjid dikunci rapat setelah selesai mereka lakukan shalat Maghrib? 

Apa benar orang Iran kalo shalat senantiasa meletakkan batu kecil (berbentuk lingkaran) yg terbuat dari tanah Karbala di bagian kepala sajadah, untuk di sujudi? Apa benar orang kota Qom dan musllimah pedesaan Iran menggunakan jubah/syedar? Dan beberapa 'apa benar' lainnya.

Dan hari ini, kami berkesempatan untuk TAK HANYA  sampai ke kota Qom, tapi juga berkesempatan masuk ke mesjid Maksum Zahra (di Iran malah disebut sebagai Shrine, bukan Mosque), mungkin karena di dalam mesjidnya terdapat makam keramat (Maksyum Zahra), juga berkesempatan langsung untuk menyaksikan bahkan ikut shalat berjamaah di mesjid ini. 

Ternyata, semua pertanyaan di atas terjawab sudah! BUKAN rumors jika kaum Syiah hanya melaksanakan shalat tiga kali sehari, dengan membawa zuhur ke ashar dan Isya ke magrib. BUKAN rumors jika mereka meletakkan batu/tanah Karbala di bagian sujud mereka (pada posisi dahi), BUKAN rumors pula jika pada syahadatain, mereka menambahkan kata Saidina Ali bla bla bla di penghujung kalimatnya. Dan banyak 'BUKAN rumors' lainnya yang sudah tak sabar ingin aku share. Namun postingan tanpa gambar, jelas akan terasa hambar, so, nantikan reportase lemgkapnya setelah akses ke blogger.com dapat ditembus kembali, ya Sobs. Which is means, after we are back to Istanbul. :)

Untuk kali ini, hanya ingin sampaikan sedikit informasi tambahan terhadap postingan sebelumnya, tentang busana wanita di Iran. Untuk kota besar seperti Tehran, mata kita akan terbiasa melihat wanita2 cantik yang menutup kepalanya seadanya saja, alias hanya menyematkan sehelai selendang, menutupi sebagian rambutnya, sementara bagian depannya (poni) dan sepertiga rambut depan, menyapa bebas penikmatnya. Oya, mereka juga menggunakan 'sanggul' yang luar biasa besar dan tinggi. Ini nih yang sebenarnya pantas disebut menyerupai 'punuk unta', bukan sanggul yang biasa menghias hijab kaum hijabers Indo lho!
:D.

Pakaian muslim 'modern' ini, tidak akan kita jumpai lagi saat kita memasuki kota suci Qom. Di sini, kita akan ditatap seperti alien, jika memasuki kota ini hanya bermodalkan celana panjang, baju muslim biasa dan selendang, bahkan hijab ala Alaika. Haha. Karena wanita di sini, menggunakan jubah (di sini disebut Syedar) hitam panjang. Yang menyelimuti tubuh dan kepala. Bagian wajah tidak ditutup.

Nah, enaknya, panitia Mesjid Qom, menyediakan syedar bagi para wanita (pengunjung tamu), sehingga tidak terkendala untuk memasuki mesjid ini. Sebuah mesjid yang menarik, mewah dan di dalamnya bersemayam jasad seseorang yang dikeramatkan.

Again, karena ga bisa menata letak foto dengan apik via email, maka postingan lengkapnya segera menyusul deh, Sobs! Dan sebagai pemancing rasa penasaran Sobats semua, yuk aku share dua buah foto saat aku dan adik iparku harus berbalut syedar agar diperbolehkan memasuki Mesjid Qom ini yuk. :)





See you in the next post yaaa.
Saleum,
Al, Tehran, 5 Agustus 2013


Related Post;

IRAN 
Ke Makam Ayatullah Khomeini yuk!
Hazrat Fatimah Masyumah Shrine
Iran, si Negeri Syiah Sejati
Yuk Main ke Iran
Fenomena Operasi Plastik di Iran
Hello from Tehran

Turkey
Sensasi Lebaran di Negeri Orang - Turkey
Tradisi Unik Memuliakan Tamu di Turkey

Read More