Archive for September 2012
Menu
/ /
Good morning sobs, mumpung di angkot dan terjebak macet, yuk aku lanjutin kisah lucu tentang sahabat bule ku, Sara.

Ini adalah cerita lanjutan dan masih tentang pemahaman bahasa (Bahasa Indonesia). :)
Suatu malam, kami berdua singgah di tukang nasi goreng, pinggir jalan. Karena aku yang mengemudi, dan agak susah memarkirkan mobil segede double cabin (Nissan Navara), maka Sara berinisiatif langsung turun setelah mendengar pesananku.
Tapi, wajahnya penuh tanda tanya yang tak tersampaikan kala aku sebut pesananku.

"Nasi goreng pakai telur mata sapi for me ya!" Apa yang aneh dengan kalimat ini ya? Ah sudahlah!
Aku perhatikan saja dari jauh, tapi melihat 'perdebatan yang sedikit alot antar dia dan abang tukang nasgor, aku pun parkir dan menyusulnya.

"What's up Sara? Paken bang?" Tanyaku pada keduanya.

"Nyoe kak, si dara nyoe beunoe pesan nasi goreng mata sapi satu, dadar satu, kalheuh lon peuget, tapi hana meufom cit lon peu maksud jih!" (Ini kak, cewek ini tadi kan pesan nasi goreng telur mata sapi satu, dadar satu, nah udah saya bikin, tapi saya jadi bingung maunya apa?)

Aku menatap Sara, menanti penjelasannya.

"I ask him to make nasi goreng pakai telur mata sapi and nasi goreng with omelette. Ok, this is it! With omelette, but this one, just with egg fried, I don't see the mata sapi. Al, are you serious with your order? How does mata sapi taste? Do you often eat cow eyes?"

Hah? Hahahahaha.... Aku langsung ngakak. Kalo di ym pasti aku udah pasang icon ketawa guling-guling deh. Sara dan si abang tukang nasgor keheranan.
Keheranan mereka makin menjadi saat aku masih belum mampu meredam tawaku.

"Hey! What's funny? Apanya yang lucu?" Sara ikutan tertawa, geli melihatku.

"You! Hahaha... Sara-sara... Siapa juga yang suka makan mata sapi. Emoh aku. Bang, ternyata salah paham. Dikiranya nasi goreng pakai telur mata sapi itu adalah nasi goreng dengan telur dan mata sapi beneran yang digoreng. Hahahahaha... Siapa coba yang mau makan mata sapi beneran? Pantesan aja tadi dia heran waktu saya bilang ke dia saya mau nasgor mata sapi. Hahahahahaha..."

Kuakhiri penjelasanku dengan tawa yang diikuti gelak yang sama oleh si abang nasgor.
Sara makin geli tapi sepertinya dia masih belum menangkap seluruh makna pembicaraan kami. Barulah dia tertawa lepas saat aku jelaskan padanya, bahwa telur mata sapi disini adalah telur yang diceplok membentuk mata sapi. Jadi bukan nasi goreng dengan telur dan sebuah mata sapi.
Eneng-eneng wae nih bule! Hahahaha...

Si abang nasgor pun terlihat tak mampu menahan tawanya, dilanjutkannya berkepanjangan. Aku dan Sara juga.Sejak itu, aku sering memanggil Sara dengan 'cow eyes', hehe.

Well sobs, sekian dulu ya cerita ringan penuh tawa tapi nyata ini, mau turut angkot dulu nih...
Have a great Sunday! Gile bener Bandung ini, setiap wiken macet total begini. Ih!

Saleum,
Alaika
Powered by Telkomsel BlackBerry®

















Read More
/ /

Sebuah postingan asal jadi, terpublish sempurna di halaman My Virtual Corner, tapi tetap saja setelah itu, tak membuat mataku lelah dan beranjak tidur. Bahkan setelah lelah seharian dengan aneka aktifitas yang menyita waktu, tetap saja mata ini tak mampu diajak kompromi. Bahkan untuk diistirahatkan saja dia tak sudi. Dasar keras kepala! Harusnya kamu merem, tidur!

Entahlah sobs, kok rasanya malam ini aku begitu gelisah. Rasa ini semakin menjadi dan membuat aku semakin uring-uringan. Ada apa ya Allah? Kuambil BB dan memeriksa status Intan. Ada apa dengannya? statusnya yang selama ini begitu penuh semangat meng-iklankan dagangan online nya, kini telah berganti dengan sebaris kalimat "Ask me to study, please! Ask me, sesusah itu kah?"

Ada apa dengannya ya Allah? Semoga dia baik-baik saja ya Allah... doaku, namun batin ini sontak tak dapat kubohongi. Firasat ini kuat berkata, there is something unwell with her. Duh nak, kenapa ga diangkat? Aku semakin gelisah saat beberapa kali aku telphone, tak mendapatkan jawaban.

Kucoba sekali lagi sebelum kuarahkan panggilan pada ibuku, maminya Intan. (Mami = nenek, dalam bahasa Aceh).

"Assalammualaikum Mi." Lemah sekali suara Intan, dan hatiku langsung tak karuan.
"Nak, are you okay? kok suaranya lemah sekali?" berondongku gelisah.
"Ga papa kok Umi, I am okay, cuma tadi mimisan, udah tiga kali." Jelasnya lemah.
"Tuh kan? Intan ga sehat. Ini masih mimisan? ada demam ga? kenapa ga telphone Umi?" berondongku lagi.
"Udah ga apa-apa kok Mi, Intan udah baik-baik aja. Cuma masih pusing dikit. Ini sedang tiduran. Udah di balur minyak kayu putih juga sama Mami di badan Intan kok Mi...".

Aku tetap kuatir, prihatin dan rasanya sedih banget berada jauh darinya. Putri tercinta ini memang sering sekali mimisan. Dokter bilang sih karena pembuluh hidungnya yang rapuh. Dan tak ada obat khusus untuk itu, melainkan akan sembuh seiring dengan pertambahan usia dan pertumbuhan sel dan otot tubuhnya.

"Udah ga papa kok Mi, Umi tenang aja. Umi udah sehat juga kan? ga pilek lagi kan Mi? Intan kangen sama Umi!" Terdengar suara yang begitu memelas dari seberang sana, dan langsung membuat airmataku menitik.

"Iya sayang, Umi juga kangen banget sama Intan. Mudah-mudahan kita bisa segera ketemu ya nak.... Oya, itu bee propolis Umi, yang di kulkas, Intan minum setiap pagi satu butir dan malam satu butir ya nak, terus paksakan untuk minum teh campur madu setiap pagi. Jangan bandel, harus! Biar kuat staminanya. Itu karena Intan kan sibuk terus akhir-akhir ini, jadi staminanya menurun, makanya harus dijaga. Mulai besok minum itu yang teratur ya nak!"

Dan suara mengiyakan, dengan kepatuhan dan kesantunannya membuatku semakin kangen akan dia. Duh, Umi kangen banget sama kamu nak, tapi Umi belum bisa pulang, masih sibuk dengan pekerjaan disini nih sayang. Intan yang sabar ya nak...

Kuhantar dia dengan saling membaca doa tidur, dan kuingatkan dia untuk mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur. Meletakkan BBnya jauh dari tempat tidur, dan segera tidur. Intan menurut dan aku percaya dia melakukannya. Menurut.

Dan kini? Umi masih belum bisa tidur sayang. Umi keingat kamu terus. Di satu sisi hati, begitu ingin Umi ajak kamu kesini, tapi seperti yang sudah kita bahas, dan Umi setujui, Umi tak akan paksa kamu pindah nak, ok, tamatkan dulu SMU nya di Banda ya, then we will be together again, here or there, lets see.

Umi masih belum bisa tidur nak, dan umi bongkar-bongkar tulisan umi tentang kamu. Dan umi bahagia dan terharu selalu setiap membaca tulisan Umi yang ini, tentang what a good daughter you are my dear.

Rasa sayang Umi berlipat-lipat setiap membaca tulisan ini nak... dan semakin kangen kamu. Thanks a lots ya nak, for being my very-very kind and nice daughter, for every single things you did for me.

Sobats, tulisan ini sepenuhnya adalah curahan kerinduan terhadap putri tercinta. Pernahkah sobats merasakan kerinduan yang seperti ini terhadap seseorang yang begitu berarti dalam hidup sobats?




Read More
/ /
Pasti pada penasaran kan ya membaca judul di atas? Ini Alaika mau cerita apaan ya? Kok judulnya unik banget? Ga mungkin donk jika Alaika seorang perawan secara Intan permata, si putri salju udah berusia enam belas tahun kini... :D

Hehe.... ini adalah kisah seorang sahabat yang aku kenal di awal masa tanggap darurat paska tsunami sobs. Namanya Sara Nalder, berkebangsaan Australia, yang adalah seorang perawat.
Orangnya cantik banget, tinggi besar. Ramah dan sangat rajin mempelajari bahasa Indonesia.

Sara adalah juga mitra kerjaku di Northwest Medical Team International, the International NGO asal Portland, yang bekerja di Aceh selama masa tanggap darurat hingga mulai masa rehab rekon.

Suatu hari, Sara, yang mengepalai bidang medical training, harus membuka acara dan memberikan kata-kata sambutannya di depan para peserta training, yang adalah para bidan dan perawat dari beberapa kabupaten di Aceh.

Nah, Sarah memulai pembukaan dengan mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Seperti ini;

Good morning ladies and gentlement, selamat pagi dan salam sejahtera (dengan logatnya yang masih patah-patah). Para peserta senang donk mendengarnya, merasa tersanjung kan ada orang asing yang menyapa dalam bahasa kita... ?

Tapi kemudian, senyum dan hormat tadi berubah jadi senyum di kulum dan sebagian menjadi gelak tawa, saat Sara salah ucap.

"Perkenalkan, nama saya Sara... saya adalah seorang perawan, dan saya sudah di sini selama satu Tuhan".

[Aku yang ada disampingnya, yang akan jadi translaternya nanti pada saat Sara mulai menyampaikan kata-kata sambutan dalam bahasa Inggris, kaget donk!. Opo iki maksud e?]

Kusenggol Sara sambil berbisik, did you mean that you are a virgin?
Sara kaget dan merah mukanya. Apalagi melihat para peserta senyam senyum. and satu Tuhan means one God! Tambah merah donk muka Sara...

"Perawan means virgin, and Perawat means Nurse! Tuhan means God and tahun means year!" Bisikku. Gelagapan Sara meralat pernyataannya, langsung bicara dalam bahasa Inggris.

I am so sorry, I mean, I am a nurse and we do hope that through this training, we will able to contribute in increasing the capacity of midwife and nurse in providing their services in Aceh.... bla..bla..bla

Peserta pun mengangguk-angguk sambil tersenyum setelah aku menerjemahkannya. Memaklumi dengan sungguh-sungguh namun tetap tak mampu menyingkirkan rasa geli mereka. Sara sendiri sih udah biasa-biasa aja setelah salah ucap itu. Tapi kuyakin bahwa empat kosa kata itu kini terpatri kuat di benaknya sehingga tidak akan salah ucap lagi. Hehe.

Kebersamaanku bersama Sara, banyak sekali menggoreskan gelak tawa sih sobs. Habis si cantik ini bener-bener punya kemauan keras untuk belajar bahasa Indonesia sih, apalagi saat terpanah asmara oleh seorang pemuda dari Manado, makin gigih deh usahanya untuk mempelajari bahasa Indonesia. :)

Penasaran yang mana wanita Australia yang cantik ini? yuk intip disini yuk sobs!


Kebersamaan dengan teman-teman bule memang sering membawa gelak tawa sih sobs. Terutama dengan temanku yang satu ini, tapi berhubung malam telah larut, jadi dilanjut dalam postingan lainnya aja yaaaa.... 
Good nite sobs! Good rest and have a nice dream!

Saleum hangat dari
Bandung.

Alaika





Read More
/ /
Sobs...
Mohon maaf jika mendapati beranda rumahku yang berantakan nih sobs,
lagi asyik-asyik ubah interior, eh daku dijemput pergi..
so mau jalan-jalan dulu yaaaa....
ntar proses merapikan 'rumah' tercinta ini dilanjutkan kembali...

makasih udah berkunjung, dan mohon jangan kaget dengan penampakan yang amburadul ini yaaa...
kan Alaika biasa nya rapi tenan sobs, tapi boleh donk sekali-sekali main tinggal begini aja,
habis si teman ga sabaran sih, mau curhat katanya...
kan lumayan sobs, ada bahan untuk posting nih.
hahaha....

ok sobs,
see you soon ya,
titip rumahku.....

Saleum hangat dari Bandung. :)
Read More
/ /
Sesuai janjiku pada Intan, maka sekitar pukul 13.42 wib aku telah berada di halaman depan sekolah putri tercinta, untuk agenda spesial siang tadi, which is trial driving on the road, alias belajar mengemudi di jalan raya, setelah beberapa hari ini, Intan berlatih mengemudi di jalanan ber-corn block yang terhampar indah dan berliku di kompleks Biro Rektor, Universitas Syiah Kuala…
Hehe, emang! Kayaknya hanya kami lho yang nekad menggunakan kesunyian kompleks di sela libur Ramadhan itu, menjadikan jalanan itu sebagai arena latihan mengemudi putriku. Maaf ya Pak Rektor… J
Maka, usai shalat zuhur berjamaah dan kultum di aula sekolahnya, Intan dengan penuh semangat menghambur ke dalam mobil, kusambut dengan segera melajukan Gliv, si abu-abu kesayangan menuju arah Krueng Raya.
Yup, ada sebuah bisikan yang menuntun hati agar aku menggunakan badan jalan Banda Aceh – Krueng Raya sebagai ajang latihan driving on the road bagi Intan. Alasan utamanya sebenarnya sih, selain karena jalanan ini lumayan sepi, juga karena aku bisa menikmati pemandangan indah tepi pantai di sebelah kiri jalan, dan pemandangan sejuk perbukitan di sebelah kanan jalannya..
Tak pakai lama, begitu sampai di jalan yang mulai sepi, kuserahkan kemudi pada Intan, yang begitu antusias melajukan Gliv, lumayan lancar walau terkadang dia masih terkesan takut-takut. Tapi dia senang berlatih di bulan puasa, karena Uminya tak akan cerewet apalagi marah-marah jika dia melakukan kesalahan mengemudi.. J
Kami terus melaju dengan penuh suka cita, kulihat Intan telah mulai enjoy driving di jalan raya, penuh hati-hati tapi masih sempat bercanda serta curhat sepanjang perjalanan. Lumayan lama juga kami tak berkesempatan jalan berduaan dan mengobrol santai seperti ini. Mulai tentang teman-teman barunya di kelas XI, hingga ke curhat masalah cowok yang sedang tertarik padanya namun dia tak punya perasaan serupa. Bagaimana cara menghadapinya agar si cowok tak tersinggung apalagi sakit hati….
Kami merasakan perasaan damai yang luar biasa, kuyakin Intan juga merasakan peningkatan kualitas kasih sayang dan cinta terhadapku sebagaimana yang kurasakan terhadapnya, selama mengemudi ini. Menghabiskan waktu berdua, terkadang memang tak harus di suatu tempat khusus, kebersamaan memang bisa dirajut kapan dan dimanapun, bahkan terkadang dalam momen-momen tak terduga.
Lalu apa hubungannya dengan judul postingan di atas Al? Kok dari tadi belum ada korelasinya? Hehe…. Sabar sobs! Ini juga mau masuk ke topic itu kok…
Nah, begitu kami sampai ke kawasan Pertamina Krueng Raya, mataku tertumbuk pada sebuah plank nama bertuliskan makam Laksamana Malahayati. Gliv terus melaju yang dipacu dengan santai oleh Intan. Bagi Intan, plank nama itu memang tak berarti apa-apa sih, tapi bagiku? Itu adalah sebuah daya tarik yang membuat hatiku langsung sumringah. Yup! Laksamana Malahayati sobs! Itu adalah tokoh pahlawan idolaku lho! Sungguh, aku sangat mengaguminya…
Walau aku pernah mempublish sebuah postingan tentang kisah perjuangan dan kehebatan sang tokoh idola itu disini sobs, tapi aku tak pernah berniat sekalipun untuk mencari makamnya, karena memang aku bukan type penziarah seperti itu.
Bagiku, mengabadikan kehebatan dan kepahlawanannya dengan tinta emas, cukup di hatiku dan dalam tulisan2 ku, tak harus dengan mencari dimana peristirahatan terakhir, apalagi tokoh idola ini hidup diantara abad XV dan XVI yang lalu. Udah lama banget kan sobs?
Jadi aku fikir, alih-alih mencari tempat peristirahatannya, mending aku menghidupkan rasa hormat dan terima kasihku padanya dengan caraku tersendiri, yaitu mengenangnya dalam tulisan dan rasa kagum di hati… #terus terang, belum pernah juga sih menghadiahkannya sebuah Al-Fatihah. Habis ga teringat sih sobs! J Lagipula, Insyaallah, seseorang yang mati syahid demi memperjuangkan kemerdekaan negerinya, beliau akan menjadi salah seorang ahli syurga, amin Ya Rabbal Alamin…
Aku cetuskan pada Intan bahwa pulang nanti, aku ingin kami berbelok ke tanda panah yang ditunjuk di plank nama tersebut, menuju makam sang laksamana. Dan hari ini, aku menyadari betapa buruk nilai pelajaran sejarah Intan, sukses membuatku terheran-heran!
Masak ga pernah dengar nama Laksamana Malahayati? Tak pernah tau bahwa beliau adalah Laksamana wanita pertama di dunia? Apa kamu ga pernah baca atau memperhatikan saat gurumu mengajar sih nak?
Putriku begitu takjub saat kuceritakan tentang sepak terjang sang laksamana ini. Bahkan Intan jadi begitu terkagum saat kukatakan bahwa, saat itu belum pernah ada seorang laksamana (admiral) wanita di dunia, Laksamana Malahayati lah the first one! Masak mi? di dunia? Di Indonesia kali mi? Umi salah kali mi?
Yaelah, dikasih tau malah ngeyel. Sampai aku terpaksa menanyakan dengan penuh rasa prihatin, apa di sekolah, dari SMP sampai SMA mereka tidak lagi belajar tentang sejarah nasional/bangsa? Intan tertawa, malu juga, dan dengan kalem mengatakan ‘ada sih mi, tapi Intan kurang tertarik dengan sejarah!’ Weleh-weleh nak!
Kuceritakan sekilas tentang Laksamana idolaku ini, dan kekaguman semakin terlihat nyata dari antusiasme anandaku untuk mengetahui lebih jauh sepak terjang sang tokoh pejuang wanita yang satu ini. Dan tak sabar ingin membaca postinganku tentang sang Laksamana wanita pertama di dunia ini, yang adalah berasal dari negeri tercinta ini, puteri dari bumi Iskandar Muda..
Singkat cerita, Intan menyerahkan kemudi padaku, saat kami telah sampai pada penghujung jalan yang tak lagi beraspal, dan artinya, kami harus kembali, apalagi waktu telah menunjukkan angka 3.25 wib. Masih pada niat semula untuk mampir di makam sang Laksamana, maka kupacu Gliv dengan kecepatan yang lebih tinggi. Tak sabar aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, rumah peristirahatan tokoh yang begitu aku kagumi ini…
Tak jauh masuk ke dalam, hanya 100 m, seperti yang tertulis di plank penunjuk arah menuju makam. Suasana sangaaat sepi. Tak ada satu orang pun yang melintas karena memang tempat ini menjorok ke dalam.  Kuhentikan Gliv dan memarkirnya dengan baik. Intan terlihat sedikit takut untuk turun. Penampakan areal makam sendiri sih apik-apik saja, tak ada yang menyeramkan, hanya tingkat sepinya yang masuk kelas wahid itu yang bikin hati was-was. Aku sendiri sih kepikiran pada takut ditodong atau dirampok oleh (siapa tahu kan) combatan/mantan anggota gerakan separatis. Ini kan mirip hutan, tapi yang terawat. Tak lupa kuingatkan Intan untuk tidak bercerita tentang kunjungan ini pada mami (panggilan bahasa Aceh untuk nenek) nya alias umiku nanti, pasti aku akan diceramahi panjang lebar jika ketahuan nekad main ke tempat sepi dan 'berbahaya' seperti ini. Kalo ada orang jahat gimana? Pasti akan panjang lebar dan banyak 'kalo' nya deh ntar jika ibuku tahu.... hihi
Alhamdulillah, sekitar dua menit kami keluar dari Gliv, sebuah Avanza silver memasuki area makam, parkir tepat disamping Gliv. Awalnya aku kuatir juga, melihat penumpang Avanza itu adalah para lelaki. Hatiku sedikit menciut, karena aku hanya berdua Intan, di tempat yang begitu sepi tanpa terlihat satupun rumah penduduk di sekitar tempat itu. Sempat terniat di hati untuk segera masuk lagi ke mobil, sambil berfikir secepat apa aku sanggup memutar Gliv dan melarikannya ke jalan raya lagi…
Tapi Alhamdulillah, seorang ibu setengah baya, dengan pakaian muslim yang santun ikut keluar dari Avanza itu. Aman, Insyaallah, batin ku. Kusapa si ibu dengan ucapan salam yang segera dibalas ramah. Ternyata mereka dari Aceh Timur, sedang main ke Banda dan tertarik juga untuk melihat makam sang Laksamana.
Jadi ada teman deh sobs! Tadinya aku ragu banget jika hanya berdua Intan, mendaki bukit, mencapai tempat peristirahatan tokoh idolaku. Walau idola banget, jika harus mendaki setinggi itu, tanpa tau gerangan apa yang sedang menanti kami di puncak perbukitan itu, kan sama saja membawa diri ke mara bahaya ya sobs?
Tampak depan pekarangan Makam Laksamana Malahayati
Akhirnya, bersama kami mendaki. Sayangnya aku lupa menghitung berapa puluh anak tangga yang harus kami naiki untuk sampai di atas sana. Terlihat Intan masih sedikit takut, juga lelah menaiki satu demi satu anak tangga itu.
Makamnya terletak nun jauh di atas tuh sobs!
Tuh di atas itu makamnya sobs!
Nah, ini dia makamnya....
“Mi, umi yakin mau ke atas? Ga takut? Kok Umi begitu kagum sih dengannya?” Ealah nak, kok masih tanya toh? ya iyalah….
“Ya iya lah nak… misalnya gini, Intan kalo lagi jalan-jalan lihat ada SMASH, dan kesempatan untuk ketemu langsung udah di depan mata, apa yang Intan lakukan? Menjauhinya apa mendekatinya?”
Intan malah tertawa terbahak, “haha… Umi..Umi, kok malah disamain dengan Smash? Haha”. Habis Intan idola banget sama Smash boyband sih sobs, jadi paling gampang ngasih perumpamaan ya seperti itu toh? hihi
Akhirnya sampai juga kami di puncak, dan aku kaget menemukan seorang pemuda yang sedang begitu asyik membersihkan makam. Serius dan enjoy sekali pemuda itu melaksanakan tugaasnya. Mungkin pun sambil melamun kali sobs? Hehe
Pernahkah sobats merasa seperti ini? Begitu bahagia? Merasa takjub? Inilah yang kurasakan begitu melihat tiga batu nisan berjejer di bagian kepala makam itu sobs, tiga lagi berjejer di bagian kaki. Kok tiga? Ternyata menurut si pemuda, di dalam makam ini bersemayam tiga jasad, Laksamana Malahayati, suaminya dan anaknya. Aku baru tahu hal itu sobs!
Tak terhalang, menitik airmata ini sobs…. Terharu…Tak pernah timbul di anganku keinginan untuk berada di makam tokoh yang begitu aku kagumi. Yang tentangnya kutulis sepenuh jiwa di postingan yang ini…
Namun kini? Aku mendapati diriku telah berada di hadapannya. Hanya terbatas oleh gundukan tanah yang ditaburi bebatuan kecil di atasnya. Hanya setipis itu jarak antara aku dan tokoh idolaku. Spontan, tak terhalang tangan kananku langsung mengelus bingkai makam…. Ingin mengelus batu nisan itu sih, tapi takut akan dilarang oleh si pemuda. Maka aku hanya membiarkan tangan kananku mengelus bingkai pusara itu, seraya menghadiahi sang Laksamana sebuah Al-Fatihah. “Beristihatlah dengan tenang Cut Nyak… tak pernah terduga jika aku akan berkesempatan untuk bertemu dirimu…. Hari ini, tanpa diduga dan tanpa rencana, Allah membawaku kesini…. Ke tempat orang yang begitu aku kagumi…. Alhamdulillah ya Allah…”.

Di perjalanan pulang, Intan mengatakan bahwa teman baru kami (para penumpang Avanza) terheran-heran melihat umi begitu khusyuk berdoa di makam. Mereka sendiri cuma melihat-lihat dan foto-foto aja. Aku hanya tersenyum. Aku juga akan begitu jika tokoh yang aku kunjungi bukanlah tokoh yang begitu aku kagumi …. J
Well sobs, itulah sedikit cerita tentang petualangan kami siang tadi… Sungguh sebuah pertemuan tak terduga yang Allah siapkan untukku. Trims ya Rabbi.. 
Kehidupan adalah sebuah arena yang penuh misteri
Bahkan seorang ahli nujum sekalipun tak kan pernah mampu menebak dengan tepat gerangan apa yang tersembunyi di balik misteri itu…
Terima kasih padamu ya Allah, pemilik segala misteri, pengarah segala lakon dan penulis segala scenario kehidupan

 Saleum,
Alaika

Read More
/ /
Seorang anak yang bosan mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya, menulis di selembar kertas, dan memberikannya pada ibunya yang sedang sibuk di dapur.

Ibu menerima kertas tersebut & membacanya.

Ongkos upah membantu Ibu :
- Membantu ke warung 20 rb
- Menjaga adik 20 rb
- Membuang sampah 5 rb
- Membereskan tempat tidur 10 rb
- Nyiram bunga 15 rb
- Nyapu lantai 15 rb
Jumlah seluruhnya : 85 rb

Selesai membaca, Ibu tersenyum, mengambil pena & menuLis dibelakang kertas yang sama :

- Mengandung selama 9 bln.
GRATIS
- Jaga malam karena menjagamu
GRATIS
- Airmata yang menetes karenamu.
GRATIS
- Khawatir memikirkan keadaanmu
GRATIS
- Menyediakan makan, minum, pakaian & keperluanmu.
GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku.
GRATIS

Air mata anak berlinang, lalu dia memeluk ibunya & berkata :
"Saya Sayang Ibu".
Lalu dia mengambil pena & menulis dikertas : "LUNAS"

Sebuah renungan yang begitu berarti bagi diriku, semoga juga akan berarti bagi kita semua...

PS:
She still loves and cares for U, as always, as we do.
Wake up bro! Times is running and we are still waiting, for U! :(
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Kelebat bayangmu masih menyisa duka
Mengukir sembab di pelupuk mata
Tak mampu kuhalau rimdu ini
Oleh bayangmu yang kian menari

Tiba-tiba aku benci perjalanan ini
Duduk terpaku renungi kamu
Harusnya aku bawa  Gliv kesini
Agar aku bisa memandu

Duhai kamu yang disana
Gerangan apa yang menguasai diri
Hingga kamu jadi begini
Tidakkah kamu sadari
Kami disini masih menunggu

Wake up bro! do not sleep so long
We are here waiting for you,
as always, with love.

Posted in angkot (Rajawali - Cigadung)
By my Laxy

Read More
/ /

Panjat pinang, lomba lompat karung, makan kerupuk, bawa kelereng hingga sepak bola para bapak berpakaian daster, adalah pemandangan heboh yang biasanya selalu hadir di era perayaan tujuh belas Agustusan.
Yup,  hampir seluruh rakyat Indonesia tak asing dengan euphoria yang satu ini. Peringatan penuh canda tawa, gegap gempita ini biasa kita saksikan hampir di seluruh pelosok negeri. Merayakan hari kemerdekaan negeri Indonesia tercinta.
Namun…… Begitu juga kah halnya dengan sebuah provinsi yang terletak nun jauh di ujung Barat pulau Sumatera? Adakah juga aneka perlombaan dan hadiah yang menggiurkan terselenggara dan membahana di sana?
Ternyata jawabannya adalah tidak sobs! Tidak demikian!
Hampir di seluruh wilayah Aceh, (pada masa konflik), kegembiraan ini tak kelihatan sosoknya. Lupakan saja soal pesta lomba, karena soal sepele seperti apakah sebaiknya memasang bendera Merah Putih atau tidak saja, bisa bermuara pada keselamatan jiwa sang pemilik rumah. Simbol resmi Negara Indonesia ini begitu dimusuhi oleh sejumlah warga separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI.
Perbedaan suasana yang begitu mencolok di wilayah ini sungguhlah ironis. Apalagi Sejarah telah mencatat betapa tingginya gairah rakyat Aceh ketika menyambut kelahiran Republik Indonesia, sehingga secara spontan dinyatakan oleh Bung Karno sebagai "daerah modal Republik", ketika Bapak Bangsa dan Presiden Indonesia ini berkunjung untuk pertama kalinya, 1948.
Namun, tak sampai lima tahun kemudian, kekecewaan terhadap pemerintah pusat, yang dirasakan tidak tanggap terhadap aspirasi daerah, mulai tumbuh. Pemberontakan bersenjata pun meletus sejak 1953. Mula-mula karena janji otonomi khusus tak kunjung ditepati dan, belakangan, karena pengerukan hasil alam daerah oleh pusat menyinggung rasa keadilan penduduk Aceh yang merasa nyaris tak mendapatkan manfaat dari kegiatan ekonomi itu. “Perang” pun bergolak. Konflik pun tak terhindarkan.
Dan rakyat tenggelam dalam cekaman penderitaan. Serba salah. Berteman dengan TNI, akan dimusuhi oleh kaum separatis, dan berteman dengan kaum separatis, sudah pasti akan digencet oleh TNI. Pelik, perih!
Hingga kemudian….. tsunami datang menghantam, dan diam-diam membawa ‘berkah tersembunyi’. Gelombang raksasa ini membuat baik pemerintah RI maupun GAM (Gerakan Aceh Merdeka) harus memikirkan kembali konflik yang telah berjalan hampir 30 tahun itu. Tsunami menyodorkan kedua belah pihak ini sebuah tugas utama yang jauh lebih penting daripada hanya berbaku hantam.
Rakyat harus diselamatkan, dan senjata harus disingkirkan. Perundingan demi perundingan pun berlangsung di masa tanggap darurat dan sesudahnya, hingga akhirnya tercapai sebuah kesepakatan damai dengan ditandatanganinya  perjanjian MOU Helsinki oleh kedua belah pihak, di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005.
Babak baru dalam kehidupan masyarakat Aceh pun dimulai. Udara kebebasan dan situasi yang jauuuuh lebih aman menguap di udara. Menaungi langkah kaki masyarakat yang tersisa, dalam proses dan upaya bangkit kembali setelah amukan badai tsunami.
Di balik musibah tentu ada hikmah. Dan itu juga yang tetap terselip di hati dan diyakini penuh oleh para penyintas/masyarakat yang survive. Tak henti kami bersyukur akan perdamaian yang tercipta. Akan rasa aman yang kini terhampar di hadapan mata.
Tak ragu kami mulai merayakan ulang tahun kemerdekaan negeri tercinta ini dengan terang-terangan dan gegap gempita. Seperti cuplikan dari beberapa foto kegiatan yang akan aku tampilkan berikut ini. Walau dalam keadaan masih berduka, karena harta benda dan sebagian jiwa telah direnggut bencana.
Bagiku pribadi, ini adalah peristiwa paling mengesankan dalam kehidupanku. Sepanjang hayat dan berharap tak perlu terulang. Karena aku tak rela menemui moment indah ini jika harus bermula dari sebuah musibah.
Oke sobs, yuk kita lihat cuplikan gambar-gambar berikut ini yuk.

Aneka hadiah ini adalah sumbangan dari Youth of the Street, sebuah NGO asal Australia, yang menyumbangkan aneka rupa bagi para korban tsunami. Ada selimut, handuk, bed lipat, hingga ke berbagai boneka dan pakaian anak.
Dan menjelang perayaan tujuh belas Agustus, kami berinisiatif untuk mencerahkan wajah kanak-kanak di desa Pulot, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, yang merupakan salah satu wilayah kerja kami, dengan keindahan senyuman yang akan terukir indah di wajah mungil mereka.
Betapa pun besarnya bencana, anak-anak ini harus bisa merasakan euphoria perayaan tujuh belas Agustusan. Suatu hal yang mungkin belum pernah mereka cecap dalam hidup mereka, mengingat sejak lahir, mereka telah diselimuti aura konflik!

Ini lah sebagian dari wajah2 yang ingin kami hiasi dengan ukiran senyum terindah. Keceriaan adalah milik setiap insan, termasuk anak-anak ini, yang sebagiannya telah kehilangan ayah ibu.

‘duek pakat’ alias musyawarah dan briefing sejenak dengan para orang tua atau wali anak, sebelum acara dimulai.
Adapun tema yang akan diangkat adalah ‘kerjasama yang baik antar orang tua dan anak’, karena project yang aku komandani disini adalah ‘parenting project’ sebagai salah satu bagian dari program trauma healing yang kami gelar.
Jadi akan ada beberapa lomba akan diselenggarakan yang membutuhkan kekompakan antara anak dan ibu/ayah/kakak/walinya.
Misalnya lomba memasukkan bola ke dalam ember, dimana si anak akan di tutup matanya, dan berdiri jauh dari ibunya, lalu harus bisa melemparkan bola masuk ke dalam ember yang dipegang oleh ibunya.




Gadis kecil ini sempat menangis. Tak lagi memiliki ayah bunda, membuatnya berfikir bahwa panitia tak akan mengijinkan dirinya ikut serta. Senyum manis itu merekah kala kami nyatakan bahwa dirinya boleh memilih siapa saja dari kami, para panitia untuk menjadi kakak angkatnya.
Gadis cilik ini tinggal bersama bibinya, yang kebetulan sedang keluar desa kala acara dilaksanakan.


Ini adalah gadis kecilku. Intan permata hati yang kala itu masih imut-imut, dan sering aku ajak serta turut ke lapangan, berbaur dengan para anak-anak korban tsunami. Untuk turut merasakan bagaimana penderitaan dan kesedihan sahabat-sahabatnya itu, kehilangan ayah ibu maupun sanak saudara oleh musibah tsunami.
Ada juga lomba membawa pensil secara gotong royong dari garis start hingga ke garis finish. Ini juga melibatkan kerjasama apik antara orang tua dan anak-anak atau kakak dan adik.

Lalu juga ada lomba mengambil permen dengan mulut, diletakkan di dalam ember berisi air, kemudian si anak harus cepat berlari ke garis yang satunya, dimana ibu atau ayah atau kakak mereka menanti. Semakin banyak permen yang bisa diambil akan semakin baik.


Yang di tengah adalah Intan, putriku, yang tak mau ketinggalan berpartisipasi dalam acara ini sobs!

Setelah ditangkap dengan mulut, permen pun dilarikan ke garis finish, dimana para orang tua menanti, untuk membersihkan/me-lap permen dan mengumpulkannya. Yang terbanyak yang menang.


Dan berbagai lomba lainnya yang memang mengutamakan kerjasama apik antara anak dan orang tuanya.
Jangan ditanya bagaimana kegembiraan yang tercipta sobs! Rasanya hari itu benar-benar luar biasa. Apalagi saat melihat senyum ceria terukir indah di wajah siapa pun yang hadir kala itu. Ya anak-anaknya, ya emak-emaknya. Sayangnya para bapak tak dapat berpartisipasi, karena mereka terlibat dalam agenda ‘cash for work’, sebuah agenda yang diselenggarakan untuk mengepulkan asap dapur para korban tsunami ini. Dimana, masyarakat desa diundang untuk membersihkan area desanya, dan mendapatkan upah untuk itu.


Well sobs, tak terasa postingan ini menjadi begitu panjang dan berliku. Semoga saja kisah tak terlupakan ini sama membekas di hati anak-anak dan para masyarakat dimana kami bekerja saat itu. Semoga memberi kecerahan dan keceriaan di hati mereka, dan manfaat bagi semuanya.
Semoga juga, akan ada semangat dan kegairahan dalam merayakan hari kemerdekaan, 17 Agustusan di tahun-tahun mendatang.
Dan semoga juga, masih membekas di benak para masyarakat desa ini, akan kehadiran kami kala itu, berbaur dan berkontribusi dalam pembangunan kembali daerah mereka.
Sayangnya, kini, desa itu tak lagi di sana, telah di relokasi ke wilayah lain yang lebih aman dari lidah ombak yang begitu getol menjilati halaman dan beranda desa mereka.
Apapun itu, kita semua tentu berdoa setulus hati, agar Allah memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi ini, serta masyarakat desa ini. Amien Ya Rabbal Alamin.

Tulisan ini diikutkan dalam GA  Kontes Kenangan Bersama Sumiyati-Raditcelluler


  







Read More