Jatuh bangun dalam Kehidupan | My Virtual Corner
Menu
/
credit
Pernah merasakan jatuh bangun dalam kehidupan? Atau malah bukan hanya jatuh bangun, tapi terjerembab, terbanting dan terombang ambing dalam gelombang kehidupan?

Aku yakin semua dari kita pernah mengalaminya. Karena kita ga akan pernah tau apa itu bahagia, sebelum kita mengenal dan merasakan bagaimana rasanya duka lara. Kita tak akan pernah tau bagaimana rasanya kita berkecukupan, sebelum merasakan ketiadaan. Tak akan pernah paham akan kesuksesan jika pembandingnya [kegagalan] tak pernah menghampiri kehidupan. Tak kenal kata menyesal, sebelum menyadari bahwa jalur yang ditempuh adalah telah salah arah.  

Jatuh bangun dalam kehidupan, adalah hal yang sangat biasa. Lumrah, normal. Semua orang pernah mengalaminya. Hanya saja, cara orang dalam menyikapinya itulah yang membawa perbedaan. Yang membawa akibat yang bervariasi. 

Suatu ketika, di saat sedang terpuruk banget oleh  keadaan finansial yang mulai gonjang ganjing, seorang sahabat dekat, dalam sebuah obrolan berkata begini sobs.

"Al, my question is, berapa kali kamu pernah memanjatkan puji syukurmu kepada Allah SECARA KHUSUS, saat kamu diberi kesempatan bertahun-tahun menerima gaji puluhan juta perbulan?"

Sebuah pertanyaan yang sungguh menyentak batin tentu saja, dan langsung menyeret alam fikirku untuk merenung. Iya ya? Tak ada ritual khusus yang aku lakukan saat anugerah itu mengalir lancar. Paling yang aku lakukan adalah membagikan rezeki itu kepada ayah ibu, si adik bungsu, bersedekah ke fakir miskin dan mesjid [itupun tidak setiap waktu], menambah aset, dan jalan-jalan.

Sementara untuk sang Pemberi Rezeki berlimpah itu? There is nothing special I have performed. Bahkan untuk melakukan kewajibanku [Berhaji] pun tidak aku lakukan. Umroh  saja, yang hanya butuh kurang dari sebulan gajiku saat itu, tidak terfikirkan. Ya Allah. Benar. Tak ada persembahan khusus untukmu atas segala anugerah yang telah Engkau limpahkan itu.

Aku hanya mampu menggeleng. "Nothing. Ga ada sama sekali. Ga ada yang special." Jawabku sedih, lirih. Bagai tertampar.

"Sama Al, aku juga dulunya begitu. Jangan sedih, ada kawan kok. Hehe." Si teman malah tertawa, dan menyambung.

"My second question is, apakah disaat Allah mengujimu, memberimu cobaan seperti ini, lalu kamu akan tersungkur dan membiarkan dirimu terbenam? Padahal ini adalah ujian. Ingat lho, orang yang ingin naik kelas, harus lulus ujian. Orang yang ingin berhasil, harus berusaha untuk melewati rintangan."

Lagi-lagi aku tepekur. Sungguh benar apa yang diucapkan si sahabatku ini.

Iya, aku yakin, banyak dari kita yang langsung terpuruk, bahkan menyalahkan atau mengeluh pada Tuhan begitu menghadapi sebuah kemalangan atau keadaan yang tidak sesuai harapan. Dan mulai bertanya;

  • Tuhan, kenapa aku sampai gagal, padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga? 
  • Tuhan, mengapa penyakit ini menimpaku, apa salahku? 
  • Tuhan... mengapa Engkau coba aku sekejam ini? Padahal aku selalu berbuat baik? 
  • Tuhan, mengapa Engkau tidak adil? Engkau beri dia kesuksesan dan keberuntungan, padahal dia sama sekali tidak berbuat baik? 
  • Mengapa justru aku, yang begitu taat padaMu, malah Engkau buat melarat seperti ini?
  • Mengapa engkau beri aku pasangan yang tidak baik padahal aku adalah orang yang baik? 
  • Dan berbagai keluhan lainnya, yang mungkin membuat sepasang malaikat pencatat di sisi kiri kanan kita, jadi saling melirik satu sama lain sambil mencibir kita. 

Aku yakin, banyak dari kita yang terkadang, tanpa sadar mulai mengeluh, merasa tak adil dan tak siap saat menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan. Dan tanpa sadar pula, langsung mengeluh dan menyalahkan yang diatas. Padahal, itu adalah sebuah ujian, untuk melihat dan melatih kita agar tegar dan lebih kokoh dalam menghadapi roda kehidupan ini.

Bahwa segala sesuatunya memang telah digariskan. Bahwa untuk mencapai anak tangga ke tujuh, kita harus menaiki tangga 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 terlebih dahulu... kecuali kita memang pemain akrobat yang sanggup sekali lompat dan hap! langsung di tangga ketujuh. Tapi si pemain akrobat sekalipun, bukankah dia juga berlatih terlebih dahulu sebelum melakukannya?

Jadi... bukan bermaksud menggurui lho sobs... Sikapilah 'jatuh bangun' dalam kehidupan ini dengan sikap yang positif. Karena dengan sikap positif inilah, kita akan mampu berfikir jernih, menentukan langkah ke depan, agar bisa bangkit dari 'jatuh/terjerembab atau bahkan terbanting' sekalipun.

Bayangkan, jika cara mensikapi kita adalah negatif, maka pesimistis, iri dengki, dan berbagai sikap buruk lainnya akan langsung menjadi pendamping setia. Dan bisa dipastikan, kita akan menjadi sosok yang merugi.

So? Yuk bangkit yuk sobs! The show must go on, pelajari:

  1. Situasi [problem analysis], 
  2. Tentukan langkah [strategic planning], 
  3. Lakukan [Implementation], 
  4. Awasi pelaksanaan dengan disiplin agar tercapai tujuan [Monitoring Evaluation] dan 
  5. Bersyukurlah jika telah sampai ke tujuan [Goal].


Postingan menjelang makan siang, ga enak aja rasanya
jika belum menelurkan postingan sebelum mematikan si cantik Macsy
Semoga bermanfaat ...
Al, Bandung, 28 February 2013



36 comments

Waaaah, saya juga sering mengeluh. Prosentase mengeluh sepertinya malah lebih banyak ya, Mba.
Mari kita senantiasa bersyukur atas nikmatNya. Terus berbagi dan menebar kebaikan untuk umatNya. :)

Reply

hehehe sercara gag langsung kalau habis sholat tuh banyak ngeluhnya mbak, jadi mulai harus nentuin tujuan yaa mbak, makasih yaa mbak :D

Reply

Semua itu ada dalam hati kita mbak Al... Kebahagiaan, kedamaian, kepuasan, keindahan... semua ada di hati kita. Tak perlu mencarinya pada hal2 lain. Karena memang tidak ada ditempat lain. Ikut bahagia dengan keberhasilan teman, ikut sedih dan mendoakan kesusahan teman, adalah wujud dari rasa syukur kita pada hidup.

Sudah sunatullahnya manusia itu mempunyai sifat gelisah (QS. Al-Ma'arij 19-21), dan penawarnya pun diterangkan Allah pada surat yang sama ayat 22-33.

Suka dengan kalimat positif pembangkit semangatmu... So? Yuk bangkit yuk sobs! The show must go on... Hayuuuk mbak...! Thanks for share...

Reply

jleb,,jleb deh rasanya baca postingan ini,,

Reply

Bukan hanya kamu kok Idah... banyak dari kita pasti sering bersikap seperti itu, tinggal sekarang, bagaimana mengingatkan diri sendiri untuk bisa mengurangi secara perlahan, dan kemudian benar2 ga seperti itu lagi... setuju? :)

Reply

hehe, biasa itu Niar... normal... tapi mulai sekarang, pasti jadi ingin menguranginya dan menggantinya dengan rasa syukur thd apapun anugerahNya kan? :)

Reply

Bener mba Niken! absolutely right, sayangnya tak banyak dari kita yang menyadari ini... sehingga berusaha penuh mencarinya pada yang lain. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk yaaa.. :)

Senang deh jika dirimu senang dengan kalimat positif itu. :)

Reply

jleb...jleb deh baca komentarnya neng Alya... :)
semoga bermanfaat yaaa.

Reply

yuk lebih stabil lagi, biar gak puyeng :P

Reply

Renungan jlg mlm yg...heummmmm sgt bermanfaat.
Sya srg ngeluh mbk al tp srg jg dmarahin sm suami hehe...disyukuri katanya hehe
Okey..show must go on y mbk al...semangatttttt :)

Reply

Betul, hidup ini penuh dengan lika-liku, jatuh dan bangun bahkan harus jatuh lagi. Seperti kehidupan saya ini, tetapi memang harus berpikir positif supaya tidak hilang semangat dan harapan.

Reply

jatuh bangun aku mengejarmu... namun dirimu tak mau mengerti... #asyeeekkk...

bukan kehidupan yang tak mau mengerti kita, tapi kita yang tak mau mngerti kehidupan. So, wajar aja kita lebih sering berkeluh kesah daripada bersyukur dan berbenah diri.... :)

Nice Post, Al.

Reply

Waah mbak... terimakasih sekali postingannya sudah mengingatkan aku.
Aku setuju mbak, kita harus mampu menyikapi jatuh bangun dalam kehidupan dengan sikap mental positif.

Reply

terkadang, manusia diberi ujian agar ingat kepada Allah. Supaya nggak larut dalam kehidupan duniawi yang membutakan

Reply

aku juga suka mengeluh mbak, harus banyak2 bersyukur ya

Reply

Jleb !!! Makasih mba Al. Ngena banget... Semangat...!!! Tuhan selalu punya cara untuk kita, agar kita semakin dewasa dan selalu bersyukur kepadaNya... :)

Reply

Saya masih ababil dalam hal ini, dan bertanya tanya :/ semoga bisa terus belajar memaknai kehidupan :)

Reply

positive thinking dan tetap berusaha adalah kuncinya.. apa yang tidak membuat kita mati, akan membuat kita menjadi kuat.. begitu katanya.... :)

Reply

Makasih kembali Vi... benar! Yuk semangat karena Tuhan selalu punya cara untuk kita, agar kita semakin dewasa dan terlatih, serta selalu bersyukur padaNya. :)

Reply

hehehe...setiap kita pasti sering banget tanpa sadar mengeluh mba Hanna.... itu normal kok. Hanya saja, akan jauh lebih baik, jika kita mulaimenguranginya kan? :)
Yuk semangat yuk!

Reply

YUp, bener banget mas Basyir! kita harus tetap berfikir positif dan menjaga semangat juang. :)

Reply

Sama-2 mba Reni...
yup sikap mental positif adalah modal utama dalam menuntun kita melangkah di jalan dan alur yang benar... :)

Reply

Benar sekali mas Yitno! Trims. :)

Reply

hehe, aku juga kok mba Lid... , yuk mulai banyak2 bersyukur yuk! :)

Reply

Ga papa masih ababil, Insyaallah dengan mulai menerapkan sikap mental yang positif, nanti juga akan bisa meniti kehidupan dengan baik yaaa.. :)

Reply

Agreed with you mas Rom! Thanks :)

Reply

beh yang setongkrongan ... #manggil nama

Reply

Alhamdulillah.............mendapatkan lagi pencerahan disini.
Terimakasih banyak ya Al utk tulisan yg indah ini, yang membuatku tersadar, betapa banyaaak nikmat yg masih bisa disyukuri ditengah hiruk pikuk kehidupan yg beraneka warna dan rasa.

" nikmat mana lagi yang kudustakan?"

salam

Reply

Sama-sama bunda.... semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua ya bund...
hayo, berhenti berdusta yuk, hehe...

Reply

Hihih. .
Tumben dapat pertama nih, Mba. :D

Aku setujuuu aaah. . :)

Reply

well, nice posts mbak Ala.
saat ini banyak sekali orang menilai berkat atau berkah dari sisi finansial saja. ketika finansial terpenuhi, orang tersebut menilai ia telah memperoleh berkah itu. padahal nafas hidup, kesehatan, kekuatan, umur panjang merupakan berkah yg luar biasa yang Ia berikan.
saya setuju dengan tulisan ini, harus berfikir positif dalam segala hal, karena apapun yg manusia lakukan semuanya tidak akan pernah abadi. ada masanya, ada kalanya, ada saatnya.

Reply

Terimakasih Mba Al.
Diingetin ada yang kelupaan kemaren itu. :)

Reply

Jatuh bangun dalam kehidupan sudah sering kulalui bersama suami.
Yang penting terus bersyukur dan selalu berharap kepada Sang Pencipta.
Makasih mb Al, sudah diingatkan :)

Reply

Aahhh iya banget Mbak Al. :( Sayangnya aku gak pernah dapat gaji puluhan juta. Xixixi. Gajinya cukup buat makan.

Reply