Archive for April 2012
Menu
/ /

 gambar  dari sini
“Sahabat”, kuyakin sobats semua akan langsung dapat merasakan sebuah makna tersendiri di dalam hati tentang kata ini.  Menurutku nih, dan juga berdasarkan beberapa pendapat yang aku peroleh saat main ke rumah si mbah tadi, sahabat itu adalah seseorang yang jauuuh lebih istimewa dari seorang teman. Jadi, menurutku lagi nih, jika teman itu skala pengukurannya dari 1-5, maka sahabat adalah peningkatan dari 5 menjadi 6 sampai 10.

Lebih detil lagi, aku coba merumuskan bahwa teman adalah seseorang yang kita kenal/kita tau namanya, kita lihat berulang kali, yang mungkin memiliki persamaan dengan kita dan juga membuat kita nyaman berada di dekatnya, yang kita undang ke acara kita untuk berbagi kebahagiaan, namun kita tidak membawanya dalam banyak sisi kehidupan kita.

Sementara sahabat adalah: seseorang yang kita sayangi, kita cintai, kita peduli akannya. Yang mengenal kita dengan baik, peduli akan kita, bersedia berkorban untuk kita, setia menemani dan menerima kesedihan, kemarahan, kegalauan mau pun kegembiraan/kebahagiaan kita. Yang akan dengan caranya sendiri menunjukkan salah jika kita melakukan kesalahan, dan membantu kita membenahi kesalahan itu. 

Sahabat adalah seseorang yang dengannya membuat kita begitu percaya akannya, yang membuat kita damai, yang tidak akan menertawakan atau menyakiti kita, ataupun jika mereka tanpa sengaja menyakiti kita, maka sekuat daya upaya mereka akan segera memperbaikinya dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi.

Nah, berpijak pada kesimpulan di atas, tentu Sobats semua dapat dengan gamblang donk menghitung berapa ratus, puluh atau satuan temans yang Sobats miliki? Pasti banyak deh. Aku yakin banget akan hal itu. Aku sendiri juga punya banyak sekali temans.
Lalu, saat Sobats diminta untuk menghitung berapa jumlah sahabat yang Sobats miliki? Sahabat dalam dunia nyata lho ya, bukan yang di dunia maya, nah tentu kini angkanya akan sangat kecil ya, Sobs?  J  Ternyata hampir setiap orang hanya memiliki sedikit sekali sahabat.

Bicara tentang sahabat, hari ini aku merasa rindu sekali akan seorang sahabat, yang telah sekian hari aku tinggal nun jauh di penghujung pulau Sumatera. Mengingatnya saja, membuat hatiku bergelombang, mata beriak karena ingin meneteskan tangisan kerinduan. Namanya Intan Faradila Caesaria. Berbintang Virgo nan lembut selembut sifatnya yang begitu penyayang. Namun sifat sensitive dan mudah tersinggung juga berhasil bersemayam sempurna di lubuk sanubarinya.
Aku yakin Sobats yang sering bersilaturrahmi ke rumah sederhanaku ini, paham benar siapa Intan yang aku maksud ini. J

Yup, dia adalah putri semata wayang, yang menyempurnakan statusku sebagai wanita, dengan menyematkan status ibu untukku pada tanggal 1 September 1996. Kehadirannya adalah anugerah terindah yang mencerahkan warna kehidupanku dan ayahnya Intan. Kehadirannya membuat senyumku selalu terukir selelah apa pun pekerjaan kantor yang harus aku hadapi. Kehadirannya selalu mampu melunakkan dan melelehkan emosi yang melanda jiwa.

Jika di postingan sebelumnya, Mr. Kerbau menyuruhku memintaku untuk pulang ke Aceh, tinggal dan mendampingi Intan, karena menurutnya sudah saatnya aku bersama Intan, maka ingin aku tegaskan bahwa Intan memiliki aku selamanya untuknya (sepanjang hayatku dikandung badan.)

Kami menghabiskan waktu indah dan unik bersama, waktu yang tak akan pernah bisa diulang walau dengan mempertaruhkan seluruh harta paling berharga sekali pun. Waktu-waktu istimewa di mana setiap pagi menjelang aku harus bangun lebih cepat, mempersiapkan diri sendiri dan juga bayi merahku yang masih berusia dua bulanan untuk ikut bersamaku ke kantor. (Intan aku titipkan pada istri salah satu teman kerjaku yang rumahnya dekat kantor, sehingga aku bisa leluasa untuk memberikan Intan ASI exclusive, sambil merajut ikatan batin yang erat antara aku dan putriku melalui tatapan mata kami yang beradu pandang saat dia menikmati ASI).  

Setauku sih, ikatan batin yang terjalin kuat itu paling subur adalah saat-saat menyusui. Tatapan penuh kasih dari mata sang ibu yang tertuju langsung ke mata si bayi, akan menimbulkan binar-binar lembut penuh kasih yang akan dirasakan sempurna oleh si bayi, dan percayalah, tatapan ini adalah perekat utama yang tak pupus sepanjang masa. So, enjoy your feeding time dan tatap penuh kasih mata bayi mungilmu. J    Biarkan gelombang electromagnetic kasih sayang mengalir dan bertumbuh subur menjalin kedekatan hubungan kalian.

Barulah setelah lepas dari masa-masa ASI exclusive, Intan dijaga oleh si mba, di rumah, agar Intan dapat menikmati tidurnya dengan nyaman di pagi hari, tak terganggu oleh perjalanan yang tidak mudah, karena kami hanya mampu menggunakan jasa angkutan umum, mengingat perekonomian rumah tangga kami yang masih jauh dari makmur kala itu.

Well sobs, kembali pada Intan…,
Memiliki ibu bekerja, aku lihat tidak membuat Intan jauh dariku. Terbukti setiap pulang kerja, putri mungilku sudah menanti di teras rumah, berlari tak sabar menantiku masuk, memeluk dan menciumnya penuh kerinduan. Pelukan tangan mungilnya yang balas memelukku erat adalah tetesan embun di tengah dahaga bagiku, yang aku yakin jika sobats adalah ibu yang bekerja, maka rasa yang sama adalah juga milik kalian.. Aku yakin ini adalah momen-momen paling membahagiakan bagi seorang ibu ya, Sobs? I am sure you, the moms, enjoyed it well! J

Waktu berlalu begitu cepat, menumbuhkan Intan menjadi seorang anak yang smart dan bisa berkompromi. Penuh pengertian di usianya yang masih balita. Contoh kasus adalah saat aku dan Intan main ke sebuah mall di kota kami, Medan. Intan kecilku terlihat begitu kagum dengan baju cantik nan lucu berwarna biru kesukaannya. Berhenti dengan takjub, di hadapan baju yang digantung itu dan aku tau persis dia menginginkannya. Dan, Sobs? Aku tidak punya uang saat itu. Gajiku dan ayah Intan sangat pas-pasan. Hiks..hiks..

Kuajak Intan melanjutkan jalan-jalan kami. Tapi Intan enggan beranjak. Digenggamnya jemariku kuat.
“Umi, Intan suka baju itu. Cantik kali ya mi?”

Kalimat itu aku paham benar maknanya. Lalu kutahan nyeri di hati karena apa pun jawabku tentu akan membuat mata itu redup.

“Sayang, anak Umi mau baju itu ya, Nak?” (dalam pembicaraan yang cenderung membujuk, aku terbiasa menggunakan kata anak Umi untuk menyebut Intan).
Dia mengangguk kuat, tersenyum cerah yang sukses menyayat hatiku.

“Nak, anak Umi pilih mana, kita beli baju itu sekarang, tapi kita pulangnya harus jalan kaki, dan Anak Umi taukan kalo rumah kita jauuuh? Atau……. Kita bisa pulang naik angkot, dan nanti begitu Umi gajian, kita beli baju ini…, gimana?” 

My smart Intan answered setelah terdiam, dengan bola matanya  yang sedikit meredup.

“Yaaaa, kalo jalan kaki pasti kita akan capek dong, Mi. Teyus kalo kita tunggu Umi gajian, nanti bajunya dibeli olang, ga ada lagi untuk Intan.” 

“Sayang, percaya deh, pasti untuk anak Umi, baju ini akan menunggu, atau siapa tau nanti waktu gajian malah muncul lagi baju biru lain yang lebih cantik?”

“Oh,  iya ya Mi, boleh juga, tapi benel ya Mi, janji nanti beli baju ini ya Mi.” 

Dan aku mengangguk. Sebuah janji terikrar dalam hati, untuk menebus baju ini atau yang serupa dengannya begitu gajian nanti, membungkusnya dengan bungkusan kado terindah.

Kini Intan ku telah beranjak Remaja. Telah duduk di bangku SMU. Banyak hal yang telah kami lalui bersama. Bahagia, ceria, duka lara, tertawa dan menangis bersama, adalah hal yang akrab kami hadapi berdua. Dua tahun lebih beberapa bulan, pernah membuat kami hidup terpisah. Terbukanya pintu hati kedua orang tuaku, menerima kembali aku, Intan dan ayahnya serta rezeki yang mengalir deras di Aceh paska tsunami, membuat aku kembali ke tanah kelahiran, dan terpaksa meninggalkan putri terkasih sementara waktu di tempat kakak kandung ayahnya. 

Tekadku bulat kala itu, kesempatan emas tak akan datang dua kali. Aku inginkan masa depan cerah bagi putri tercinta, dan mewujudkan masa depan indah dan bersinar butuh dana yang tidak kecil. Untuk itu, aku dan ayahnya perlu memanfaatkan kesempatan emas yang terbuka lebar di tanah Serambi Mekkah ini. Maka hijrahlah kami sementara waktu. Mendulang rupiah yang begitu berlimpah oleh masuknya dunia international via LSM-LSM (International NGO) yang bergerak cepat dan konsisten membangun kembali Aceh yang lebih baik.

Hidup terpisah, tak berarti membuat hubunganku dan Intan menjadi renggang, karena putri semata wayang yang memang sangat pengertian itu begitu mudah aku ajak mengerti. Bahwa ibunya ingin mempersiapkan masa depan yang indah bagi dirinya nanti. Bahwa ibunya ingin menyediakan materi yang lebih dari cukup untuk dirinya nanti saat mulai butuh ini itu. Contoh sederhana, ibunya ingin agar Intan bisa memiliki apa yang Intan butuhkan tanpa harus menunda dalam waktu yang terlalu lama, karena alasan belum punya uang, seperti yang selama ini Intan harus alami. Intan tentu ingin seperti anak lain yang punya tas bagus, peralatan sekolah yang cantik dan baik, tanpa harus menunggu Umi gajian segala.

Dan Intanku yang pengertian sangat mengerti dan mendukung langkahku. Apalagi walau terpisah jarak, hubungan kami tetap terjalin baik, karena didukung oleh canggihnya dunia komunikasi masa kini. Bersyukur aku dengan teknologi selluler yang kini telah dapat dijangkau dan diakses masyarakat luas. Berterimakasih aku akan kecanggihan dunia maya sehingga setiap malam aku dan Intan bisa ber-web-cam ria, saling melihat, bercerita (aku membiasakan mengantar Intan tidur dengan sebuah cerita pengantar tidur, baru menutupnya dengan membaca doa bersama). Dan kebiasaan ini masih terjadi sampai hari ini, saat aku menulis artikel ini, walaupun Intan telah duduk di bangku SMA, tapi membaca doa bersama itu adalah wajib hukumnya. Baik aku sedang di pulau terpencil sekali pun, ‘baca doa bobok’ bersama tetap sebuah kewajiban. Tak mampu via web cam (karena net yang tidak available), maka tulisan doa sebelum tidur beserta ‘good nite darling, have a good rest, nice dream’ tetap harus di hantarkan, walau via sms.

Tak kupungkiri, perpisahanku dengan ayahnya Intan, tentu menggores luka besar di hati terdalam putri tercinta. Namun apa yang harus kulakukan? Aku bukan termasuk wanita yang tabu akan perceraian. Aku tak akan bertahan dalam sebuah rumah tangga yang telah bobrok dan tak dapat diselamatkan dari bara api hanya karena alasan ‘kasian anaknya’. Justru dengan bercerai lah si anak akan dapat diselamatkan dari penyakit perlahan terhadap mental, pikiran dan perasaannya. Anak perlu sebuah rumah tangga yang damai, walau tidak utuh. Anak perlu kasih sayang penuh dari ayah ibunya, walau tidak tinggal se atap. Anak perlu perhatian dan kasih sayang dari keluarga dekatnya. Anak perlu materi yang mendukung pencapaian cita-citanya. Semua saling berkaitan dan itu yang harus diprioritaskan. (#halah kok malah melantur jauh dari jalur yaaa…, hehe).

Membangun hubungan dan komunikasi yang erat dan akrab dengan ananda tercinta, adalah prioritasku, apalagi mengingat hubungan kami terpisah terhubung oleh rentang jarak yang tidak menentu. Terkadang aku di rumah bersamanya, terkadang aku malah harus terbang ke berbagai pelosok untuk waktu tertentu. Kuupayakan agar aku mampu menjadi orang pertama yang dipercaya Intan untuk tempat pencurahan hati dan pikirannya. Aku ingin dia curhat ke aku  pertama kali, sebelum ke teman lainnya. Karena sebagai orang tua, tentu kita akan mencari solusi sebisa mungkin akan problema yang dihadapi sang anak. Sementara jika curhatan tadi mendarat di teman mainnya, belum tentu nasehat atau solusi terbaik yang akan diberikan, bisa saja justru terkadang malah menjerumuskan karena keterbatasan wawasan dan pengalaman dalam menghadapi pahit getir kehidupan.

Berjalan bersama adalah hal yang kerap kali kami lakukan. Hang out di café sambil ngenet berdua. Shopping berdua atau hanya sekedar makan jagung bakar di pantai Uleelheu sembari menyambut sang senja muncul dari kaki langit. Indah dan sungguh meneduhkan hati. 

Keakraban yang terjalin tentu membuatnya easy to share her feeling about everything. Bahkan tentang cinta kala sang cinta monyet menghampiri.  J     Hal ini tentu membuatku tenang, karena tau persis what is going on with my daughter, and how to guide her being safe in her life and friendship.
Alhamdulillah, Intan memang menjadikan aku sebagai tempat curhatnya. Baginya, aku adalah ibu, kakak, tapi juga sahabat terbaiknya. Beberapa status di facebooknya, jelas-jelas mengisyaratkan itu. Dan aku bahagia dan bangga akannya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau kabulkan pintaku, agar aku dan Intan tetap dekat, saling percaya dan saling menyayangi. Saling menghargai dan menghormati pada posisi masing-masing.


Sobats,
Itulah sekelumit kisahku dan Intan, sang sahabat karib, juga putri tersayang.
Sudahkah putra atau putri Sobats menjadi sahabat karibmu? Rasanya indah banget lho. Hehe….
Tunggu saja. You will enjoy this moment some day, I hopeJ
Read More