Archive for July 2012
Menu
/ /
Alhamdulillah akhirnya aku dan Intan sampai juga dengan selamat di tempat tujuan (baca: Medan, my lovely town). Memulai perjalanan jam 11 pagi tadi, mengemudi dengan ritme tak beraturan (tergantung feeling as I enjoyed the driving), terkadang cepat, terkadang santai, tergantung pemandangan di perjalanan aja sih. Hingga waktu tempuh Bireuen - Medan yang normalnya memakan waktu kurleb 7 jam-an, olehku jadi melar dan molor dua jam lebih lama... Itu juga udah termasuk berhenti untuk shalat Ashar sekalian jamak Zuhur di Mesjid di daerah Besitang (perbatasan antara Aceh - Sumut).

Perjalanan berlanjut hingga stop lagi untuk berbuka puasa, di daerah Stabat. Menjelang berbuka, adik sepupuku sudah sibuk menelphone beberapa kali, kok belum sampe2 juga, was was! Padahal aku dan Intan Alhamdulillah baik-baik saja dan sangat menikmati perjalanan.

Saat berbuka, kami kelewatan sekitar 10 menitan hingga bertemu dengan sebuah warung sea food pinggir jalan, suasana yang hujan deras di tempat itu, semakin membuat kami susah untuk turun mobil dan berlari ke warung. Petir dan kilat juga tak mau tinggal diam sobs. Jika petir dengan angkuh memperdengarkan suara menggelegarnya, maka kilatpun tak mau ketinggalan, memperlihatkan kilatan cahaya yang seperti logo PLN itu lho sobs, membelah angkasa! Sungguh membuat Intan ketakutan dan memaksaku untuk mematikan BB ku. Takut kesambar petir katanya. :)

Shalat Magrib kami lewatkan dan sebagai musafir toh nanti bisa dijamak ke Isya, so kami dapat menikmati berbuka puasa dengan santai.

Setelah terasa mulai bertenaga lagi, kamipun melanjutkan perjalanan.. Dan alhamdulillah sobs, here we are now.. Medan! Yeay!! Ketemu lagi deh dengan si kriwil Nayla, yang langsung memeluk aku dan Intan begitu kami turun mobil. Haha..

Oya sobs.. Sepanjang perjalanan tadi, notifikasi FB di BBku tang ting tung terus lho! Terganggu? Not At All! I am happy banget pastinya, karena kutau pasti bahwa itu adalah ucapan selamat ultah bagiku dari para sahabat baik sahabat dumay maupun dunya (dunia nyata). Alhamdulillah, di hari ini dan tadi malam, banyak sekali mendapatkan ucapan dan doa dari sobats semua.. Alhamdulillah, sungguh kubahagia dan haru... #ambil tissue lap air mata..

Ditambah lagi ada postingan khusus di blog barunya mas Insan Robbani sebagai apresiasinya terhadapku serta ucapan dan doa di hari lahirku, serta postinganku untuk happy miladnya blogcamp yang dipublish Pakdhe di blog apresiasinya bertepatan dengan hari lahirku, membuatku makin haru. Para sahabatku telah begitu piawai memberiku kado istimewa..Makasih mas Insan dan Pakdhe Cholik! Makasih yang tiada batas juga untuk para sahabat tercinta yang telah meluangkan waktunya untuk mampir ke rumah mayaku mau pun ke dinding FB ku, juga ke BBM maupun BB Group untuk mengucapkan selamat dan memanjatkan doanya...
Amin ya Allah... Perkenankan doa2 yang telah dipanjatkan para sahabat ini ya Allah, dan limpahkan juga bagi mereka kesehatan prima, kesuksesan dan kebahagiaan lahir batin ya Allah...

Sobats...
Maafkan jika daku belum berkesempatan untuk membalas komens yang telah sobats tinggalkan di rumah mayaku, juga maaf banget belum sempat BW back ya sobs, maklum, masih lelah teramat sangat nih sobs!

Dan... Sebelum mengakhiri postingan ini sobs, aku ingin share sebuah puisi penuh makna yang aku yakin akan mampu membuat kita semua tepekur, merenungi dan mudah2an memberi perubahan sikap kita kearah yang lebih baik...

Puis kamu Al? Oh No sobs! Hehe.. Bukan lho!
Puisi ini adalah buah karya sastrawan Top negeri ini, pada kenal donk sama WS RENDRA?

Nah, puisi ini dikirim oleh seorang sahabat ke Alaika BB Group.

Yuk kita intip yuk...

Renungan Indah – W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di RS)

Saleum
Alaika
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Read More
/ /

Dua tiga hari ini, kesibukan di dunia nyata terasa begitu mengasyikkan. Berkesempatan untuk selalu berduaan dengan putri tercinta, adalah sebuah kesempatan yang rasanya kembali hadir di kehidupan, setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.
Seperti yang telah aku ceritakan pada sobats di postingan ini dan ini, aku dan Intan memang sedang bekerjasama untuk dalam rangka mewujudkan keinginan Intan untuk bisa memegang kendali atas Gliv kesayangan kami (baca: ngajarin Intan mengemudi). Sebenarnya, masih ada sebuah postingan lagi related to driving on the road test yang ingin aku share, mengingat sepanjang kegiatan itu, kami berdua berkesempatan menangkap keindahan alam pantai Barat Aceh di dalam kamera.
Namun karena kemarin pagi, aku dan Intan langsung berangkat (melakukan perjalanan berdua) menuju Bireuen dan hari ini akan lanjut ke Medan, maka postingan demi postingan terpaksa ditunda dulu deh sobs….
Tadi malam, begitu sampe Bireuen (4-5 jam perjalanan dari Banda Aceh), aku dan Intan langsung tepar. Melakukan perjalanan disaat berpuasa memang melelahkan,  laparnya sih ga seberapa sobs, hanya hausnya ini lho….. Huft. Makanya kami langsung melirik air kelapa muda dengan tak sabar dalam rangka menanti bedug berbuka puasa kemarin malam. Haha….
Perjalanan yang sangat mengasyikkan, yang awalnya sulit sekali mendapatkan ijin dari ayah maupun Umi. Namun akhirnya setelah ngotot dan berusaha meyakinkan keduanya, serta janji untuk ga driving continually (harus nginap satu malam di Bireuen biar ga capek), akhirnya restu itupun kami kantongi dan meluncur muluslah kami dari Banda Aceh sekitar jam 11 pagi kemarin. Sempat juga singgah di Mesjid Sigli untuk shalat zuhur serta tidur siang sejenak di mobil saking ngantuknya. Hihi…
Sebenarnya selain momen indah kebersamaan dalam perjalanan bersama Intan, this is also my Birthday lho sobs! Namun karena kami sedang dalam perjalanan, aku tak mengharap banyak, apalagi sebuah pesta ulang tahun, haha. Never! Di budaya keluargaku, hari lahir mah sering lewat begitu saja, hanya Intan dan suamiku saja yang setia mengucapkan selamat ultah atau bikin pesta kecil2an untuk kami bertiga. Namun sudah dua tiga tahun ini, sejak kami terpisah jarak dan waktu, pesta kecil-kecilan itupun berlalu begitu saja. Dan no worries about it sih…
Seperti tahun sebelumnya, Intan bikin surprise yang begitu mengharukan, diluar dugaan, maka kali ini, ternyata putri tercinta kembali menyiram embun pagi di hati Umi tersayangnya… Sejuuuuuk banget sobs! Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau anugerahi hamba seorang putri dan sahabat terbaik. Trims ya anak umi sayang…
Intan memang penuh kejutan. Tadi malam, begitu kami sampai tujuan (Kota Bireuen), dia berlagak ingin jalan-jalan melihat-melihat kota Bireuen. Berdua kakak sepupunya, keluarlah mereka dari rumah dan kira-kira setengah jam kemudian telah kembali. Aku sih ga sempat memperhatikan apa yang dibawanya pulang kala itu, habis aku udah tepar sih, rasanya capeeeeeek banget. Jadi aku tiduran aja di kamar, sambil BBM-an sama suami,
Eh tiba-tiba sobs…… sebuah ketukan di pintu secara berulang-ulang, membuatku terganggu.
“Umi…. Umi…!” suara Intan.
“Masuk aja nak, ga dikunci kok!” jawabku.
Ketokan lagi, tetap aja ga dibukanya pintu yang sama sekali tak terkunci itu.
“Masuk aja nak…. Ga dikunci!” Ulangku.
“Mi, tolong bukain donk…. Please!”
Akhirnya aku terpaksa bangkit dan membuka pintu, dan ya Allah…
Putri tercinta telah berdiri di depan pintu dengan sebuah nampan berisi kue ultah mungil dikeliling 6 bebek2an dari coklat! Berdiri di atas dua kue ultah mungil ini, dua buah lilis bertuliskan angka 4 dan 2!
Intan diikuti tanteku serta sepupu Intan menyanyikan lagu selamat ulang tahun bagiku dan menyodorkan nampan untuk aku hembuskan lilinnya begitu mereka selesai bernyanyi.
Subhanallah! Speechless rasanya sobs! Sama sekali aku tak menyangka, jika di tengah perjalanan yang sedang kami lakukan, Intan masih sempat-sempatnya memikirkan perayaan kecil-kecilan ultah bagiku. Subhanallah, makasih banyak ya nak…. Umi love you so much! Terima kasih ya Allah… atas anugerah permata mulia ini bagi hamba…
Kalimat yang sungguh bikin terharu dari bibir mungilnya adalah, “Mi… maaf kuenya jelek, disini mahal banget tart nya… uang Intan ga cukup untuk beli yang besar, jadi kue ultah umi hanya seperti ini… ga apa-apa kan mi?”
Kupeluk dia dalam linangan airmata bahagia….
“Nak, umi bahagia banget atas persembahan ini…. Never think about the cake. Ini juga udah sangaaaat sangat cantik kok nak… Umi bahagia dan berterima kasih banget atas perhatian anak umi. Makasih ya sayang!”
Dipeluknya aku dengan hangat, sambil berbisik perlahan, “Mi, makasih sudah menjadi umi terbaik bagi Intan. You are the best mom in the world! Makasih telah menjadi umi sekaligus ayah bagi Intan ya mi. Love You so much!”
Aku hanya bisa mendekapnya erat, membiarkan bulir bening yang menggantung dipelupuk mata, mengalir berjatuhan. Haru.
Ijinkan hamba membesarkannya ya Allah, kuatkan hamba untuk bisa memberinya kasih sayang double dan extra, bantu kami (aku dan papa barunya) menghantarkannya menggapai masa depan impiannya. Amin..
Read More
/ /
Akhir-akhir ini Banda Aceh terasa panaaaas banget! Hari ini apalagi? Panasnya luar biasa sobs… rasanya mau kemana dan ngapain aja kok malaaaas banget… Maunya ngadem di kamar sambil setel AC di suhu terendah yang dimiliki remote control.
Harapannya sih, di malam hari mbok ya sang temperature mau dikit kompromi lah, eh tapi teteup aja sobs…. Ga mau turun…. Masih aja panas dan bikin gerah. Apalagi setelah berbuka, kok rasanya tambah lemes dan capek ya? Anehnya malam ini, abuchik (kakek) dan mami (nenek)nya Intan juga merasakan hal serupa… Kecapean!
Dan efek dari kecapean ini, akhirnya diputuskanlah untuk bertarawih ria di rumah saja… itu juga setelah sang imam (abuchiknya Intan) tiduran sejenak. Aku dan Intan sih senang-senang aja melihat ayah tidur, berarti kami juga punya space waktu untuk rehat sejenak dan ngadem di kamar… hehe.
Nah, sambil ngadem tadi… terciptalah postingan ini sobs… yang sebenarnya merupakan episode lanjutan dari postingan ini, dimana mengisahkan tentang Intan yang sedang asyik belajar mengemudi, driving on the road test…
Ini adalah hari ke dua Intan kubiarkan mengemudi di jalan raya (tentu jalan raya yang masih sepi sih sobs!). Dan jalan yang kami pilih itu adalah jalan Banda Aceh – Krueng Raya, yang sepi dan berpemandangan indah. Sebelah kiri adalah tepi pantai dengan lautnya yang biru damai, dan sebelah kanan adalah perbukitan, yang sebagian telah ompong karena tanahnya dikerok untuk keperluan pembangunan, Deuh, sayang banget ih, harusnya perbukitan ini dilestarikan donk… L
Well, yuk kita ikuti kisah petualangan kami hari ini yuk…
Ternyata Intan yang sedang maruk mengemudi, punya rasa lelah juga sobs, dihentikannya Gliv setelah minta persetujuanku, dan kamipun turun dan menyeberang jalan, menuju sebuah tempat nan indah permai…
Cantik banget ya sobs?
Damai banget deh rasanya.....
Nah, gundukan bangunan yang teronggok dalam air laut itu adalah bekas benteng pertahanan yang digunakan para pejuang dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan negeri ini sobs… sayang telah aus dimakan masa ditambah dengan amukan gelombang tsunami yang membuat permukaan air laut jadi naik sehingga membuat penampakan benteng ini juga semakin menciut…
Siapa yang bisa tahan untuk ga narsis dengan pemandangan indah dan kedamaian yang ditimbulkannya sobs? 

Rasanya ga ingin segera pergi dari tepi pantai ini sobs.. apalagi suasana sepinya yang begitu damai, hening dan syahdu.... #nyesal deh ga bawa laptop sobs! Kalo tidak, kan bisa langsung posting dari tempat indah ini.... hehe. Dasar blogger!
Well sobats tercinta.....itulah sekilas kisah perjalanan kami hari ini, sambil menyelam minum air, sambil latihan mengemudi kita nikmati pemandangan indah nan permai.... :), Semoga ga bosan membacanya yaaa.... 

Saleum,
Alaika

Read More
/ /
Aktivitas seharian kemarin asli membuatku tak sempat mengintip rumah maya tercinta, walau notifikasi comment masuk bolak balik tang ting tung dari BB notifikasi...

Ingin banget rasanya segera terhubung ke laptop, sign in di blogger dan menjawab komen para sahabat serta melakukan kunjungan balasan plus silaturrahmi ke rumah maya para sahabat tercinta...

Namun apa daya sobs, selesai shalat tarawih di mesjid raya Baiturrahman tadi malam,  aku dan Intan sepakat untuk langsung ke peraduan... Tak seperti biasa, dimana kami masih menghabiskan waktu sejenak dua tiga jenak untuk aktivitas di dunia maya...

Dan pagi ini sobs, sembari menunggu azan subuh, pengennya sih buka laptop dan bikin postingan, tapi rasanya kok malas duduk yaa? Juga rasa kantuk ini masih sulit banget untuk disuruh pergi, padahal udah dikasih uang 10 ribu untuk beli jajan di tempat yang jauh lho... #hehehe, ngawur!!

Dan sobs... Berhubung belum sempat bikin postingan nih... Maka yuk kita simak sebuah joke yang menurutku sih bisa saja terjadi di alam nyata nih sobs... Dan jika hal itu menimpa kita, bagaimana perasaan kita?

Yuk langsung cekidot yuk...

Seorang pemuda sedang duduk mendengarkan ceramah tarawih kala sebuah kotak amal lewat di hadapannya. Diraihnya dompet yang berada di saku belakang celananya, dibukanya dan dikeluarkannya uang Rp.1.000. Dengan penuh keikhlasan dimasukkannya uang itu ke kotak amal.
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk dibelakangnya menyodorkan uang Rp.100.000 kepadanya.
Pemuda itu pun memasukkan uang itu kedalam kotak amal sambil tersenyum kagum kepada bapak yang pemurah itu.

Setelah kotak amal berlalu, si bapak menepuk pundak pemuda itu dan berkata: "Nak, uang tadi itu jatuh dari dompetmu…………"

Kaget dan sungguh tak menyangka kenyataan itu, si pemuda spontan menjawab: "Oh ya? Ga papa Pak". Kalem walau ada rasa pedih di hatinya... Diukirnya senyum. Mengikhlaskan hati.

Well sobs, bagaimana sikap sobats jika hal ini terjadi pada diri sobats? Sementara itu adalah uang terakhir di akhir bulan?

Sumber:
Alaika BB Group

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Aktivitas seharian kemarin asli membuatku tak sempat mengintip rumah maya tercinta, walau notifikasi comment masuk bolak balik tang ting tung dari BB notifikasi...

Ingin banget rasanya segera terhubung ke laptop, sign in di blogger dan menjawab komen para sahabat serta melakukan kunjungan balasan plus silaturrahmi ke rumah maya para sahabat tercinta...

Namun apa daya sobs, selesai shalat tarawih di mesjid raya Baiturrahman tadi malam, aku dan Intan sepakat untuk langsung ke peraduan... Tak seperti biasa, dimana kami masih menghabiskan waktu sejenak dua tiga jenak untuk aktivitas di dunia maya...

Dan pagi ini sobs, sembari menunggu azan subuh, pengennya sih buka laptop dan bikin postingan, tapi rasanya kok malas duduk yaa? Juga rasa kantuk ini masih sulit banget untuk disuruh pergi, padahal udah dikasih uang 10 ribu untuk beli jajan di tempat yang jauh lho... #hehehe, ngawur!!

Dan sobs... Berhubung belum sempat bikin postingan nih... Maka yuk kita simak sebuah joke yang menurutku sih bisa saja terjadi di alam nyata nih sobs... Dan jika hal itu menimpa kita, bagaimana perasaan kita?

Yuk langsung cekidot yuk...

Seorang pemuda sedang duduk mendengarkan ceramah tarawih kala sebuah kotak amal lewat di hadapannya. Diraihnya dompet yang berada di saku belakang celananya, dibukanya dan dikeluarkannya uang Rp.1.000. Dengan penuh keikhlasan dimasukkannya uang itu ke kotak amal.
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk dibelakangnya menyodorkan uang Rp.100.000 kepadanya.
Pemuda itu pun memasukkan uang itu kedalam kotak amal sambil tersenyum kagum kepada bapak yang pemurah itu.

Setelah kotak amal berlalu, si bapak menepuk pundak pemuda itu dan berkata: "Nak, uang tadi itu jatuh dari dompetmu…………"

Kaget dan sungguh tak menyangka kenyataan itu, si pemuda spontan menjawab: "Oh ya? Ga papa Pak". Kalem walau ada rasa pedih di hatinya... Diukirnya senyum. Mengikhlaskan hati.

Well sobs, bagaimana sikap sobats jika hal ini terjadi pada diri sobats? Sementara itu adalah uang terakhir di akhir bulan?

Sumber:
Alaika BB Group

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Aktivitas seharian kemarin asli membuatku tak sempat mengintip rumah maya tercinta, walau notifikasi comment masuk bolak balik tang ting tung dari BB notifikasi...

Ingin banget rasanya segera terhubung ke laptop, sign in di blogger dan menjawab komen para sahabat serta melakukan kunjungan balasan plus silaturrahmi ke rumah maya para sahabat tercinta...

Namun apa daya sobs, selesai shalat tarawih di mesjid raya Baiturrahman tadi malam, aku dan Intan sepakat untuk langsung ke peraduan... Tak seperti biasa, dimana kami masih menghabiskan waktu sejenak dua tiga jenak untuk aktivitas di dunia maya...

Dan pagi ini sobs, sembari menunggu azan subuh, pengennya sih buka laptop dan bikin postingan, tapi rasanya kok malas duduk yaa? Juga rasa kantuk ini masih sulit banget untuk disuruh pergi, padahal udah dikasih uang 10 ribu untuk beli jajan di tempat yang jauh lho... #hehehe, ngawur!!

Dan sobs... Berhubung belum sempat bikin postingan nih... Maka yuk kita simak sebuah joke yang menurutku sih bisa saja terjadi di alam nyata nih sobs... Dan jika hal itu menimpa kita, bagaimana perasaan kita?

Yuk langsung cekidot yuk...

Seorang pemuda sedang duduk mendengarkan ceramah tarawih kala sebuah kotak amal lewat di hadapannya. Diraihnya dompet yang berada di saku belakang celananya, dibukanya dan dikeluarkannya uang Rp.1.000. Dengan penuh keikhlasan dimasukkannya uang itu ke kotak amal.
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk dibelakangnya menyodorkan uang Rp.100.000 kepadanya.
Pemuda itu pun memasukkan uang itu kedalam kotak amal sambil tersenyum kagum kepada bapak yang pemurah itu.

Setelah kotak amal berlalu, si bapak menepuk pundak pemuda itu dan berkata: "Nak, uang tadi itu jatuh dari dompetmu…………"

Kaget dan sungguh tak menyangka kenyataan itu, si pemuda spontan menjawab: "Oh ya? Ga papa Pak". Kalem walau ada rasa pedih di hatinya... Diukirnya senyum. Mengikhlaskan hati.

Well sobs, bagaimana sikap sobats jika hal ini terjadi pada diri sobats? Sementara itu adalah uang terakhir di akhir bulan?

Sumber:
Alaika BB Group

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Aktivitas seharian kemarin asli membuatku tak sempat mengintip rumah maya tercinta, walau notifikasi comment masuk bolak balik tang ting tung dari BB notifikasi...

Ingin banget rasanya segera terhubung ke laptop, sign in di blogger dan menjawab komen para sahabat serta melakukan kunjungan balasan plus silaturrahmi ke rumah maya para sahabat tercinta...

Namun apa daya sobs, selesai shalat tarawih di mesjid raya Baiturrahman tadi malam, aku dan Intan sepakat untuk langsung ke peraduan... Tak seperti biasa, dimana kami masih menghabiskan waktu sejenak dua tiga jenak untuk aktivitas di dunia maya...

Dan pagi ini sobs, sembari menunggu azan subuh, pengennya sih buka laptop dan bikin postingan, tapi rasanya kok malas duduk yaa? Juga rasa kantuk ini masih sulit banget untuk disuruh pergi, padahal udah dikasih uang 10 ribu untuk beli jajan di tempat yang jauh lho... #hehehe, ngawur!!

Dan sobs... Berhubung belum sempat bikin postingan nih... Maka yuk kita simak sebuah joke yang menurutku sih bisa saja terjadi di alam nyata nih sobs... Dan jika hal itu menimpa kita, bagaimana perasaan kita?

Yuk langsung cekidot yuk...

Seorang pemuda sedang duduk mendengarkan ceramah tarawih kala sebuah kotak amal lewat di hadapannya. Diraihnya dompet yang berada di saku belakang celananya, dibukanya dan dikeluarkannya uang Rp.1.000. Dengan penuh keikhlasan dimasukkannya uang itu ke kotak amal.
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk dibelakangnya menyodorkan uang Rp.100.000 kepadanya.
Pemuda itu pun memasukkan uang itu kedalam kotak amal sambil tersenyum kagum kepada bapak yang pemurah itu.

Setelah kotak amal berlalu, si bapak menepuk pundak pemuda itu dan berkata: "Nak, uang tadi itu jatuh dari dompetmu…………"

Kaget dan sungguh tak menyangka kenyataan itu, si pemuda spontan menjawab: "Oh ya? Ga papa Pak". Kalem walau ada rasa pedih di hatinya... Diukirnya senyum. Mengikhlaskan hati.

Well sobs, bagaimana sikap sobats jika hal ini terjadi pada diri sobats? Sementara itu adalah uang terakhir di akhir bulan?

Sumber:
Alaika BB Group

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Sudah sejak kemarin, aku berniat banget untuk shalat tarawih di Mesjid Lingke, dan niat ini sudah kucetuskan pada Intan untuk menarik simpatinya ikutan bertarawihan disana. Anaknya sih asyik-asyik aja, setuju-setuju aja walau heran dengan niatku itu. Umi aneh, disaat semua orang berlomba untuk ke masjid Raya, apalagi ada abuchik (bahasa Aceh untuk kakek alias ayahandaku) yang setiap malam suka safari tarawih ke masjid-mesjid ternama di kotaku, ini kok malah mau ke masjid Lingke, yang bisa ditempuh 5 menit jalan kaki saja…
Keheranan Intan terjawab saat mengetahui alasan utamaku ke masjid Lingke adalah agar kami bisa berjalan kaki saja. Dengan berjalan kaki perut yang terasa begitu sesak oleh aneka penganan berbuka, kuharap bisa segera diproses, hingga mengembalikan rasa nyaman untuk beraktifitas malam hari (apa ya aktifitas malam hari di bulan Ramadhan?) #Kok nanya, ya mengaji, baca buku agama daaaan… blogging dunk! J ) #teteup bo’.
Jika malam sebelumnya, niat suci ini berhasil terkalahkan dengan sukses oleh godaan syaitan yang terkutuk, hingga membuat Intan terpingkal-pingkal melihat uminya yang malah rebahan setelah magriban, batal untuk melaksanakan niat tarawihan di Mesjid Lingke…. Maka malam ini, kubulatkan tekadku untuk melaksanakan niat yang telah gagal terlaksana itu.
Selesai mengaji bersama Intan, kami pun bersiap-siap untuk segera berjihad berjalan kaki ke masjid yang dimaksud. Eh ternyata, saran Umi  yang menggiurkan, agar aku dan Intan nebeng mobil ayah aja, yang memang mau berangkat tarawihan di salah satu mesjid di pusat kota, dan melewati mesjid Lingke, adalah tawaran menarik yang begitu memikat pastinya. Barulah nanti pulangnya jalan kaki.
Yo wes lah, masak ajakan yang memudahkan ini ditolak sih? Ga sopan dunk. Maka aku dan Intan pun masuklah ke mobil ayah, yang akan ke masjid dengan adik bungsuku.
Baru dua menit di dalam mobil, ayah melancarkan bujukan baru…. “Kakak dan Intan ga mau ikutan ke masjid Muhammadiah? Belum pernah  kan kesana? Gimana kalo kesana aja?”
Mau jawab apalagi coba sobs? Ajakan yang sama sekali tak membutuhkan kerja keras, tinggal duduk manis dan beberapa menit kemudian tinggal turun di masjid tujuan. Ga ada ruginya toh? Niat jalan kakinya gimana? Hm… besok-besok aja deh. Masih ada waktu… Lagian urusan perut yang kepenuhan, ntar waktu melakukan shalat tarawih juga akan beres dengan sendirinya… gerakan shalat sebanyak 4. 8 dan 3 rakaat itu kuyakin akan mampu mengembalikan rasa nyaman di perut ini. #Lha, kok bukan mandang nilai ibadahnya sih Al? dari tadi yang dibahas kok malah urusan olahraga dan perut?
IYA dariku langsung membuat ayahanda tancap gas, dan ditengah perjalanan menuju Mesjid Muhammadiah malah terkontaminasi oleh cetusan ide baru dari Rizal.
“Mending ke Mesjid Raya aja yah, lebih asyik bacaan ayat-ayat nya!” Langsung disambut setuju oleh semua penumpang (yang tak lain adalah Intan dan aku). Tujuanpun berubah, si hitam ayahku pun beralih tujuan, berbelok perlahan menuju Mesjid ternama kebanggaan masyarakat Aceh ini. Yup, Mesjid Raya Baiturrahman.
Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, parkiran di Mesjid megah ini penuuuh banget, di seluruh sisinya. Ckckck….. Beberapa polisi yang bertugas mengatur lalu lintas pun ikutan urun bantuan dalam hal parkir mobil para pengunjung masjid.
Si hitam akhirnya berhasil mendapatkan sebuah space untuk berhenti sejenak, menurunkan dan menanti penumpang beserta majikannya menunaikan shalat tarawih di masjid yang indah ini.
Langkah kehidupan memang tak pernah bisa diduga ya sobs? Jika tadi aku begitu antusias untuk berjalan kaki ke Mesjid Lingke,yang tak jauh dari rumah, eh siapa sangka kini aku dan Intan malah sudah duduk manis dan terpana akan keindahan Mesjid yang berkali-kali memang senantiasa membuatku tercengang ini…
Jika beberapa minggu lalu, aku diculik oleh suami dalam sebuah penculikan tragis nan romantis, dijejali dengan aneka keindahan dan kenikmatan duniawi, maka kini aku dan Intan diculik ayah, untuk dijejali kesempatan beramal ibadah dalam rangka menggapai nikmat Surga Ilahi. Subhanallah.
Malam keenam bulan Ramadhan, suasana di Mesjid megah ini masih begitu penuh sesak. Jemaahnya tumpah ruah sampai ke halaman rumput di luar masjid. Dan sepertinya ada yang memang begitu enjoy melaksanakan sembah sujud pada Ilahi Rabbi di bawah naungan angkasa biru, ditemani bulan sabit yang begitu syahdu. Hm… mungkin besok-besok aku harus coba ambil tempat di halaman rumput itu. Pasti lembut sekali saat bersujud di hamparan hijaunya nan lembut itu….
Untuk malam ini,  beruntung kami tiba lebih awal, sehingga masih kebagian tempat di saf ke lima dari depan. Aku dan Intan sepakat untuk tidak menggelar sajadah kami, melainkan membiarkannya terlipat dan kami letakkan saja di samping tas. Rasanya lebih nikmat bersujud dan membiarkan dahi ini bersentuhan langsung dengan batu marmer nan dingin, indah dan licin berkilau itu, daripada bersujud di atas sajadah beledru.
Konon batu marmer ini didatangkan dari Persia lho sobs!
Dan memang tak salah pilihanku sobs… ada kenikmatan tersendiri saat merasakan dinginnya batu marmer yang sebesar hamparan sajadah itu menyentuh dahi… adem gitu deh sobs! Bikin kita tambah kusyuk deh. J, tak hanya aku lho, Intan juga merasakan hal yang sama kok. Berarti aku ga lebaykan? Hehe
Selain kebersihan dan keindahan arsitekturnya yang begitu mempesona, ada hal lain yang membuat aku begitu salut dengan masjid yang satu ini sobs.
Apaan itu Al?
Menurutku sih, masjid Raya Baiturrahman ini sangat demokratis. Jika banyak masjid atau meunasah lain di Aceh yang menerapkan tarawihan 20 rakaat (seperti di meunasah tempat tinggalku), maka Mesjid Raya menyediakan sarana/pendukung agar kedua opsi itu (8 rakaat dan 20 rakaat) dapat dijalankan oleh yang memilihnya.
Maksudnya gimana sih Al?
Ok, maksudku begini sobs…. Jika di meunasah lainnya, yang menerapkan tarawihan 20 rakaat, maka Jemaah yang hanya ingin 8 rakaat, silahkan stop sampai 8 rakaat, lalu  undur diri dari saf dan lakukan sendiri shalat witirnya. Maka di masjid Raya ini, saat shalat tarawihnya telah mencapai rakaat ke delapan, maka Jemaah yang ingin 20 rakaat, mundur, membiarkan imam menutup shalat tarawih (8 rakaat) ini dengan shalat witir. Begitu selesai, maka imam dan jemaah 8 rakaat ini pamit alias undur diri, baru imam lainnya akan mengambil alih, dan memimpin jemaah 20 rakaat untuk menyelesaikan ibadah mereka.
Mungkin di tempat lain juga begitu ya sobs? Tapi di kampungku, dan juga beberapa tempat ibadah lainnya tidak begitu sobs…. Kebanyakan ya seperti yang aku sebutkan di atas, bahwa jemaah 8 rakaat, silahkan menyelesaikan sendiri shalatnya..
Oya, adalagi yang bikin aku selalu jatuh hati pada masjid yang satu ini sobs…. Warna putihnya itu lho… rasanya bersih banget… plus pilar-2 kokoh yang menyangga, ditempeli pula oleh beberapa TV berukuran 32 inc di beberapa pilar itu, menyajikan pemandangan yang gimanaaa gitu ya?
Eitsss! Ya jelas bukan untuk nonton music apalagi pertandingan sepakbola donk sobs! TV-2 ini jelas untuk memudahkan jemaah melihat penampakan sang khatib saat memberi khutbah…
Aku hitung2 sih, ada sekitar 20 lebih TV ukuran 32 Inc yang tersedia di dalam masjid ini sobs. Lumayan banyak yaa? J
Well sobs, malam telah larut, dan mata ini telah semaput (mata kok semaput sih? Maksa banget deh Al!, hehe). Yuk aku tunjukkan beberapa foto yang sempat aku bidik saat sedang menikmati keindahan masjid Raya kebanggaanku ini yuk sobs! 

Baiklah sobats, malam telah benar2 larut nih, udah masuk dini hari pula! Lanjut besok dalam lain kisah yaaa.... hehe.
Saleum,
Alaika
Read More
/ /
Hm, ga terasa, hari ini sudah tanggal 22 June 2016, ya, Sobs? Waktu memang seakan berlari, euy! Dan keriweuhan di dunia persilatan offline masih begitu mendominasi hingga ku tak berkesempatan untuk membereskan beberapa draft postingan untuk harusnya tayang sesuai jadwal. 

Dan, mengisi kekosongan update entry (tayangan baru di blog ini), tiba-tiba aku teringat akan sebuah tradisi yang begitu melekat di ingatan, berlangsung turun temurun di banyak desa di tanah kelahiran, Aceh, pada masa-masa Ramadhan. Masa kanak-kanak memang indah dan tak terlupakan, tak peduli berapa pun usia kita kini, namun ingatan akan kenangan indah masa lalu, tetap mampu menyeruak bahkan tanpa disangka-sangka. Seperti kali ini, nih, Sobs! Tiba-tiba aku teringat akan sebuah kekonyolan masa kecil, yang aku beri tagline  'gara-gara belalang'. Yup, gara-gara belalang ini aku kena setrap harus menjaga adik seharian! Huft, ga bisa kemana-mana. Hehe. Penasaran akan kisahnya? Yuk, meluncur ke postingan lama di bawah ini, yuk! 

= = = = = = = = = = = = = = = = = 

Ditayangkan pada tanggal 25 July 2012, di Banda Aceh. 

Pada suatu ketika, di sebuah desa bernama Lamkawe, Kembang Tanjung, Kab. Pidie, Aceh, tinggallah seorang gadis kecil bernama Alaika Abdullah bersama keluarganya. Gadis kecil yang sebenarnya sangat pemalu, namun kalo sudah bersama teman-temannya malah jadi malu-maluin tingkahnya, haha. 

Kampung halaman memng menyimpan banyak sekali kenangan, ya, Sobs?  Terutama di dalam bulan suci seperti ini. Ingatanku terbuka satu demi satu bak bendungan yang dibuka pintu airnya. Mengalir deras, membuat mata dan fikiran mulai sejalan, hingga kemudian terpaku pada sebuah rutinitas sore hari selaku kanak-kanak kampung, yang begitu ceria dan antusias mengunjungi meunasah untuk sebuah tujuan.
Adalah sebuah kebiasaan bagi kami, anak-anak desa kala itu (ga tau deh apa masih berlaku juga kini bagi kanak-kanak masa kini?), di setiap sore menjelang, dengan sebuah wadah berupa teko, kami secara bergerombol melintasi sawah-sawah yang menghampar (sebagai jalan pintas), menuju meunasah desa kami. Mau ngapain Al?
Mau ambil Ie Bu! 
Adalah kebiasaan turun temurun di setiap desa di Aceh, menyediakan penganan berbuka yang dimasak dalam kuantitas super jumbo, yang memang diniatkan untuk menyambut para warga desa maupun musafir yang singgah di meunasah untuk berbuka puasa. Selain itu, penganan tersebut juga diniatkan untuk dibagikan bagi warga desa yang ingin berbuka di rumah masing-masing.
Untuk itulah, kami, para kanak-kanak desa, setiap sore berbondong-bondong dengan ceria, menenteng wadah masing-masing, menuju meunasah untuk mengambil jatah penganan khas tadi.
Penganan khas nan unik ini bernama Ie bu Kanji (Bubur Kanji Rumbi) dan Ie bu On Kayee (bubur daun dan rempah). Yup! BUBUR,  Sobs!
Tapi bukan sembarang bubur lho. Kedua bubur ini, dimasak dengan penuh cinta dan keikhlasan oleh bapak petugas (yang dipilih dalam rapat desa), dengan aneka persiapan materialnya. Tak sembarang bubur, ini, mah, karena bahan-bahannya telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan menjelang, lho.
Untuk Bubur Kanji Rumbi (Ie bu Kanji), bahan utamanya adalah beras, rempah/bumbu, daging ayam/udang, santan dan menghasilkan rasa yang yummy! Gurih banget!
Sementara jenis bubur yang satunya lagi, merupakan bubur yang berbahan dasar dedaunan dan rempah2 yang menghasilkan rasa, warna dan aroma yang khas. Tak tanggung-tanggung, Sobs, konon diperlukan 44 jenis bahan yang dicampur menjadi satu. Rasanya pedes dan gurih, cocok banget untuk orang yang masuk angin, lho!  Tapi bagi yang ga masuk angin, tetap boleh donk mengkonsumsinya… hehe.
Ok, kembali ke masa kanak-kanak yang terpatri begitu lekat di ingatan nih, Sobs…, adalah kejadian yang terjadi di sore itu. Sebagaimana layaknya sore-sore sebelumnya, Alaika kecil telah rapi jali dan cantik jelita, melangkah riang di antara teman-temannya dengan menenteng teko jinjing khusus untuk tempat Ie bu (bubur). Sengaja menempuh jalan pintas (menembus sawah yang baru selesai panen) menuju meunasah. Semua tidak ada yang aneh, tetap seperti hari-hari sebelumnya.
Namun sore itu, sawah yang telah lapang karena telah panen, menimbulkan daya tarik tersendiri bagi kami, anak-anak desa. Berhentilah kami menangkap belalang yang lompat melompat dari satu batang padi ke batang padi lainnya yang telah puntung (telah dipanen, jadi hanya tinggal batangnya).
Kami keasyikan berlomba menangkap belalang, hingga lupa waktu. Tak terasa hari hampir gelap saat seorang teman berteriak…
“Kita belum ambil Ie bu!” Semua tersentak kaget. Bertujuh kami berlari, jika tadi berlomba menangkap belalang, kini perlombaan beralih ke siapa yang tercepat sampai ke tunggu tanah liat di mana bubur dimasak. Galau menguasai hati setiap anak. Terbayang jelas di benak masing-masing, gambaran amarah/kesal dari ayah/ibu mereka jika pulang nanti mereka tak membawa Ie bu.
Benar saja, Alaika kecil dan teman-temannya sampai di meunasah bertepatan dengan bunyi bedug! Gawat. Uwak tukang masak Ie bu telah meninggalkan dapur, bergabung di meunasah untuk berbuka puasa. Tujuh anak berdiri kikuk penuh rasa takut, membayangkan amarah orang tua mereka. Bukan hanya karena tak membawa bubur, tapi juga karena mereka belum kembali hingga bedug berbunyi!
Kikuk dan takut, akhirnya ketujuh anak pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, membayangkan derita yang akan diemban oleh masing-masingnya.
Dan Alaika kecil sama sekali tak mampu merancang alasan apik untuk membela diri. Apalagi keyakinan bahwa berbohong di bulan puasa, dosanya adalah berlipat ganda, membuat Alaika kecil memutuskan untuk bercerita apa adanya.
Benar saja, ayahku gemes dan tak kuasa menahan marah karena kelalaianku. Ibuku apalagi. Bukan ketiadaan bubur di teko yang aku jinjing yang bikin mereka marah. Tapi anak kecil berkeliaran di luar rumah, di alam terbuka di senja hari, apalagi saat magrib, yang bernuansa mistis (maklum di desa gitu lho!), itulah yang menciptakan percik api kemarahan mereka.
Aku pasrah, tak membantah. Mending nunduk, sambil menjangkau aneka kue yang lezat terhidang di meja makan deh, sambil mendengar wejangan indah dari ayah bunda.
Ujung-ujungnya? Aku tetap kena setrap donk, harus menjaga adik seharian besok! Huuuuu…. Apa boleh buat.
Sobats, punya special memori masa kanak-kanak di bulan Ramadhan? Yuk share yuk…

Kenangan masa kecil yang tak terlupa,
Al, Banda Aceh, 25 July 2012


Read More
/ /
Sobats, pernahkah berkunjung ke Taman Safari? Aku sendiri sih belum pernah, dan terus terang kaget sekali saat mendapatkan sebuah pesan dari seorang teman melalui Alaika BB Group. Pesan yang sungguh membuat hati jadi deg-degan dan prihatin. Apakah pesan itu? Yuk langsung kita simak pesannya di bawah ini yuk…


Mohon untuk menyebarluaskan ke teman dan orang terdekat anda, supaya lebih berhati-hati bila berkunjung Ke TS (Taman Safari). Di bawah ini adalah pengalaman teman kami yang tidak akan kami lupakan seumur hidup.
Hari sabtu lalu (bertepatan hari pertama bulan puasa), teman kami dan keluarga berkunjung ke TS dengan menggunakan Mobil Keluarga, 4 orang dewasa dan 2 anak kecil dengan tujuan refreshing. Belum lama mereka berada di TS, kira-kira 10 menit, mobil mereka memasuki area binatang yang bukan binatang buas (kijang, banteng, dll).
Tiba-tiba mobil mereka mogok dan meski sudah mencoba untuk merestart beberapa kali, tetapi mesin sama sekali tidak bisa dihidupkan kembali. Mereka pikir mungkin cipratan air telah menyebabkan mobil mereka mogok saat baru saja melewati genangan air seperti sungai kecil di TS. Meskipun ragu-ragu, karena tidak terlihat ada petugas TS didekat situ, akhirnya si paman turun untuk membuka kap mesin.
Sengaja mereka tidak membunyikan klakson karena takut mengganggu binatang di TS.  Mereka pikir, area ini adalah area yang aman, bukan area binatang buas, jadi mereka berusaha tenang menunggu di dalam mobil sambil ngobrol. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika melihat seekor singa yang entah dari mana datangnya sudah berada di belakang mobil dan langsung berjalan ke arah depan mobil dimana paman berada.
Lalu… Entah kenapa mereka bagai terhipnotis menatap sang singa yang terus mendekati paman, yang asyik mencari kerusakan mobil dan tidak tahu akan kedatangan sang singa. Mereka benar-benar hanya terpaku melihat Singa itu tanpa berusaha untuk memberitahu paman akan bahaya yang mengintai..  
Dan.. ?? Bertepatan saat paman menutup kap mesin….Kala itu pula sang singa sudah berada tepat dibelakang tubuh Paman, sehingga tampak sangat jelas dari dalam mobil bagaimana sangat dekatnya singa terhadap paman, sungguh pemandangan yang bikin Mereka berhenti bernapas!
Lalu? ….. Si singa dengan santai mencolek bahu paman, seraya berkata;
“Nyantai ajaaa, Gue lagi puasa kok!”

Hehehe…. Serius amat sih sobs? Ini kan hanya lelucon! :D
Pasti senyum lagi kan walau udah pernah baca dari kiriman teman2 lainnya?


Read More
/ /

Sobats, untaian kata-kata bijak diatas, mungkin sudah sering kita baca dan sering pula bersemayam untuk kemudian dicerna secara mendalam di dalam sanubari…
Namun kuyakin, membacanya kembali, apalagi di momen indah nan suci ini, akan membuat alam fikir kita semakin ingin mengisi halaman demi halaman buku itu dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat….
Yuk kita manfaatkan lembaran baru ini dengan bijak, agar seburuk apapun goresan kemarin, dapat kiranya kita imbangi dengan perbuatan baik malam ini dan kedepannya….
Allah selalu meyediakan hari baru untuk kita ber’taubat’ dan untuk melakukan sesuatu yang benar setiap hari, memperbaiki kesalahan dan melanjutkan alur cerita yang sudah ditetapkanNya…
So… yuk manfaatkan momen indah ini yuk sobs… , Happy Fasting dan selamat beribadah penuh taqwa di bulan yang suci ini…….

Saleum,
Alaika
Read More
/ /

Harusnya artikel ini diposting pada tanggal 18 July 2012, bertepatan dengan hari lahirnya sebuah blog fenomenal bertajuk BlogCamp yang dikelola oleh seorang komandan yang tak kalah fenomenal bergelar Pakdhe Cholik. Sayangnya, kesibukan yang menyita waktu di dunia nyata, membuatku sama sekali tak berkesempatan untuk mengintip aktifitas-aktifitas yang sedang berlangsung di dunia maya, termasuk event khusus yang satu ini. Maka terlewatkanlah acara ‘posting on time’ dalam rangka mengucapkan selamat ulang tahun bagi blog yang senantiasa memberi inspirasi bagi para pengunjungnya ini.
Tapi sobs….. niat hati untuk mengucapkan selamat ultah bagi BlogCamp tetap menyala di hati, dan aku yakin bener bahwa it is better to be late than never, ya ga sobs? Karenanya, sore ini, kucoba mencuri waktu, berkoordinasi dengan jemari dan alam fikir, mengalirkan sebuah postingan khusus sembari menyapa para sahabat tercinta. Pakdhe…. Ga papa sedikit telat kan? J
Perkenalanku dengan tokoh seleb yang satu ini, terjadi tanpa disengaja. Suatu hari sebuah komen ramah mampir di kotak komenku untuk sebuah postingan yang sedang berada di posisi teratas halaman mayaku saat itu.
Takjub dan salut, itu rasa pertama yang hadir di dada kala membaca komentarnya. Tak pernah kusangka hari itu aku akan kedatangan seorang tokoh terkenal sekelas pakdhe Cholik, mampir dan membaca serta mengomentari artikelku. Aku hanya seorang blogger amatir yang belum pernah berkunjung ke halaman mayanya, tapi Pakdhe dengan suka cita berkunjung terlebih dahulu dan menyapa. Wow, humble sekali blogger yang satu ini….. ckckckck…
Sejak itu, aku jadi sering main dan berlama-lama di halaman mayanya, walau saat-saat itu aku memilih untuk hanya menjadi silent reader terlebih dahulu. Habis takut salah komen, soalnya ini komandan gitu lho! Hihi…
Well, silaturrahmi mulai terbangun dan terasa indah, hingga suatu hari, berbulan-bulan kemudian, aku berkesempatan untuk juga bisa berkenalan dan bertemu langsung dengan sang komandan. Sungguh sebuah kesempatan yang tak mungkin untuk dilewatkan kan? Ya iyalah, wong pakdhe sedang berada di Bekasi jeh, masak dilewatkan kopdarnya?
Bertemulah kami, beberapa blogger Bekasi dan dua teman blogger dari Jakarta, di sebuah resto bernama Bumbu Desa, di Bekasi Cyber Park dalam event yang dinamai Pakdhe dengan sebutan KopDar Bekasi Senyum Berseri, postingan KopDar nya bisa diintip disini.
Bagiku berkenalan secara langsung dengan Pakdhe dan Budhe yang baik hati, ramah dan tidak sombong, adalah suatu kesempatan langka yang sangat berharga. Sungguh membahagiakan. Ternyata tak hanya celoteh-celotehnya di dunia maya yang mengukir senyum dan gelak tawa, bertemu di dunia nyata pun, pakdhe adalah tetap seorang sahabat yang begitu menceriakan, baik hati dan tentu tetap tidak sombong dunk. Hehe.. Sosok yang begitu bersahaja, humble, tegas tapi humoris, sukses membuat kita terpingkal-pingkal oleh joke-jokenya yang segar mengocok perut.
Tentang BlogCamp? BlogCamp adalah sebuah blog bertema campursari, yang setiap harinya dikunjungi oleh demikian banyak visitor, dipenuhi komen-komen cerah ceria yang mencerminkan keakraban sesama pengunjung juga pemiliknya. Indah sekali. BlogCamp berisi posting-postingan yang begitu menginspirasi. Banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik dari tulisan-tulisan yang dicurahkan oleh sang komandan.
Blog yang satu ini juga begitu sering menggelar kontes-kontes yang sungguh beda dari blog-blog lainnya. Bagi-bagi hadiah, adalah hal yang sudah lazim dilakukan oleh pemilik blog yang satu ini. Salut deh untuk Pakdhe Cholik, yang begitu piawai mengelola blog ini. Bahkan bukan hanya blog ini lho sobs, konon, Pakdhe mengelola 30 blogs lho! Yups. Hebat ya? Kereen!
Dua hari lalu, 18 Juli 2012, Blog fenomenal ini merayakan hari jadinya yang ketiga…
Dan dalam usianya yang menginjak tahun ketiga ini sobs, jangan tanya deh kiprah yang telah dituangkannya bagi dunia maya. Lihat deh statistic yang sukses membuat kita berdecak kagum ini….
Gambar diculik dari postingan Pakdhe 
Gile beneeer ya sobs? Salut deh untuk pakdhe yang begitu piawai melakukan ini semua. Mau donk dhe belajar untuk bisa sukses seperti ini…..
Well, bagian penghujung paragraph ini, ijinkan aku mempersembahkan dua tangkai mawar kuning sebagai tanda kebahagiaan. (satu untuk pakdhe dan satu untuk budhe yaaa…) J
bunga dipetik dari kebun ini
Untuk BlogCamp, selamat berulang tahun, semoga makin sukses dan berjaya dalam merebut hati para pengunjung dan menebarkan tambahan wawasan serta inspirasi bagi kami semua…

Untuk Pakdhe, semoga makin kreatif dalam menggodok ide hingga terwujud dalam sajian bacaan yang sederhana, renyah dan berisi.

Bersahabat tanpa sekat semoga dapat langgeng-lestari atas dasar saling menghormati, saling menghargai dan saling mengerti.


Sukses selalu ya Pakdhe Cholik, salam hormat untuk budhe dan keluarga. 




Read More
/ /
Aku yakin jika judul diatas sudah sangat familiar di telinga mata para sahabat. Ya kan sobs?
Yup, berdurasi dari 1 Mei hingga 1 Juli 2012, Bank Central Asia (BCA) mengundang para insan blogger negeri ini untuk turut serta dalam hajatan bergengsi yang digelar BCA dalam rangka peluncuran sebuah situs baru miliknya, berdomain www.bca.co.id
Hajatan besar berupa kompetisi blog bertemakan ‘Berbagi Cerita bersama BCA’ ini pun langsung disambut antusias oleh para insan blogger Indonesia, terlihat dari pajangan artikel bertema serupa yang semarak menghias halaman-halaman rumah maya para sahabat. Penuh semangat para insan blogger membagikan ceritanya tentang manfaat dari aneka solusi perbankan yang ditawarkan oleh bank ternama ini, yang tentunya telah membantu para insan blogger selaku nasabah BCA dalam mengatasi financial issue yang mereka hadapi.
Sebagai salah satu bank besar yang kian berkembang pesat di tanah air, BCA memang terus berinnovasi dalam mengembangkan produk perbankan yang dapat memberikan solusi terhadap aneka kebutuhan para nasabahnya, baik itu berupa produk/program;  hunian ideal, kendaraan idaman, investasi masa depan, rencana pendidikan, kemudahan transaksi, kebutuhan dana tambahan, proteksi maksimal, simpanan praktis maupun gaya hidup impian. See? Banyak sekali layanan perbankan yang ditawarkan oleh BCA dalam memanjakan kita-kita selaku nasabahnya ya sobs? Yang tentunya satu atau beberapa diantaranya memang sedang sangat kita butuhkan.
Bagiku sendiri, tanpa bermaksud untuk memuji atau mengambil hati, BCA memang telah banyak sekali memberiku kemudahan dalam hal bertransaksi. Salah satu produk canggih yang paling aku sukai terkait dengan kemudahan bertransaksi adalah melakukan pembayaran atau transaksi keuangan via internet banking. Apakah itu untuk membayar rekening listrik, air minum/PDAM, iuran sekolah anak/pendidikan, asuransi, rekening telephone, internet, belanja online maupun transfer dana ke rekening seseorang.
Perkembangan teknologi dan innovasi yang telah dilakukan BCA, membuatku tak lagi harus meluangkan waktu untuk pergi ke tempat pembayaran yang ditunjuk atau bahkan ke atm, untuk melakukan pembayaran-pembayaran tersebut. Di daerah manapun diriku sedang bertugas, aku hanya perlu duduk manis di depan laptop, menghubungkannya ke internet, memainkan sedikit tarian jemari di atas keyboardnya, memasukkan kode yang ditampilkan oleh si kecil mungil warna biru bernama “token” ke kolom yang diminta, lalu menekan sebuah klik untuk konfirmasi pembayaran! Done. Oh my God!! Pembayaranpun terlaksana dengan baik. Alhamdulillah. Gampang banget kan sobs? Thanks to the technology and million thanks to BCA for this good work!
I really love this cute blue item, yang dengannya aku dapat dengan mudah melakukan suatu pembayaran/transaksi keuangan.
Lalu apakah hanya sebegitu saja kenyamanan yang aku dapatkan dengan tetap setia menjadi nasabah BCA? Tentu tidak hanya itu sobs. Pada kesempatan "Berbagi Cerita Bersama BCA ini, ijinkan aku berbagi sebuah pengalaman menarik terkait kebutuhan akan kartu kredit. Kebetulan diriku termasuk orang ‘udik’ yang anti kartu kredit. Entahlah, mungkin pengalaman ‘buruk’ saat beberapa tahun lalu masih memegang kartu kredit, membuat aku trauma. Haha.. #Ketauan deh kalo diriku tukang shopping dan gila belanja., J
Menutup kartu kredit yang aku miliki adalah solusi terbaik yang berhasil aku pikirkan dalam rangka menghentikan kerugian finansial akibat hobby ‘gesek’ si tipis bernama kartu kredit. Kuyakinkan hatiku bahwa aku tidak akan membutuhkannya lagi, toh untuk berbelanja atau beli online, aku masih bisa menggunakan kartu debit.
Iya sih, dan aku aman dan nyaman-nyaman saja dengan keputusan yang aku ambil kala itu. Tak ada masalah sama sekali, semua pembayaran off line maupun online bisa kok dilakukan dengan kartu debit. Hingga suatu ketika….. aku harus membeli tiket pesawat airasia untuk terbang ke Kuala Lumpur dan melakukan pembayaran hotel via online. Saat itu airline ini belum memberikan option pembayaran via debit card apapun dari bank Indonesia (baca: bank yang berasal dari Indonesia), padahal siapapun tahu bahwa airline ini begitu sering mempromosikan tiket murah. Maka, mulailah aku kesulitan. Tapi tetap malas untuk apply kartu kredit. Masih trauma sobs. Solusi saat itu adalah selalu meminjam kartu kredit adikku untuk beli tiket penerbangan ke Kuala Lumpur, terkait kunjunganku melawat suami yang bekerja disana. Kebayangkan repotnya setiap mau beli tiket online, setiap bulan pula, aku harus kontak adikku minta ijin menggunakan kartu kreditnya? Huft.
Aku berharap suatu waktu airline ini memberikan kemudahan bagi para penumpangnya untuk bisa melakukan pembayaran via debit card. Dan Alhamdulillah sobs… ternyata kini, tiket dari airline andalanku itu telah dapat dibeli dengan menggunakan BCA debit card lho! Cukup melalui klik BCA, maka tiket idaman pun langsung ditangan. Oh indahnya… Plong rasanya sobs…  thanks again BCA atas kerjasamanya dengan airline andalanku ini. J
Selain kemudahan dalam bertransaksi, tentu banyak sekali produk perbankan yang ditawarkan BCA yang menjadi minatku. Namun tentu saja aku harus berfikir cukup jeli untuk memanfaatkannya. Walau sudah memiliki pangan, sandang dan papan, tentu diriku memiliki impian atau Rencana Masa Depan dunk. Namanya juga manusia normal, sudah pasti kita memiliki harapan untuk masa depan kan? 
Sebagai seorang pekerja kemanusiaan, tentu aku tak berharap terbenam di dunia yang satu ini hingga lanjut usia. Apalagi sebagai wanita, keinginan untuk bisa menghabiskan waktu dengan santai dan menyenangkan di rumah adalah juga menjadi idamanku. 
Memang sih, bertugas ke daerah A, terbang ke daerah B, dengan berbagai tugas yang diemban itu sangat menyenangkan, namun semuanya tentu harus ada limit waktunya. Harus ada masanya aku kembali ke rumah, berteduh dan menikmati indah dan nyamannya kehidupan dalam jaminan kebebasan finansial. itulah rencana masa depanku sobs..
Kebebasan finansial? Lalu bagaimana cara mencapainya?
Memang sih, tak gampang mewujudkan keinginan dan harapan ini, diperlukan niat yang kuat dan kerja keras tentunya. Tapi jangan lupa sobs, setiap kemauan pasti akan ada jalannya kan?
Nah untuk mewujudkan keinginan ini, aku akan menggandeng BCA. Aku yakin dengan 'kendaraan' yang ditawarkan BCA di bawah ini, impian akan indahnya masa depan itu akan dapat aku capai. J
sumber gambar: website BCA
Yup. Kendaraan itu adalah produk “Investasi Masa Depan” yang ditawarkan oleh BCA, yaitu dengan berusaha untuk meng-optimalkan keuangan yang kita miliki untuk kebutuhan masa depan. Tahapan mencapai kebebasan finansial ini dapat kita tempuh dengan beberapa pilihan berikut:
sumber gambar: website BCA
sumber gambar: website BCA
sumber gambar: website BCA
sumber gambar: website BCA
Nah sobs... Aku sungguh berharap, rencana masa depan untuk dapat menikmati nyaman dan indahnya kehidupan sambil terus mendapatkan passive income menuju kebebasan finansial dapat terwujud, tentunya dengan bantuan Bank Central Asia. 





Read More