Kirain Toilet eh ga taunya ………….., Oh Tuhan!!! | My Virtual Corner
Menu
/

Halo sobats maya tercinta…. Semoga semuanya dalam keadaan sehat sempurna ya? Pasti sedang pada mimpi indah nih kayaknya....atau masih ada juga yang sedang berada di halamannya Alaika saat artikel ini dipost-kan? Hehe.

Tau ga sobs, dua hari ga sempat posting dan bersilaturrahmi kok rasanya kangen banget ya dengan sobats semua? Bener lho, ga boong. Suer!!! Apalagi teringat janji pada Mak Cebongs untuk ikutan perhelatan akbar yang sedang mereka gelar, tentunya sebagai sahabat yang baik, walau belum pernah nih kopdar dengan ketiga penyelenggara kontes, aku ingin ikut serta mensukseskan acaranya mereka….

Bagiku, kalah menang bukahlah hal utama, yang penting bisa berpartisipasi memeriahkan perhelatan yang sedang digelar oleh para sahabat, ini yang lebih penting.

So, untuk mempersingkat waktu (cieeee…. Kok kalimatnya kayak saat buka acara tadi ya? hihi), maka yuk ikuti kisah nyata menggelikan yang tak akan pernah terlupakan dari ingatanku ini yuk sobs…..

Alkisah,
suatu ketika di pertengahan Juni 2006,
di sebuah pulau indah nan perawan bernama Nias………


Aku dan team yang terdiri dari dua bule asal Portland, United States of Oregon bernama Kecia dan Jenny, beserta seorang teman asli Aceh bernama Ratna, ditugaskan oleh organisasi tempatku bekerja saat itu untuk mendesain sebuah proyek Kesehatan Masyarakat yang akan dilaksanakan di beberapa kecamatan di Kabupaten Nias Selatan. Tahap awal yang harus dilakukan adalah melaksanakan Need Assessment.

Maka berangkatlah kami berempat ke pulau yang pada masa itu memang masih-masih sangat perawan. Indah namun terisolir… sehingga boro-boro mengharapkan koneksi internet yang apik, dapat sinyal yang bagus untuk komunikasi aja sulit banget. Maka istilah GSM (Geser Sikit Mati) menjadi sangat popular bagi kami saat itu…

Kunjungan itu adalah kunjungan kali kedua aku menjelajah Nias dalam cakupan wilayah yang lebih luas. Jika dikunjungan pertama, aku hanya turun ke pulau ini bersama supervisorku Caitlin, yang asli California, dalam rangka memilih kabupaten mana yang akan jadi target proyek, maka dikunjungan kedua ini, tentu waktu tinggal teamku akan lebih lama lagi dengan cakupan wilayah yang tentunya menjadi lebih besar.

Bagiku dan team, ini adalah pekerjaan yang sangat menantang juga mengasyikkan. Berinteraksi dengan penduduk setempat yang jelas berbeda jauh budaya, karakteristik dan kesehariannya, bercengkrama dengan anak-anak kecil yang lugu nan polos dan pemalu, sungguh menyenangkan.

Need Assessment kami lakukan melalui beberapa metode, baik focus group discussion dengan kelompok masyarakat, kepala puskesmas, perawat/bidan, kepala Pustu bahkan dengan dukun beranak yang tinggal terpencil di desa nun jauh di pedalaman.

Kegiatan ini berjalan lancar dengan response yang sangat baik dari setiap pihak yang kami kunjungi. Hingga sampailah kami pada sebuah Pustu (Puskesmas Pembantu) di sebuah desa bernama S*l*ga, kecamatan L***wau, Nias Selatan. Kepala Pustu menyambut kami dengan baik, memberikan segala info yang kami butuhkan dan menyampaikan harapan-harapannya jika memang desa ini kelak terpilih menjadi salah satu pilot project dari project Community Health ini.

Lalu dimana letak lucunya ya sobs? Kok dari tadi serius mulu…..???

Sabar donk sobs…… Justru disinilah kisah menggelikan ini bermula. Kisah yang sebenarnya akan jadi tragis dan membahayakan andai saja insting dan pikiranku tidak bersinergi dengan baik pada saat itu sobs. Huft!.

Oke… oke. Jadi ceritanya begini sobs,….
Saat sedang serius bertanya jawab dan diskusi dengan sang kepala Pustu, tiba-tiba aku kebelet pipis. O iya sobs, sebagai info tambahan nih, bahwa di Nias Selatan terutama, susah banget mendapatkan toilet/kamar mandi yang layak (pada saat itu lho…). Namun aku yakin, sebagai puskesmas pembantu, tentu lah mereka memiliki toilet yang layak dan bersih. Aku yakin itu. Apalagi penampakan PUSTU nya sendiri juga bersih dan lumayan nyaman. Juga aku lihat istri kepala Pustu juga berpenampilan bersih. Maka pamitlah aku pada kepala Pustu, numpang ke toiletnya mereka.

Maka, dengan ditunjukkan arah oleh ibu kepala PUSTU, maka melangkahlah aku ke belakang, menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu tempat kami duduk. Keluar dari pintu dapur, mataku menangkap sebuah pintu lain yang didekatnya diletakkan sebuah drum biru besar berisi air. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa ini pasti toilet/kamar mandi yang aku cari. Tak salah lagi. Apalagi ada gayung di atas drum plastik itu. Kulangkahkan kaki dengan pasti dunk kesana, apalagi pipisku rasanya udah diujung tanduk nih sobs.

Kuputar handle pintu itu dan melangkah masuk dalam kegelapan. Gelap banget nih toilet, dimana saklarnya ya? Kuarahkan kedua tanganku ke dinding, meraba dan mencari, namun sobs, belum sempat jemariku menemukan saklar lampunya, eh sebuah suara asing dan mengerikan, yang jelas-jelas berasal dari hadapanku, benar-benar membuatku melompat refleks, keluar dari kegelapan itu., Ya Allah, apa ini? Pikirku…..

Sesampai di luar, bersamaan dengan cahaya yang menerpa, ingatanku langsung melayang pada beberapa cerita teman yang sudah duluan ke pulau ini. Bahwa toilet yang layak telah disiapkan oleh beberapa NGO yang membangun rumah bagi masyarakat korban gempa di pulau ini, namun teteup aja masyarakat pulau ini belum terbiasa menggunakan toilet untuk toilet, tapi malah menggunakannya sebagai rumah bagi peliharaan utama mereka bernama BABI.

Ya Allah, jadi yang tadi di dalam itu adalah babi? Oh my God! Untung saja aku ga langsung buka celana, dan jongkok di closetnya….. kalo ga, bisa diseruduk aku. Ih.. amit…amit!

Selamat dari peristiwa itu, aku malah jadi penasaran untuk mencari toilet yang sebenarnya. Kuarahkan langkahku menuju dapur dan bicara dengan istri kepala Pustu yang sedang memasak.

‘Bu, maaf, saya ga nemu toiletnya? Yang mana toiletnya?’
‘Lho, jadi belum kencing?’

Kugelengkan kepala seraya tersenyum dalam hati mendengar kata ‘kencing’. Si ibu menunjuk sebuah tempat yang dipagari dengan terpal plastic yang sudah usang. Hm… itu toh. Baiklah. Kulangkahkan kakiku kesana setelah mengucapkan terima kasih.

Dan olala….. terpana aku menatap ‘toilet’ yang satu ini. Sayang aku meninggalkan kameraku di ruang tamu sana, bahkan HP pun tak bersamaku saat itu. Ingin banget kuabadikan pemandangan ini sobs. Ternganga aku menatapnya.

Sebuah tanah datar tanpa sebuah lubang pun diatasnya. Lebih parah lagi, tak sepercik air pun tersedia disana. Okelah, kalo pipis saja bisa di atas tanah datar ini, lalu cebok/bilasnya pake apa dunk?
Lalu kalo mau pup, dimana? Ya ampun…. Bisa-bisanya toilet dijadikan kandang babi, lalu untuk toilet mereka sendiri hanya seperti ini.

Apa boleh buat sobs, pipis yang sudah diujung tanduk itu tak mampu lagi kutahankan, maka berbekal beberapa helai tissue yang kusambar dari dalam tasku tadi, mulailah aku melepaskan hajat kecilku itu... dan tercatatlah dalam sejarah hidupku, pipis pertama tanpa bilas dengan air, tanpa bersuci. Ga ada pilihan lain sobs. Terpakse aye!!

Lalu sobs, tuntas melepas hajat, kuayunkan langkah kembali ke teamku yang tentunya sudah mendapatkan banyak informasi yang kami butuhkan dari sang kepala Pustu.

‘How is the toilet?/gimana toiletnya?’ bisik Jenny saat aku duduk kembali disampingnya.
Timbul isengku.
‘Not bad, you should try/lumayan, kamu harus coba lho!” jawabku dengan senyum meyakinkan. Sambil menunjukkan arah pada Jenny yang ingin pipis juga.

Kubayangkan Jenny akan mengalami hal yang sama seperti yang baru saja kualami sambil tersenyum geli. Benar saja, tak lama, Jenny bergegas kembali dan meninju bahuku begitu dia duduk kembali di samping.

“Kamu nakal!!!” jeritnya dalam bahasa Indonesia yang cadel. Tawaku dan Jenny jelas membuat Ratna dan Kecia penasaran. Tapi jelas dunk kami ga bisa langsung update kejadian itu pada kedua rekan itu sebelum keluar dulu dari Pustu.

Tak sanggup menahan tawa yang ingin meledak, Jenny segera memberi kode agar kami segera mengakhiri diskusi serta permisi secepatnya. Dan sobs, dapat dibayangkan bagaimana meledaknya ketawa kami saat Jenny menceritakan pada Ratna dan Kecia kejadian yang kami alami tadi.


Gile bener. Seumur-umur di Aceh aku belum pernah lihat langsung hewan bernama babi. Apalagi menyentuh dan memakannya, jelas haram bagi umat muslim. Tapi di pulau indah ini, hewan mirip kerbau tapi pendek ini hampir saja mencium/menyerudukku dengan hidung jeleknya itu. Ih…. Untung aku sigap dan lompat keluar. Ampun deh….


Dan, kejadian ini tetap menjadi topic hangat yang sering kami ulang-ulang saat melakukan project design di ruang kerja, sepulang dari Nias. Bahkan sampai kini, jika aku dan Jenny or Kecia maupun Ratna, ketemu di ym or skype, pasti obrolannya akan lari ke kejadian itu lagi dan lagi. Hahaha….

“Alaika berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi - Jeng Nia disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios 108





69 comments

blogwalking here
folback my blog yaa!

Reply

Hahaha,,,, Dasar babi nakal, kok malah sembunyi di toilet, hehe^^

Reply

emng di nias di daerah tertentu masih seperti itu,,ya,, ingat juga sih,, kebetulan adek saya juga pernah tugas di nias,,jadi sering membawa cerita yang namanya B2 berkeliaran di halaman rumah,, tapi di toilet saya baru dengar kali ini,,,hehe

Reply

hah di toilet ada .... ???? aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... takuuuuuutttt

Reply

kirain mbak nyasarnya ke ruang isolasi pasien gangguan jiwa eh, taunya kandang babi. hahaahaha <--ngehayal sendiri

Reply

hi hi hi, ga kebayang kalo udah kebelet dan kemudian 'disruduk' ama babi itu wedeeeuwwww, selain pingsan kamu juga akan jadi tontonan unik.

Sebuah pengalaman yang menarik, untuk lebih siap terhadap 'hajat' kecilmu.

Salam

Reply

Wuaaaaa Untung ga sampai nyeruduk mbak Alaika :)
Kok bisa ya??? Kamar mandi buat kandang Be A Be I??? HIkz

Reply

Haha.. Parah..parah... Kerenan kandang si beib dibanding toilet :D

Makasih atas partisipasinya, sudah dicatat sebagai peserta :)

Reply

kok bisa bisanya ya mbak toilet jadi kandang babi :D

Reply

@Kampung Karya
makasih kunjungannya... akan segera follback deh... :-)

Reply

@Fahrie Sadah
hahaha.... bukannya sembunyi, emang udah dihibahkan untuk jadi kandangnya mereka tuh... hihi

Reply

@al kahfi

aneh2 aja di pulau indah itu deh mas.... hehe

Reply

@adeuny

hahahaha.... adaaaaaaa hantuuuuuuuu????? hihi...

Reply

@suci nabbilahahahahaha.... masih untung ke kandang babi ya? kalo ke ruang pasien sakit jiwa lebih ngeri lagi??? hihi...

Reply

@Obrolan Blogger.com

hahahha... untung ga diseruduk ya mas... kalo ga udh mati berdiri aku saking kaget dan malu, hihi

bener, tak akan mungkin bisa lupa... dan kuyakin si Jenny jg tak akan lupa dg pengalaman yang sama yang dialaminya itu... hihihi

Reply

@Tarry KittyHolic

hehehe.... iya mba, untung ga diseruduk ya...

disana memang begitu mba... hewan 4 huruf ini begitu disayang, karena nilai rupiahnya yang begitu tinggi, dan sering jadi mas kawin. hehe...

juga masyarakat disana masih enggan menggunakan toilet. hihi

Reply

@DewiFatma

makasih ya mba udh dicatat sebagai peserta... yang penting bisa berpartisipasi.... :-)

hehehe...org sana suka begitu tuh... hihi...

Reply

@Asep Saepurohman
ya gitu deh Sep... hewan yang satu ini begitu bernilai disana.... sampai2 toilet dihibahkan menjadi kandangnya. hehehehe

Reply

kaget pastinya ya mbak. semoga enang bak kontes kecubung 3 warnanya

Reply

biar sekalian dikonsumsi kali tu. . . .

Reply

@susu segar
hahahaha... apanya? kalo beib nya ga nyeruduk dan sabar menunggu produk yang kita hasilkan sih ga apa2 gan, ini kalo baru jongkok udh diseruduk kan gawat itu... wkwkwkwk

Reply

@Lidya - Mama Pascal
iya mba, banget. Sampe langsung lompat keluar gitu lho... hihi....
makasih doanya mba...

Reply

yaampuuun Mbak, gak kebayang dehh iihh.. klo saya mungkin langsung lari dan gak jadi pipis deh :(

Reply

Jeng cantik, maapkan Mak Cebong 3 baru bertandang. Nia ajah celamitan ke peserta nungu Double Zee kebo dulu :-)

Huaahahaha untung ga mipisin si Babi yah Say. Kalo ga tambah najis ajah doski *udah mah haram, kena aer kencing pula hihihi*

Thanks yah Say udah berpartisisapi di Saweran Mak Cebong. Masih ada 2 kategori mennati dikau. Sapu bersih semua yah Jeng :-)

NB: Congrats dikau juga menang di Resep Cintanya Zoothera huhuuuyyy toss dulu ah

Reply

Sekarang jadi geli kalo ingat ya mbak, tp pas kejadian, kaget juga dengar suara grok,grok babui di kegelapan :)
menarik sekali ceritanya mbak. Asyik juga kerjaan mbak ya, ada acara jalan-jalannya juga. Ketemu banyak orang. Dulu kerjaan saya di PATH juga mirip2 gini mbak, blusukan ke desa-desa, ngobrol sama orang-orang.

Reply

mbak Alaika, itu masih ada dindingnya kan? sayang tapi nggak ada air... hehehe...

parah emang..

kalo aku beda lagi mbak, waktu lagi kunjungan ke desa saat ptt dulu malah nggak ada toilet.. ya ngapa2in di sungai... c*boknya? yah taro aja "anu"nya di sungai kan ngalir tuh airnya...

sampe nangis aku mbak... akhirnya kepala puskes bela2in pulang lebih awal ke kota gara2 aku.. hiyaaa..

sukses kontesnya ya mbak... :-D

Reply

hehehe.. toilet yg unik... coba difoto ya mbak... :D

Reply

@.:diah:.

saya juga langsung lari keluar tuh mba Diah... haha. Kaget dan shock. Tapi urusan pipis yang udah di ujung tanduk, ga bisa diajak kompromi, terpaksa deh gunain 'toilet' ala mereka... hihi.

Reply

@Mak Cebong 3
hehehe.... kumaklumi kesibukanmu jeng..... emang gitu jika kita masih ber anak kecil.... hehe... (untung Intanku udah gede ya? jadi aku udh bisa bernapas lega... hehie).

Baiklah, akan daku coba untuk bikin artikel kategori Cerita Sedih dan ubeg2 galerie fotoku untuk menemukan foto tergokil yang aku punya deh....

kan kucoba menyemarakkan perhelatan akbarmu yaaaaa.... :-)

oh iya, makasih juga atas congratsnya, dirimu juga menangkan? juara pertama gitu lho... selamat ya Jeng....!! :-)

Reply

@Hany Von Gillern
hahaha... bener mba... sejenak setelah kejadian itu aja udh bikin kami ketawa ngakak, padahal jelas2 jika saja aku kalah cepat, bisa jadi aku jadi korban serudukan si bubui kan? hihi...

apalagi sekarang ini mba, mengenangnya membuatku ketawa geli... hihi.

pekerjaanku memang menarik mba... I like it so much.. tapi kayaknya lebih suka yang seperti ini deh daripada yang sekarang.... hiks... sekarang ini interaksiku dengan masyarakat lapisan bawah udah jarang banget... kangen deh turun ke bawah seperti dulu lagi...

Ntar habis kontrak di UN ini, mau cari pekerjaan yang lebih bersentuhan dengan masyarakat termarginal ah...

PATH itu NGO ya mba? bergerak di bidang apa? pasti dirimu jg punya pengalaman menarikkan?

Reply

@Lyliana Thia
ada dindingnya mba, ya dari terpal usang itu... tapi ga ada air ga ada lubang untuk closet.....
aku sampai bingung bagaimana caranya kalo mau pup mereka itu ya? hihi

Tinggal di desa terpencil, kalo hanya untuk beberapa hari sih asyik kayaknya mba, tapi kalo giliran ingin gunakan fasiitas MCK ini yang gawat. Ga kuku deh ih...

hahaha.... pengertian dan baik hati banget kepala puskes mu ya mba.... hehe...

Reply

dikirain toilet ternyata kandang babi.. hahahah parah, untungg yah belom mengeluarkan sesuatu yang berbau-bau.

atuuu bisa jadi disangka toilet karena baunya sama..

Reply

@hima-rain
saking uniknya bikin orang terhenyak dan terpana ya mba? hihi... sayang waktu itu kamera tinggal di ruang diskusi.... sayang banget. :-)

Reply

@Gaphe
hahahahaha.... iya, untung belum sempat beraksi... kalo ga udah kena seruduk tuh... hihi. Sekarang sih bisa ketawa, waktu kejadian? huuuu..... untung cepat tanggap, kabur langsung sebelum sempat berfikir apa itu....

iya, baunya sama sih.... hihihi

Reply

haduh, saya paling ga bisa kalo toilet ga menuhin standar minimal, yaitu air dan keadaan tertutup sempurna, mending nahan sampe dapet yg layak :(
ALhamdulillah ga pernah dapat yg separah itu mbak, jgn sampe deh ngalamin _ _"

waa.. udah banyak yg ikut, pengen juga, tapi... lagi nunggu yg jualan wangsit -_-a

Reply

@Miss 'U
saya dan teman-2 juga pada awalnya paling ga bisa mba... tapi tuntutan kebutuhan mengharuskan hajat kecil itu dikeluarkan... mau ga mau kita harus beradaptasi... hehe.

Tapi saya paling senang menjelajah di pulau2 terpencil, tapi jangan lama2... dua Minggu saja sudah cukup. hehe... apalagi di Nias Selatan itu, makanan muslim juga sulit di dapat di pedesaannya, terpaksa deh mengkonsumsi mie instant teruuus.... sampai2 begitu balik ke Banda mba... aku jadi benciiiii banget melihat mie instant! wkwkwkwk

Reply

Aduh ... mudah2an tidak mengalami yang seperti ini :D

Reply

@Mugniar

amit..amit ya mba... hihi.... jgn sampai deh...

Reply

haha..mbak Alaika.... nggak kebayang kalau sempat diseruduk ya mbak..untung aja sempat nyadar hehe.. btw mbak kerja dimana mbak? di UN ya. kenal sama Falatehan Zainy?

Reply

wkwkw...seru tuh pengalamannya Mbak AL, kayak jaman aku masih keciiill tempoe dulu. BUang hajat kecil asal cari tempat sepi saja.. #maluu

Kalau pengalaman udah gedhe, ngalami juga kayak gitu waktu acara kampus di Coban Rondo (malang), tempat utk mandi dll ya ala kadarnya kayak gitu langsung di sungai yg di buatkan terpal memutar buat penghalang sekenanya....karena temannya banyak ya di anggap enjoy saja. Untungnya hanya 3 hari 2 malam dan dua kali ngalami 'drama' hidup ala flinstone gitu..

Semangat terus Mbak, meski super sibuk ttp bisa deh postingannya meluncur gak kayak daku..

Reply

hahahaha...untung blm sempet dicium babi yach.....jiajay bajay dech klo smpe kejadian hihihi.....

trus mrk kalo mandi dimana mbak? aku juga kayaknya ngga bisa pipis ditmpat sprti itu...tp klo harus nahan pipis juga sakit banget yachh....

terimakasih mbak alaika atas partisipasinya...sdh tercatat sbg peserta...

Reply

Mampir kemari mbak
Terima kasih sudah mampir dan difollow
Babinya gedhe dan mengerikan, kayak babi hutan mbak :D

Reply

:)
Tapi nias ngangenin lho kk..
Hhahaa

Reply

Mba Alaika..sambil baca ini sambil mikir aku..jangan2 ketika mereka PUP lgs dimakan babi makanya Toiletnya dijadikan kandang babi..hihihiihi....
Dikampung ayahku di TanahKaro 10tahun yg lalu masih banyak babi2 yg berkeliaran seperti itu..tapi sekarang sudah mulai berkurang ...

Reply

Mbaaaaaak alaaaikaaaa~ udah lumayan lama aku gak kesini, jadi kangen nih :3 Eh, itu babi warna hitam, aku pernah liat dikebun binatang ditempatku warnanya merah muda, mirip di tipi2 gitu deh hihihihi ^_^

Reply

wkwkwk.....untung ga bubuinya kalah cepat dg gerakanku ya mba? terpana dia kali lht wanita cantik tiba2 msk (huek..huek), lupa deh nyeruduk..hi..hi

iya mba. sp saat ini aq masih di UN..tapi syg ga kenal dg beliau. UN apa beliaunya mba?

Reply

haha untung aja belum di tanduk babi mbaak :D agak sedikit aneh ya hehe enak di babi ga enak buat mbaak alaika, masa lebih mementingkan babi dari pada orangnya :D

Reply

wkwkwkwkwk....bukan disruduk jeng tp dielus2 babi dah hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

tp jorok ih pake tisu doang,,, hahahahahahahahah

Reply

@Cut Maha Ratu
wkwkwk.....untung ga bubuinya kalah cepat dg gerakanku ya mba? terpana dia kali lht wanita cantik tiba2 msk (huek..huek), lupa deh nyeruduk..hi..hi

iya mba. sp saat ini aq masih di UN..tapi syg ga kenal dg beliau. UN apa beliaunya mba?

Reply

@Ririe Khayan
hehehe... ketauan ya kalo kamu suka pis sembarangan dulu...#kayak mba nya ga pernah aja ya? hihi..

pengalaman seperti ini memang mengasyikkan ya Rie... menikmati kehidupan pedesaan dan pedalaman, tapi jangan lama2 sih, kalo lebih dari dua Minggu bisa tewas kita kalo caranya spt ini, wkwkwkwk....

hihi, semakin sibuk akan semakin tertantang utk bisa posting Rie...

Reply

@Nia
hahaha...
kalo mandi mungkin mereka ke sungai kali mba....
aku dan teamku sih menginap di losmen di ibukota kabupatennya, jadi kami traveling PP setiap harinya. Kalo harus tidur juga di daerah yang spt itu, aduh, ampun deh.... ga kuku kayaknya aku mba.... hihi

trims sudah mencatat diriku sbg peserta ya mba...

Reply

@Nia
hahaha...
kalo mandi mungkin mereka ke sungai kali mba....
aku dan teamku sih menginap di losmen di ibukota kabupatennya, jadi kami traveling PP setiap harinya. Kalo harus tidur juga di daerah yang spt itu, aduh, ampun deh.... ga kuku kayaknya aku mba.... hihi

trims sudah mencatat diriku sbg peserta ya mba...

Reply

@rizki_ris

makasih atas kunjungannya mba.... dan juga follback nya. :-)

iya, walau mengerikan begitu tapi sering digendong2 lho oleh mereka, hahaha

Reply

@Hana Ester

oiyaaa.... ngangenin banget, setuju dengan mba Hana.... aku juga kangen Nias nih...

Reply

@mamanayla

hahaha..... jijay deh ngebayanginnya ya mba....hihi
tapi tuh toilet emang dipakai utk kandangnya si bubui itu lho, sementara mereka sendiri pupnya entah dimana... bingung juga aku...

aku yakin di tempat ayah mba, toiletnya pasti udah sangat layak ya....

Reply

@BasithKA
Basith.... kemana aja kamu.... mba juga kangen lho....

aku belum pernah ketemu babi warna pink di Nias, tapi kalo di Bali iya, warnanya pink....

Reply

@Yayack Faqih
hehehe... ya gitu deh mas.... setiap tempat punya keunikan tersendiri, mungkin keunikan yang sudah saatnya diubah ya? sosialisasi ttg cara hidup sehat hrs semakin ditingkatkan...

makasih atas kunjungannya mas...

Reply

@mimi RaDiAl
hahahhahaha... dielus pun saya ogah atuh mba.... hihi...

ya mau gimana lagi, masih mending ada tissue mba.. darurat, emergency. hihi

Reply

Oh my God...
tak terbayang.. kenangan banget tuh mbak..
untung selalu bawa tissue ya mbak..
:D

*jangan lupa cari saklar buat memastikan tempat apa itu..
hehhe..

Reply

jika warga mayoritas nasrani babi itu pemandangan biasa ya mbak. tapi pengalaman wc mu itu,, tidaaakkk...
mbak ada award untukmu nih http://puteriamirillis.blogspot.com/2012/01/seven-shadow.html.moga berkenan yaaa...

Reply

wahh :o
seram juga ya mbak~
tidaaaakkkk...!!! x_x

eh eh eh mbak alaika arsitek ya?

Reply

@alaika abdullah
Tul mbak, bergeraknya di bidang kesehatan, kantor pusatnya di Seattle. Pekerjaan lapangan sangat menarik, kalo harus ngantor bosannnnnn ... biar cuman utk bikin laporan dan rapat.

Reply

Hiii... aku paling jijay ama babi mbak. Lihat tayangan di TV yg ada babinya aja aku udah langsung tutup mata...

Selamat berkontes ya mbak... sayang aku tak sempat ikutan kali ini. Jadi, gugur sudah 'stigma' yg mbak sematkan padaku kemarin hahaha

Reply

HaHaHa...
saya sukses ngakak kak... :D

udah aku follow ya kak.. mind to follow back???

Reply

lucuuuuuu......
jangan lupa kunjungan balknya yah
http://julfahmi25.blogspot.com/

Reply

Yang dari aceh tu siapa. Apa nama twitter nya. Follow my twitter. Almishry4

Reply