Take it Easy Nak... Let's seek the way out | My Virtual Corner
Menu
/

Pagi-pagi udah dapat PING dari Intan dan sebuah icon mewek alias menangis. Duh.... what's up with my diamond?

Umi : Kenapa sayang?

Intan : Miiiii..... gagal deh cita-cita Intan masuk HI.

Umi : Lhoooo... gagal gimana nak?

Intan : Bener info tadi malam miiii. Untuk masuk HI via Invitation, hanya bisa yang dari jurusan IPS dengan nilai memenuhi syarat. Nah, gimana mau penuhi kriteria, orang Intan di IPA? Hiksssss.... Huaaaa

Umi : Sssst, sabar sayang..... take it easy.... yuk kita discuss..

Dan percakapan penuh keprihatinan kasih sayang pun kulakukan dalam rangka menenangkan hati si belahan jiwa. Berjauhan dengannya jelas bukan hal yang menyenangkan, melainkan selalu bikin miris jika sang putri sedang dilanda gundah gulana. Akan jauh lebih adem dan damai jika aku bisa langsung berada di hadapannya, memberikan dukungan, perhatian dan pelukan secara langsung padanya. Namun apa daya, jarak yang begitu jauh adalah jurang pemisah yang begitu nyata. Lantas haruskah aku menyerah dan membiarkan dirinya berjibaku meredam kegundahan hatinya seorang diri?

Tentu tidak. Seorang ibu bertanggung jawab penuh dalam mendukung dan membahagiakan putri/putranya. Itu juga yang selalu kutanam di hati ini. Boleh saja aku berada ribuan kilo darinya, tapi secara virtual, aku harus selalu berada di dalam hatinya. Ada 'disisinya' walau hanya virtually, disaat dia membutuhkan, terutama di saat-saat seperti ini. Lagi dan lagi aku harus bersyukur pada kemajuan technology, yang telah banyak sekali kontribusinya bagi kedekatan hubungan kami.

Percakapan sekitar 30 menit ternyata tak mampu menentramkan hatinya. Dan harus ditambah lagi pada malam harinya kala menjelang tidur. Kekecewaan yang melanda hatinya, dan penyesalan telah mengambil jurusan IPA tak mampu teredam. Aku jadi merasa menyesal telah ikut memberi masukan padanya kala itu, untuk masuk jurusan IPA, walau Fakultas tujuannya adalah bukan berbasis IPA. Intan memang sangat tertarik sekali untuk masuk ke Hubungan International, dan targetnya adalah ingin masuk ke Universitas Indonesia, seperti jejak salah satu Omnya [adikku] yang saat ini tinggal di Turkey.

Bukan hanya aku sih yang memberi masukan padanya untuk masuk ke kelas IPA, tapi adikku serta guru wali kelasnya Intan juga memberi saran serupa. Pertimbangannya adalah Intan punya kemampuan dan logika berfikir yang sistematis, dan juga nilai-nilai lebih dari cukup untuk masuk IPA. Lagipula, nanti dengan berasal dari IPA, kesempatannya untuk memilih berbagai fakultas lebih terbuka lebar. Namun saat itu, aku juga tidak keberatan jika dia ingin langsung masuk ke IPS. Akhirnya setelah beristikharah, dia memilih IPA and so far she looks happy for that.

Sampai kemudian, tepatnya kemarin, isu itu menjadi kenyataan. Bahwa invitation system untuk menjadi mahasiswa/i undangan ke Perguruan Tinggi berdasarkan pada Jurusan yang mereka kini duduki. Artinya, Intan, yang jurusan IPA, mustahil bisa diundang masuk ke FISIP, jurusan HI, yang basisnya adalah IPS. Dan berurailah airmata sang putri tercinta hingga malam harinya. Tak mampu konsentrasi belajar dan sungguh membuatku ingin terbang dan memeluknya. Menemaninya disana. Menghapus airmatanya dan menawarkan solusi-solusi. But how, I was so far away. :(

Phone conversation tetap tak mampu membuatnya tersenyum. Padahal aku telah menguras aneka perbendaharaan kata dan pemikiran untuk mengatasi persoalan yang sedang ada dihadapannya. Bahwa jalannya masih panjang. Masih ada 1,5 tahun lagi untuk melangkah ke Perguruan Tinggi. Berbagai teori aku kemukakan, bahwa untuk menuju sebuah tujuan, kita dapat mencapainya dengan berbagai cara. Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan menuju 'Hubungan International' idamannya. Memang sih, pintu yang satu telah tertutup, tapi masih ada pintu lainnya. Masih bisa mencoba via seleksi/test. Masih ada banyak jalan dan kemungkinan, asalkan kita tidak berputus asa. Tapi lagi dan lagi Intan tak mampu meredam kekecewaannya, bahwa nilainya selama ini cukup menjamin untuk dapat undangan itu. Sayangnya dia ada di IPA, dan dia ga ingin diundang ke salah satu Fakultas jurusan IPA. Hm...

Aku tau, posisinya kini sedang pada tahap DENIAL, penolakan terhadap kenyataan yang terhampar di depan mata. Jadi sebanyak apapun argumentasiku, tetap tak akan mampu membuatnya tersenyum riang. Jadi biarkan dulu Intan menumpahkan segala kekecewaan hatinya, kalo perlu menangis, menangislah sayang. Dan ketika dia mengatakan ingin menangis, segera kuberi sinyal oke to do that. Aku tak akan menanamkan berbagai masukan lagi [sementara ini], cukup dulu. Besok-besok bisa dilanjutkan lagi, namun sebelum Intan mulai menangis, kusarankan untuk baca doa tidur dulu seperti biasanya. Dan begitu ritual baca doa tidur selesai, kuputuskan komunikasi kami, dan kubiarkan putriku menangis.

Namun mana mungkin aku bisa tidur nyenyak menyadari nun jauh di ujung sana, di sebuah kamar, putri tercinta menangis seorang diri? Tidak, aku ga bisa tenang. Kuraih hapeku, kuhubungi adik bungsuku, satu-satunya adik yang masih tinggal bersama orang tuaku. Untungnya dia sudah berada di rumah dan sedang mempersiapkan tugas-tugas kuliahnya. Aku yakin, dialah orang yang pantas bicara dengan Intan saat ini, karena dia yang sedang mengambil S-2, tentu paham benar sistem perkuliahan saat ini. Sementara aku? Telah sekian lama ga update perkembangan sistem itu, apalagi ibuku? So, he is the right person to talk to Intan.

Mengerti akan situasi yang sedang terjadi, adikku dengan tanggap bergerak. Ibuku yang curiga dan kuatir ada hal yang ga mengenakkan terjadi pada Intan ikutan masuk kamar. Dan Terjadilah dialog panjang lebar antara mereka bertiga. Adik dan ibuku saling menguatkan dalam rangka menyemangati Intan kembali... Alhamdulillah ya Allah, aku bersyukur padaMu atas anugerah ini. Aku bersyukur memiliki orang tua dan saudara yang begitu perhatian. Alhamdulillah....

Pagi ini, aku dapat telphone dari ibuku, mengabarkan situasi dan progress tadi malam. Pagi ini Intan sudah berangkat ke sekolah dengan penuh semangat kembali... walaupun, pastinya, kekecewaan itu masih ada. Wajar dan sangat normal toh? Biarlah waktu akan mengikis kekecewaan itu dan membuatnya move on to the next step. "Acceptance' --> tahap menerima. :)

Thanks a lots mom, and my little bro, your great effort and support are really-really highly appreciated. Alhamdulillah ya Allah...

To Intan sayang, keep the spirit ya nak, masa depan mu masih panjang, dan banyak jalan menuju target tujuan. We will always with you to support you, and Allah will guide us to achieve our goal, ok?

catatan hati,
Al, Bandung, 5 Feb 2013
43 comments

Intaaan ..tetep smangaaaat ..!!

belom rizkinya ya sayang..

Reply

Lewat seleksi kan masih bisa to Tan?
Semangat yak ^^
Dulu aku jurusan IPA, masuk lewat PPKB (PMDK gitu) tapi masuknya fakultas IPS :P

Reply

udah curiga sedari kemaren,,mba Al intens membalas status2 ku, dan hari ini juga terbahak2 bersamaku, bukan bahagia yg ku tangkap tp kesedihan yg tersirat, ternyata ini toh masalahnya,,hehhe

ayo Intan....pilihanmu udh tepat nak. jangan sedih lg dong.....belajar aja yg sungguh2, nanti jalan keluar Allah yg tentukan. oke oke oke

Reply

itu si una kan di UI to mbak, kalo si intan baca postingan ini pasti ekspresi wajahnya seeuuuaattuu banget. Ya apapun yang di tentukan Tuhan itu pasti nanti akan lebih besar incomenya. hehe sok nasihatin yak ... malu ah ada mamanya.. piisss intann semangatttt,, syukur2 kamu kuliah di malang :D

Reply

jadii kebawa pingin ikut nangiss...

tetapp semamngatt intan..

Reply

Sharing mbak Al menyikapi permasalahan Intan menginspirasi banyak ortu dalam pendampingan buah hati. Jalan alternatif terentang bagi Intan. Salam

Reply

Pukpuk intan, setau aku yaa kalau ikut pmdk bisa kok ambil yang IPC jadi ambil jurusan ipa sama ips, nah kalau jalur undangan kan juga test, jadi cari2 info langsung di kampusnya intan, semangat yaa pasti ada jalan buat masuk HI :D

Reply

Sabar ya Intan... Insya Allah ada hikmah dibalik semua ini... Semoga Allah memudahkan jalan untuk meraih cita2 Intan... Untuk Mbak Al, jangan galau lagi ya mbak..meski jauh Intan pasti tetap merasakan dampingan penuh kasih dari mama tercintanya...

Reply

kasihan intan.. tapi dengan begini akhirnya dia bisa belajar tentang kenyataan 'setelah lulus SMA'... yang sabar yah intan... *peluk erat*

Reply

temen Umi banyak yang ngasih semangat tuh, jangan sedih lagi ya Intan....

Reply

Insya Allah Intan dapat yang terbaik ya, walaupun sekarang kecewa tapi masa depan menunggumu

Reply

aduuhhh... saya kepengen nih jadi mama yang bijaksana seperti mbak ke intan... semangat intan yaa... jangan putus asa...

Reply

Bangga sama intan, masih kelas 2 tapi uda semangat mau kuliah :)
hehehe..
gak kayak aku dulu kak :)
Heheheh..
Semangaatt Intaann!!!

Reply

tuhan pasti memberikan rencana lain yang lebih indah..semangat buat mbak al ma intan

Reply

hei, emang kemaren waktu di bandung gak sempet ke jakara? apa gara2 HI kebanjran??? eh?

Reply

berjauhan dari buah hati sungguh tak menyenangkan :( Ganbatte Intan, jia you! Banyak jalan menuju R(h)oma! haha...

Reply

Semangat ya Intan.... Jangan putus asa, pasti ada jalan kalau Intan punya kemauan :)

Reply

Sistem Pendidikan di Indonesia ini nggak menentu, tapi saya kira masih banyak jalan untuk masuk ke perguruan tinggi. selain yg diatas kan masih ada jalur lain. tetap berikhtiar, dan berdo'a. Semoga Sukses :)

Reply

Alhamdulillah, Intan sekuat mamanya Ko. dan aku sealau senang membaca kisahmu mak, layaknya seorang sahabt, dirimu bisa selalu ada untuk Intan dalam berbagai situasi *peluk

Reply

makasih tante Nchiee.... iya, tetap semangat dunk. :)

Reply

Amin... Makasih Mak Mira..... sebagai ibu yang sering sekali berjauhan dengan putri tercinta, hanya itu yang bisa aku lakukan. Berusaha untuk selalu bisa menjadi ibu sekaligus sahabat terbaik baginya Mak... makasih yaaa... :)

Reply

Yup... bener banget. Makasih yaaa untuk semangat dan dukungannya. :)

Reply

bener.. semangat.. support terus.. dgn bgtu.. scra gag langsung kita nunjukkin kasii sayang kita :)

Reply

Hani sejak awal sudah tahu mau masuk jurusan apa: BAHASA dan memang itu pilihan yang tepat karena sekarang senang banget bisa masuk jurusan bahasa indonesia di Untan :D

Reply

Intan semangat ya......
Pasti akan ada yang lebih baik...

Reply

selalu ada jalan terbaik di balik kesusahan semangat nak :)

lam kenal kak :)

Reply

tak apa-apa, Intan bisa masuk lewat Simak UI atau SNMPTN aja nanti pilih HI, jika bersemangat, doa, dan usaha, dek Intan pasti bisa. Bukan begitu mamanya dek Intan? :D

Reply

Pasti akan ada jalannya kok... Tetap berdoa dan berusaha ya dek Intan...

Reply

tetap smangat ya Intan.. InsyaAllah msh banyak cara menuju HI
Salut sama intan.. anaknya gigih dan kuat ya mbk Al :)

Reply

dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, keep spirit :)

Reply

hai te... gimana kabar? lama nggak kesini...

Reply

Ihiir. ..

Pinternyaaa Dora. .. :)

Reply

Sekarang kayaknya sudah bebas untuk masalah jurusan, Mba. Adikku saja dari SMK masuk masuk sosiologi UNS. :)

Tetap semangat ya, Intan. Semoga apa yang menjadi cita2mu cepat terkabul. :)

Oiya, Aku paling suka denga kata "tahap menerima". Eheem, rasanya tuh Umynya Intan sungguh cees pleng dalam menghadapi masalah. :)

Reply

Oic (ikut gaya mbak Al)... Soal jalur undangan rupanya.
Seperti komen teman2 yang lain dan nasehat mbak Al pada Intan... Memang akan ada pintu lain yang terbuka. Selama Intan fokus dan sungguh2... Ada banyak yang bs dilakukan kelak. Pengalaman mbak Al kerja di UN tentu sedikit banyak akan membantunya membuka wawasannya.
Dgn doa, kerja sama keluarga dan kekuatan tekad Intan, aku yakin Allah akan memberikan jalanNya.

Reply

Sesuatu yang kelihatannya kurang menyenangkan belum tentu buruk pada akhirnya.
Saya dulu menyesal banget masuk STM.Selain pelajarannya full matematika juga harus kos di kota lain.
Tapi, rupanya di stulah jalan saya untuk menjadi Jenderal. Saya bisa mendaftar Akabri dengan ijazah STM Mesin.
Semoga Nak Intan kelak juga sukses dengan apa yang dimulai sekarang.
Salam hangat dari Jombang.

Reply

Belajar byk dr tulisan2 mba Al dlm menghadapi buah hati. Skg aku sdg bljr menjd shbt untuk putri dan putraku yg sdg beranjak dewasa dan remaja. Intann.. semangatt ya cantik :)

Reply

eh dl kalo IPA boleh milih yg jurusan IPS, ternyata skrg tdk

Reply

Semangat mbak Intan, masih ada pilihan yang terbaik untukmu hehehe

Reply

Cara menghadapi permasalahannya terlihat cool bgt...
Jgn sedih intan...ada cara lain menuju HI.okey!!!

Reply

Tetap semangat ya, Intan. Pasti ada jalan terbaik yang telah disiapkan Allah untuk Intan :)

Reply

harus tetep semangat... kalaupun tidak diterima di HI bisa ambil yang lainnya. Allah sudah menyiapkan yang terbaik untuk intan. fair.......

Reply

been there done that kak, gak mudah memang ngelewatinnya, tapi support dr org2 terdekat inshaAllah akan sangat membantu Intan kak :)

Reply

Semangat dek intan semua terjadi bukan karena kebetulan ,,,

Reply