Archive for November 2012
Menu
/ /
Sedang menikmati kepadatan lalu lintas seputaran jalan Padjajaran yang memang selaluuuu aja macet ketika sebuah sms tanpa nama hadir di layar BB.

Mi, kirim nomer rekening. Mau transfer uang sepatu dan dompet. Intan.

Oalah, ananda tersayang ganti nomer lagi nih kayaknya. Tumben ga pakai BBnya, apa paket BISnya expired?
Ok, mau ke Mandiri apa BCA? emang duitnya udah ada nak? Mandiri : 158 xxx xxx yyyy dan BCA: 043 x0x 64xy

Sent! Tak lama, sms pun berbalas dan sukses menyunggingkan senyum nyengir di bibirku. Gimana ga nyengir sobs, Intan lagi kumat becandanya. Hihi.

Oke say. Ntar sore Intan kirim ya sista cantiiiik. Hihi. 

Seketika rasa kangen terhadapnya menyeruak di dada. Duh nak, umi kangen banget sama kamu! Kubalas dengan segera.



Haha... ditunggu sista maniez. Segera lho sist, daughter is daughter but business is business. Kutambahkan icon 'tongue out' alias melet diujung smsku. Sent! Berbalas segera:

Iya Umi sayang, makanya ini mau dikirim. Kan anak Umi professional! hehe

Beberapa bulan terakhir ini, Intan memang aktif jualan online. Semua dijual, sepatu, skin BB, t-shirt, pernak pernik asesories, binder dan segala macam yang selalu bikin aku senyam senyum melihat status di BBnya yang berbau promosi setiap harinya.

Setiap hari semakin kreatif caranya menyusun kalimat promosi dan paling sering membuatku takjub. Nih anak ternyata pinter juga mengolah kata.

Misalnya nih:

Ingin tampil trendy tapi dana terbatas? Jangan sedih sist... malam ini ada sale lho di galleryku. Yuk buruan sebelum sold out! Ditunggu kunjungan sista ya, harga akan normal kembali setelah jam 12 teng! 

Aku sih tidak menghambat keinginannya untuk jualan online, karena sudah saatnya juga dia belajar memahami bahwa mencari rupiah itu tidak gampang. Tidak semudah meminta padaku seperti yang berjalan selama ini. Seperti yang diakuinya sendiri.

Mi, ternyata nyari duit itu sulit ya mi...? Mau nyari keuntungan sepuluh ribu aja kok susah kali... huft. Baru tau Intan, kayak mana susahnya Umi cari duit selama ini. Tapi Umi sih enak, gaji umi di UN kan besar! hehe. Intan mau kerja di lembaga PBB juga nanti ah. Mau ikut jejak Umi. 

Haha.... putri tercinta masih labil dalam menentukan pilihan. Aku maklum banget. Tapi memang sudah saatnya aku mengarahkannya untuk lebih mantap dalam menentukan pilihan. Harus mantap dalam melihat kemana dan ingin menjadi apa dirinya lima tahun ke depan. We will sit and discuss about that later on ya nak!

Satu hal yang aku tekankan, bahwa tugas utama Intan adalah belajar, dan tanggung jawabnya adalah mempertahankan prestasi pendidikannya. Jika sempat nilainya terganggu karena aktivitasnya ini, I will stop it directly. And Deal! Agreed. 

Seminggu yang lalu, aku mendapat paket dari 'Diamond Online Shop' dan isinya bener-bener bikin bahagia lho. Siapa coba yang ga girang dan bahagia mendapat kiriman dari putri tercintanya?

Sepasang sepatu Jelly dari Intan, dengan paket berlogo 'Diamond Online Shop', gallery onlinenya Intan.

memang sih, sepatu seperti ini di Bandung juga banyak,
tapi siapa yang memberikannya, itu lho yang bikin dia istimewa!
Nak, sepatunya udah sampe lho, dan pas banget di kaki Umi. Makasih ya sayang? Umi harus transfer berapa nih? Pesan sent from BBku ke BB Intan.

Alhamdulillah Mi kalo udah sampe dan pas di Umi. Ga usah dibayar Mi, itu hadiah dari Intan untuk Umi. Boleh donk sekali-sekali anaknya ngasih untuk Uminya. Lagi pula, kan Intan masih hutang sama Umi, nanti kalo udah pada bayar, Intan transfer uangnya kembali ke Umi ya..."

Mau bilang apa kalo sudah seperti ini sobs? Rasa haru membuncah di dada. Alhamdulillah ya Allah atas karunia indahMu ini. Semoga Intan tumbuh menjadi anak yang mandiri, sukses dan sholehah ya Allah. Amin...

catatan hati seorang ibu,
Al, Bandung, 29 Nov 2012.



Read More
/ /
Perdebatan itu mencapai ujung,
Sang surya t'lah mengalah, biarkan hujan sirami alam
Argumennya patah dan beringsut menjauh
Tinggalkan awan yang hilang kesabaran.

pict grabbed from here
Jarum-jarum kecil melesat tajam
Basahi bumi yang kian temaram
Senja t'lah menjamah
Tanah mulai basah
Masih di balik jendela yang sama,
lelaki tua itu…
Termangu dibungkus lara
Larut dalam kenangan lama
Dulu, disini, di balik jendela ini, putra tercinta abadikan hujan
Dulu, di tempat ini, putra tercinta ukir kenangan




Mata tua itu beralih ke seisi kamar…
Sepucuk kerinduan jelas tergambar,
Nak… sedang apa kamu di tempat barumu?
Sembilan bulan telah berlalu,
Lupakah kamu pada ayah ibu?

Mata itu beriak sudah
Sedu sedan memalu jiwa
Tubuh terguncang menahan pilu…
Wanita tua ikut tergugu...
Keduanya saling memeluk, tenggelam dalam tangisan sendu


pict grabbed from here
Hujan mengguyur kian deras
Empat mata kini memanas…
Dua bibir bermunajat doa..
Mengadu dan bermohon pada sang PENGUASA


Duhai Ilahi Rabbi..
Sekuat itukah diri kami?
Bebani kami sesulit ini?
Bantu kami tetap berdiri…
karena kami tak sanggup lagi…...


Hancur lebur relung hati
Porak poranda jiwa kami
Saksikan ananda yang lupa diri....

Al, Bandung, 28 November 2012



Read More
/ /
Beberapa hari ini aku kok ngefans berat sama Carlisle, itu lho sobs, salah satu tokoh di filmnya breaking down…. Hehe. Nah, saking ngefansnya, aku sampai suka masangi fotonya sebagai my BBM display tuh. Ya selain suka aja mandangin wajahnya [bukan karena bosan mandangi wajah sendiri di display lho], juga mau lihat berapa banyak response terhadap aksi ku itu, dari teman-teman yang ada di Blackberry list ku. Iseng banget yaa? hihi

Dan, seperti yang aku rencanakan, walau sempat terkendala, aku pasang foto Carl dalam beberapa pose yang berbeda dan selalu saja ada teman yang response, yang otomatis membuatku senyam senyum. Apakah aku sebegitu tergila-gilanya pada Carl? Hm…. Kasih tau ga yaaaa? Haha…
Kayaknya ga deh. Masak sampai segitunya…. Menurutku sih belum terlalu tergila-gila kok sama dia, buktinya Carl ga pernah sampai mampir ke mimpiku tuh…. Artinya batas ngefansnya masih di rata-rata aja.

Lalu kenapa sampai koleksi foto-fotonya? Ya karena suka aja. Anehnya aku ga suka ngeliat foto Carl dalam tampilan aslinya sebagai Peter Facinelli sih…. Aku hanya suka lihat dia sebagai vampirenya. Nah, berarti aku hanya suka karakter yang dia perankan donk? Mungkin sih. Yang jelas, sampai sekarang aku masih suka banget sih sama Carlisle, bukan pada Peternya. ☺

Terus siang ini, selesai makan siang, sambil nyantai, aku tukar lagi deh foto si Carl. Sambil menghitung.
 1…2…3…4

“Ting”. Aha! Masuk deh.

Anak Umi sent a message.

Hehe….
Umi udah tergila-gila sama pemeran Breaking Down

Umi pun membalas.

Hi..hi…
Iya nak… hahaha….

Anak Umi membalas,
haha…. Kok bisa mi? ganteng kali dia ya?

Umi pun membalas.

Hm.... Kasih tau ga yaaaaa? hehe
Bukan karena gantengnya nak, umi suka karakternya itu lho, baik banget sebagai ayah. Bertanggung jawab dan selalu melindungi keluarganya.

Terlihat Anak Umi is writing di layar BBku. Agak lama baru muncul dan membuatku miris.

Ga kayak ayah ya mi? ga ingat pun dia sama Intan lagi... untung ada papa... 

Ups! Aku melakukan sebuah kesalahan. Hatiku mendung seketika. Aku sama sekali tak ingin mengingatkanmu pada ayahmu nak. Sungguh. Segera kukebut jemariku, menari di atas keypad mungil dan memfungsikan kuku-kuku jemariku agar kecepatan geraknya lebih cepat.

Sayang.... Kan Anak Umi punya Umi yang sangaaaat menyayangi Anak Umi. Punya papa yang juga sayang sekali sama Anak Umi. Punya mami dan abuchik serta Oom-2 yang menyayangi Anak Umi. Ya kan? 

Kunanti jawaban dari sana. Dan hanya dua patah kata.

Iya sih. 

Kukebut lagi jemari ini menciptakan kalimat untuknya. Mendung ini ga boleh dibiarkan bercokol terlalu lama. Intan sedang di sekolah dan ga boleh membuat mood belajarnya padam hanya karena hal ini.

Sayang, mungkin ayah sedang sibuk, ga boleh berprasangka buruk ya nak. Coba lihat sekeliling kita. Masih ada anak-anak yang malah ga punya ayah ibu lagi. Masih ingat kak Bulan? Yang hidup seorang diri? Ga punya siapa-siapa lagi? Kita harus bersyukur dengan karunia yang Allah berikan kepada kita. Intan masih punya Umi, punya papa, punya mami, abuchik, Oom-2 yang hebat.... yuk kita bersyukur atas semua ini yuk nak. Dan kita berdoa semoga Allah memberikan petunjuk dan bekahNya bagi ayah. Umi yakin, kalo ayah punya uang, sehat dan bahagia hidupnya, pasti akan datang melihat anaknya ini.... yuk kita doakan dia yuk....

Kusaksikan Anak Umi is writing kedap kedip. Banyak kalimat yang ditulisnya mungkin. Atau malah ketik hapus ketik hapus yang sedang terjadi di seberang sana. Kunanti dengan sabar. Hingga akhirnya....

Iya mi, Intan bersyukur diberikan ibu terbaik seperti Umi. Makasih ya Mi. Love you so much. Muaaach.

Kusunggingkan senyuman. Sejuk hati ini. Mendung ini harus segera dihalau. Kupancing cerianya.

Nak, Umi jadi ingat Intan saat ngefans berat sama smash dulu. Pasti rasanya seperti yang umi rasakan saat ini yaaa? hehehe..... dulu Intan kan suka kali koleksi foto-2 mereka tuh. ternyata umi sekarang kena batunya. hehe....

Kukirimkan foto ini ke BB Intan, dan....

pict grabbed from here
Response tercepat yang pernah kudapat.

Hehehehehhehehe....... iyaaaaaa! tulah Umi
Dulu ngejek2in Intan, sekarang kena batunya. Rasain. Disertai icon melet.

Aku tersenyum. Riang hatiku. Kubayangkan putri tercinta senyam senyum di ujung sana. Kangen kamu sayangku. Semoga kamu sehat selalu di sana ya nak...

Mi... Intan mau masuk kelas dulu ya... ada ujian Matematika nih.... 

Segera kubalas, Ok sayang, good luck ya nak, wishing u all the BEST! jangan lupa Bismillah ya nak.

Ok Umi sayang, I will, thanks mom!

Aku pun kembali ke laptop dan melanjutkan pekerjaan hingga 45 menit kemudian...

Sebuah icon mewek sebanyak tiga buah nangkring di layar BBku. Dan aku paling was-was kalo Intan sudah mengirimkan icon ini. Ada apa ya Allah? Ga bisa ujiannya?
Segera kukebut lagi jemari ini, menampilkan sebaris kalimat.

Ada apa nak? Kenapa? what's up?

Icon menangis nangkring lagi, kali ini lima buah. Oh my God. Ini pasti serius. Aku makin was-was.
Kunanti lanjutannya tanpa berkedip.

Intan benci kali pelajaran mengarang mi! Bahasa Indonesia Intan untuk mengarang cuma dapat 77. Huh! Icut dapat 82. Intan sebel kaliii. Gimana nih caranya biar bisa mengarang? Ajarin mi....

Oalah, hanya karena dapat 77 untuk pelajaran mengarang toh? :)

Sayang..... setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Masih ingat kan cerita Umi, tentang plus minus? Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Nah, kelebihan Intan selama ini Umi lihat adalah dalam hal science alias eksak. Hitungan. Itu sudah bagus. Tinggal dipertahankan jangan sampai menurun. Malah harus ditingkatkan. 

Untuk kelemahannya, jangan takut. Anak Umi masih mudaaaa... masih panjang jalan dan kesempatan untuk melatih diri. Makanya Umi sering menyemangati Intan untuk rajin menulis kan? Kenapa? Supaya terlatih. Coba lihat pelajaran bahasa Inggris, atau bahasa apa pun. Sepinter apa pun kita menguasainya, kalo tidak kita gunakan, tidak kita latih, bahasa itu akan terlupakan. Kita akan lupa.

Begitu juga dengan menulis. Harus dilatih. Harus diasah. Kurang Ide? Coba Intan baca lagi obrolan kita ini.... Panjang banget kan? Nah, coba nanti malam Intan tulis kembali obrolan ini di word. Terus disusun membentuk paragraf, dan Intan pasti akan takjub, ini bisa menjadi sebuah karangan/cerita lho. Tinggal di poles sana sini biar lebih indah. 

Kutunggu response atas paragraf ku yang begitu panjang. Agak lama baru muncul responsenya.

Iya juga ya mi.... Umi kok gampang banget sih? Otak kanan Umi aktif banget yaaa? Hehe... Kreatif! Intan ingin seperti Umi.... Nanti malam Intan coba ah mi....

Kujawab dengan segera.

Hehe, iya donk. Umi siapa dulu? Mengarang itu mudah nak. Tinggal tuliskan apa yang ada di dalam pikiran kita. Yang paling penting adalah, rajin-rajin membaca tulisan-tulisan orang lain. Makanya Umi rajin kali belikan Intan buku bacaan, ya untuk memancing minat Intan menulis dan membaca... sayangnya, Umi lihat buku-bukunya pada berdebu tuh.

Kuimbuhi akhir kalimatku dengan sebuah icon mengejek/melet.

Intan tertawa, guling-guling.

Iyaaaa mi, ntar Intan mau rajin membaca dan belajar menulis deh. Mi, makasih for always be with me, anytime I need you. Love you so much mom! Muaaaach...muaaaach untuk Umiku sayang. Intan mau jajan dulu yaaaa.... bye Mi....

Alhamdulillah keceriaannya telah kembali. Lindungi dan berkati Anak hamba senantiasa ya Allah.

Oke sayang, Umi juga sayaaaang banget sama kamu nak. Love u so much, as always! yo wes, sana jajan gih. Jangan banyak saos lho, ntar amandelnya kumat!

Oke Boss! Dan aku kembali ke Macsy yang begitu setia di atas meja. Ketak ketik lanjutkan pekerjaan. Ada rasa plong di dada ini menemukan kembali keceriaannya.




Read More
/ /
Hari-hariku terasa begitu padat sejak Kamis pagi hingga Senin pagi ini....
Menguras energi sudah pasti, tapi herannya sama sekali tidak menguras apalagi melelahkan pikiran. Heran banget deh. Meski lutut ini rasanya sudah seperti akan lepas dan persendiannya terasa begitu penat tapi tetap aja perasaan senang dan bergairah masih begitu bergaung di dalam dada.

Tapi coba jika kesibukan atau aktifitas itu adalah berkaitan dengan urusan pekerjaan kantor, organizing, meeting, persiapan laporan, sudah bisa dipastikan, efeknya adalah lelahnya badan dan pikiran akan satu paket dan meskipun memberikan rasa lega kala urusan beres, tetap aja badan dan pikiran akan butuh alokasi waktu untuk dipulihkan. Bener ga sobs?

Dikunjungi oleh sahabat yang juga adalah mantan anggota teamku di kantor lama, adalah sebuah kebahagiaan. Keinginannya untuk singgah di tempatku [walau hanya di sebuah kamar kost], adalah bukti nyata bahwa dia menempatkan diriku sebagai kakak dan sahabat, bukan hanya sebagai seorang mantan supervisor. Maka, mulailah aku menyusun rencana untuk menerimanya dengan baik dan menjadi host yang mengesankan. :D

Empat hari yang menakjubkan pun dimulai dengan menjemputnya di Bandara pada Kamis [22 November 2012] menjelang siang, disambut dengan guyuran hujan deras yang membuatku basah kuyup karena lupa membawa payung dan hanya mengandalkan angkutan umum. Hujan deras sedikit membelokkan niat kami untuk tetap menggunakan angkutan umum [angkot] sebagai satu-satunya transportasi yang kami ijinkan untuk kami jalani. Sahabatku Icut, juga ingin merasakan nikmatnya traveling ala backpackers [hehe, Icut teracuni olehku, yang bercerita padanya bahwa menjadi backpackers itu sangat menantang lho. Ada rasa puas di hati kala kita berhasil menikmati sebuah trip, dengan modal kecil tapi jangkauannya luas dan menyenangkan]. 
Hujan deras, memaksa kami untuk menggunakan taksi menuju tempat tinggalku. Barulah kemudian petualangan kami mulai dengan berangkot ria ke kantor.

Yes, kedatangan Icut di hari kerja, otomatis membuatku mengajaknya ikut ngantor. Toh nanti di kantor Icut bisa berselancar dulu di dunia maya sambil menunggu aku selesaikan tugas-tugasku. Baru kemudian, di malam harinya, acara selanjutnya dilanjutkan dengan nonton bareng di XXI nya BIP. Teman-teman kantorku menyambut Icut dengan hangat dan baik [thanks guys!] dan dengan penuh keakraban kita nonton 'Breaking Dawn' yang sedang heboh-hebohnya itu. Barulah setelah itu kita menutup malam dengan istirahat di kamar kost ku yang 'nyaman'. #Ngelirik Icut sambil bertanya, 'nyaman ga sih? kayaknya jauh lebih nyaman yang di Banda yaaa? hihi' 

Hari kedua, Jumat, Icut memutuskan untuk ikut ke kantor lagi, karena takut nyasar jika harus jalan-jalan sendiri keliling kota Bandung. Baru sore harinya aku dan Icut jalan-jalan lagi, diantar oleh temanku Asep ke Cihampelas. Keluar masuk Factory Outlet nyari jeans yang ndilalahnya ga ketemu yang pas. Aku sendiri sih udah niat di hati untuk ga beli apa-apa. Kan aku udah jadi orang Bandung, masak iya masih ngiler juga setiap lihat barang bagus di FO? Ih!

Dikira Kere

Satu kejadian unik yang bikin aku dan Icut tersenyum sendiri adalah saat kami memasuki toko yang menjual aneka jaket/coat berbahan kulit. Di dalamnya beberapa bule cowok sedang memantas-mantaskan jaket di tubuh mereka. Dua pelayan sedang melayani mereka. Seorang pelayan lagi terlihat cuek banget saat kami masuk. Melirik pun tidak! Aku anggap saja si pelayan mungkin sedang sibuk atau tidak melihat kami masuk.

Larak lirik, lihat-lihat, akhirnya aku tertarik pada sebuah coat yang memang keren banget [padahal tadi udah niat untuk ga tertarik apalagi beli-2]. Berwarna coklat. [Sebenarnya aku ga begitu suka pakaian berbahan kulit, tapi yang ini emang keren banget]. Si mba pelayan belum juga menyamperi kami. Akhirnya aku bawa coat itu ke si mba nya dan tanya harganya. Kulihat dua mba yang sedang melayani para bule, cengengesan ga ngerti apa yang ditanyakan si bule.

"Teh, ini berapaan ya?" tanyaku. Si mba melirik dan menjawab.
"Delapan ratus lima puluh ribu." Cara menjawabnya itu lho! Sepele banget. Apa penampakan kami terlihat begitu kere ya? hihi. Aku sempat berfikir, kayaknya nih orang bukan asli orang sini deh. Gaya bahasa dan pembawaan orang Sunda yang aku kenal begitu santun dan lemah lembut. Tidak memandang rendah orang lain. Kulirik Icut yang tersenyum padaku.

"Ada warna lain teh? masih bisa kurang?" aku tanya lagi sambil menekan sebuah rasa khas yang menghangat di dada.

"Harga pas teh, kulit asli makanya mahal." Jawabnya datar, kemudian melihat ke layar hapenya. Ketak ketik sepertinya chatting atau balas sms. Ih, nih anak kalo dilihat bosnya apa ga akan dipecat kalo seperti ini melayani calon pelanggan?

Kulirik Icut, yang masih menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Sambil memantaskan jaket itu ke tubuhku, aku berujar ke Icut, tapi sengaja memperdengarkan suaraku pada si mba nya.

"Kalo warna maroon cantik nih ya Cut? Tapi susah banget cari yang maroon. Delapan ratusan mah masih murah banget yaaa? Masih sisa dua ratus ribuan kalo dihitung uang perjalanan dinas kita sehari. Hehe. Teh, warna merah maroon ada ga?"

Aku tahu pasti, warna yang aku cari itu memang langka banget, dan yakin bahwa di toko ini ga akan ada. Jadi so pasti aku ga akan harus membelinya. Hehe. Ternyata memang bener sobs, ga ada yang warna maroon. Siplah, karena aku ga rela rasanya belanja di tempat yang penjualnya suka under estimate gitu! Kami pun melangkah berbarengan para bule keluar dari toko itu. Para bule juga ga beli apa-apa tuh ternyata. :D

Malam kedua kami akhiri setelah menjelajah Cihampelas Walk serta makan malam di salah satu resto nya. Hari selanjutnya, Sabtu, otomatis menjadi hari penuh kebebasan karena aku ga harus ngantor. Jadi bisa full untuk menemani sang tamu. Rencananya Icut mau cari oleh-oleh di Pasar Baru. Tapi sebelumnya aku sempat chat dulu dengan Nchie Hanie, yang sekarang ini berkantor di ITC. Jadinya mampirlah kami di ITC sebelum melanjutkan dengan angkot lainnya menuju ke Pasar Baru.

Yang paling kiri pasti udah pada kenal semua kan sobs? Yes, Nchie, Icut dan akkkyuuu. 
Nah, baru setelah dari kantornya Nchie, perburuan oleh-oleh pun dimulai. Jangan heran sobs, Icut yang baik hati ini... punya 20an keponakan, dan 6 kakak/abang. Jadi kebayangkan berapa kardus tuh oleh-2nya.... hihi. Perjalanan ini belum berakhir sampai disini lho sobs, karena malam harinya kami masih mengagendakan untuk nongkrong makan jagung bakar yang di dekat Holiday Inn itu tuh. Barulah setelah itu malam ketiga ditutup dengan istirahat sampai pagi. Jangan ditanya betapa nyenyak tidur kami setelah seharian kaki ini lelah menjelajah. Bahkan ga sempat mimpi karena pagi rasanya cepat banget menyapa....

Hari keempat, agenda penuh menanti. Pagi hari ke Gasebu [pasar kaget yang adanya hanya di hari Minggu]. Ingin donk aku tunjukkan ke Icut tentang pasar itu. Dan ternyata sobs, Icut nambah oleh-oleh lagi! Ya ampun! Persis aku kalo sedang jalan-jalan nih. Untungnya aku sedang tidak jalan-jalan dan sudah jadi orang Bandung. Walau ga bisa dipungkiri, aku tergiur beli [borong sih tepatnya] beberapa asesories. Hihi.

Siangnya, kami lanjutkan perjalanan ke Parongpong. Mengunjungi seorang sahabat blogger yang berdomisili di sana. Pada tahu donk siapa sohib yang satu ini? Yes. Teh Dey- Ibunya Fauzan.
Yes, kami ke Parongpong lho. Dan naik apa coba sobs? Teteup! Naik angkot. Setelah mendapatkan arahan dari teh Dey dan Asep  [teman sekantor] tentang arah dan angkot yang menuju ke Parongpong, aku pun dengan pede mengajak Icut kesana. Tapi tidak lagi mengikuti arahan teh Dey atau Asep. Hihi. Kami malah mengambil jalur lain sesuai arahan si supir angkot pertama [untuk ke Parongpong harus menggunakan beberapa angkutan umum]. Dan Alhamdulillah, ga sampai satu jam perjalanan, kami telah tiba di sana lho sobs. Amazing! Ternyata, ga harus punya kendaraan pribadi untuk pergi ke suatu tempat yang jauh. haha.

Icut sampai takjub, karena baru kali ini bepergian keluar daerah, dan kemana-mana nekad naik angkot. Bahkan ke daerah yang belum pernah dikunjungi sekalipun, hanya berdua, bermodalkan tanya sana tanya sini dan google maps di android yang setia di tangan. Wow!
Ternyata berjauhan dengan Gliv membuatku mandiri! haha. Tak bermaksud melupakanmu lho Gliv, tapi membawamu kesini itu perlu perhitungan. Sabar yaaa.... !

Kami pun disambut hangat oleh Teh Dey, disuguhi batagor dan bajigur yang hangat. Hm... nikmat. Baru setelah itu kami memulai petualangan kecil-kecilan di daerah dingin ini. Udaranya sejuk banget sobs! Asyik dan asri. Pas pula dibarengi gerimis. Hm... serasa kembali ke masa kecil, bisa bermain-main hujan.

Dengan berjalan kaki, kami bertiga [Aku, Teh Dey dan Icut] menuju kebun bunganya Mama Krisna [temannya teh Dey] yang langsung membuat mataku segar. Indah banget bebungaan yang ada di sana sobs! Sayangnya aku ga bisa membawanya pulang karena susah kalo harus naik angkot. Padahal ada satu pot dedaunan berwarna kuning yang ingin aku letakkan menghias meja kerjaku... hiks..hiks.

Icut di kebun bunga Mama Krisna
Tak hanya berkunjung ke kebun bunga yang menawarkan keindahan dan kesejukan di mata, kami juga berkunjung dan menyempatkan diri memetik sendiri buah stroberry lho.... sayangnya, buah stroberry nya dikit banget! Dan beberapa malah sudah membusuk karena keseringan kena air hujan. Tapi tak apa, yang penting kami sudah tau bagaimana cara memetik si buah imut berwarna merah itu.

Perjalanan belum selesai lho sobs, teh Dey masih mengajak kami main ke pusatnya Tahu lembang. Dan bisa melihat sendiri bagaimana Tahu lembang di produksi. Juga kemudian kami bisa mencicipi nikmatnya si tahu lembang. Ternyata rasanya memang jauuh lebih enak lho dibandingkan tahu-tahu lainnya. Mungkin karena tambahan susu murni dan keju itu yaa....

Senja telah memeluk bumi Lembang kala kami permisi. Sebuah angkot membawa kami kembali ke kota Bandung, dilepas oleh senyuman manis teh Dey dan bapaknya Fauzan. Hm... Thanks a lots ya teh untuk keramahtamahannya... we do appreciated it!

Well sobs! Hari yang panjang, tapi perjalanan belum berakhir lho. Satu agenda lagi telah menanti. KopDar dengan Nchie, Kang Argun, Ama [teman kantor] di Dago, makan jagung bakar lagi. Hehe. Aku sampai heran. Kok beneran seperti gasing ya aku hari ini? #Lirik Mba Niken yang tadi berkomentar di BBGroup. Haha.
Untungnya aku ga pusing setelah berputar-putar seperti gasing itu. Hihi.
Barulah setelah nongkrong lebih dari satu jam-an di Dago, ngobrol aneka topik dengan sahabat baru [kang Argun], Nchie dan Ama, kami sama-sama memisahkan diri. Saking capeknya, aku dan Icut terpaksa mematahkan niat untuk tetap berangkot.
Cukup sudah naik turun angkot sampai 11 kali hari ini. Pulangnya naik taksi aja biar cepat sampai. Dan sampai di rumah, aku biarkan Icut packing sementara aku setelah cuci muka, ganti pakaian langsung masuk selimut. I am so sleepy!

Pagi ini, jam 6 an kami telah di taksi menuju stasiun Bandung. Icut akan melanjutkan perjalanan ke Yogya. Melanjutkan traveling dan refreshing, mengisi masa-masa indah penganggurannya. [Icut baru selesai kontrak kerja di UNDP September kemarin, jadi saat ini sedang benar-benar enjoying her holiday sebelum memutuskan bekerja kembali.]

Well Cut, selamat melanjutkan liburan ya, dan here I am now, working on my desk.
Postingan ini ditulis di sela-sela makan siang lho sobs! Met makan siang and Have a great Monday yaaa!

Saleum,
Al, Bandung, 26 November 2012

Read More
/ /
Dua hari ini dikejar kesibukan yang membuatku ga sempat untuk melanjutkan postingan tentang catatan perjalanan kami ke Dieng. Ditambah ada tamu dari Aceh, yang sedang main dan menginap di kosan... jelas membuatku ikutan keasyikan jalan bahkan nonton bareng the "Breaking Dawn 2" yang sedang top-topnya. Makin keasyikan deh akunya, dan terpaksa menunda update tentang lanjutan kisah perjalanan wisata bareng Rie, Una dan Idah kemarin itu.

Ga papa kan sobs? Ntar pasti dilanjut lagi deh, dan taukah sobats, akan ada banyak informasi seputar wisata ke Dieng di lanjutan postingannya itu nanti lho. Beneran, tapi sabar dulu ya sobs. Lagi asyik reunian sama mantan kolega yang juga adalah sohib waktu di kantor lama kemarin nih.

Sore ini, malah kami merencanakan untuk jalan merambah kota Bandung lagi deh ini, sayangnya hujan sepertinya kebelet banget untuk menghambat langkah kami. Dikiranya kami takut akan rinai dan rintiknya tuh... Tidaklah yau... Kan baru hujan air... jadi jalan-jalan mah lanjuuuut... hehe

Ok sobs, tulisan ini hanya sekedar say hello untuk sobats tercinta, yang mungkin saat berkunjung kesini, masih mendapati tulisan yang sama dan belum ada updatenya. Jadi inilah sekilas info dan waktu yang tepat untuk menyapa sobats semua, sebelum diriku beranjak lagi, meninggalkan Macsy dan sudut maya tercinta ini...

Oya sobs...
tentang "Breaking Dawn", udah pada nonton belum? Hayoo atuh ditonton. Seruuu abis. Aku suka banget!
image grabbed from here
image grabbed from here
Makin cinta deh sama Carlisle! Wishing to have a man like him! Vampire! Hahaha... kabur sebelum dipelototi suami tercinta. Tapi mas, I love his character a lots! hehe.

Well sobs, have a nice afternoon and nite yaaa...

Saleum,
Al, Bandung, 23 November 2012

Read More
/ /
Postingan sebelumnya bisa dibaca disini

Siapapun pasti sepakat bahwa mendaki gunung atau hanya sebuah bukit bukanlah hal yang mudah. Itu juga yang aku dan teman-teman alami saat kami harus membujuk kaki-kaki kami menaiki jalanan terjal menuju puncak bukit Sikunir. Namun dari awal, aku telah mensugestikan alam fikirku bahwa bukit Sikunir, yang terletak di desa Sembungan dan diklaim sebagai desa tertinggi di pulau Jawa,  dengan ketinggian sekitar 2400 mdpl itu, tidaklah akan setinggi mendaki gunung Sibayak, Brastagi, yang pernah aku taklukkan dulu.

Namun sobs, sugesti tinggallah sugesti, sungguh tak berdaya diri ini. haha. Baru sepuluh menitan melangkah, di tengah udara dingin yang menyergap tubuh dan desahan napas yang mengepulkan asap putih/kabut, helaan napas ini kok semakin memburu. Ngos-ngosan. Dada terasa sesak. Duh, sudah demikian menurunkah staminaku di usia 40an ini? Ih, ga banget deh Al! Malu-maluin! Kucoba mengatur napas seteratur mungkin, malu donk sama Rie, Una dan Idah. Masak baru sebentar mendaki napasku sudah seperti ini?

Eits, tunggu dulu. Nampaknya aku tidak sendiri lho sobs. Rie dan Idah juga mengalami hal serupa. [Asyik, ada temen! Haha...] Kuperhatikan mereka yang juga ngos-ngosan, dengan tenggorokan terasa mengering. Padahal udara sekitar jelas dingin banget! Tak salah lagi, ini pasti karena kami tak pernah berolah raga! [bukan kurang, tapi ga pernah, bukan begitu Rie? hehe].


Salutnya, si kriwil Una, dengan bobotnya yang lumayan kok malah bisa melaju kencang dan gesit. Meninggalkan kami [aku, Rie dan Idah] jauh di belakang. Biarinlah, aku maklum, si kriwil tentu tak ingin melepaskan sang mentari beranjak pergi sebelum dia mengabadikan proses pembagian cahaya pagi oleh sang matahari ke segala penjuru bukit. Sunrise! Bukankah itu yang sedang kami kejar?

Menyadari itu, kulangkahkan kaki agak lebih cepat. Kurasa Ririe juga berfikir serupa, hingga langkah kami selalu bersisian. Berbaur dengan orang-orang lainnya, yang datang dari berbagai tempat, dengan aneka latar belakang untuk tujuan yang sama. Menyaksikan indahnya sunrise di punggung bukit Sikunir yang telah begitu tersohor itu. Maafkan kami ya Dah karena terpaksa meninggalkanmu bersama orang-orang lainnya. :D

Maka, tak pedulikan lelah yang hendak menghambat langkah, kami pun terapkan keep moving mode on, untuk tetap berjalan. Mencoba ngobrol dan bercanda dengan orang-orang sekitar kami hingga tak terasa cahaya indah itu terpampang di depan mata. Masyaallah..... Indahnya....  [walau kami tak sempat melihat keindahan yang jauh lebih indah, yang Una sempat saksikan karena dia lebih dahulu tiba di puncak bukit ini].


Bagiku, menyaksikan pemandangan seindah ini, sudah lebih dari cukup untuk serta merta menghapus lelah akibat pendakian tadi. Sungguh indah kreasimu ya Rabbi. Beruntung aku dan teman-teman diberikan kesempatan dan kekuatan untuk mencapai puncak bukit ini. Alhamdulillah. Dan selanjutnya sobs... Mungkin biarkan foto-foto dibawah ini mewakili riangnya hati berada di puncak bukit, yang terletak di sebuah desa tertinggi di pulau Jawa. Yes. Bukit Sikunir, di desa Sembungan, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Taraaaaa.....





dan giliran narsis dewe-an

duh, rasanya seneeeeeng banget punya kesempatan berdiri di atas batu seperti ini deh sobs. Nah arah ke belakang itu adalah jurang. Sereeeem sih kalo noleh ke belakang, dan aku kan fobia ketinggian, makanya ga mau lihat ke belakang deh.... 

Mencoba menampung cahaya... hehe
Well sobs, masih banyak sih foto-foto lainnya, tapi harus tau diri donk aku, masak mau dipamerin semua, ntar ada yang iri lho! #lirik seseorang yang terbelenggu di belantara Kalimantan sonoh. Hihi...

Setelah menikmati indahnya pemandangan dan bersantai melepas lelah, eh iya, di atas bukit ini, ada penjual minuman lho. Ada milo, kopi, teh dan mie instant. Aku sih memilih teh manis panas seperti ini nih sobs.

Hehe.... narsis lagi deh nih si Al!
Setelah puas menikmati minuman dan beraksi di depan kamera, kami berempat pun memutuskan untuk mengakhiri petualangan di bukit Sikunir. Tanpa beban pastinya. Kan pekerjaan menurun tidak sesulit mendaki, iya toh sobs?

Etapi, sebelum itu, ada sebuah 'object' yang begitu menarik minat salah satu anggota tim [siapa hayooo? hihi] untuk berfoto bersama. Emang sih, 'object' yang satu ini ga bisa dibilang jelek. Bisa dibilang rabun lho mataku kalo aku bilang mereka jelek, terutama si yang satu itu tuh....  Penasaran 'object' apakah itu? 
Yuuuk.....

Well sobs, catatan perjalanan ini rasanya udah panjang banget deh, mudah-mudahan sobats semua ga bosan mengikuti kisah pendakian ini ya... Satu hal yang perlu diingat, bahwa jika ingin mendaki, siapkan stamina yang prima. Dan jangan terlalu memaksakan diri bagi yang merasa udah ga kuat lagi. Ntar bisa pingsan seperti ibu-ibu itu lho! Idah sempat melihat seorang ibu yang jatuh pingsan karena kelelahan mendaki. Mungkin si ibu juga mengidap penyakit jantung sih. Harusnya daerah seperti ini menyediakan posko kesehatan sih, jadi bisa mengantisipasi jika ada hal-hal seperti ini.

Seperti biasa, kita tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menuruni bukit. Cepat dan gampang, apalagi dengan hati yang puas dan dijalani sambil ngobrol santai. Sampai deh ke area parkir yang juga menyajikan pemandangan indah seperti ini nih.


Udah ah... asyik upload foto aja nih jadinya. Nantikan kisah petualangan berikutnya ke Candi Arjuna dan daerah wisata lainnya di dataran tinggi Dieng ya sobs! Dijamin seru lho!

Saleum,
Al, Bandung, 21 November 2012








Read More
/ /
Postingan sebelumnya ada disini

Kamis, 15 November 2012, sore menjelang malam.

Hari ini, perjalanan yang memakan waktu sekitar 12 jam pun di akhiri dengan berhentinya si badan besar berlogo Sinar Jaya di terminal Mendolo. Perjalanan yang menurut temanku sih termasuk lama [dari jam 6 pagi dari kota Bandung dan sampai di jam 6 malam]. Tak heran, karena sepanjang jalan,  berbagai karnaval menyambut tahun baru Hijriah membuat jalanan semakin ramai. Deretan anak-anak dan para guru, berbaris membuat jalanan semakin berwarna. Asyik juga sih, namun ya itu tadi, efeknya adalah molornya jam ketibaan [halah, kayak bahasa negeri jiran aja deh] kami ke meeting point. Untungnya Ririe belum sampai. Jadi aku dan Una bisa menunggu sambil makan, sejak pagi kami berdua hanya makan cemilan yang kami bawa dari rumah.

Namun ternyata sobs, terminal yang satu ini tak seperti harapan dan jauh dari bayangan. Suasana sepinya saat kami menjejakkan kaki di atasnya, langsung memadamkan angan untuk bersantai ria sambil mencicipi aneka makanan [yang biasanya] tersedia di warung-warung terminal. Celingak celinguk aku dan Una mencari warung yang masih buka, namun tak satu pun yang sesuai harapan. Ada sih beberapa kios yang masih buka, tapi mereka hanya menjual minuman botol, aneka oleh-oleh atau penganan berkemasan. Bukan makanan pengisi perut [baca: nasi dan lauk pauk atau mie dan sejenisnya]. Ya sudahlah....

Mencari toilet adalah tujuan selanjutnya. Setelah melepas hajat, kami pun ber-sms dengan Ririe yang ternyata masih jauh. Maka berkelana lah kami menjelajah terminal, mencari warung/kios yang mungkin menyediakan mie instant. Dan Alhamdulillah, ada sebuah warung yang ditunggui oleh pemiliknya yang ramah. Si ibu segera menyiapkan pesanan yang kami minta. Dua gelas teh manis hangat dan sepiring mie instant rebus. Una masih memilih melihat dulu tampilan mie rebus pesananku, baru nanti akan bereaksi selanjutnya. :)

Terus terang, seumur-umur, aku baru kali ini mendapati sebuah terminal yang sepi seperti ini. Bagai tak ada tanda kehidupan. Di sudut sana, terlihat beberapa tukang ojek yang sedang duduk-duduk. Mie rebus yang terhidang, terkesan nikmat, dan tentu segera kulahap donk. Enak, lumayanlah, walau sebenarnya aku sedang diet mie instant. Apa boleh buat, dalam situasi no other option, pantangan bolehlah dilanggar. :)

Una ternyata juga berminat akan mie nya, tapi minta yang versi gorengnya. Dan terus terang juga menggelitik saraf lapar di dalam perutku menatap mie gorengnya itu. Oya, sambil menikmati mie kami, Una dan mas Stumon sempat chat. Makasih ya mas, telah menemani kami dalam masa penantian [Ririe]. Sayang banget dirimu ga ikut serta ya mas! #Jangan melotot iri gitu donk ah!

Selesai makan, saatnya warung di tutup dan kami dipersilahkan [atau diusir ya? hehe] untuk duduk menanti di luar warung saja.


Ini terminal apa apa ya? Sepinya ini lho!
Dan mulailah kami dikerubuti oleh para tukang ojek begitu kami duduk-duduk di bangku panjang ini.  Sedikit memaksa agar kami menggunakan jasa mereka saja untuk diantar ke tempat tujuan. Namun bujukan itu terhenti dengan sendirinya saat kami katakan bahwa kami sedang menanti jemputan dari Barjarnegara.Oya, Idah Ceris yang tinggal di Banjarnegara, juga memutuskan untuk bergabung dalam perjalanan ini. Asyikkk! dan kami jadinya ngerental mobil tetangganya Idah. Makasih ya Dah... Jadi lah kami menanti Idah dan Ririe, di terminal yang sepi ini.

Sambil menanti, aku ingatkan Una untuk cek kembali penginapan Gunung Mas yang telah di booked Una kemarin. Olala, ternyata, karena kami belum sampai di mereka hingga sore hari, mereka telah lepaskan kamar yang telah kami pesan itu pada orang lainnya. Gile bener. Mau marah tapi ga ada gunanya. Menggunakan Laxy, kamipun browsing penginapan-penginapan lainnya. Semua penginapan yang ada di jalan utama telah penuh dan sungguh membuat kami kecewa. Masak ga jadi nginap di Dieng? Kan besok mau berburu sunrise?

Hingga akhirnya, seseorang dari penginapan yang kami dapati dari internet, menjanjikan akan mencoba cari penginapan/homestay yang agak jauh dari jalan utama. Tak apa, yang penting dapat! itu yang ada di pikiran kami saat itu, dan sungguh berharap si 'seseorang' itu dapat membantu. Hingga beberapa belas menit kemudian, si orang tersebut berhasil mendapatkan sebuah kamar di homestay bernama Mawar Putih. Review penginapan bisa di baca di postingannya Idah Ceris yang ini. Mungkin untuk pembelajaran juga bagi teman-teman yang akan ke Dieng, pastikan penginapan yang telah di book tidak dilepas ke orang lain, yaitu dengan menghubungi kembali si pemilik penginapan, menginformasikannya bahwa kita tetap akan menginap disana, hanya akan terlambat tiba karena sesuatu hal. Kesalahan kami adalah, bahwa kami tidak mengabarinya lagi setelah booking kemarin. :D

Dua jam berlalu, aku dan Una sudah lelah juga mandah sana mandah sini di terminal itu, hingga akhirnya Ririe telefon, menanyakan posisi kami. Dia telah sampai namun tidak melihat keberadaan kami. Bergegas kami menyamperinya, yang ternyata berada di pintu gerbang masuk terminal. Mobil travel yang ditumpanginya menurunkannya di pintu gerbang itu, sementara kami menunggu di warung dekat pintu gerbang keluar.

Berjalanlah aku dan Una ke pintu gerbang masuk, dan gembira rasanya mendapati si nona cantik ini telah berdiri disana. Peluk-peluk pun terjadi. Gembira rasanya berhasil mengubah pendiriannya. hehe.
Kemarin memang Ririe memutuskan untuk tidak jadi ikutan dalam misi ini, karena pekerjaan kantor yang seabrek sudah menantinya di Senin ini.... namun berkat rayuan dan negosiasi [yang kata Ririe maut banget], aku akhirnya berhasil mengubah keputusannya, dan membuatnya hadir disini. Walau untuk itu, Ririe harus menempuh perjalanan yang teramat panjang [mungkin nanti bisa dibaca di postingan Ririe tentang hal ini].

Tiga anggota pasukan telah hadir, tinggal menunggu anggota terakhir yang sebenarnya berjarak paling dekat dari daerah tujuan. Yup, nungguin Idah lah kami sambil bercengkerama di pinggiran taman, dekat pintu gerbang. Beberapa kali sang satpam terminal menawarkan gardunya untuk kami tempati, katanya lebih hangat dan ada kursinya. Namun kami dengan sopan menolaknya. Bukan apa-apa, rasanya lebih enak duduk di tempat terbuka, jadi nanti Idah akan gampang menemukan kami.

Akhirnya yang dinantipun tiba. Idah dan Xenia serta sopirnya. Aha. Saatnya melanjutkan perjalanan donk! Tapi Una masih minta diantarkan ke atm terlebih dahulu, dan kami memutuskan untuk belanja beberapa makanan cemilan saja daripada berhenti di warung yang juga susah didapati karena waktu yang telah larut. Ha? Jam delapan sudah larut? Kayaknya sih begitu sobs, soalnya ga ada lagi warung yang keliatan buka sih. Lagian mengingat jarak tempuh ke Dieng akan memakan waktu kurang lebih satu jam, maka kami putuskan untuk tidak makan malam dengan menu makanan utama deh.

Satu jam kemudian, kami pun tiba di Dieng, udara dinginnya sungguh mendamaikan. Dingin sih, tapi tidak terlalu. Tadinya aku membayangkan suatu suhu yang bikin menggigil. Tapi ternyata ga sampai segitunya sih. Haha....
udah ditunggu oleh si pemilik penginapan dan kami langsung diajak ke homestaynya. Pemiliknya memang sangat baik dan ramah. Sesuai dengan berita-berita yang ada di internet, bahwa masyarakat Dieng itu sangat ramah dan welcome terhadap para pelancong.

Kami mendapati sebuah kamar dengan dua bed. Ada sih beberapa kamar lainnya di kiri dan kanan kamar kami. Tapi kami memilih sekamar ber4 saja, biar selain lebih akrab, juga dingin-dingin begini kan enaknya rame-rame.
Jadilah kami berdua-duaan di satu bed. Aku dan Ririe sementara Una dan Idah. Pemilik homestay sudah memberitau jika ingin melihat sunrise, maka kami sudah harus meninggalkan homestay paling lambat jam 4 pagi. Dan kami sungguh tidak ingin kehilangan moment ini, maka alarm masing-masing pun di setel. Aku sendiri menyetel alarm di angka 3 pagi, karena paling tidak aku akan butuh waktu 1/2 jam untuk berkemas.

Eh Ririe malah menyetel lebih cepat lagi. 1/2 Jam lebih cepat. Dan jadilah aku sudah terbangun jam 1/2 tiga. Yang lainnya aku lihat masih tidur pulas. Aku sendiri udah ga bisa tidur, oleh suara alarm HPnya Ririe yang setiap beberapa menit sekali terus berbunyi. Yo wes, aku bangun lebih dulu, siap-siap, baru kemudian menggebrak mereka untuk segera bangun. hehe.

Agak sedikit panik saat kami sudah ready, sementara si mas supir tidak bisa dihubungi. HPnya off. Oh my God! Namun kita harus tenang donk... segera kita coba keluar rumah dan mencari mobil, mungkin parkir dimana gitu. Eh ternyata yang dicari tak jauh-jauh kok perginya. Si mas supir tidur lelap di dalam mobil yang diparkir di samping homestay. Dengan berat hati, terpaksa kita bangunkan si masnya. Dan meluncurlah Xenia hitam itu membawa kami hingga ke kaki bukit Sikunir, dimana sang sunrise akan menyapa dunia.

Perjalanan ke bukit sikunir ini memakan waktu sekitar 45 menit kurang lebih. Banyak sekali mobil dan motor yang telah parkir di sana. Ternyata keputusan kami untuk tidak menggunakan jasa si bapak pemilik homestay sebagai pemandu pendakian adalah tepat. Bisa menghemat biaya! Kita tidak memerlukan pemandu, karena memang rame sekali orang-orang dengan tujuan yang sama menuju pendakian.

Kami pun mengikuti arus [orang-orang yang mendaki] dengan penuh semangat. Tua muda, besar kecil tak terkecuali, semua dengan satu tujuan. Pendakian yang tadinya aku pikir akan berat, terasa ringan karena kebersamaan.



Well sobs, episode pendakian dan ada apa di atas bukit sikunir ini akan dilanjutkan pada postingan berikutnya yaaaa......

Saleum,
Al, Bandung, 19 November 2012

Read More
/ /

Aha! Pasti ingatan kita akan langsung tertuju pada sebuah kota metropolitan Jakarta/Betawi begitu membaca dua kata pertama pada judul postingan di atas kan sobs? Hihi

Yes, udah lama banget nih makanan nengkreng rapi di list of makanan impian ku sobs! Habis makanan yang satu ini begitu tersohor sih! Dan seumur-umur, aku belum pernah melihatnya secara langsung, apalagi memakannya.

Obrolan di BB Group tentang si KT ini juga pernah 'marak' dan kian membesarkan keinginanku untuk menyantapnya. Tapi kapan dan dimana? Harus di Jakarta dunk! Sayangnya, dulu, beberapa bulan di Bekasi, aku tak pernah melihat si KT ini. :(
Ntar kapan2 ke Jakarta, mau ngajak Una ah nyari si KT dan melahapnya.

Tapi Olala! Mata ini begitu takjub saat memasuki sebuah mart tak jauh dari tempat kostku sobs!
Seorang anak muda duduk manis di salah satu bagian penjual kue-kue, menjajakan Kerak Telor! Oh my God! Hampir ga percaya deh aku. Tapi beneran, ini dia! Aku sampe menunda tujuan awal (berbelanja di mart) dan membelokkan langkah ke si tukang KT. Semakin dekat semakin jelas and YES. It is! Ga pake lama sobs, langsung order. Satu doank sih, kan aku sendirian.

Sambil ngobrol dengan si penjual, aku minta ijin foto-foto untuk dishare ke Intan. Sebuah Kerak Telor dibandrol 12.500 perak. Mahal apa murah tuh sobs?

Terus gimana rasanya Al? Hihi. Not so bad lah. Cukuplah untuk makan malamku.

Alhamdulillah kesampaian juga akhirnya ingin ini. Haha.

Well sobs, postingan ringan ini ditulis dengan label 'sekedar coretan', sebagai entry terbaru mengingat sudah beberapa hari ini ga sempat update.

Ingin sih bikin postingan yang lebih berisi, namun apa daya sobs, panggilan hati untuk bertualang mengisi long week end ini begitu menggoda jiwa! Hihi.

Ya, bertualang dengan ketiga karib dari negeri maya adalah sebuah angan yang sudah lama dirancang. Awalnya sih ingin kemping bareng (Alaika, Una, Ririe dan mas Stumon), di sekitaran Sukabumi gituh. Tapi ternyata sobs, si mas monyet eh mas Stumon malah masih keasyikan di belantara Kalimantan sono.

Akhirnya, setelah tarik ulur tarik ulur, jadilah kami tetap berangkat, minus mas Stumon dan berubah tujuan. Emang sih ada yang ngiri! #lirik mas Stumon.

Sepagi ini (jam 1/2 6 pagi tadi), aku dan Una sudah berada di terminal bus Cicaheum. Dan kini kami berdua sudah di dalam bus Sinar Jaya yang melaju membelah jalan raya menuju Wonosobo.

Dari arah Timur, Ririe memulai perjalanannya tadi malam. Itu pun sempat ketinggalan bus jurusan Banyuwangi - Yogya. Terpaksa Ririe ubah jalur. Naik bus Banyuwangi-Surabaya, dan pagi ini lanjut Surabaya-Yogya, dan Yogya-Wonosobo.

Yup, meeting pointnya adalah Wonosobo, can't wait to see you Rie! :)

Kami bertiga berencana untuk lanjut ke Dieng besok paginya sobs! Ingin lihat sunrise dan berbagai keelokan alam goresan Ilahi Rabbi, yang kabarnya emang cantik banget.

Doakan semoga semuanya lancar ya sobs..

Postingan ini dirilis dari atas bus Sinar Jaya, Bandung-Wonosobo, yang masih melaju perlahan karena lalu lintas kota Bandung yang mulai rame.

Well sobs, masih ngantuk euy dan ingin nyusul Una yang udah duluan ke alam mimpi nih. Selamat ber-long week end ya sobs! Have a great holiday!

Saleum,
Al, Bandung, 15 Nov 2012

Powered by Alaika's OnyxBerry®

Read More
/ /
gambar di-crop dari sini

Tak dapat dipungkiri bahwa guru adalah orang tua kedua setelah ayah dan bunda. Maka adalah sudah seharusnya jika guru menjadi panutan bagi anak-anak didiknya. Guru adalah juga ujung tombak utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dan melalui tangannya pula lah terbentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas dan siap memajukan bangsa dan negeri ini. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa bangsa yang maju adalah bermula dari pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang berkualitas adalah bersumber dari pembelajaran yang berkualitas, dan pembelajaran yang berkualitas adalah berasal dari guru/pengajar yang berkualitas pula.

Pertanyaannya kemudian adalah, sudah cukup berkualitaskah para guru yang ada di negeri ini? Sudah siapkah para pahlawan tanpa tanda jasa ini mengemban tugas luhur mereka? Yaitu meningkatkan kapasitas anak didik sehingga tangguh dalam memajukan negeri ini sesuai dengan bidang dan minat mereka masing-masing nantinya?

Sebagai ujung tombak pendidikan anak bangsa, setiap guru, sejatinya memang harus memiliki kapasitas dan kualitas spesifik [sesuai dengan bidangnya]. Namun sayang, hingga detik ini, keberadaan sang pahlawan yang satu ini, dalam jumlah yang begitu besar, tidaklah ditunjang oleh pendistribusian yang merata ke setiap daerah/sekolah, sehingga terjadi kesenjangan dimana suatu wilayah kelebihan guru sementara di wilayah lainnya malah kekurangan guru. Selain itu, kualitas para guru sendiri masih banyak yang harus ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas yang diharapkan sehingga akan mampu menghasilkan generasi muda yang cerdas, berkualitas dan bertanggung jawab.

Lalu timbul lagi pertanyaan lainnya, apakah tugas memajukan sebuah bangsa itu hanya digantungkan bebannya pada para guru? Tentu tidak sobs. Urusan memajukan negeri ini adalah tanggung jawab kita bersama selaku penghuni negeri ini. Ya Pemerintahnya, ya sektor swastanya, ya masyarakatnya, semua tentu harus bahu membahu dalam memajukan bangsa dan negara ini. Namun kembali lagi ke paradigma ini sobs, bahwa untuk memajukan sebuah negeri, adalah bermula dari mutu pendidikan anak negerinya yang bagus, mutu yang bagus diperoleh dari sumber pembelajaran yang berkualitas toh? Dan sumber pembelajaran yang berkualitas adalah berasal dari para pengajar yang berkualitas pula!

See? Siklusnya berulang kembali. Jadi memang sudah saatnya lah negeri ini menitikberatkan pada penyediaan tenaga para guru yang berkualitas. Sudah saatnya lah negeri ini meningkatkan kualitas mengajar para guru, yang secara kuantitas tersedia dalam jumlah yang lebih dari cukup, namun tidak terdistribusi secara adil dan merata serta masih belum memadai kualitasnya.

Selain upaya meningkatkan kapasitas [capacity up grading] para guru, upaya pembenahan kurikulum adalah merupakan mata rantai lain yang harus diperhatikan. Ya, sudah bukan sekedar gossip lagi sih jika kita katakan bahwa kurikulum pembelajaran di Indonesia terasa begitu 'berat'. Begitu membebani para murid sehingga membuat otak mereka seolah dijejali aneka ragam bekal yang sebenarnya bisa dimasukkan secara bertahap. Coba lihat saja anak-anak SD sebagai contohnya. Dengan tubuh sekecil itu, punggung mereka harus mampu dan setia menyangga back pack atau shoulder bag/tas selempang yang di dalamnya berisi buku-buku dalam jumlah yang amit-amit. Berat banget. Masih SD saja, jumlah mata pelajarannya udah sebegitu banyaknya, ya ampun, sanggup ga ya mereka menangkap semuanya? Pembenahan kurikulum agar menjadi lebih efektif, terserap sempurna dan bermanfaat dalam meningkatkan mutu/pengetahuan si anak, adalah suatu KEHARUSAN yang tidak dapat ditawar lagi.

Menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan adalah alat paling efektif yang tersedia untuk memajukan masyarakat dan perekonomian, maka secara bahu membahu, kini negeri [pemerintah] mulai menggandeng sektor swasta serta partisipasi masyarakat untuk bekerjasama memperbaiki kuantitias sarana-prasarana pendidikan, meningkatkan kualitas para guru, dan juga membenahi kurikulum.

Sebuah gerakan pendidikan yang dibentuk berdasarkan kerjasama Kemitraan Pemerintah dan Swasta pun dideklarasikan, dengan tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kapasitas dan sumber daya dalam rangka memperbaiki pendidikan di Indonesia, memperbaiki sekolah demi sekolah sehingga terwujudnya Indonesia yang maju dan berkualitas. Gerakan ini dinamakan Gerakan Indonesia Berkibar, yang merupakan sebuah gerakan pendidikan yang akan diselenggarakan secara kontinyu dalam rangka menyokong program pemerintah. Bertujuan untuk perbaikan kualitas mengajar dan belajar melalui pelatihan dan pendampingan lanjutan kepada para pendidik. Sehingga nantinya diharapkan bangsa ini akan memiliki para pahlawan tanpa tanda jasa [baca : GURU] yang benar-benar berkualitas dan tangguh dalam menghantar anak didiknya menjadi generasi penerus bangsa yang berkuallitas prima.

gambar diambil dari sini
Gerakan ini diharapkan akan dapat menjadi tolok ukur bagi kualitas pendidikan yang dibutuhkan negeri ini untuk bersaing di pasar global.

Memang, tak dapat dibantah lagi, kemajuan bangsa ini berada sepenuhnya pada generasi penerus, yang kapasitas daya pikir dan kemampuannya bergantung pada pendidikan yang diserapnya. Oleh karena itu, sekali lagi, para pahlawan tanpa tanda jasa ini, diharapkan sumbangsihnya dalam mendidik dan membekali para generasi muda ini agar mampu tampil prima, penuh tanggung jawab dan berkualitas dalam membangun dan memajukan bangsa dan negara tercinta ini.

Ayo, pantang mundur guruku, pahlawanku!

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar




Read More
/ /
Pasti akan miris dan prihatin hati kita setiap membaca atau mendengar kabar bahwa ada wanita yang tega diperkosa. Apalagi jika wanita itu adalah wanita sebangsa dan setanah air dengan kita, yang sedang mencari nafkah di negeri orang sana. Perasaan itu juga yang menggelayuti nuraniku membaca pemberitaan yang dipapar di halaman depan yahoo news saat saat aku baru saja membuka halaman mesin mencari yang satu ini.

Tak pelak, membaca bahwa korban adalah wanita asal Indonesia, yang diperkosa oleh tiga orang Polisi Diraja Malaysia, di kantor Polisi pula, sungguh membuat mata ini terpaku dan membawa jemariku untuk klik langsung menuju halaman pemberitaan selengkapnya.

gambar diambil dari sini 
Berita yang dirilis oleh Liputan6.com ini mengabarkan bahwa seorang TKW asal Indonesia berinisial S, diperkosa oleh tiga orang Polisi Diraja Malaysia. Kasus ini bermula ketika korban yang berusia 25 tahun hendak pulang ke rumah pada Jumat pukul 06.30 waktu setempat. Bersama rekannya, korban menaiki sebuah taksi, dan rekan korban turun terlebih dahulu sementara korban dan sopir taksi melanjutkan perjalanan pulang. Di pertengahan jalan, beberapa petugas menyetop taksi untuk pemeriksaan rutin pada kelengkapan surat-surat kendaraan dan SIM si sopir taksi. Melihat ada penumpang warga asing yang duduk di kursi belakang, maka petugas meminta kelengkapan surat-suratnya pula.

Tak mampu menunjukkan paspor asli [S hanya mengantongi copy paspor], petugas menggelandang sopir taksi dan S ke kantor kepolisian Bukit Mertajam, Penang. Dalam pemeriksaan disana, polisi lantas melepas sopir taksi namun tetap menahan korban walau korban telah berusaha minta dilepaskan, bahkan sempat menanyakan berapa jumlah uang yang dimiliki korban jika ingin dilepas.

Korban menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki uang, tak berapa lama kemudian, ketiga polisi tersebut memaksa ‘dilayani’ oleh korban dan mengancam agar peristiwa itu tidak dilaporkan kepada yang berwajib. Karena takut dan tak kuasa melawan perkosaan itu, korban hanya bisa pasrah, dan kemudian diantar ke tempat tinggalnya. Sebuah peringatan agar korban tidak melaporkan hal ini pada yang berwajib kembali diulang oleh petugas polisi biadab itu.

Namun korban tidak menggubris, melainkan langsung melaporkannya ke pejabat Malaysian Chinese Association Bukit Mertajam, Lau Chiek Tuan yang meneruskan laporan ke pihak yang lebih berwenang untuk proses hukum selanjutnya. Sopir taksi yang ditumpangi korban juga sudah siap untuk menjadi saksi. Konsulat RI di Malaysia sudah mengantongi info lengkap soal pelaku, yaitu Nik Sin Mat Lazin (33) yang berkhidmat dalam kepolisian Malaysia selama 13 tahun, Syahiran Ramli (21) dengan masa pengabdian di polisi Malaysia 2 tahun 1 bulan, kemudian Remy Anak Dana (25) yang melalui masa tugasnya di kepolisian Malaysia untuk 1 tahun 2 bulan.

Emang ya, biadab bener nih polisi-polisi. Harusnya polisi itu bertugas mengayomi masyarakat dan juga warga asing yang ada di negaranya, demi menjaga martabat dan kehormatan negerinya. Ini kok malah memperkosa orang, di kantor polisi pula. Bener-bener tak hanya mencoreng arang di keningnya sendiri, tapi juga di kening ayah ibu, dan negaranya sendiri nih petugas bermoral mesum!

Tak heran jika kemudian, negeri jiran ini pun langsung mengambil tindakan tegas, menggeret ketiga pelaku ke dalam tahanan dan dijerat dengan pasal 376 tentang perkosaan dan siap untuk proses hukum selanjutnya. Apalagi menghadapi protes keras dari Indonesia bahwa kita tidak bisa menerima pelecehan yang terus menerus terulang seperti ini. Harus ada tindakan tegas.

Memang kejadian/plecehan seperti ini bukan untuk pertama kalinya terjadi, ada yang berani melaporkan dan ada pula yang hanya mampu mengurut dada, mengingat dirinya tak berdaya dan berada jauh di negeri orang. Sungguh miris memang nasib anak negeri yang sedang mencoba peruntungannya di negeri orang. ☹

Terhadap kasus-kasus yang dilaporkan, memang pemerintah RI tidak tinggal diam, berusaha keras untuk turun tangan membantu rakyatnya yang tertimpa kemalangan itu. Walau banyak kasus-kasus itu akhirnya hanya membeku di dalam peti. Namun kali ini, pemerintah telah bertindak lebih tanggap dan cekatan. Diantaranya adalah dengan memberikan perlindungan pada korban via Konsulat Jenderal RI yang ada di Malaysia, sambil terus memantau kelanjutan proses hukum yang sedang dilaksanakan untuk memastikan bahwa para tersangka biadab tak bermoral itu akan diganjar hukuman yang seberat-beratnya. Semoga aja kasus ini bisa diproses sampai tuntas dan tidak membeku di dalam peti lagi ya pak….

Miris rasanya membayangkan nasib mereka, coba kalian lihat wahai negeri jiran, warga kalian bebas blas mengais rezeki di negeri kami, tak pernah kami halangi, tapi mengapa kalian perlakukan warga kami sekeji itu? Bukankah kita bersaudara, bertetangga dan serumpun?

Sumber informasi:

http://id.berita.yahoo.com/polisi-pemerkosa-tki-harus-dihukum-berat-153824347.html
http://www.tempo.co/read/news/2012/11/11/078441077/Perkosa-TKI-Tiga-Polisi-Malaysia-Ditahan

http://www.tempo.co/read/news/2012/11/11/173441074/Pelecehan-Seksual-TKI-Malaysia-Apa-Kata-Kemenlu

Read More
/ /
Siang baru saja menjelang ketika aku mulai menggelar lapak menyiapkan peralatan perang kerja di atas tempat tidur. Lho, kok di atas tempat tidur Al? Ya iyalah sobs, tempat paling nyaman dan empuk untuk duduk bekerja  di dalam kamar kostku ini ya tempat tidur sobs. Tinggal di sulap aja dikit [meletakkan meja lipat di atasnya], jadi deh tempat untuk menggelar laptop. Duduk manis sambil berselonjor itu nyaman banget, dengan punggung bersandar ke sandaran kepala tempat tidur. Hm... ready deh kayaknya untuk memulai lanjutkan beberapa Kerangka Acuan Kerja [TOR] yang diminta oleh si bos.

Namun tak lengkap rasanya memulai pekerjaan jika tidak connected to the internet kan sobs? Maka connect lah daku merambah dunia maya. Indah dan sejuk banget. Dua messager utama [YM dan Skype] pun diaktifkan. Check and recheck email ga perlu lagi karena the email lebih duluan diketahui kedatangannya via si Ory.

Ok, berkas TOR dibuka, dan ready to continue. Ketak ketik ketak ketik menuangkan ide. Tidak mudah bagiku merampungkan ke sembilan TOR yang diminta si bos. Karena si bos tidak membekaliku pengetahuan apapun, hanya memberi sembilan ide untuk judul proposal TORnya, selebihnya aku diminta mencari bahan sendiri. Dia yakin aku pasti akan menemukan ide-ide bagus untuk TOR nya. Duh! Teganya...teganya kamu Bos! #singing. Aku anggap sedang bikin postingan aja deh biar hati ini happy. :)

Sedang khusyuk dalam lamunan berkas yang sedang dikerjakan, eh sebuah pesan via YM hadir mengagetkan dan membuyarkan konsentrasi. Dari seorang teman baik yang adalah juga kolega di salah satu NGO dimana aku pernah bergabung dulu.

"Hi Al, pakabar? Masih berminat ke Afgan?"

Tak menunggu pertanyaan diulang donk, langsung aku sambar dan memberikan jawaban.

"So pasti donk. Ada peluangkah? Btw, gimana situasi keamanan disana?"

Pict grabbed from here
Dan percakapan selanjutnya pun menjadi sangat menarik minatku. Siapa yang ga semangat coba, mendengar ada peluang untuk go internasional. Menjadi staff international, dengan gaji yang WOW banget. Kolegaku ini sudah berada di Afganistan sejak Maret 2011 yang lalu, bekerja di bawah bendera salah satu badan UN [United Nation/Lembaga PBB] dengan gaji Rp. 115 juta perbulan! gile bener!
Angka yang fantastis ini tentu disesuaikan dengan nilai mara bahaya yang ada di tempat bertugas sih sobs. Dan UN memang tidak tanggung-tanggung dalam memberi kompensasi.

Frizt, sahabatku itu bercerita bahwa setiap tiga bulan sekali, mereka diterbangkan keluar dari wilayah kerja, untuk refreshing dari situasi yang bener-bener bikin stress itu. Dia juga bercerita, bahwa tak lama setelah dia sampai dan bertugas di Afganistan itu, seorang teman sekamarnya tertembak saat berkunjung ke sebuah wilayah disana. Duh! Keder juga hatiku. Uangnya emang banyak, tapi resikonya itu lho!

Tapi aku sungguh masih berminat terhadap informasi lowongan kerja yang sedang dibuka itu. Aku rasa, sudah saatnya aku go international deh. Apa salahnya dicoba. Ntar malam aku bikin lamarannya deh, besok pagi submit. Tapi mending aku telphone suamiku dulu ah, pasti dia masih di ruang tunggu nih jam segini. Pesawatnya untuk kembali ke Kuala Lumpur kan masih setengah jam lagi, itu juga kalo ga delay.

Dan sobs.... Jawabannya sungguh membuatku ciut. Dia ga rela aku pergi ke Afganistan sana. Walau jelas bekerja disana akan memberi nilai yang cukup tinggi di CV [Curriculum Vitae] ku nanti, tapi dia minta maaf karena ga bisa ijinkan aku pergi. Dia ga mau istrinya tertembak peluru, atau diculik oleh para teroris disana. Dia ga mau Intan kehilangan uminya. Dia ga mau jadi duda!

Satu kalimatnya yang bikin aku terenyuh adalah, "memang mas ga sanggup ngasih kamu seratus juta sebulan, tapi mas cinta dan sayang banget sama kamu. Mas ga larang kamu tetap involve di humanitarian worker, tapi yang aman donk daerahnya say....".

Ya sudah deh, CASE CLOSED. IMPIAN DIALIHKAN. Bener juga, aku bukan wanita yang hidup sendiri. Ada orang-orang tercinta yang harus dipertimbangkan. Baiklah sayangku. Kami akan ikut mas aja deh tahun depan. :)

Well sobs, itulah sebuah kesempatan yang menghampiriku siang ini, langkah apa yang akan sobats ambil jika mendapatkan informasi peluang kerja menarik tapi juga dengan resiko setinggi itu.

Selamat berhari Minggu sobs!

Saleum,
Al, Bandung, 11 November 2012.

Read More
/ /
Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah berkontribusi luar biasa bagi kehidupan kita. Dia menjadi jembatan ajaib yang mampu meretas jarak dan waktu. Mendekatkan yang jauh walau sering juga menjauhkan yang dekat :) dan membuatnya selalu terhubung.

Hidup terpisah jauh dari orang-orang tercinta, terutama putri semata wayang yang nun jauh di ujung Pulau Sumatera, awalnya memang terasa berat. Namun seiring dengan berjalannya sang waktu, ditambah lagi dengan dukungan teknologi yang sedemikian canggih, perbedaan jarak ribuan kilo itu pun menjadi tidak lagi menjadi masalah.

Setiap waktu, aku dan Intan bisa saling terkoneksi. Seperti tadi malam. Putri tersayang itu membutuhkan Uminya untuk komunikasi dongeng berbahasa Inggris yang menjadi tugas pekerjaan rumah. Sang guru meminta para murid untuk mengembangkan imajinasi tentang kisah gadis kecil dan bunga ajaib. Tentu penulisan dan pengembangan imajinasi harus dalam bahasa Inggris. Ya iyalah, namanya juga pelajaran bahasa Inggris. 

Maka, walau dalam keadaan lelah karena 'pertempuran' selama dua hari ini, alokasi waktu untuk mendengarkan dan membantu putri tercinta, is a MUST. HARUS atuh. Intan bukanlah anak yang hobby menulis, beda jauh dari ibunya. Baginya menulis dan membaca adalah opsi terakhir jika tak ada lagi kegiatan menarik yang bisa dia lakukan. [sebenarnya aku cukup prihatin dengan keadaan ini. :(]. Tidak hobby membaca, duh, gimana mau upgrade pengetahuan, sementara membaca itu adalah jendela dunia, adalah jembatan ilmu pengetahuan. Tapi ya sudahlah, berkali-kali kucoba menarik minat bacanya, membelikannya fiksi-fiksi remaja, majalah remaja atau sejenisnya, tetap tak juga menarik minatnya.

Malah Intan lebih tertarik pada mengutak atik foto di photoshop, picasa atau media lainnya. Hingga akhirnya, kemarin pagi, PR yang sudah deadline mau ga mau harus diselesaikan. Dan jangan harap Umi akan membantu seratus persen. Dia harus berusaha menyelesaikan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya. Itu garis tegas yang kami berdua ngeh banget. Tugasku mencari uang, dan Intan bersekolah. Menyelesaikan tugas sekolah.

Maka, malamnya, Intan BBM minta ditelefon. Dongengnya telah selesai, in DRAFT, dan butuh input-input dari Umi. Maka mulailah diskusi jarak jauh kami lakukan. Intan membaca kalimat demi kalimat yang telah dia susun, berdasarkan imajinasinya tentang si gadis kecil dan bunga ajaib. Terus terang, aku kagum dengan ide Intan dalam menautkan cerita bagaimana si gadis menemukan bunga ajaib itu, dan menggunakannya untuk apa. Hadiah terindah bagi sang ibu di hari ultahnya adalah berfungsinya kembali penglihatannya yang tuna netra jauh sebelum si gadis kecil dilahirkan, BERKAT si bunga ajaib. The miracle flower.

Secara garis besar, bahasa Inggrisnya sudah cukup memadai, hanya aku mengganti beberapa kalimat agar kesan puitisnya muncul. Intan kebanyakan menggunakan kalimat sehari-hari, yang sebenarnya akan lebih apik jika diganti dengan penggunaan idiom dan beberapa kalimat sastrawi.

Tak terasa, diskusi yang dimulai jam 10 malam, berakhir di jam dua dini hari. Tentu dengan putus sambung putus sambung, karena Intan perlu mengetik dan mengedit dongeng nya di laptop. Dari telefon pindah ke BBM, atau ke YM dan email. Sedih juga rasanya membayangkan dia sendirian disana, di tengah malam buta masih melek dan ketak ketik, dengan hands free terpasang di telinga untuk komunikasi, sementara seisi rumah disana sudah tidur lelap. [Bersusah-susah dahulu ya nak, bersenang-senang kemudian] :)

Akhirnya, tepat jam 2.13 menit dini hari, Intan menuntaskan pekerjaan rumahnya. Dongeng selesai dan masuk ke gmailku untuk review terakhir. Tak lebih dari lima menit, aku menyetujui semua yang telah tertulis di halaman word yang dikirim Intan. She felt so happy and a message came into my BBM.

"You are the best mom, always! Thanks God to have you being my mom and best friend of mine! Good rest ya Umiku sayang, nice dream. Muaaach. Bismika Allahumma Ahya Waamut. Amin..."

Ada kesejukan tiada tara membaca untaian kalimatnya. Kubalas dengan penuh kasih dan wishing her a good rest and nice dream as wellAlhamdulillah ya Allah telah memberiku kesempatan menjadi ibu bagi putri cantik penuh santun ini. Lindungi kami dan berkahilah kami dalam setiap langkah kehidupan ini. Amin.


And thanks to the technology in supporting us keep connected. Bravo Technology!

Postingan ini dibuat sebagai refreshing dari kesibukan bertarung di 'kancah perang'. Met sore dear friends, yuk sambut malam Jumat dengan hati khidmat yuk.... :)

Saleum,
Al, Bandung, 8 November 2012

Read More
/ /
Tadi malam, seorang tamu tak dikenal dari dunia maya, mengetuk pintu. Sayangnya, walau malam belum begitu larut, diriku telah terbuai lelap di alam mimpi. Mungkin kelelahan akibat akitifitas yang begitu menyita fikiran dan waktu di kantor, adalah penyebab mata ini tak mampu lagi diajak kompromi. Sehingga si tamu hanya bisa menitipkan sebuah pesan melalui connecting door yang memang aku pasang agar setiap tamu yang datang bisa menitipkan pesan, dan aku bisa langsung tahu tanpa harus mampir ke istana mayaku.

Pagi ini, amplop biru kedip kedip merah notifikasi gmail itu menyita perhatian. Siapa ini ya? Belum pernah kenal deh kayaknya. Tapi namanya sih begitu akrab di telinga. Hanya saja aku ga yakin jika dia, adalah Agung si mantan kolega di kantor lama. Agung yang itu kan ga ngeblog...
Penasaran, aku buka amplop biru emailnya dan membaca untaian baris yang berjejer rapi. Ditulis penuh santun tertuju padaku menuntut sebuah jawaban.

Ternyata komentar untuk postingan yang ini sobs, memang sejak memenangkan sebuah Galaxy Tab, artikel ini telah menarik banyak sekali pengunjung, dengan komentar yang cukup beragam.
Begini isi emailnya;


Assalammualaikum wr.wb
Saya sangat jelas, setuju dan senang membaca tulisan ini , namun ada pertanyaan selanjutnya yang muncul, mohon saya dibantu penjelasannya. 

Setelah periode manusia purba habis/terputus [karena punah atau gimana gitu], kemudian muncul nabi Adam. Nah pertanyaannya;
Bagaimana proses kemunculan nabi Adam? Yang di kitab suci diterangkan diturunkan dari surga. Apakah dijatuhkan dari langit? Sampai disini saya masih berusaha mencari tafsir yang masuk akal saya. [bukan berarti saya merendahkan kitab suci saya]. Prosesnya itu lho....

Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih. Sekali lagi saya tandaskan bahwa Al-Quran adalah BENAR 1000%.

Wassalam.....

Sejenak aku terpana, mencoba mencerna arah pertanyaan sang sahabat baru. Kucoba berfikir positif, bahwa pertanyaan ini sama sekali tak bermaksud bercanda walau mungkin dia hanya ingin main-main, setiap orang berhak memiliki berbagai pertanyaan aneh dan nyeleneh di dalam benaknya. Kutinggalkan sejenak email itu, bersiap untuk ke kantor karena hari ini pekerjaan yang seabrek telah menanti untuk dibereskan dengan segera.

Bukan, bukan bermaksud mengabaikan apalagi menganggap pertanyaan ini sebagai angin lalu kok sobs. Aku selalu menghargai setiap pesan atau komentar yang ditinggalkan para sahabat di kotak komenku, walau mungkin sering didapati, banyak juga yang belum berbalas. Itu juga bukan karena disengaja, namun adalah karena waktu yang begitu cepat berlari, sehingga aku harus siap sedia menjejeri langkah agar tidak ketinggalan. Namun untuk komen yang mengandung pertanyaan dan menuntut jawaban, aku senantiasa berusaha untuk memberi jawaban. Eits, bukan berarti komen sobats yang belum berbalas berarti ga penting lho, aku sangat menghargainya dan ingin bisa membalas satu persatu, tapi kembali ke persoalan sang waktu yang kian cepat berputar... akhirnya niat hati itu tertunda dan baru kemudian, sekian lama kemudian teringat untuk dibalaskan. Maafkan daku ya sobs....

Well, back to topic...
Siang ini, jenuh akibat kancah perang yang kian memanas [9 TOR dan laporan menanti untuk dikerjakan, sementara bahan dan data belum disetor, mana masih harus browsing-2 pula di dunia indah bernama maya], maka kularikan diri sejenak untuk ngadem di istana mayaku. My Virtual Corner. Dan berfikir untuk menjawab pertanyaan Agung. Sayangnya sahabat baru ini tidak meninggalkan alamat untuk disambangi kembali...

Inilah jawabanku;

Di dunia ini, kita memang menemukan banyak sekali misteri. Mengapa jadi misteri? Karena [bagi sebagian orang] banyak hal yang terkadang tidak logis atau sulit diterima akal sehat. Contohnya, peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW....  Eits... jangan protes apalagi berfikir negatif dulu donk sobs. Let me continue...
Peristiwa ini, banyak orang non muslim yang tidak mempercayainya, bahkan cenderung meremehkan.  Seorang kolega senior saya, bule non muslim, pernah berdebat kusir dengan saya gara-gara hal ini. Pemikirannya yang selalu berdasar logika, sama sekali tidak mempercayai ini, dan saya tidak mau berantem karenanya, hanya saya katakan bahwa akal sehat dan keyakinan saya percaya penuh bahwa Nabi Muhammad, Rasullullah, benar [dengan kehendak Allah] telah melakukan Isra' Mi'raj. Dan itu tidak sulit bagi Allah, cukup dengan kalimat Kun Fa Yakun, maka jadilah ia.

Saya sengaja mengambil contoh di atas, untuk menunjukkan betapa gampang bagi Allah, Sang Pencipta, melaksanakan atau mewujudkan apa pun yang dikehendakiNya.

Di dalam ulasan saya tentang Nabi Adam , tertulis bahwa Nabi Adam memang diciptakan Allah untuk menjadi kalifah di bumi, tapi memang atas skenerioNya pula, menempatkan keduanya [Adam dan Hawa] terlebih dahulu di syurga, sebelum diturunkan ke bumi. Allah dengan apik juga telah menyiapkan skenerio, mengajarkan Nabi Adam dan Hawa tentang reward dan punishment. Bahwa kepatuhan akan berbuah manis serta pembangkangan akan berbuah pahit. Begitu keduanya memakan si buah khuldi, maka sanksinya adalah terusir dari Syurga. Ok, kita tidak membahas tentang itu sih, karena pertanyaannya adalah tentang proses turunnya nabi Adam dan Hawa ke bumi...

Berbekal keyakinan bahwa Allah itu adalah Maha Kuasa dan Maha berkehendak, mengapa kita harus bersusah payah memikirkan dan mencari dalil atau informasi akurat tentang hal ini? tentang apakah Nabi Adam dijatuhkan dari langit? [idih... kayaknya mas Agung terobsesi oleh lagunya Coboy Junior deh, Bidadari yang jatuh dari Surga? hehe]

Allah itu Maha Penyayang, yang kalo pun memberikan sanksi bagi hambaNya, sesuai dengan kemampuan si hamba dalam menerima beban itu. Saya yakin Allah tidak menjatuhkan Adam dari langit... bisa sakit bahkan luluh lantak donk tulang belulangnya mas? hihi. Jatuh dari pohon aja kita bisa patah tulang kan? Apalagi dari langit lho! haha. Menurut saya nih, cukup dengan Kun Fa Yakun, maka Adam dan Hawa pun kemudian telah berada di bumi. Yang satunya diturunkan di Sri Lanka, di puncak bukit Sri Pada dan Hawa di Arabia. Empat puluh hari kemudian baru keduanya bertemu di Jabal Rahmah. [informasi dari mbah Wikipedia]

Well mas Agung dan sobats yang memiliki pertanyaan serupa, itulah jawaban yang bisa saya berikan, dan ini versi dan keyakinan saya lho... semoga berkenan dan silahkan berkomentar jika ada tambahan atau koreksi...  I am welcome for discussion as well as improvement.

Saleum,

Al, Bandung, 7 November 2012

Mau balik ke pekerjaan dulu nih.... :)


Read More